Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

27 Oktober 2010

Catatan Peristiwa; Berita Bencana


Hari ini, Rabu tanggal 27 Oktober 2010, dua koran yang ada di tangan saya menjadikan tiga bencana di tiga lokasi yang berbeda dengan skala derita yang berbeda pula, menjadi kepala berita. Di harian Republika, tiga berita bencana tersebut dimuat dihalaman pertama dalam judul; Mentawai Sukar Ditembus, Cuaca tak Bisa Diperkirakan, dan Wedhus Gembel Merapi Makan Korban. Demikian pula koran yang lain. Tiga berita bencana itu menjadi bagian yang penting untuk disampaikan kepada pembaca. Prihatin adalah perasaan duka yang dirasai oleh seluruh penduduk nusantara. Tentu berat bagi orang-orang yang mengalaminya di daerah bencana itu.

Bencana wedhus gembel merapi telah meninggalkan korban yang hangus. Baik kormbn manusia dan tempat tinggalnya dan juga alam sekitar yang terbakar oleh panasnya awan dari muntahan lahar merapi yang panasnya mencapai 600 derajat celsius dan bergerak dengan kecepatan 200 kilometer per jam. Mbah Maridjan, juru kunci dari Keraton Yogyakarta yang bertugas untuk mengawasi Gunung Merapi dipastikan meninggal bersamaan dengan korban lainnya di rumahnya (Republika, Rabu, 27 Oktober 2010).


Bencana kedua adalah Tsunami yang melanda wilayah Mentawai di Sumatera Barat. Menelan 449 korban jiwa meninggal. Belum termasuk yang hingga kini masih dinyatakan hilang 96 jiwa, korban denganluka berat 270 jiwa, dan luka ringan 142 jiwa, plus pengungsi sebanyak 14.983 jiwa (Kompas, 31 Oktober 2010).

Sedang bencana ketiga adalah banjir di Jakarta pada Jumat tanggal 22 Oktober 2010 dan Senin pada tanggal 25 Oktober 2010. Banjir yang membuat Jakarta menjadi kota yang lumpuh karena banyak ruas jalan yang tergenang air yang mengakibatkan kemacetan parah. Banyak pengguna jalan pada Senin, 25 Oktober 2010 itu yang menghabiskan waktu pulang kantoirnya di jalanan Jakarta antara 2 hingga 5 jam. Seperti yang dialami istri saya yang pulang dari kantornya di Cipete III, Jakarta Selatan pada pukul 17.00 dan baru sampai rumah di Slipi, Jakarta Barat pada pukul 22.30!

Bajir Jakarta yang menyebabkan beberapa wilayah kebanjiran dan kendaraan yang terjebak kemacetan itu membuat para korbannya mengekspresikan frustasunya dan kritikan kepada pemerintah DKI Jakarta, yang dipimpin oleh ahlinya, di berbagai media maya. Baik twitter, facebook, atau media messenger.

Dari peristiwa-peristiwa tersebut, masuk sms di seluler saya yang bernada mengajukan pertanyaan; apa makna dibalik angka 26? Dimana peristiwa bencana terjadi pada tanggal 26. Bahkan termasuk peristiwa tsunami Aceh. Saya menjawab: Maknanya adalah agar kita berpikir. Saya tidak mau terjebak oleh akal-akalan dengan cara otak atik angka yang seolah-oleh hasil analisa. Padahal menurut saya itu adalah bagian dari kleniknya orang berpendidikan. Karena saya mengangkat angka itu adalah bagian dari mutashabihat.

Dan yang terpenting menurut saya adalah, bagaimana perjalanan kita di masa depan dengan 'perimngatan' yang telah Allah sampaikan dengan banyaknya peristiwa tersebut. Masihkan kita terjebak dengan analisa dangkal hitungan angka?
Jakarta, 27-31 Oktober 2010.

24 Oktober 2010

Dua Penyakit Belum


Ini catatan saya yang lain tentang berkendara. Seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu saya sudah meninggalkan rumah untuk menuju ke kantor tepat pukul 06.10. Penumpang pertama yang harus saya antar adalah anak bontot di Lapangan Tembak, Gelora. Perjalanan lanjut ke Blok M, dimana istri saya melanjutkan perjalanannya dengan Metro Mini 610 menuju Cipete. Untuk kemudian saya sendirian meneruskan rute Tendean-Tol Dalam Kota-Cempaka Putih -Pulomas. Biasanya saya telah sampai di halaman sekolah untuk menyambut siswa yang datang pada pukul 07. 10.

Dalam tulisan ini bukan rute perjalanan itu yang ingin saya sampaikan. Tetapi sebuah peristiwa tidak penting yang nantinya, semoga, kita dapat mengambil pelajaran darinya. Pelajaran untuk menjadi pribadi yang selalu mengedepankan baik sangka atau positive thinking, yang dalam tulisan ini saya sebut sebagai penyakit belum berpikir positif.

Dan pribadi yang berpikir panjang atau minimal berpikiran satu langkah ke depan, one step a head, dan bukan orang yang berpikir pendek. Yaitu berpikir hanya hingga apa yang ada di depan kita. Dalam istilah saya adalah penyakit belum berpikir panjang.

Dua pelajaran itulah yang mudah-mudahan dapat kita tarik hikmah dari cerita saya ini.

Dua Penyakit Belum

Cerita berawal saat perjalanan saya sampai putaran Semanggi di Jalan Sudirman. Seorang Ibu mengendarai mobil sedan yang berada di belakang saya persis. Mungkin karena buru-buru dan bermaksud mendahuli tetapi karena situasi jalan yang tidak memungkinkan, selalu membunyikan klaksonnya. Isyarat agar saya melaju lebih cepat. Sesuatu yang tidak mungkin saya lakukan mengingat ada kendaraan di depan saya. Dugaan saya bahwa pengendara sedan di belakang saya ini tidak melihat apa yang saya lihat.

Perjalanan sampai di perempatan Jalan Sisingamangaraja, persisnya di pojok Universitas Al Azhar. ke arah Blok M, rupanya pengendara sendan tersebut masih berada di belakang saya. Dan membunyikan klasosnya begitu lampu lalu lintas menyala hijau. Semenara laju kendaraan saya dan juga bus transjakarta masih terhambat oleh deretan kendaraan dari arah Jalan Hangtuah. Klakson itu baru berhenti setelah kendaraan saya dapat melaju.

Namun rupanya, pengendara senadan yang saya taksir minimal lulusan SMA itu membunyikan kembali klaksonnya ketika laju kendaraan saya terhambat kembali saat berada di jalur kiri di perempatan Sisingamangaraja-Panglima Polim menuju jalan Melawai Blok M.

Dengan peristiwa itulah saya berasumsi bahwa pengendara sedan dibelakang saya ini setidaknya mengidap dua (2) jenis penyakit perilaku belum. Yaitu penyakit belum berpikir positif dam belum berpikir panjang.

1. Belum Berpikir Positif

Karena pengendara itu selalu dihantui pikiran dan prasangka buruk. Dia menyangka bahwa kalau laju kendaraan saya pelan atau tidak jalan padahal lampu lalu lintas telah menyala hijau, karena saya adalah tipe pengendara lelet dan lemot. Sehingga dengan sengaja bermaksud menghambat pengendara sedan tersebut.

Dalam tiga rentetan klakson yang dibunyikan pada ruas jalan yang tidak terlalu panjang itu, dugaan saya sangat kuat bahwa, pengendara itu terjangkit penyakit perilaku belum memiliki atau mungkin belum belajar menjadi manusia yang berpikir positif. Misalnya; kok kendaraan di depan lajunya pelan, tapi saya tidak bisa melihat mengapa? Oh mungkin ada gerobak yang menghalanginya atau oh mungkin ada pesepeda. Atau pemikiran positif lain yang bukan curiga (?).

2. Belum Berpikir Panjang

Karena yang tampak hanya kendaraan yang persis di depannya, yang kebetulan kendaraannya lebih tinggi sedang kendaraan yang dikendarainya pendek dan tidak memungkinkan bagi dirinya untuk dapat melihat kendaraan yang ada di depannya lagi, maka sampai disitulah otaknya sampai pada sebuah kesimpulan. Berpikir hingga apa yang ada di depannya. Lebih dari itu ia tidak atau mungkin belum sanggup. Ia terjangkiti penyakit kedua, yaitu belum berpikir panjang.

Dalam beberapa kasus, model berpikir ini akan menjadi bumerang bagi pengendara itu untuk keselamatan dalam berkendara. Saya menduga terjadinya kecelakaan beruntun antara lain karena pengendara hanya konsentrasi kepada kendaraan yang ada persis di depannya. Hanya sebatas itu.

Itulah cerita saya dalam tulisan ini. Semoga saya dan Anda terhindar dari dua jenis penyakit perilaku buruk tersebut. Tidak hanya ketika kita berada di jalan raya saja. Mudah-mudahan juga saat kita berada dimana saja dan kapan saja. InsyaAllah. Amin.

Jakarta, Slipi, 24 Oktober 2010.

23 Oktober 2010

Memiliki Sekolah Sendiri?

Di sela-sela interview untuk posisi direktur di sebuah sekolah di belahan Indonesia Timur, sahabat saya datang menemui saya. Ia memanfaatkan waktu yang tersisa lebih kurang empat jam dari saat bertemu dengan saya hingga keberangkatannya kembali ke rumahnya. Saya tentu gembira dan bahagia berjumpa dengan sahabat yang lebih kurang dua tahun tidak berjumpa. Dan meski bertemu untuk beberapa jam, kami sepertinya telah berbincang hampir seluruh masalah hidup. Terutama masalah hidup yang kami geluti bersama, sekolah.

Banyak hal tentang sekolah yang kami bincang dan diskusikan. Tentang siswa, orangtua, guru dan staf pendidikan, pasukan keamanan sekolah, hingga pramubakti. Bahkan juga tentang cita-cita saya untuk memiliki lembaga pendidikan sendiri entah dimana.
  • "Masih bersemangat untuk mewujudkan mimpi tentang lembaga pendidikan sendiri?" Katanya.
  • "Alhamdulillah masih"
  • "Bagaimana jalan menuju kesana?" desaknya.
  • "Itu masalah terbesar saya. Namun setidakmnya saya telah berkali-kali membuat konsep sekolah itu. Dan anehnya, beberapa konsep yang saya buat telah direalisasikan teman lain dalam bentuk lembaga pendidikan." Jelas saya.
  • "Tapi bukan milik kamu?"
  • "Memang bukan. Tapi setidaknya telah membantu orang untuk mereka yang bingung merumuskan bentuk sekolah." Kata saya.
Perlu saya jelaskan kepada Anda bahwa, teman saya ini meski sekarang telah memimpin sebuah sekolah, tetapi tidak pernah mau untuk bercita-cita membuat sekolah sendiri. Menurutnya, dengan pengalamannya selama ini mengurusi sekolah orang, ia justru merasa tidak cukup memiliki minat membuat sekolah sendiri. Ketika saya desak dengan statmen; lebih baik kecil tapi milik sendiri daripada besar tapi milik orang lain. Dia malah tersenyum saja. Menurutnya, saya akan berhenti mengurusi sekolah orang kapan saja saya sudah merasa tidak mau mengurusi.

Dan dari pernyataannya itu, saya percaya bahwa apa yang dilakukannya hingga sekarang ini adalah bentuk profesionalismenya. Dan bukan sekedar untuk mencari nafkah? Saya pun tidak pantas meragukan kapasitasnya untuk mendapatkan sumber nafkah baru jika hal itu dilakukannya. Saya iri akan apa yang menjadi kepintarannya. Dan pada sisi itulah salah satunya yang membuat saya menjadi begitu bersemangatnya untuk bersahabat erat dengannya. Namun apa yang membuatnya tetap berkomitmen dalam bersahabat dengan saya, saya belum pernah bertanya kepadanya.

  • "Bagaimana interview tadi? Apakah ada kabar baik?" tanya saya kepadanya.
  • "Tampaknya begitu. Kabarnya baik sekali. Tapi justru disitulah saya datang kemari."
  • "Apa yang dapat saya bantu dengan kedatanganmu kemari?"
  • "Maksudku" lanjutnya.
  • "Bagaimana menurutmu lembaga yang ditawarkan untuk aku tangani itu."
  • "Setidaknya menurutmu." katanya tiada jeda.
  • "Lembaga yang bagus. Tapi tetap saja kamu harus bisa membawa diri. Bukan kapasitasmu yang aku khawatirkan. Tetapi strategimu." nasehat saya kepadanya.
Karena jam keberangkatan, kamipun harus mengakiri diskusi kami hari itu. Dalam perjalanan pulang, saya termngiang pada apa yang telah kami bincangkan. Seperti pentingnya strategi penerapan konsep selain kompetensi dan lain sebagainya. Juga tentang pertanyaanku sendiri. Memiliki sekolah sendiri?

Slipi-Depok-Slipi, 23 Oktober 2010

22 Oktober 2010

Berpikir Tingkat Tinggi, Higher-order Thinking



Berbasis kepada Taksonomi Bloom, terdapat tiga aspek dalam ranah kognitif yang menjadi bagian dari kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher-order thinking. Ketiga aspek itu adalah aspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta.
Sedang tiga aspek lain dalam ranah yang sama, yaitu aspek mengingat, aspek memahami, dan aspek aplikasi, masuk dalam bagian intilektual berpikir tingkat rendah atau lower-order thinking.

Bagaimana proses belajar yang terjadi di dalam kelas yang dapat mendorong siswa atau peserta didik memilki kemampuan berpikir dalam taraf higher-order thinking tersebut? Dalam Buku A Guide to...Productive Pedagogies, Classroom Reflection Manual yang diterbitkan oleh Curriculum Implemantation Unit, Teaching and Learning Branch, Education Queensland, dicontohkan tentang pembelajaran dalam Mata Pelajaran Matematika dengan topik bahasan mengelompokkan benda. (Secara lengkap dapat di baca dalam foto yang saya lampirkan. Yang saya ambil dalam buku tersebut di halaman 1).


Apa yang menjadi contoh dalam buku tersebut tentang bagaimana guru memberlajarkan siswanya untuk mampu berpikir kritis, adalah sesuatu yang sangat mungkin kita lakukan. Benda yang dimaksud dalam contoh, yang nantinya dapat dikelompokkan, adalah benda yang ada di sekitar ita juga. Hulahub, dapat pula kita ganti dengan benda lain seperti tali rafia. Namun pelaksanaan pembelajaran seperti dalam contoh adalah bukan sekedar urusan sumber daya belajar, tetapi lebih kepada paradigma kita tentang belajar.

Bila tujuan belajarnya adalah pengelompokan, mudah bagi kita di kelas meminta siswa mengelompokan benda-benda yang ada berdasarkan pada ketentuan yang telah kita sebutkan. Sehingga siswa hanya belajar tentang benda ini masuk dalam kelompok mana berdasarkan kriteria yang telah guru buat. Memasukkan benda dalam kelompok yang sesuai dengan kriteria yang ada, tentu berbeda sekali jika siswa harus terlebih dahulu membuat kriteria pengelompokan.
Disitulah letak terjelas dari konsep Lower-order thinking dan higher-order thinking.

Ketika siswa hanya tinggal mengelompokkan berdasarkan kriteria yang telah disiapkan, itu berarti kita hanya menuntut siswa untuk faham. Dan faham masuk dalam aspek memahami. Yang juga bagian dari lower-order thinking. Namun ketika siswa harun menentukan terlebih dahulu kriteria mana yang menjadi dasar bagi pengelompokkan benda, berarti siswa dituntun untuk mencipta dan kemudian menganalisa. Yang juga berarti masuk dalam proses higher-order thinking.

Itulah sekelumit yang kebetulan saya lihat dari buku pemberian teman. Mungkin berguna untuk Anda dan kelas Anda?

Jakarta, 22 Oktober 2010.

20 Oktober 2010

Karakter Kita, Tercermin di Halaman Publik


Wilayah publik, wilayah umum, wilayah sosial, adalah layar yang begitu luas dan jernih bagi penampakan karakter seutuhnya bagi diri kita. Dimana dan kapan saja kita berada. Karakter kita, perilaku kita, budi pekerti kita, melekat erat pada dinding-dinding sosial itu. Baik yang kita coba untuk sembunyikan atau kita beberkan. Bahkan jikapun berhasil kita coba pendam ke dasar samudera, hanya soal waktu saja bagi angin untuk mengungkapkannya.

Di rumah saat berkumpul dengan keluarga, di jalan saat kita beraktivitas, atau di kantor saat dimana kita mengamalbaktikan diri bagi masyarakat dan keluarga. Maka pada ranah itulah siapa kita tercermin. Dan bila menengok 10 karakter yang berlaku di sekolah saya, maka disitulah landasan penilaian kepada kepribadian. Apakah saya adalah manusia yang telah menjadi dan memiliki perilaku; tangung jawab, displin, jujur, percaya diri, mandiri, kerjasama, peduli, hormat, dan sabar.


Sebagai contoh saja, bila saya melakukan sesuatu di sebuah acara atau kegiatan, tidak perduli apakah sesuatu itu formal atau tidak formal, maka sesuatu itu akan menjadi bahan penilaian bagi khalayak dalam forum yang ada tersebut. Apa kriteria yang akan mereka pakai untuk menilai sesuatu yang saya perbuat? Ya kalau forum itu adalah sekolah saya, pasti 10 karakter atau attitude yang hidup di sekolah saya akan menjadi acuannya.

Dan bagi khalayak atau komunitas sekolah, akan mengingat sesuatu yang saya ucapkan, visikan, nyatakan dan lakukan akan masuk dalam folder memori mereka untuk kemudian, jika telah terkumpul beberapa file, dapat menarik kesimpulan berkenaan dengan performa saya secara holistik.

Di sini saya ingin katakan bahwa, kepada anggota khalayaklah kita dapat memperoleh gambaran secara keseluruhan tentang diri kita. Tentang siapa saya. Tentang seberapa besar dan banyak saya telah memberikan perhatian dan komitmen terhadap investasi pemuliaan diri. Dan itu semua berawal dari keikhlasan kita dalam 'menatap' cermin secara jujur dan apa adanya. Bila masih ada satu mili meter pun ketidakjujuran dalam menengok gambar kita dalam cermin, sesungguhnya kita telah menjauhkan diri menuju pribadi yang lebih mulia.

Dari konsep inilah saya bermohon kepada pemilik semua yang ada di bumi dan di langit, penguasa ilmu yang tidak dapat dikuasai oleh siapapun hingga kapanpun, Dia yang memasukkan siang ke dalam malam, dan menggantikan malam dengan siang, yang memudahkan bahtera melayari samudera luas, jadikanlah selalu pribadi yang terbuka dan pribadi yang jujur dalam menatap gambar diri. Peka terhadap lingkungan sekitar. Dan juga mau untuk selalu merubah diri secara terus menerus menuju pribadi yang lebih baik dan lebih bermartabat. Sebagai jalan menuju keridoan-Mu dan menemukan akhir yang baik. Khusnul Katimah. Amin.

Jakarta, 20-22 Oktober 2010.

19 Oktober 2010

Membuat Kesimpulan, Refleksi sebuah Keputusan


Ketika ada penilaian sebuah kinerja, maka pada saat itu juga kesimpulan telah diambil dari serangkaian data dan fakta yang ada. Dan jika masih terjadi ketidaksinkronan antara penilaian tersebut dengan data dan fakta yang ada, menurut saya ada dua masalah. Masalah pertama adalah berkenaan denfan data dan fakta yang ada. Dan masalah kedua adalah bagaimana menafsirkan data dan fakta yang ada tersebut dalam indikator atau kriteria penilaian yang ada dan disepakati.

Hal ini saya tulis berkenaan dengan pengalaman bahwa seseorang telah divonis dengan hasil penilaian kinerja yang kurang baik oleh atasannya. Sementara yang bersangkutan merasakan kesulitan yang teramat luar biasa untuk merealisasikan apa yang telah disampaikan atasannya. Dan dari sinilah ketidak sinkronan terjadi.

Sebagai bawahan, ia menyadari hal ini sebagai bagian yang kurang dalam kinerjanya. Tetapi rupanya tidak berhenti disini. Karena indikator yang disepakati, menurutnya, tidak berdasarkan kepada siatuasi riel yang ada di lapangan. Karenanya bawahan itu selalu menemui kendala saat ekskusi kesepakatan itu.

Dari dua paragraf latar belakang masalah di atas, kesimpulan saya adalah adanya data dan fakta yang tidak valid atau tidak sahih dan juga data dan fakta yang tidak reliabel. Dua hal yang berkenaan dengan data dan fakta tersebut karena data yang digunakan bukanlah data dan fakta yang mampu menggambarkan ralitas secara keseluruhan. Namun hanya gambar pecahan-pecahan, bagian-bagian, yang memiliki dua kemungkinan. Yaitu kemungkinan saling kait mengkait antara bagiannya secara runtut. Atau berkait secara berlompatan. Atau bahkan bagian-bagian yang yang tidak berkait sama sekali. Sehingga dengan sendirinya pemaknaan antar bagian dari fakta dan data tersebut akan melahirkan permasalahan tersendiri.

Lalu apa yang telah ia lakukan terhadap kenyataan yang dialaminya? Tidak ada yang dia lakukan selain menerima apa adanya. Meski ia mengakui hal itu sebagai hal yang tidak adil baginya, ia sejauh ini hanya menuliskan apa yang dialami dalam mind map di buku kegiatan hariannya.

Ia meyakini bahwa sekecil apapun kebenaran atau keburukan atau ketidakcermatan, pasti akan terungkap juga. Dan keyakinan yang kokoh tersebut tak mampu menggoyahkan sikapnya untuk menerima penilaian yang disampaikan atasannya kepada dirinya.

Jakarta, 19-21 Oktober 2010.

13 Oktober 2010

Kepala Sekolah, adalah Juga Guru

Kepala Sekolah adalah juga guru bagi siswa-siswinya yang menjadi peserta didik di sekolahnya dan juga guru bagi para guru-gurunya. Oleh karenanya, maka Kepala Sekolah secara jumlah adalah guru yang memiliki tugas tambahan. Tugas tambahan itu dihargai sebesar 18 jam pelajaran per pekan menurut ketentuan yang ada. Maka 6 jam pelajaran sebagai pelangkap bagi tugas minimal yang harus diembannya sebesar 24 jam pelajaran per pekan. Itulah Kepala Sekolah. Itukah Anda?

Berbagahagialah jika Andalah Kepala Sekolah itu. Seperti yang saya sampaikan kepada teman-teman saya di sekolah saat Rapat Manajemen sore itu, Rabu, 13 Oktober 2010. Ungkapan ini harus saya sampaikan kepada kawan-kawan untuk meneguhkan hati dan tekad mereka dalam merealisasikan sekolah impiannya. Sekolah yang dilandasi oleh semangat untuk mengembangkan generasi yang jujur dan terhormat dalam ridho Allah Swt. Agar kita semua selalu bergairah dalam menjalani impiannya.

Kepala Sekolah juga adalah guru, karena sesungguhnya para Kepala Sekolah itu menghadapi para guru yang pola perilakunya sama dan juga senada dengan para siswa di dalam kelas, meski dengan kadar yang berbeda. Jika guru di dalam kelas menghadapi siswa yang sering harus diingatkan pekerjaan rumahnya, maka sesungguhnya Kepala Sekolah juga memiliki guru yang setipe dengan siswa tersebut. 

Misalnya tenggat waktu untuk mengumpulkan RPP atau bahkan draft rapot kadang masih sering harus diingatkan. Dan satu dua pengalaman paling parah pun kadang masih terjadi di beberapa sekolah. Seperti yang dialami oleh salah satu teman yang harus mengerjakan rapot hingga tengah malam karena Pak Guru menggunakan model kebut semalam. Dan ternyata semalaman tidak kelar atau selesai juga.

Apa langkah penyelesaian? Seperti juga guru, maka tidak ada jalan lain bagi Kepala Sekolah untuk mendapatkan teman-teman guru yang berkualitas selain menemani mereka untuk mengembangkan dirinya. Dan pada tahap ini pun masih kita temukan ada diantara mereka yang akseleratif dalam ikhtiar memaksimalkan potensi, ada pula yang sedang0sedang saja, ada pula bahkan yang perlu benar-benar diajak dialog antar hati.

Dan usaha yang dilakukan oleh Kepala Sekolah itu membutuhkan visi, kominmet dan kesabaran atau bahkan tidak jarang ketabahan. Oleh karenanya, saya berujar dalam hati untuk menguatkan prinsip keberadaan saya; jangan pernah lelah untuk membantu orang menemukan 'kemuliannya'. Karena tugas Kepala Sekolah mendidik gurunya juga masuk dalam ranah tersebut.

Selain itu, Ketika guru kita 'terdidik' dan terasah soft skill-nya, maka kita sebagai Kepala Sekolah akan dapat fokus kepada pengembangan sekolah dan pengembangan pelayanan kepada siswa peserta didiknya. Dan bukan lagi kepada komplain orangtua atau masyarakat sekolah lainnya karena ketidakpuasannya. 

Jakarta, 6-19 Oktober 2010.