Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

15 Oktober 2017

Tentang Rencana Budget

Bersyukur bahwa ketika diberikan amanah disuatu tempat di sebuah lembaga pendidikan yang bernama sekolah, saya sekaligus juga memperoleh pengetahuan tentang bagaimana tentang budget sebuah lembaga. Ini menjadi pengalaman berharga buat saya yang berangkat sebagai seorang guru, yang sejak awalnya tidak ada pengetahuan tentang bagaimana per-budget-an. Sebagai seorang guru, maka sejak awal pendidikan di lembaga pendidikan guru, kuliah di jurusan guru, hingga masuk di dalam sekolah, pengetahuan bagaimana membuat budget, menggunakan budget, hingga membuat laporan dari budget yang telah selesai digunakan, menjadi sesuatu yang gelap.

Bahkan yang lebih sederhana dari itu, tentang standar dari kuitansi pembelajaannya, sama sekali tidak ada pengetahuannya. Maka ketika mendapatkan kesempatan untuk duduk bersama dengan pihak sekolah yang bertanggungjawab tentang keuangan sekolah, benar-benar menjadi anugerah tersendiri buat saya. Seperti merasa salah masuk ruang kuliah. 

Sekarang, setelah beberapa tahun berada dalam ranah budget, sedikit memahami apa yang harus menjadi esensi dari budget itu sendiri dalam perannya di operasional sekolah atau lembaga pendidikan formal. Sebagaimana yang menjadi tanggung jawab saya sekarang ini.

Juga ketika berada di dalam lembaga pendidikan yang berbeda, saya menjadi lebih tahu lagi tentang bagaimana pengelolaan dan sudut pandang masing-masing tentang fakta dari budget lembaga. Itulah yang menjadi rasa syukur saya tentang apa yang selama ini saya alami.

Pengetahuan dan pemahaman tersebut, membawa saya kepada kesadaran akan pentingnya sebuah perencanaan yang detil hingga kepada tahapan operasionalnya, kepada pelaksanaan kegiatan yang benar-benar sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya, dan pembuatan laporan yang sahih.

Namun bagaimana pengetahuan, pemahaman dan kesadaran tersebut saya sampaikan dan alihkan kepada teman-teman saya yang sekarang mereka masih berusia muda dan pada posisi guru di lembaga yang diamanahkan kepada saya tersebut? Inilah yang menjadi proses berikutnya yang sedang berjalan di lingkungan terdekat saya.

Jakarta, 15 Oktober 2017.

05 Oktober 2017

Sadar Budget

Di sekolah swasta, pengetahuan akan budget sekolah, atau lebih jauh lagi sadar akan budget, kadang masih menjadi milik manajemen sekolah. Bagian manajemen sekolah yang terdiri dari Bapak dan Ibu Kepala Sekolah dan para pengelola Yayasan memiliki cara pandang tentang belanja berbasiskan budget yang telah disusun dan disepakati. Memang tidak semuanya, namun pada level itu, memiliki kesadaran dan aplikasi tentang penggunaan anggaran yang sesuai budget, bahkan lebih dari itu, prinsip efektif dan efisien menjadi keterampilan yang telah inheren dalam pelaksanaan tugasnya.

Sebagaimana yang telah saya catat pada beberapa lalu bahkan masih ada bagian manajemen yang selalu berpikir kepada ketersediaan anggara karena di awal tahun sebelumnya alokasinya telah disiapkan. Pemahaman akan adanya hal ini tidak menghiraukan kalau ada bagian lain dari operasional  lembaga lembaga yang akhirnya tidak memungkinkan untuk dilakukan penambahan anggaran karena anggaran telah diserap pada alokasi yang lain. Padahal jika pengertiannya akan efektif dan efisien, maka ia sesungguhnya masih dapat melakukan beberapa revisi di anggaran tahun berikutnya sehingga prinsip efektif dan efisien benar-benar mencapai sasarannya.

Pada tataran guru dan karyawan, kesadaran akan budget menjadi minim. Pengetahuan untuk memahami bagaimana sekolah atau lembaga mendapatkan pemasukan dan mengalokasikan anggaran yang ada pada setiap tahunnya adalah sesuatu yang tidak memiliki kausalitas dan seolah mengalir sebagaimana aliran sungai yang ada. Pendek kata, tidak ada gambaran yang memadai akan operasional sebuah lembaga dari sisi pemasukan dan belanja. Dan jika telah sampai pada titik ini, tidak salah bila akhirnya lahir pendapat atau bahkan pendapat yang begitu melenceng tentang anggaran lembaga.

Sebagaimana dengan apa yang saya alami beberapa tahun yang lalu akan usulan budget untuk kebutuhan akan kertas A 4 oleh seorang staf. Namun karena kurangnya informasi tentang bagaimana menganggarkan, maka ketika di rapat anggaran yang dimunculkan adalah banyaknya rim kertas yang diusulkan untuk didapatnya di tahun pelajaran depan.

"Benar Bapak akan membutuhkan kertas sepanjang tahun pelajaran depan 20 rim?" tanya saya kepada seorang bawahan.

"Benar Pak. Saya membutuhkan kertas sebanyak itu untuk keperluan administrasi yang saya butuhkan di tahun pelajaran depan." Jelasnya dengan penuh keyakinan. Lalu saya mengajaknya untuk melihat secara detil apa arti kertas 40 rim itu, dan kebutuhannya sebagai staf kurikulum di sekolah saya.

Bahwa 40 rim itu sama artinya dengan 40 kali 500 lembar, yang artinya 20.000 lembar kertas A4. Maka jika dalam satu tahun pelajaran ada 250 hari kerja/hari belajar, maka ia akan menggunakan kertas tersebut dalam satu harinya sebanyak 80 lembar. Apakah kertas sebanyak itu benar-benar yang menjadi kebutuhannya?

Alih-alih apa yang saya sampaikan itu dimengertinya, justru ia memiliki pandangan yang berbeda terhadap saya berkenaan dengan anggaran sekolah. Yaitu pelit.

Jakarta, 5 Oktober 2017.

04 Oktober 2017

Memilih Jalan Melingkar

Saya selalu memilih jalan melingkar jika itu adalah perjalanan menuju Jakarta seusai liburan. Karena perjalanan pulang, untuk kemudian kembali ke habitat normal, bekerja, adalah sesuatu yang tidak ada pilihan. Maka memilih jalan melingkar yang membutuhkan waktu lebih dibandingkan jalan yang lurus-lurus saja, menjadi pilihan terbaik buat saya.

Namun bagaimana dengan persoalan yang membutuhkan negosiasi untuk mencapai sebuah kesepakatan? Apakah saya akan memilih strategi berliku untuk menemukan satu kata yang sama-sama dapat disepakati? Terutama jika jalan yang saya ambil memang jalan yang pasti tidak akan efektif serta memakan waktu? Tentunya tidak, jika jalan berliku itu saya telah secara gamblang tahu ujungnya.

Saya akan mengambil jalan yang strategis untuk lembaga yang menjadi payung saya dan juga untuk pihak yang harus menjadi target buat tercapainya kesepakatan. Saya pasti tidak akan memberikan alternatif kepada pihak yang harus bersepakat dengan saya jika saya memprediksi bahwa alternatif tersebut tidak akan menarik untuk dia.

Saya pasti hanya akan memilih jalan standar dengan payung yang berlaku secara normatif jika alternatif yang lebih menarik tidak menjadi restu pimpinan lembaga yang memberikan wewenang kepada saya. Sebagaimana yang saya dapatkan terhadap apa yang ditawarkan oleh mereka saya kepada pihak yang seharusnya menyepakati.

Dan saya tidak akan menjadikan kesepakatan yang ada hanya akan mempertimbangkan pihak sebelah saja, tetapi juga mempertimbangkan timbangan yang adil. Dan sekali lagi, untuk aman dan nyamannya, saya akan memilih jalan yang benar-benar sesuai standar normatif.

Bagaimana jika standar normatif itu juga rupanya bukan menjadi restu lembaga? Pada posisi ini saya akan bertanya kepada lembaga saya; Apakah kita harus mendapat paksaan dari pihak terkait untuk benar-benar melakukan yang normatif atau kita melakukan yang normatif atas harkat dan martabat sendiri?

Pilihan dan resiko tersebut saya kemukakan kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap sebuah kesepakatan agar jangan sampai kita melakukan jalan yang melingkar-lingkar sementara jalan yang lurus telah tersedia.

Hanya sebagai renungan atas apa yang saya terima pada Sabtu, 30 September 2017 dari seorang kawan lama saya yang pernah sebagai kolega.

Jakarta, 4 Oktober 2017.

27 September 2017

Hujan dan Terlambat

Hujan datang tepat ketika saya tengah berada di tengah perjalanan menuju ke kantor. Bersyukur, bahwa hujan kali ini benar-benar lebat setelah beberapa pekan Jakarta dengan terik matahari yang menyengat. Jadi saya santai sekali dengan menerima hujan yang turun di tengah perjalanan di atas ojeg motor. Nikmat sekali.

"Bapak saja yang memakai jas hujan ini Pak. Saya hujan-hujanan saja. Kebetulan setelah ini saya akan pulang." Kata abang ojeg sembari memasukkan dompet dan alat komunikasinya ke dalam plastik untuk menghindari basah oleh air hujan. Saya sendiri disibukkan dengan jas hujan abang ojeg yang masih gres. Baru!

Saya terhalang hujan di kawasan Menteng tersebut ketika jam tangan saya masih menunjukkan pukul 05.50. Masih pagi. Mungkin ada diantara teman-teman kolega saya yang masih bersiap untuk beranjak menuju kantor pada jam sepagi itu. Saya sudah mendekati kantor karena saya pikir tidak ada lagi yang harus saya kerjakan di rumah sehingga saya memilih untuk hadir di kantor sepagi mungkin saya bisa.

Dan hujan memang menjadi berkah pagi ini. Karena hingga saya sampai kantor sepuluh menit berikutnya, hujan masih dengan kuantitas yang sama. Di sepanjang perjalanan yang sepi, kendaraan melaju dengan memercikkan air hujan yang tergilas oleh roda-roda mereka.

Cling...
Begitu bunyi seluler saya ketika menerima pesan yang masuk. Sebuah foto kondisi jalanan yang padat (baca; macet). Foto diambil dari dalam kendaraan roda tiga yang juga terjebak macet. Jam telah menujukkan lewat dari jam masuk kantor.

Saya hanya berpikir seperti jalan logika saya selama ini; hujan menjadi argumentasi paling menarik untuk sebuah kedatangan masuk kerja terlambat.

Jakarta, 27 September 2017.

11 September 2017

Tukar Kaos Kaki

Pagi ini saya tergopoh-gopoh untuk naik ke lantai dua sekolah menuju kelas 3 SD. Ya saya sedang berkepentingan untuk memanggil salah satu peserta didik saya yang duduk di bangku kelas tiga atas infomasi dari kakaknya yang duduk di kelas VI, yang pada waktu yang sama sedang menemani adiknya paling kecil di koridor kelas I, di lantai bawah.

"Adik saya minta tukar kaos kaki Pak. Tapi minta tukarnya sama kakaknya yang di kelas III." Kata seorang kakak yang duduk sembari memeluk sang adik yang tidak mau berpisah. Sang adik sesunggukan, menangis. 

"Tapi adik saya tidak mau saya tinggal untuk memanggil kakaknya. Jadi saya bingung." Kata sang kakak dengan tetap memeluk adiknya yang masih menangis.

Beberapa anak kelas I yang kelasnya ada di koridor itu tertarik untuk mendengar apa yang sedang kami percakapkan. Dan sang adik tetap dengan pendiriannya untuk minta tukar kaos kaki dan tetap tidak mau ditinggal kakaknya guna memanggil kakaknya yang satu lagi.

Memang ada empat anak dari keluarga tersebut yang sekolah di sekolah saya pada tahun pelajaran ini. Putra pertama duduk di kelas IX, yang nomor dua di kelas VI yang sekarang sedang membujuk sang adik yang merupakan anak bungsu yang duduk di kelas I. Sedang kakak yang satu lagi yang kaos kakinya diminta adik bungsunya untuk tukar adalah anak ketiga yang ada di kelas III.

"Baik. Pak Agus akan bantu kamu. Memanggilkan kakakmu di kelas III." Kata saya kepada kakak beradik tersebut.

Ketika bertemu dengan anak yang sedang saya cari, segera saya sampaikan apa yang diminta oleh adiknya untuk bertukar kaos kaki dengannya. Apa yang saya kemukakan dan terdengar oleh teman-temannya yang berada di kelas III tersebut menarik perhatian. Maka ketika saya bersama sang kakak keluar kelas menuju koridor kelas I, beberapa teman laki-laki di kelas III ikut serta menuju kelas I.

Alhamdulillah. Ketika kakak beradik itu bertemu di koridor, maka sang adik bungsu segera reda dengan tangisannya. Alhamdulillah. 

Jakarta, 11 September 2017.

02 September 2017

Maaf Pak, Saya Bohong Bilang sudah Beli

Dalam catatan saya sebelumnya berkenaan dengan  buku pegangan belajar peserta didik saya yang belum juga membawa padahal telah berulang saya ingatkan, dan beralasan bahwa ia telah memesan (baca; membeli) buku yang saya sampaikan untuk diadakannya via on line (http://aguslistiyono.blogspot.co.id/2017/08/saya-sudah-beli-via-on-line-pak.html),  ternyata dalam pertemuan dengan saya terakhir pada Kamis, 31 Agustus lalu, ia justru mengaku belum membeli buku yang dimaksudkan. Alias bohong.

"Maaf Pak Agus. Saya sebenarnya belum membeli buku yang Pak Agus sudah pesankan. Tapi supaya Pak Agus tidak bertanya terus jadi saya mengaku saja kalau sudah membeli." katanya.

"Baik. Kalau begitu kapan kamu benar-benar akan membawa buku yang kamu maksudkan?" Kata saya dan memberikan komentar tentang bohongnya yang telah dia akui didepan teman-teman satu kelompk yang belajarnya bersama dengan saya.

"Saya janji setelah masuk lebaran Haji Pak." Katanya dengan penuh kepastian. Teman-temannya yang ada di kelompok itu hanya terdiam atas janji yang disampaikannya.

"Baik. Pak Agus akan mengingat apa yang kamu sampaikan kali ini berkenaan dengan janjimu untuk membawa kelengkapan belajarmu di Selasa tangal 5 September 2017. Dan Pak Agus meminta teman yang ada di kelompok ini menjadi saksi atas apa yang telah kamu kemukakan." Sambut saya kepada siswa tersebut.

Jakarta, 2 September 2017.

Budgetnya Ada Pak

Dalam sebuah rapat di sebuah sekolah swasta, saya bertanya kepada seorang pendidik yang menempati posisi sebagai Direktur Sekolah, sebuah posisi yang mempersonifikasikan sebagai wakil dari pemilik sekolah atau Yayasan yang ada di operasional sekolah tersebut, berkenaan dengan alokasi pembiayaan yang dalam pengalaman saya tergolong mewah.

Sekolah swasta menjadi penekanan bagi saya karena lembaga seperti ini normalnya membutuhkan biaya tang tidak sedikit untuk investasi awal. Dan sebagai lembaga yang baru ketika diinisiasi, maka tidak sedikit kebutuhan dana yang harus di-support secara mandiri yang kepastian dana tersebut kembali baru dalam perhitungan di atas kertas. Maka ketika sekolah dan lembaga tersebut telah berjalan, langkah pasti yang selalu menjadi visi bagi pimpinan sekolahnya adalah efisiensi dan efektivitas. Konsep efisiensi dan efektivitas bukan berarti sekolah harus benar-benar selalu membuat seminimal mungkin budget kegiatan, tetapi juga bukan berarti harus membuat kebutuhan dana terlampau tinggi. Jadi dilihat dari kepentingan dan urgensinya.

Pemahaman seperti itulah yang selalu menjadi pijakan saya ketika dalam sebuah rapat penetapan budget atau pertemuan berkenaan dengan program kegiatan sekolah. Dalam pertemuan seperti itu, saya yang berada di posisi Yayasan, yang juga menjadi representasi pemilik lembaga, selalu mengajak para representasi pemilik lembaga di tingkat operasional untuk melakukan cara pandang yang sama. Tetapi hal ini kadang menjadi kendala atau juga dapat dikatakan sebagai penghalang bagi para manajer operasional. 

Hal ini karena apa yang telah mereka buat dalam draft anggaran mendapat kritisi dari saya. Pada apa yang saya sampaikan tidak lain adalah untuk mengajak teman-teman di operasional menemukan rumusan yang faktual dan nyata. Misalnya dalam pertanyaan saya pada satu angaran; dari mana angka itu munculnya? Apakah dapat dijelaskan asal-usulnya?

Juga ketika pertanyaan saya berkenaan dengan budget rekreasi guru yang tercermin mewah. Ini karena dalam rencana yang dipresentasikan memperlihatkan biaya per orang yang lumayan tinggi. Maka saya bertanya kepada mereka yang mendapat jawaban yang 'mengagumkan' dari penanggungjawab sekolah itu; Karena budgetnya ada Pak.

Dari jawaban tersebut akhirnya teman yang ada di perangkat Yayasan meminta saya untuk terus menerus mendampingi operasional sekolah agar memiliki cara pandang yang sama koordinatnya sebagai sekolah atau lembaga pendidikan swasta.

Sebuah tugas yang memang tidak ringan. Karena ternyata pemahaman sebagai sekolah swasta saja belum benar-benar dapat diterimanya dengan tulus...

Jakarta, 2 September 2017

Berqurban di Daerah

"Berqurban di lokasi desa lebih dirasakan oleh penduduk desa. Karena mereka memang mayoritas terdiri dari masyarakat yang tidak berkelebihan." Kata seorang teman saya kepada saya di sebuah kendaraan ketika kami baru saja berjumpa.

"Tapi kata ustad, paling afdol kalau berqurban di daerah dimana Anda bertempat tinggal. Karena kebermaknaan Anda untuk tetangga Anda sendiri dirasakan langsung." Kata teman saya yang lain. Kalimat ini sekaligus sebagai perbandingan. Saya secara pribadi melihat dua arus pendapat tersebut secara moderat saja. Bahwa itu adalah dua pendapat yang sama-sama baik jika dilihat dari kacamata horisontal. Itu saja. 

Lalu bagaimana saya? 

Sejak beberapa tahun yang lalu, saya bersama-sama teman-teman di sekolah memang melakukan apa yang kami sebut sebagai Tebar Qurban. Ini karena posisi saya dan teman-teman hanyalah sebagai petugas yang menyalurkan hewan qurban, yang berasal dari peserta didik kami, yang terdiri dari mereka yang masih duduk di bangku Kelompok Bermain, yang berusia sekitar 3 tahun hingga yang telah duduk di kelas IX SMP.

Tebar qurban yang saya maksudkan adalah menentukan terlebih dahulu titik lokasi qurban yang akan menjadi tujuan kami. Lalu dari tujuan lokasi tersebut, kami buatkan surat pemberitahuan kepada warga sekolah tentang lokasi-lokasi yang akan menjadi pelaksanaan qurban. Dengan titik yang telah kami tentukan dan kami sampaikan bersamaan dengan harga hewan qurban dengan spesifikasinya, maka siswa atau orangtua yang bermaksud berqurban di tahun ini melalui sekolah dapat memilih lkasi qurban yang diinginkan.

Dan alhamdulillah dalam pelaksanaan kegiatan seperti ini sejauh ini tidak ada kendala atau hambatan yang membuat program tersebut tidak berlangsung lagi. Dan dengan pelaksanaan model seperti ini, kami selalu menemukan pelajaran sangat berharga di kampung-kampung yang menjadi titik pelaksanaan qurban tersebut. Kami dapat belajar mensyukuri apa yang kami dapatkan atau miliki selama ini. Setidaknya inilah pengalaman berharga yang kami dapat dalam tebar qurban dari sekolah.


Jakarta, 2 September 2017.

31 Agustus 2017

Saya Sudah Beli via On Line Pak

Hari ini, Kamis tangal 31 Agustus, saya mengkonfirmasi kembali kepada salah satu peserta didik saya tentang buku standar yang seharusnya menjadi kewajibannya untuk dibawa dan menjadi acuan membaca setiap pagi di hari Senin-Kamis seusai Shalat Dhuha. Konfirmasi itu dalam bentuk menagih kewajibannya yang sudah diingatkan sejak awal bulan Agustus yang lalu. etapi hingga hari ini, ketika kembali saya bertanya tentang buku yang seharusnya ada, kembali ia mengatakan kalau lupa untuk membawanya.

Beberapa waktu lalu, ketika awal-awal saya mengingatnya, ia mengatakan bahwa ia telah mengorder buku yang dimaksud via on line. Buku yang diorder itu adalah buku yang seharusnya ia bawa sebagai pengganti bukunya yang sekarang ia pakai. Bukunya yang sekarang tidak standar sehingga akan menjadi halangan dan penghambat kemajuannya.

Atas apa yang menjadi keterangannya itu, saya memahami dan mengikhlaskan kalau dia tidak sama sebagaimana teman-temannya yang lain. Namun karena waktu pesan dan belum ada kelengkapannya, maka saya kembali mengingatkannya. Jawabannya kala itu adalah belum datangnya paket buku yang telah dipesannya. Dijelaskan bahwa dari informasi yang didapatnya, paket baru akan sampai ke rumahnya pekan depan. Sebelum saya selesai mengajar dan meninggalkan kelasnya, saya wanti-wanti untuk tidak lupa membawa buku tersebut di hari Seninnya.

Namun ketika waktu berlalu dan melihatnya belum juga dengan kelengkapan yang seharusnya, saya kembali bertanya mengapa buku belum juga dibawa? Namun alih-alih membawa buku sebagaimana yang telah ia nyatakan lupa, karena pada hari ini ia ternyata benar-benar memang mengabaikan apa yang seharusnya menjadi perhatiannya.

"Maaf Pak, sebenarnya saya waktu itu bilang saja kalau saya sudah beli. Saya sampaikan demikian supaya Pak Agus tidak bertanya-tanya lagi." Jelasnya ketika saya terpaksa menyampaikan dugaan saya langsung kepadanya.

"Saya benar-benar akan membeli buku itu dan membawanya Selasa, 5 September Pak." Begitu janjinya kepada saya dengan saksi para temannya yang duduk tidak jauh darinya.

"Baik. Pak Agus akan mengingatnya dan bertanya kepadamu Selasa, 5 September 2017. Kemudian akan mengirim berita kepada orangtua jika pada hari itu janjinya tidak dipenuhi." Kata saya.

Jakarta, 31 Agustus 2017.

30 Agustus 2017

Bapak Suka Jalan-Jalan ya?

Di koridor lantai sekolah, disaat istirahat pagi sedang berlangsung, datang kepada saya seorang siswa kelas V SD yang usai dari kantin sekolah yang ada di lantai dua, bertemu dengan saya. Saya kebetulan memang sedang istirahat dan menemani siswa yang sedang berada di koridor tersebut. Saya berada di koridor itu bersama dengan seorang guru SMP yang kebetulan sedang menunaikan tugas piket.

"Bapak kok ada di sini? Bukannya tadi saya melihat Pak Agus berada di kantin sedang makan?" Begitu pertanyaan anak kelas V tersebut sembari mendekat ke kami yang sedang duduk di kursi putih panjang. Benar bahwa kami sebelumnya bertemu di kantin ketika saya harus sarapan dan si anak tersebut juga melakukan hal yang sama. Tetapi karena saya datang ke kantin lebih dulu, maka saya segera menuju ke lantai tiga karena bermaksud menemui seorang guru.

"Benar. Karena Pak Agus ingin berdiskusi dengan Pak Guru yang kebetulan mengajarnya di kelas yang ada di lantai tiga. Dan kamu, apakah telah selesai dengan kebutuhanmu di kantin?" Jawab saya yang tetap pada posisi duduk kami.

"Sudah Pak. Aku tadi hanya membeli jagung manis Pak. Nanti siang baru makan pas istirahat sebelum shalat." Begitu penjelasan anak tersebut. Ia kembali ke kelasnya tidak bersama teman-temannya. Ia hanya sendiri ketika berjumpa dengan saya.

"Bapak suka jalan-jalan ya." Katanya lagi. Pertanyaan yang membuat saya sendiri kurang merasa jelas arah yang dia ingin tahu tentang saya.

"Apa maksudnya jalan-jalan? Maksudnya jalan-jalan ke luar kota? Piknik?" Balas saya sedikit bingung dan menebak arah pertanyaan yang disampaikan.

"Ia jalan-jalan. Tadi saya kan dari kantin dan bertemu Pak Agus. Tetapi ketika saya akan kembali ke kelas saya bertemu lagi dengan Pak Agus di sini? Jadi Bapak suka jalan-jalan kan?" Jelas anak itu lebih detil. Saya menjadi faham apa yang dia maksudkan.

"Pantesan, saya sering lewat di depan ruang kerja Pak Agus dan jarang melihat Pak Agus ada di ruangan. Saya sering bertemu dengan Bapak justru di luar ruangan Bapak kerja?" Kata anak tersebut. Pertanyaannya, menyiratkan kepada saya bahwa peserta didik saya yang satu ini telah memberikan perhatian kepada saya. Setidaknya telah memberikan satu penilaian tentang saya. Terimakasih.

Jakarta, 30 Agustus 2017.

21 Agustus 2017

Bacalah Apa Dibalik Beritanya?

Berikut ini saya mencoba kompilasikan dua berita yang saling melengkapi buat saya sebagai pembacanya. Berita pertama adalah berita yang berisi pernyataan dari pejabat Bupati yang dimuat di surat kabar Republika Online pada Selasa, 15 Agustus 2017. 

Pada saya membaca berita ini di layar ponsel saya, yang terkumpul dalam judul-judul berita via Twitter yang saya ikuti, ada pernyataan yang membuat saya ingin tahu lebih lanjut. Berita ini berkenaan dengan pendapat akan peninggalan Belanda pada Indonesia yang hingga hari ini, setelah 72 tahun Indonesia merdeka, sebagian dari peninggalan tersebut masih dapat berfungsi.

Berita tersebut adalah; 

Tampaknya, pada surat kabar yang sama, yang terbit pada Jumat, 18 Agustus 2017, ada seorang pembaca yang menulis dengan fokus yang sama tetapi dengan sudut pandang berbeda. 

Seperti inilah berita tersebut;


Untuk menambah cakrawala pandangan kita tentang fokus yang menjadi perbincangan mereka, saya menyarankan agar dapat membuka link berita tersebut.

Jakarta, 21 Agustus 2017.

Ketahuan Juga...

"E.... Ketahuan juga." Begitu kalimat pertama yang saya dengar yang diucapkan oleh seorang peserta didik saya dalam posisi sedang menunduk dengan topi di kepalanya. Ia memang sedang bersembunyi di sebuah ruang yang ada diantara lemari yang berisi kertas-kertas dan mesin foto kopi. Anak tersebut memang bersembunyi di ruang foto kopi yang ada persis di bawah tangga lantai I sekolah kami.

Mengapa ia bersembunyi dan bagaimana saya menemukan keberadaannya?

Ia bersembunyi karena tidak ingin segera pulang, meski nenny telah menjemput dan menunggunya di hall sekolah. Maka untuk tujuan mencari anak tersebut, saya mencoba mengitari sekolah. Saya menuju tempat dimana biasanya anak laki-laki bermain futsal sebelum mereka pulang ke rumah.

Maka ketika saya menemukan dia berada bersama teman-temannya di plasa SD sedang bermain futsal, saya segera memanggilnya dan memberitahukan kalau jemputannya telah sampai di sekolah. Memintanya untuk segera menuju penjemputnya dan pulang. Benar. Permainan futsa langsung bubar begitu saya datang dan menyampaikan informasi tersebut. Anak tersebut terlihat lari masuk ke dalam koridor lantai I. Saya berprasangka baik, mengira ia lari untuk mengambil tas sekolahnya dan segera menuju hall dimana penjemputnya telah menunggu. Lalu saya kembali ke arah hall dan menunggu anak-anak yang masih belum dijemput.

Namun tunggu punya tunggu, saya masih belum melihat anak itu menemui penjemput yang sejak sampai di sekolah berada di hall. Saya mencoba mengkonfirmasi keberadaan anandanya yang dijemput. Namun setelah pasti bahwa anak tersebut belum menemuinya, maka saya mencobanya untuk kembali ke arah anak-anak yang bermain futsal.

Benar. Anak itu benar bermain futsal lagi. Maka tiada negosiasi, saya meminta bola untuk diserahkan kepada saya dan permainan futsal segara selesai. Anak-anak saya minta semua berada di hall sekolah untuk bersiap dijemput.

Kembali, anak itu ternyata tidak juga muncul untuk menemui penjemputnya. Maka saya berinisiatif mencari keberadaannya. Tentunya sembari berkoordinasi dengan anggota Satpam yang lain melalui HT.

Langkah saya menuju uang foto kopi dengan maksud untuk menyimpan bola futsal agar bisa untuk bermain kembali besok siang. Namun ketika berada di ruangan itu, saya mendapati anak tersebut dalam posisi jongkok dan menunduk dengan bertopi. Posisinya kidmat tiada suara. Saya sempat kaget dengan 'penemuan' itu. Tapi saya mencoba untuk tidak membuatnya kaget selain hanya menyentuhkan bola ke topi yang dikenakannya.  Dan ketika ia mendongak serta melihat bahwa yang berdiri di belakanganya adalah saya, maka ia berkata; e... ketahuan juga!

Jakarta, 21 Agustus 2017. 

14 Agustus 2017

Saya Ingin Tahu Banyak tentang Pramuka Pak

"Saya ingin tahun banyak tentang Pramuka Pak. Karena tahun lalu saya aktif di Marching Band yang latihannya sering sekali bersamaan dengan latihan Pramuka. Maka tahun ini saya berhenti dari Marching Band supaya bisa latihan terus di kegiatan Pramuka." Demikian kata seorang siswi saya yang duduk di bangku kelas V SD. Bertemu saya beberapa waktu yang lalu ketika seluruh siswa peserta kegiatan Marching Band sedang sibuk latihan untuk menghadapi lomba yang akan berlangsung beberapa waktu yang akan datang. Dan ketika saya berpapasan di lorong sekolah dan dia tidak ikut serta dalam latihan Marching, saya bertanya kepada mengapa tidak ikut serta dalam latihan yang secara maraton dilakukan oleh semua peserta.

Maka jawaban itulah yang saya dapatkan dari anak tersebut. Padahal di tahun pelajaran yang lalu, dia termasuk bagian inti dari barung Pramuka yang ikut dalam kegiatan Perkemahan Rabu-Kamis di wilayah Puncak, Bogor.

"Bukankah kamu tahun lalu juga ikut dalam perkemahan di Puncak, Bogor? Bukankah kamu juga menjadi pengajar kepada anak-anak di SD yang dekat dengan lokasi perkemahan?" Tanya saya ingin memastikan bawa dia turut serta dalam kegiatan Perkemahan Rabu-Kamis? Karena seingat saya, yang ikut mendampingi anak-anak dalam kegiatan Perkemahan itu, melihat kalau anak tersebut menjadi bagian dari anak-anak yang mengajar di SD yang lokasinya dekat dengan kegiatan Perkemahan. 

"Iya Pak. Tapi saya merasa tahun ini ingin tahu banyak tentang Pramuka. Jadi saya tidak ikut kegiatan ekstra kurikuler yang latihannya berbarengan dengan latihan Pramuka."

Jujur, dalam hati saya kagum dengan cara pengambilan keputusan peserta didik saya tersebut. Betapa tidak, dalam usia mudanya, ia telah punya klausul pertimbangan bagi kegiatan yang semestinya dia akan ambil dalam tahun pelajaran yang ia jalani. Ia terlihat sebagai anak yang cerdas dan membanggakan.

Jakarta, 14 Agustus 2017 (Hari Pramuka)

11 Agustus 2017

Mudik 2017 #5; Sayang Gantengmu Mas

Pada sela-sela kegiatan reuni di Karangsari, Sapuran, Wonosobo, saat libur Idul Fitri 1438 H/2017 lalu, sekelompok dari kami ada yang terlibat cengkrama lumayan serius tentang hidup. Ini terjadi ketika kami sama-sama keluar dari Masjid dan duduk di sepanjang terasnya yang bersih setelah melaksanakan shalat. 

Saat itu kami telah usai dengan kegiatan reuninya. Maka masing-masing kelompok akan menemukan topik bahasan yang menurut mereka menjadi penting pada hari itu. Dan kami ada di situ untuk mendiskusikan masa lalu saat kami semua muda.

"Saya sebenarnya akan konfirmasi berkenaan dengan undangan pernikahan anandanya sohib di daerah Jenar, Purworejo beberapa waktu lalu. Pertama karena saya memang tidak sempat berkunjung ke Jenar untuk memenuhi undangan tersebut sehingga pertanyaan itu tidak mampu saya sampaikan langsung. Yang kedua karena saya juga pernah menerima undangan perkawinan ananda sohib yang sama tetapi lokasinya ada di wilayah Muara Gembrong, Bekasi, Jawa Barat?" Tanya saya kepada forum yang ada di teras itu. 

"Acara yang mana Mas Agus? o... Nikahan sohib yang asli Jenar itu?" Jawab salah satu teman baik saya yang sekarang selain sebagai pendidik di depan kelas juga adalah penutur cerita atau sebagai dalang di pertunjukkan wayang kulit.

Lalu dijelaskanlah duduk persoalan yang selama ini tidak seorangpun dari kami yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah kisah perjalanan hidup yang sungguh-sungguh saya pribadi baru mengetahuinya. sebuah kisah yang membuat saya mengagumi apa yang telah terjadi. Kagum akan kisahnya yang pemberani serta pengambil resiko. kisah yang saya pribadi tidak akan memiliki kuota nalar yang cukup untuk membayangkannya terjadi pada diri saya.

"Makanya, sayang gantengmu Mas Agus." kata teman saya yang menjadi pendidik sekaligus Pak Dalang di malam libur sekolah.

Atas apa yang disampaikannya itu, saya terdiam. Karena memang tidak merasa ganteng sebagaimana yang disampaikannya.

Jakarta, 11 Agustus 2017.

07 Agustus 2017

Bapak Kapan Bercerita?

Seusai saya melaksanakan shalat jamaah bersama kelas III SD yang kebetulan mereka baru pulang dari trip ke sebuah pabrik di lokasi yang tidak jauh dari sekolahan, datang dua anak perempuan dari kelas V ke ruangan saya dan kemudian bertanya; "Kapan Bapak akan cerita lagi Pak?"

Sebuah pertanyaan yang menyenangkan untuk saya. Bukan karena anak itu bertanya kepada saya untuk kemudian meminta saya kembali bercerita. Tetapi pertanyaan itu membuat saya menarik kesimpulan bahwa anak tersebut selama saya bercerita memperhatikan dan menaruh perhatian akan cerita yang saya sampaikan. 

Sebenarnya, pada hari Senin ini, sebelum pelaksanaan shalat jama'ah, saya sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju lokasi. Tetapi karena ada keperluan lain, maka niat itu belum terlaksana hingga sesi shalat jama'ah kelas IV-kelas VI lepas dari keikutsertaan saya.

Lalu apa sebenarnya yang saya ceritakan?

Sebagaimana telah saya kemukakan pada tulisan sebelumnya, bahwa sejak awal tahun pelajaran 2017/2018 ini, saya mencoba membacakan buku, jadi bukan bercerita sebagaimana yang anak-anak didik saya sampaikan tersebut, secara runut. bab per bab, bagian per bagian. Saya membaca buku langsung di hadapan anak-anak tersebut.

Oleh karenanya, selain bahan cerita yang diinginkan oleh anak-anak, juga buku yang menjadi rujukan saya selama saya membacakannya. Beberapa anak datang ke saya khusus untuk mengetahui buku apa. Karena mereka rupanya ingin juga membaca langsung buku yang saya sudah bacakan. Bahkan diantara anak-anak itu membaca buku yang rutin saya bacakan tersebut dalam kegiatan silent reading mereka di kelas.

Jakarta, 7 Agustus 2017.

Ini Buku Saya Pak

Pagi-pagi berikutnya. Persis setengah tujuh. Siswa saya datang masuk ke ruangan kerja saya yang sedang membaca file kerja di layar komputer, dengan serta merta menyodorkan buku barunya setelah sebelumnya memberi salam kepada saya di depan pintu ruangan.

"Ini buku saya sudah datang Pak Agus. Alhamdulillah Pak saya semalam sudah mulai membaca apa yang Bapak bacakan untuk kami kemarin." Kata anak pintar yang kebetulan adalah peserta didik saya yang telah duduk di kelas lima sekolah dasar.

Salam anak itu telah menarik perhatian saya untuk fokus akan kedatangannya. Anak itu berdiri di samping meja kerja saya dengan di tangannya buku hard cover yang baru sampai di tangannya. Buku dengan sampul warna merah maron yang dominan tersebut memang jauh lebih bagus tampilannya dengan buku yang selama ini menjadi andalah saya untuk mengisi cerita di kelas sebelum jamaah shalat Dzuhur dimulai. Sementara buju milik saya, meski warna sampulnya sama betul dengan yang dimilikinya, tetapi terlihat masih kalah jauh dengan tampilan bukunya. Mungkin karena sampul buku saya yang soft cover.

"Bagaimana kamu membeli buku itu? Apakah kamu belinya di tko buku atau online?" Tanya saya. Mengingat pada pertemuan sebelumnya, ia bertanya tentang judul dan penerbit buku saya. Dengan pertanyaan itu ia bermaksud memiliki buku yang sama. Tetapi ketika saya mendapatkan buku itu juga via online, maka ia tidak mau tertinggal.

"Saya minta bantuan Mama untuk belikan di online shop. Dan siang kemarin buku ini baru saja datang Pak. Jadi saya baru saja memulai membacanya..."

Jakarta, 7 Agustus 2017.

03 Agustus 2017

Bapak Baca Buku Apa?

Mengisi waktu kosong di kelas atau menjelang Shalat berjamaah, atau juga ketika anak-anak telah usai tilawah bersama, dengan membaca cerita,  menjadi bagian dari kegiatan saya untuk mengenal peserta didik yang ada di level Taman Kanak-Kanak, SD atau SMP. Meski kegiatan ini bukan kegiatan saya harus, tetapi hampir selalu dua atau bahkan empat kali saya lakukan di setiap pekannya. Saya bersyukur, karena dengan demikian saya menjadi lebih mengenal anak-anak itu yang selalu berganti pada setiap tahunnya, dimana akan ada yang lulus dan akan ada yang menjadi siswa baru. 

Namun untuk lebih konsisten, saya menambah intensitas membaca cerita itu. Terutama di level SD dan SMP. Bahkan untuk dua pekan yang ada ini, hampir selalu saya membacakan buku sebelum Shalat berjamaah dimulai. Oleh karenanya anak-anak akan menagih untuk dibacakan buku begitu mereka bertemu saya di koridor Musholah.

"Bapak baca bukunya apa Pak?" Demikian seorang siswa saya yang duduk di kelas V SD seusai saya menyelesaikan bacaan cerita di depan. Pada saat itu saya membacakan buku Martin Lings tentang Muhammad pada bagian Menemukan Kembali Sesuatu yang Hilang.

"Ini buka yang Pak Agus bacakan tadi. Jadi sudah ada empat bagian ya yang telah Pak Agus bacakan dari buku ini." Kata saya memberikan penjelasan atas pertanyaan yang diajukan. Hari itu kemudian kami lanjutkan kegiatan sekolah yang lain. 

Hingga suatu pagi ia kembali datang di ruangan saya untuk memastikan buku yang saya baca di hadapan teman-temannya sebelum sholat berjamaah dimulai di Musholah. "Pak Agus, saya ingin tahu buku yang kemarin Pak Agus baca. Bukunya seperti apa ya Pak. Saya ingin cari di toko on line." Katanya ketika bertemu saya di hall sekolah di pagi hari masih dengan tas sekolahnya. Waktu itu masih pukul 06.45.

Jakarta, 3.08.2017

20 Juli 2017

Mudik 2017 #4; Reuni (lagi)

Reuni H+9 usai lebaran tahun 2017, sebenarnya dirancang tidak lebih dari 2 atau 3 bulan saja. Acara berawal dari tawaran seorang teman yang telah terpisah lebih kuran 33 tahun, yang tinggal di Sapuran, Wonosobo, di balik hutan damar, yang mengakibatnya sulitnya jaringan telepon, untuk berkumpul di tempat tinggalnya tersebut.

Namun karena tawaran ini masih melalui grup media sosial, maka dalam grup kecil kami mengutus beberapa teman untuk berkunjung ke rumahnya guna bersilaturahim dan mengkonfirmasi undangannya untuk bersilaturahim. Alhamdulillah bahwa teman di Sapuran tersebut benar-benar bersungguh-sungguh mengundang sahat ketika mudanya di bangku SPG, untuk hadir dan ramah tamah di rumahnya. Maka dalam grup kecil kami menyepakati teknis pelaksanaan kegiatan pertemuan tersebut, yang dirancang sediit bersamaan dengan liburan sekolah dan libur Idul Fitri 2017.

Beginilah tampang dari teman-teman muda saya di rumah sahabat Yuri di Sapuran, Wonosobo; 
Di depan rumah si tuan rumah. Kami dari Purworejo telah menyiapkan spanduk, ternyata si tuan rumah jauh lebih siap. Ada tiga spanduk yang telah siap untuk menjadi latar belakang kami foto. Terimakasih Mas Yuri...


Foto bersama yang hadir di reuni Sapuran.

Liputan dari Bagelen Channel;
https://www.youtube.com/watch?v=lmB9fU9Y0No

Jakarta, 19-20 Juli 2017

19 Juli 2017

Mudik 2017 #3: Purwaceng

Ada yang berbeda dengan mudik saya pada Libur Idul Fitri 1438 H/tahun 2017 ini, selain karena saya pulang kampung sendirian dengan waktu yang sudah bukan lagi masa Idul Fitri, juga karena saya bertemu teman-teman sekolah disaat kami semua muda. Ya, saya pulang kampung dalam rangka menghadiri reuni sekolah, yang lokasinya tidak di sekolahan dimana kami bersekolah dulu, tetapi di rumah salah satu sahabat saya dulu di daerah Wonosobo.

Lokasi persisnya ada di sebelah selatan hutan damar yang ada di kecamatan Sapuran, Wonosobo. Juga berdekatan dengan kebun teh serta wisata alam Tambi, di Sapuran. Jadi udaranya amat sangat sejuk. Air selokannya berlimpah. Sehingga ikan-ikan menjadi nyaman berkembang biak.

Namun jauh sebelum pertemuan berlangsung, kami selalu diprovokasi di dalam grup sosmed, berkenaan dengan apa yang dapat kita lakukan nanti di Sapuran itu. Termasuk antara lain adalah membeli oleh-oleh yang khas Wonosobo. Bahkan ada yang menyebut oleh-oleh khas selain carica adalah purwaceng itu.

Sebuah kosa kata yang hampir semua dari kami baru mendengarnya sekali itu saja. Maka penasaran sekali saya dengan benda yang tiba-tiba menjadi topik diskusi yang hangat di forum grup kami itu. Tidak hanya kami yang telah berpuluh tahun meninggalkan kampung halaman saja yang tidak paham dengan apa yang dimaksud. Tetapi juga teman-teman yang tetap tinggal di kampung halaman seusai menamatkan Sekolah Pendidikan Guru.

Dan saking penasarannya, maka ada seorang teman yang menjelaskan benda apa yang dimaksud dengan lebih vulgar. Dijelaskannya bahwa itu adalah semacam penambah vitalitas pria.

Lalu karena begitu penasarannya, saya bersama sahabat yang datang dari Bengkulu, sengaja menuju Pasar Kretek yang kebetulan hanya berjarak lebih kurang 20 menit dari lokasi kami bertamu tersebut untuk melihat secara langsung kemasan obat vitalitas tersebut. Termasuk kemudian, saya mengambil foto dan meng-up load-nya di forum diskusi kami.

Apa implikasinya? Heboh...

Jakarta, 19 Juli 2017.

18 Juli 2017

Mudik 2017 #2; Sewa Mobil di Kampung

Benar saja dugaan saya bahwa tawaran yang diajukan kepada saya melalui adik saya agar saya menerima saja kendaraan yang akan kami sewa berupa mobil tahun 95-an tanpa AC, karena ada hal yang memang akan dilakukan oleh supir, yang juga adalah tetangga kami juga di kampung halaman.

"Maaf Mas. Kendaraan yang ada mobil 95-an tanpa AC bagaimana?" Katanya ketika H-1 saya harus melaksanakan agenda bersama Mamak saya untuk berkunjung ke besan-besannya yang kebetulan ada di wilayah Yogyakarta.

"Ya sudah. Setuju. Tidak apa-apa." Kata saya. Ini memang saya lakukan karena sebelumnya bukan seperti ini skenario yang terbayang oleh saya. Karena di Yogya, saya ada langganan untuk sewa kendaraannya sekaligus menjadi pengantar kami sepanjang hari. Kendaraan bisa memilih, harga standar mobil sewa dengan satu harga, plus kendaraannya karena memilih jadi pasti ber-AC. Tapi apa boleh dikata, ketika adik saya memilih supir dari salah satu tetangga kami, maka standar mobil sewa lenyap sudah. Menjadi 3 ongkos yang harus kami sediakan. Sewa mobilnya, bayar supirnya. Dan, beli bensinnya!

Belum lagi disepanjang perjalanan yang lumayan melelahkan jadinya ketika udara panas masuk kabin karena kaca mobil yang terbuka tanpa AC. Juga asap rokok yang terus menerus tiada jeda. Baik ketika perjalanan atau juga ketika telah sampai di rumah tujuan. Karena supir juga menjadi bagian dari kami dengan rokok yang sambung menyambung.

Lalu apa yang dapat saya petik dari peristiwa sewa mobil itu?

Pertama, saya menyadari bahwa supir ini biasa membawa kendaraan dengan presneling yang dalam. Dan ini hanya ada di kendaraan-kendaraan lama. Sedang kendaraan baru, rata-rata presnelingnya lembut dan cukup hanya menyentuh. Dengan demikian, maka supir akan memilih kendaraan yang biasa supaya tidak terhentak-hentak.

Kedua, saya belajar menemukan bedanya antara supir untuk wisatawan yang bertebaran di kota-kota wisata yang sering kita sewa dengan supir tetangga yang ketika membawa wisatawan hanya sekali-sekali. Perbedaan ini menjadi semacam kultur melayani. 

Ketiga, saya diskusi dengan anak ketika sampai Jakarta tentang hal ini. Dan kami menemukan peluang bagi kami untuk mengajak tetangga-tetangga kami yang sudah mahir membawa kendaraan untuk naik kelas. Membawa penumpang dengan konsep melayani wisatawan...

Jakarta, 18 Juli 2017.

21 Juni 2017

Mudik 2017 #1; Ngak Betah di Kampung

Dalam pandangan saya, ngak betah berada di kampung ketika suami atau pasangan ketika menemani mudik, adalah sesuatu yang benar-benar salah. Meski harus diakui bahwa kehidupan di kampung memang berbeda total dari kota, dimana salah satu pasangan itu berasal sejak lahir hingga besar. Dan letak salahnya menjadi kompleks sehingga harus melahirkan stres.

Ini secara kebetulan saya mendapatkan cerita, atau lebih tepatnya curahan hati dari beberapa teman yang harus mengalaminya. Dan mereka bercerita pengalaman yang tidak enak dengan ringan karena itu sudah menjadi masa lalu mereka. Cerita sesaknya ketidaknyamanan di rumah dan kampung orang tanpa sedikitpun ada jeda. Karena berlalu tidak kurang dari satu hari.

"Saya sampai ngomong sama suami untuk pergi ke terminal atau stasiun, untuk balik ke Jakarta. Karena saya benar-benar tidak nyaman berada di rumah orang dengan situasi dan kondisi di rumah atau luar rumah yang benar-benar membuat saya sesak napas. Tapi suami hanya meminta saya untuk sabar dan mensyukuri bisa ikut pulang kampung kakak ipar." Kata teman saya yang memang dari lahir hingga dewasa belum pernah merasakan pulang kampung selain yang dia alami itu. Pulang kampung ke kampung kakak ipar.

"Saya sama sekali tidak menemukan apa yang pernah Pak Agus ceritakan tentang kampung halaman Bapak yang jaraknya tidak jauh dari kampung kakak ipar itu." Lanjutnya.

"Karena sejak sampai di kampung halaman hingga kembali ke Jakarta setelah 4 hari berada di kampung, hanya keluar rumah untuk berbelanja di kota satu kali. Saya benar-benar tidak ingin lagi." Terusnya lagi.

"Jangan lupa nanti makan gudeg di Wijilan atau bacem kepala kambing, atau tengkleng gajah, atau jeJamuran Kak di Jogja." Demikian kata saya kepada teman saya yang lain setelah mendengar bahwa mereka akan ke kampung halaman pada 'upacara' mudik tahun 2017 ini. Teman ini lahir dan besar juga di Jakarta. Dan kegiatan pulang kampung hanya dia dapatkan sejak mereka menikah.

"Tu Pak catat Pak tempat-tempat yang Mas Agus sebutin. Bapak jangan selalu bawa kami ke pemandian air terus. Bosan Pak." Kata sang istri mengingatkan suaminya. Rupanya apa yang dialami olehnya selalu berulang. Dan itu membuatnya tidak begitu antusias ketika musim mudik tiba. Kenyataan yang terbalik dengan apa yang dirasakan oleh sang suami, yang punya kampung halaman.

Lalu bagaimana dengan Anda atau mungkin pasangan Anda dengan musim mudik tahun ini?

Jakarta, 21 Juni 2017.

13 Juni 2017

'Filosof' dan 'Fisikawan'

Kemarin, saya di daulat teman-teman guru untuk bercerita sebelum sebuah kegiatan berlangsung. Dan tidak ada bingkai waktu yang ditentukan kepada saya. Tapi, tetap saja saya tahu diri dan sesegera mungkin menyelesaikan cerita saya. Bukankah saya bercerita hanya sebagai pengantar kegiatan dan bukan kegiatan intinya itu sendiri?

Yang menarik adalah bukan cerita saya itu, tetapi ketika saya mengakhiri cerita saya dan kembali ke ruangan kerja dengan membawa serta secarik kertas potongan dari berita koran harian, datang di belakang saya seorang anak laki-laki yang duduk di kelas IV.

"Apa kertas yang Bapak tadi baca? Kenapa Bapak tidak membacanya semuanya? Saya penasaran dengan cerita yang Bapak potong-potong. Boleh baca Pak?" Kata anak didik saya itu ketika kami sudah di dalam ruangan kerja saya. Pertanyaaannya penuh antusias. Seperti rasa dahaga yang sirna begitu tegukan air memenuhi tenggorakan. 

Dan serta merta saya berikan potongan artikel tersebut kepadanya. Dan disambutnya dengan penuh hangat.

"Silakan duduk. Baca dengan lantang agar Pak Agus dapat membantu memberikan penjelasan jika ada kata yang kamu pikir asing dan susah memberikan artinya." Kata saya kepada anak itu sembari mengulurkan tangan saya yang memegang artikel.

Benar saja, anak itu membacanya tidak terlalu mulus. Karena artikel tersebut terdapat beberapa kata dewasa yang sulit dipahaminya sebagai anak SD. 

"Filofof apa Pak Agus?"
"Fisikawan apa Pak?" Kata anak itu.

"Filosof itu orang yang selalu tidak pernah berhenti berpikir. Sedang Fisikawan adalah oprang yang pintar di bidang IPA."

Jakarta, 13 Juni 2017.

09 Juni 2017

Menolak Tawaran

"Teman, saqmpaikan permohonan maaf saya kepada owner yang telah berbaik hati untuk memilih saya sebagai orang kepercayaannya, bahwa saya tidak bisa menerima tawaran beliau yang sangat berharga." Ujar teman saya di sebuah ruangan sejawat disuatu sore Ramadhan 1438 H/2017. Saat itu, saya menyampaikan tawaran seorang owner lembaga pendidikan untuk memilih teman saya dari beberapa pilihan yang ada. Maka pertemuan itu, saya sampaikan apa yang menjadi amanat saya. Tetapi justru ketidakmauannya untuk memegang jabatan yang ditawarkan kepadanya.

Dan ketika saya mengejarnya, apa alasan yang saya bisa pegang atas ketidakmauannya tersebut, sebagai bekal saya menyampaikan kembali kepada owner? Dia menjawab bahwa usianya telah melemahkan 'ketabahannya' untuk terus menghadapi hal-hal yang operasional di sebuah lembaga pendidikan formal.

"Mengapa usia menjadi hambatan?" tanya saya berikutnya.

"Saya, dengan usia yang telah berada di menjelang pensiun, sangat tidak lagi memiliki keinginan atau mungkin kesanggupan untuk memegang kendali operasional lembaga pendidikan."

"Saya, dengan penilaian diri saya sendiri, merasa bahwa kompetansi saya telah tidak lagi kompit di masa sekarang ini."

"Saya takut dengan ketidaksanggupan saya dengan apa yang akan menjadi target. Saya yakin sekali kalau yang ada di lembaga sekarang ini pasti ada bibit pemimpin yag bisa dilahirkan. Saya sanggup untuk mendampinginya."

Jadilah pertemuan saya di hari itu tidak memberikan hasil sebagaimana yang diidamkan owner lembaga pendidikan. Ini berarti bahwa masih ada pekerjaan rumah bagi saya untuk memberikan jalan keluar atas kepercayaan owner kepada perjalanan lembaga pendidikannya...

Jakarta, 8 Juni 2017.

30 Mei 2017

Memberi Panggung pada Siswa SMP

Sabtu, 20 Mei 2017, berlokasi di gedung i3L, Pulomas Barat, Jakarta Timur, SMP Islam Tugasku mempertujukkan karya dramanya dengan judul cerita; Membaca dan Keajaibannya. Ini adalah drama pentas seni yang menceritakan tentang dahsyatnya membaca. Pemeran drama yang berlangsung secara live tersebuta adalah seluruh siswa SMP.

Diceritakan bahwa tokoh Fatih, yang pada awalnya menolak hadiah kakek berupa perpustakaan. Karena berharap mendapatkan hadiah smartphone termahal dari sang kakek. Tetapi jalan takdir berkehendak lain. Fatih mencoba membaca satu buku yang ada di perpustakaan itu. Dan jatuh hati dengan cerita yang dibacanya. Mulai dari sinilah dia menjadi sosok yang gemar dan terus menerus membaca. 

Ada Laskar Pelangi, Harry Potter, dan juga Muhammad Al Fatih, sang penakluk Konstantinopel dari Bani Utsmaniyah, yang menginspirasi dirinya untuk terus membaca buku-buku yang ada diperpustakaan, yang semula ditolaknya, yang merupakan hadiah ulang tahun dari kakek tercintanya. Inilah keajaiban buku yang didapatinya dari membaca.


Berikut adalah link dokumentasi pentas seni tersebut;
  • https://www.youtube.com/watch?v=5aiO0oifZws
  • https://www.youtube.com/watch?v=1kJKXJnoCB0
Jakarta, 30 Mei 2017

Memberi Panggung pada Siswa SD

KITA, Keindahan Tanah Airku, adalah judul drama yang dimainkan oleh 459 siswa SDI TUGASKU di panggung pertunjukkan secara live, dalam tajuk Pentas Seni. Kegiatan ini berlangsung pada hari Minggu, 21 Mei 2017, di gedung teater UBM, Pademangan, Jakarta Utara.

KITA, menceritakan tentang tokoh Mia yang mengalami gegar budaya ketika harus kembali ke Indonesia setelah masa kecil hingga menjelang remajanya tinggal di Eropa bersama ayah dan bundanya. Ia tidak siap berada dalam lingkungan yang dinilainya tidak seindah Eropa.

Anggapan itu berubah ketika ayah dan ibunya mengajaknya menjenguk kakek dan neneknya di Padang, Sumatera Barat dan ke Banyuwangi, Jawa Timur. Juga mengunjungi berbagai lokasi wisata lain di Indonesia.


Mia, akhirnya menemukan betapa Indonesia, tiada bandingannya. Indahnya, suburnya, ramahnya, beragamnya, harmoninya, tenteramnya. Rasa banganya kepada tanah airnya Indonesia ini ia deklarasikan kepada semua keluarga dan semua temannya.

Berikut link dokumentasi yang buat;
  • https://www.youtube.com/watch?v=oEUU8WuqlYk
  • https://www.youtube.com/watch?v=FxhnGXk0uc4
  • https://www.youtube.com/watch?v=oyVos_BlawY
  • https://www.youtube.com/watch?v=_sTNy2jYvLI
Jakarta, 30 Mei 2017

Memberi Panggung pada Siswa TK

Sabtu, 13 Mei 2017, berlokasi di ruang pertunjukan Kampus I3L, Jalan Pulomas Barat, Jakarta Timur, seluruh siswa dari Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak Islam Tugasku tampil di panggung pertunjukkan dengan percaya diri penuh dalam Operet akhir tahun berjudul Goresan Ceritaku. Pertunjukkan ini merupakan penampilan  terakhir siswa untuk tahun pelajaran 2016/2017. 
Goresan Ceritaku, yang menjadi judul dari pentas seni tahun 2017 ini, bercerita tentang liburan akhir tahun pelajaran. Dimana, dalam setiap liburan sekolah, seluruh anak akan memiliki kegiatan yang istimewa bersama sanak dan keluarganya. Dalam cerita ini, anak-anak menampilkan betapa indahnya nusantara. Seperti suasana liburan di Jakarta, pantai di Pulau Aru di Maluku, Bromo di Jawa Timur, dan juga Sipiso-piso di Sumatera Utara.
Goresan Ceritaku, skenario ceritera, tarian, aksi panggung, dan beberapa lagu yang menjadi soundtrack-nya,  merupakan hasil karya guru-guru KB/TK Islam Tugasku. Dikerjakan secara kolektif dengan penuh kegembiraan dan antusiasme. Alhamdulillah bahwa kegiatan ini menjadi kegiatan penutup tahun yang membahagiakan semua warga sekolah. Terimakasih atas semua dukungannya.
Ini link untuk dokumentasi yang saya buat;
  • https://www.youtube.com/watch?v=Vu0ch8ZFikc
  • https://www.youtube.com/watch?v=emYXU9E_q1Q
  • https://www.youtube.com/watch?v=dHgPOm5HMyQ
  • https://www.youtube.com/watch?v=cZdYhGAbRwQ&spfreload=5
  • https://www.youtube.com/watch?v=cZdYhGAbRwQ&t=23s
Jakarta, 30 Mei 2017.


13 April 2017

'Nambang' atau Wisata, sama-sama ada Uangnya


Ini yang kami kunjungi ketika menengok cucu di Yogyakarta akhir pekan awal April 2017 lalu. Berkunjung ke bekas tambang breksi yang ada di sekitaran Candi Ijo, Kecamatan Prambanan, Yogyakarta. Dan meski aktivitas tambang telah berhenti dan berakhir, lokasi itu sepertinya akan tetap mendatangkan uang dan penghasilan.







Jakarta, 13 April 2017.