Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

14 Agustus 2017

Saya Ingin Tahu Banyak tentang Pramuka Pak

"Saya ingin tahun banyak tentang Pramuka Pak. Karena tahun lalu saya aktif di Marching Band yang latihannya sering sekali bersamaan dengan latihan Pramuka. Maka tahun ini saya berhenti dari Marching Band supaya bisa latihan terus di kegiatan Pramuka." Demikian kata seorang siswi saya yang duduk di bangku kelas V SD. Bertemu saya beberapa waktu yang lalu ketika seluruh siswa peserta kegiatan Marching Band sedang sibuk latihan untuk menghadapi lomba yang akan berlangsung beberapa waktu yang akan datang. Dan ketika saya berpapasan di lorong sekolah dan dia tidak ikut serta dalam latihan Marching, saya bertanya kepada mengapa tidak ikut serta dalam latihan yang secara maraton dilakukan oleh semua peserta.

Maka jawaban itulah yang saya dapatkan dari anak tersebut. Padahal di tahun pelajaran yang lalu, dia termasuk bagian inti dari barung Pramuka yang ikut dalam kegiatan Perkemahan Rabu-Kamis di wilayah Puncak, Bogor.

"Bukankah kamu tahun lalu juga ikut dalam perkemahan di Puncak, Bogor? Bukankah kamu juga menjadi pengajar kepada anak-anak di SD yang dekat dengan lokasi perkemahan?" Tanya saya ingin memastikan bawa dia turut serta dalam kegiatan Perkemahan Rabu-Kamis? Karena seingat saya, yang ikut mendampingi anak-anak dalam kegiatan Perkemahan itu, melihat kalau anak tersebut menjadi bagian dari anak-anak yang mengajar di SD yang lokasinya dekat dengan kegiatan Perkemahan. 

"Iya Pak. Tapi saya merasa tahun ini ingin tahu banyak tentang Pramuka. Jadi saya tidak ikut kegiatan ekstra kurikuler yang latihannya berbarengan dengan latihan Pramuka."

Jujur, dalam hati saya kagum dengan cara pengambilan keputusan peserta didik saya tersebut. Betapa tidak, dalam usia mudanya, ia telah punya klausul pertimbangan bagi kegiatan yang semestinya dia akan ambil dalam tahun pelajaran yang ia jalani. Ia terlihat sebagai anak yang cerdas dan membanggakan.

Jakarta, 14 Agustus 2017 (Hari Pramuka)

11 Agustus 2017

Mudik 2017 #5; Sayang Gantengmu Mas

Pada sela-sela kegiatan reuni di Karangsari, Sapuran, Wonosobo, saat libur Idul Fitri 1438 H/2017 lalu, sekelompok dari kami ada yang terlibat cengkrama lumayan serius tentang hidup. Ini terjadi ketika kami sama-sama keluar dari Masjid dan duduk di sepanjang terasnya yang bersih setelah melaksanakan shalat. 

Saat itu kami telah usai dengan kegiatan reuninya. Maka masing-masing kelompok akan menemukan topik bahasan yang menurut mereka menjadi penting pada hari itu. Dan kami ada di situ untuk mendiskusikan masa lalu saat kami semua muda.

"Saya sebenarnya akan konfirmasi berkenaan dengan undangan pernikahan anandanya sohib di daerah Jenar, Purworejo beberapa waktu lalu. Pertama karena saya memang tidak sempat berkunjung ke Jenar untuk memenuhi undangan tersebut sehingga pertanyaan itu tidak mampu saya sampaikan langsung. Yang kedua karena saya juga pernah menerima undangan perkawinan ananda sohib yang sama tetapi lokasinya ada di wilayah Muara Gembrong, Bekasi, Jawa Barat?" Tanya saya kepada forum yang ada di teras itu. 

"Acara yang mana Mas Agus? o... Nikahan sohib yang asli Jenar itu?" Jawab salah satu teman baik saya yang sekarang selain sebagai pendidik di depan kelas juga adalah penutur cerita atau sebagai dalang di pertunjukkan wayang kulit.

Lalu dijelaskanlah duduk persoalan yang selama ini tidak seorangpun dari kami yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah kisah perjalanan hidup yang sungguh-sungguh saya pribadi baru mengetahuinya. sebuah kisah yang membuat saya mengagumi apa yang telah terjadi. Kagum akan kisahnya yang pemberani serta pengambil resiko. kisah yang saya pribadi tidak akan memiliki kuota nalar yang cukup untuk membayangkannya terjadi pada diri saya.

"Makanya, sayang gantengmu Mas Agus." kata teman saya yang menjadi pendidik sekaligus Pak Dalang di malam libur sekolah.

Atas apa yang disampaikannya itu, saya terdiam. Karena memang tidak merasa ganteng sebagaimana yang disampaikannya.

Jakarta, 11 Agustus 2017.

07 Agustus 2017

Bapak Kapan Bercerita?

Seusai saya melaksanakan shalat jamaah bersama kelas III SD yang kebetulan mereka baru pulang dari trip ke sebuah pabrik di lokasi yang tidak jauh dari sekolahan, datang dua anak perempuan dari kelas V ke ruangan saya dan kemudian bertanya; "Kapan Bapak akan cerita lagi Pak?"

Sebuah pertanyaan yang menyenangkan untuk saya. Bukan karena anak itu bertanya kepada saya untuk kemudian meminta saya kembali bercerita. Tetapi pertanyaan itu membuat saya menarik kesimpulan bahwa anak tersebut selama saya bercerita memperhatikan dan menaruh perhatian akan cerita yang saya sampaikan. 

Sebenarnya, pada hari Senin ini, sebelum pelaksanaan shalat jama'ah, saya sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju lokasi. Tetapi karena ada keperluan lain, maka niat itu belum terlaksana hingga sesi shalat jama'ah kelas IV-kelas VI lepas dari keikutsertaan saya.

Lalu apa sebenarnya yang saya ceritakan?

Sebagaimana telah saya kemukakan pada tulisan sebelumnya, bahwa sejak awal tahun pelajaran 2017/2018 ini, saya mencoba membacakan buku, jadi bukan bercerita sebagaimana yang anak-anak didik saya sampaikan tersebut, secara runut. bab per bab, bagian per bagian. Saya membaca buku langsung di hadapan anak-anak tersebut.

Oleh karenanya, selain bahan cerita yang diinginkan oleh anak-anak, juga buku yang menjadi rujukan saya selama saya membacakannya. Beberapa anak datang ke saya khusus untuk mengetahui buku apa. Karena mereka rupanya ingin juga membaca langsung buku yang saya sudah bacakan. Bahkan diantara anak-anak itu membaca buku yang rutin saya bacakan tersebut dalam kegiatan silent reading mereka di kelas.

Jakarta, 7 Agustus 2017.

Ini Buku Saya Pak

Pagi-pagi berikutnya. Persis setengah tujuh. Siswa saya datang masuk ke ruangan kerja saya yang sedang membaca file kerja di layar komputer, dengan serta merta menyodorkan buku barunya setelah sebelumnya memberi salam kepada saya di depan pintu ruangan.

"Ini buku saya sudah datang Pak Agus. Alhamdulillah Pak saya semalam sudah mulai membaca apa yang Bapak bacakan untuk kami kemarin." Kata anak pintar yang kebetulan adalah peserta didik saya yang telah duduk di kelas lima sekolah dasar.

Salam anak itu telah menarik perhatian saya untuk fokus akan kedatangannya. Anak itu berdiri di samping meja kerja saya dengan di tangannya buku hard cover yang baru sampai di tangannya. Buku dengan sampul warna merah maron yang dominan tersebut memang jauh lebih bagus tampilannya dengan buku yang selama ini menjadi andalah saya untuk mengisi cerita di kelas sebelum jamaah shalat Dzuhur dimulai. Sementara buju milik saya, meski warna sampulnya sama betul dengan yang dimilikinya, tetapi terlihat masih kalah jauh dengan tampilan bukunya. Mungkin karena sampul buku saya yang soft cover.

"Bagaimana kamu membeli buku itu? Apakah kamu belinya di tko buku atau online?" Tanya saya. Mengingat pada pertemuan sebelumnya, ia bertanya tentang judul dan penerbit buku saya. Dengan pertanyaan itu ia bermaksud memiliki buku yang sama. Tetapi ketika saya mendapatkan buku itu juga via online, maka ia tidak mau tertinggal.

"Saya minta bantuan Mama untuk belikan di online shop. Dan siang kemarin buku ini baru saja datang Pak. Jadi saya baru saja memulai membacanya..."

Jakarta, 7 Agustus 2017.

03 Agustus 2017

Bapak Baca Buku Apa?

Mengisi waktu kosong di kelas atau menjelang Shalat berjamaah, atau juga ketika anak-anak telah usai tilawah bersama, dengan membaca cerita,  menjadi bagian dari kegiatan saya untuk mengenal peserta didik yang ada di level Taman Kanak-Kanak, SD atau SMP. Meski kegiatan ini bukan kegiatan saya harus, tetapi hampir selalu dua atau bahkan empat kali saya lakukan di setiap pekannya. Saya bersyukur, karena dengan demikian saya menjadi lebih mengenal anak-anak itu yang selalu berganti pada setiap tahunnya, dimana akan ada yang lulus dan akan ada yang menjadi siswa baru. 

Namun untuk lebih konsisten, saya menambah intensitas membaca cerita itu. Terutama di level SD dan SMP. Bahkan untuk dua pekan yang ada ini, hampir selalu saya membacakan buku sebelum Shalat berjamaah dimulai. Oleh karenanya anak-anak akan menagih untuk dibacakan buku begitu mereka bertemu saya di koridor Musholah.

"Bapak baca bukunya apa Pak?" Demikian seorang siswa saya yang duduk di kelas V SD seusai saya menyelesaikan bacaan cerita di depan. Pada saat itu saya membacakan buku Martin Lings tentang Muhammad pada bagian Menemukan Kembali Sesuatu yang Hilang.

"Ini buka yang Pak Agus bacakan tadi. Jadi sudah ada empat bagian ya yang telah Pak Agus bacakan dari buku ini." Kata saya memberikan penjelasan atas pertanyaan yang diajukan. Hari itu kemudian kami lanjutkan kegiatan sekolah yang lain. 

Hingga suatu pagi ia kembali datang di ruangan saya untuk memastikan buku yang saya baca di hadapan teman-temannya sebelum sholat berjamaah dimulai di Musholah. "Pak Agus, saya ingin tahu buku yang kemarin Pak Agus baca. Bukunya seperti apa ya Pak. Saya ingin cari di toko on line." Katanya ketika bertemu saya di hall sekolah di pagi hari masih dengan tas sekolahnya. Waktu itu masih pukul 06.45.

Jakarta, 3.08.2017

20 Juli 2017

Mudik 2017 #4; Reuni (lagi)

Reuni H+9 usai lebaran tahun 2017, sebenarnya dirancang tidak lebih dari 2 atau 3 bulan saja. Acara berawal dari tawaran seorang teman yang telah terpisah lebih kuran 33 tahun, yang tinggal di Sapuran, Wonosobo, di balik hutan damar, yang mengakibatnya sulitnya jaringan telepon, untuk berkumpul di tempat tinggalnya tersebut.

Namun karena tawaran ini masih melalui grup media sosial, maka dalam grup kecil kami mengutus beberapa teman untuk berkunjung ke rumahnya guna bersilaturahim dan mengkonfirmasi undangannya untuk bersilaturahim. Alhamdulillah bahwa teman di Sapuran tersebut benar-benar bersungguh-sungguh mengundang sahat ketika mudanya di bangku SPG, untuk hadir dan ramah tamah di rumahnya. Maka dalam grup kecil kami menyepakati teknis pelaksanaan kegiatan pertemuan tersebut, yang dirancang sediit bersamaan dengan liburan sekolah dan libur Idul Fitri 2017.

Beginilah tampang dari teman-teman muda saya di rumah sahabat Yuri di Sapuran, Wonosobo; 
Di depan rumah si tuan rumah. Kami dari Purworejo telah menyiapkan spanduk, ternyata si tuan rumah jauh lebih siap. Ada tiga spanduk yang telah siap untuk menjadi latar belakang kami foto. Terimakasih Mas Yuri...


Foto bersama yang hadir di reuni Sapuran.

Liputan dari Bagelen Channel;
https://www.youtube.com/watch?v=lmB9fU9Y0No

Jakarta, 19-20 Juli 2017

19 Juli 2017

Mudik 2017 #3: Purwaceng

Ada yang berbeda dengan mudik saya pada Libur Idul Fitri 1438 H/tahun 2017 ini, selain karena saya pulang kampung sendirian dengan waktu yang sudah bukan lagi masa Idul Fitri, juga karena saya bertemu teman-teman sekolah disaat kami semua muda. Ya, saya pulang kampung dalam rangka menghadiri reuni sekolah, yang lokasinya tidak di sekolahan dimana kami bersekolah dulu, tetapi di rumah salah satu sahabat saya dulu di daerah Wonosobo.

Lokasi persisnya ada di sebelah selatan hutan damar yang ada di kecamatan Sapuran, Wonosobo. Juga berdekatan dengan kebun teh serta wisata alam Tambi, di Sapuran. Jadi udaranya amat sangat sejuk. Air selokannya berlimpah. Sehingga ikan-ikan menjadi nyaman berkembang biak.

Namun jauh sebelum pertemuan berlangsung, kami selalu diprovokasi di dalam grup sosmed, berkenaan dengan apa yang dapat kita lakukan nanti di Sapuran itu. Termasuk antara lain adalah membeli oleh-oleh yang khas Wonosobo. Bahkan ada yang menyebut oleh-oleh khas selain carica adalah purwaceng itu.

Sebuah kosa kata yang hampir semua dari kami baru mendengarnya sekali itu saja. Maka penasaran sekali saya dengan benda yang tiba-tiba menjadi topik diskusi yang hangat di forum grup kami itu. Tidak hanya kami yang telah berpuluh tahun meninggalkan kampung halaman saja yang tidak paham dengan apa yang dimaksud. Tetapi juga teman-teman yang tetap tinggal di kampung halaman seusai menamatkan Sekolah Pendidikan Guru.

Dan saking penasarannya, maka ada seorang teman yang menjelaskan benda apa yang dimaksud dengan lebih vulgar. Dijelaskannya bahwa itu adalah semacam penambah vitalitas pria.

Lalu karena begitu penasarannya, saya bersama sahabat yang datang dari Bengkulu, sengaja menuju Pasar Kretek yang kebetulan hanya berjarak lebih kurang 20 menit dari lokasi kami bertamu tersebut untuk melihat secara langsung kemasan obat vitalitas tersebut. Termasuk kemudian, saya mengambil foto dan meng-up load-nya di forum diskusi kami.

Apa implikasinya? Heboh...

Jakarta, 19 Juli 2017.

18 Juli 2017

Mudik 2017 #2; Sewa Mobil di Kampung

Benar saja dugaan saya bahwa tawaran yang diajukan kepada saya melalui adik saya agar saya menerima saja kendaraan yang akan kami sewa berupa mobil tahun 95-an tanpa AC, karena ada hal yang memang akan dilakukan oleh supir, yang juga adalah tetangga kami juga di kampung halaman.

"Maaf Mas. Kendaraan yang ada mobil 95-an tanpa AC bagaimana?" Katanya ketika H-1 saya harus melaksanakan agenda bersama Mamak saya untuk berkunjung ke besan-besannya yang kebetulan ada di wilayah Yogyakarta.

"Ya sudah. Setuju. Tidak apa-apa." Kata saya. Ini memang saya lakukan karena sebelumnya bukan seperti ini skenario yang terbayang oleh saya. Karena di Yogya, saya ada langganan untuk sewa kendaraannya sekaligus menjadi pengantar kami sepanjang hari. Kendaraan bisa memilih, harga standar mobil sewa dengan satu harga, plus kendaraannya karena memilih jadi pasti ber-AC. Tapi apa boleh dikata, ketika adik saya memilih supir dari salah satu tetangga kami, maka standar mobil sewa lenyap sudah. Menjadi 3 ongkos yang harus kami sediakan. Sewa mobilnya, bayar supirnya. Dan, beli bensinnya!

Belum lagi disepanjang perjalanan yang lumayan melelahkan jadinya ketika udara panas masuk kabin karena kaca mobil yang terbuka tanpa AC. Juga asap rokok yang terus menerus tiada jeda. Baik ketika perjalanan atau juga ketika telah sampai di rumah tujuan. Karena supir juga menjadi bagian dari kami dengan rokok yang sambung menyambung.

Lalu apa yang dapat saya petik dari peristiwa sewa mobil itu?

Pertama, saya menyadari bahwa supir ini biasa membawa kendaraan dengan presneling yang dalam. Dan ini hanya ada di kendaraan-kendaraan lama. Sedang kendaraan baru, rata-rata presnelingnya lembut dan cukup hanya menyentuh. Dengan demikian, maka supir akan memilih kendaraan yang biasa supaya tidak terhentak-hentak.

Kedua, saya belajar menemukan bedanya antara supir untuk wisatawan yang bertebaran di kota-kota wisata yang sering kita sewa dengan supir tetangga yang ketika membawa wisatawan hanya sekali-sekali. Perbedaan ini menjadi semacam kultur melayani. 

Ketiga, saya diskusi dengan anak ketika sampai Jakarta tentang hal ini. Dan kami menemukan peluang bagi kami untuk mengajak tetangga-tetangga kami yang sudah mahir membawa kendaraan untuk naik kelas. Membawa penumpang dengan konsep melayani wisatawan...

Jakarta, 18 Juli 2017.

21 Juni 2017

Mudik 2017 #1; Ngak Betah di Kampung

Dalam pandangan saya, ngak betah berada di kampung ketika suami atau pasangan ketika menemani mudik, adalah sesuatu yang benar-benar salah. Meski harus diakui bahwa kehidupan di kampung memang berbeda total dari kota, dimana salah satu pasangan itu berasal sejak lahir hingga besar. Dan letak salahnya menjadi kompleks sehingga harus melahirkan stres.

Ini secara kebetulan saya mendapatkan cerita, atau lebih tepatnya curahan hati dari beberapa teman yang harus mengalaminya. Dan mereka bercerita pengalaman yang tidak enak dengan ringan karena itu sudah menjadi masa lalu mereka. Cerita sesaknya ketidaknyamanan di rumah dan kampung orang tanpa sedikitpun ada jeda. Karena berlalu tidak kurang dari satu hari.

"Saya sampai ngomong sama suami untuk pergi ke terminal atau stasiun, untuk balik ke Jakarta. Karena saya benar-benar tidak nyaman berada di rumah orang dengan situasi dan kondisi di rumah atau luar rumah yang benar-benar membuat saya sesak napas. Tapi suami hanya meminta saya untuk sabar dan mensyukuri bisa ikut pulang kampung kakak ipar." Kata teman saya yang memang dari lahir hingga dewasa belum pernah merasakan pulang kampung selain yang dia alami itu. Pulang kampung ke kampung kakak ipar.

"Saya sama sekali tidak menemukan apa yang pernah Pak Agus ceritakan tentang kampung halaman Bapak yang jaraknya tidak jauh dari kampung kakak ipar itu." Lanjutnya.

"Karena sejak sampai di kampung halaman hingga kembali ke Jakarta setelah 4 hari berada di kampung, hanya keluar rumah untuk berbelanja di kota satu kali. Saya benar-benar tidak ingin lagi." Terusnya lagi.

"Jangan lupa nanti makan gudeg di Wijilan atau bacem kepala kambing, atau tengkleng gajah, atau jeJamuran Kak di Jogja." Demikian kata saya kepada teman saya yang lain setelah mendengar bahwa mereka akan ke kampung halaman pada 'upacara' mudik tahun 2017 ini. Teman ini lahir dan besar juga di Jakarta. Dan kegiatan pulang kampung hanya dia dapatkan sejak mereka menikah.

"Tu Pak catat Pak tempat-tempat yang Mas Agus sebutin. Bapak jangan selalu bawa kami ke pemandian air terus. Bosan Pak." Kata sang istri mengingatkan suaminya. Rupanya apa yang dialami olehnya selalu berulang. Dan itu membuatnya tidak begitu antusias ketika musim mudik tiba. Kenyataan yang terbalik dengan apa yang dirasakan oleh sang suami, yang punya kampung halaman.

Lalu bagaimana dengan Anda atau mungkin pasangan Anda dengan musim mudik tahun ini?

Jakarta, 21 Juni 2017.

13 Juni 2017

'Filosof' dan 'Fisikawan'

Kemarin, saya di daulat teman-teman guru untuk bercerita sebelum sebuah kegiatan berlangsung. Dan tidak ada bingkai waktu yang ditentukan kepada saya. Tapi, tetap saja saya tahu diri dan sesegera mungkin menyelesaikan cerita saya. Bukankah saya bercerita hanya sebagai pengantar kegiatan dan bukan kegiatan intinya itu sendiri?

Yang menarik adalah bukan cerita saya itu, tetapi ketika saya mengakhiri cerita saya dan kembali ke ruangan kerja dengan membawa serta secarik kertas potongan dari berita koran harian, datang di belakang saya seorang anak laki-laki yang duduk di kelas IV.

"Apa kertas yang Bapak tadi baca? Kenapa Bapak tidak membacanya semuanya? Saya penasaran dengan cerita yang Bapak potong-potong. Boleh baca Pak?" Kata anak didik saya itu ketika kami sudah di dalam ruangan kerja saya. Pertanyaaannya penuh antusias. Seperti rasa dahaga yang sirna begitu tegukan air memenuhi tenggorakan. 

Dan serta merta saya berikan potongan artikel tersebut kepadanya. Dan disambutnya dengan penuh hangat.

"Silakan duduk. Baca dengan lantang agar Pak Agus dapat membantu memberikan penjelasan jika ada kata yang kamu pikir asing dan susah memberikan artinya." Kata saya kepada anak itu sembari mengulurkan tangan saya yang memegang artikel.

Benar saja, anak itu membacanya tidak terlalu mulus. Karena artikel tersebut terdapat beberapa kata dewasa yang sulit dipahaminya sebagai anak SD. 

"Filofof apa Pak Agus?"
"Fisikawan apa Pak?" Kata anak itu.

"Filosof itu orang yang selalu tidak pernah berhenti berpikir. Sedang Fisikawan adalah oprang yang pintar di bidang IPA."

Jakarta, 13 Juni 2017.

09 Juni 2017

Menolak Tawaran

"Teman, saqmpaikan permohonan maaf saya kepada owner yang telah berbaik hati untuk memilih saya sebagai orang kepercayaannya, bahwa saya tidak bisa menerima tawaran beliau yang sangat berharga." Ujar teman saya di sebuah ruangan sejawat disuatu sore Ramadhan 1438 H/2017. Saat itu, saya menyampaikan tawaran seorang owner lembaga pendidikan untuk memilih teman saya dari beberapa pilihan yang ada. Maka pertemuan itu, saya sampaikan apa yang menjadi amanat saya. Tetapi justru ketidakmauannya untuk memegang jabatan yang ditawarkan kepadanya.

Dan ketika saya mengejarnya, apa alasan yang saya bisa pegang atas ketidakmauannya tersebut, sebagai bekal saya menyampaikan kembali kepada owner? Dia menjawab bahwa usianya telah melemahkan 'ketabahannya' untuk terus menghadapi hal-hal yang operasional di sebuah lembaga pendidikan formal.

"Mengapa usia menjadi hambatan?" tanya saya berikutnya.

"Saya, dengan usia yang telah berada di menjelang pensiun, sangat tidak lagi memiliki keinginan atau mungkin kesanggupan untuk memegang kendali operasional lembaga pendidikan."

"Saya, dengan penilaian diri saya sendiri, merasa bahwa kompetansi saya telah tidak lagi kompit di masa sekarang ini."

"Saya takut dengan ketidaksanggupan saya dengan apa yang akan menjadi target. Saya yakin sekali kalau yang ada di lembaga sekarang ini pasti ada bibit pemimpin yag bisa dilahirkan. Saya sanggup untuk mendampinginya."

Jadilah pertemuan saya di hari itu tidak memberikan hasil sebagaimana yang diidamkan owner lembaga pendidikan. Ini berarti bahwa masih ada pekerjaan rumah bagi saya untuk memberikan jalan keluar atas kepercayaan owner kepada perjalanan lembaga pendidikannya...

Jakarta, 8 Juni 2017.

30 Mei 2017

Memberi Panggung pada Siswa SMP

Sabtu, 20 Mei 2017, berlokasi di gedung i3L, Pulomas Barat, Jakarta Timur, SMP Islam Tugasku mempertujukkan karya dramanya dengan judul cerita; Membaca dan Keajaibannya. Ini adalah drama pentas seni yang menceritakan tentang dahsyatnya membaca. Pemeran drama yang berlangsung secara live tersebuta adalah seluruh siswa SMP.

Diceritakan bahwa tokoh Fatih, yang pada awalnya menolak hadiah kakek berupa perpustakaan. Karena berharap mendapatkan hadiah smartphone termahal dari sang kakek. Tetapi jalan takdir berkehendak lain. Fatih mencoba membaca satu buku yang ada di perpustakaan itu. Dan jatuh hati dengan cerita yang dibacanya. Mulai dari sinilah dia menjadi sosok yang gemar dan terus menerus membaca. 

Ada Laskar Pelangi, Harry Potter, dan juga Muhammad Al Fatih, sang penakluk Konstantinopel dari Bani Utsmaniyah, yang menginspirasi dirinya untuk terus membaca buku-buku yang ada diperpustakaan, yang semula ditolaknya, yang merupakan hadiah ulang tahun dari kakek tercintanya. Inilah keajaiban buku yang didapatinya dari membaca.


Berikut adalah link dokumentasi pentas seni tersebut;
  • https://www.youtube.com/watch?v=5aiO0oifZws
  • https://www.youtube.com/watch?v=1kJKXJnoCB0
Jakarta, 30 Mei 2017

Memberi Panggung pada Siswa SD

KITA, Keindahan Tanah Airku, adalah judul drama yang dimainkan oleh 459 siswa SDI TUGASKU di panggung pertunjukkan secara live, dalam tajuk Pentas Seni. Kegiatan ini berlangsung pada hari Minggu, 21 Mei 2017, di gedung teater UBM, Pademangan, Jakarta Utara.

KITA, menceritakan tentang tokoh Mia yang mengalami gegar budaya ketika harus kembali ke Indonesia setelah masa kecil hingga menjelang remajanya tinggal di Eropa bersama ayah dan bundanya. Ia tidak siap berada dalam lingkungan yang dinilainya tidak seindah Eropa.

Anggapan itu berubah ketika ayah dan ibunya mengajaknya menjenguk kakek dan neneknya di Padang, Sumatera Barat dan ke Banyuwangi, Jawa Timur. Juga mengunjungi berbagai lokasi wisata lain di Indonesia.


Mia, akhirnya menemukan betapa Indonesia, tiada bandingannya. Indahnya, suburnya, ramahnya, beragamnya, harmoninya, tenteramnya. Rasa banganya kepada tanah airnya Indonesia ini ia deklarasikan kepada semua keluarga dan semua temannya.

Berikut link dokumentasi yang buat;
  • https://www.youtube.com/watch?v=oEUU8WuqlYk
  • https://www.youtube.com/watch?v=FxhnGXk0uc4
  • https://www.youtube.com/watch?v=oyVos_BlawY
  • https://www.youtube.com/watch?v=_sTNy2jYvLI
Jakarta, 30 Mei 2017

Memberi Panggung pada Siswa TK

Sabtu, 13 Mei 2017, berlokasi di ruang pertunjukan Kampus I3L, Jalan Pulomas Barat, Jakarta Timur, seluruh siswa dari Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak Islam Tugasku tampil di panggung pertunjukkan dengan percaya diri penuh dalam Operet akhir tahun berjudul Goresan Ceritaku. Pertunjukkan ini merupakan penampilan  terakhir siswa untuk tahun pelajaran 2016/2017. 
Goresan Ceritaku, yang menjadi judul dari pentas seni tahun 2017 ini, bercerita tentang liburan akhir tahun pelajaran. Dimana, dalam setiap liburan sekolah, seluruh anak akan memiliki kegiatan yang istimewa bersama sanak dan keluarganya. Dalam cerita ini, anak-anak menampilkan betapa indahnya nusantara. Seperti suasana liburan di Jakarta, pantai di Pulau Aru di Maluku, Bromo di Jawa Timur, dan juga Sipiso-piso di Sumatera Utara.
Goresan Ceritaku, skenario ceritera, tarian, aksi panggung, dan beberapa lagu yang menjadi soundtrack-nya,  merupakan hasil karya guru-guru KB/TK Islam Tugasku. Dikerjakan secara kolektif dengan penuh kegembiraan dan antusiasme. Alhamdulillah bahwa kegiatan ini menjadi kegiatan penutup tahun yang membahagiakan semua warga sekolah. Terimakasih atas semua dukungannya.
Ini link untuk dokumentasi yang saya buat;
  • https://www.youtube.com/watch?v=Vu0ch8ZFikc
  • https://www.youtube.com/watch?v=emYXU9E_q1Q
  • https://www.youtube.com/watch?v=dHgPOm5HMyQ
  • https://www.youtube.com/watch?v=cZdYhGAbRwQ&spfreload=5
  • https://www.youtube.com/watch?v=cZdYhGAbRwQ&t=23s
Jakarta, 30 Mei 2017.


13 April 2017

'Nambang' atau Wisata, sama-sama ada Uangnya


Ini yang kami kunjungi ketika menengok cucu di Yogyakarta akhir pekan awal April 2017 lalu. Berkunjung ke bekas tambang breksi yang ada di sekitaran Candi Ijo, Kecamatan Prambanan, Yogyakarta. Dan meski aktivitas tambang telah berhenti dan berakhir, lokasi itu sepertinya akan tetap mendatangkan uang dan penghasilan.







Jakarta, 13 April 2017.

10 April 2017

Ingin Punya Usaha di Kampung?

"Apakah tidak punya rencana untuk punya usaha di kampung?" Begitulah pertanyaan Pak Haji Nur, yang tinggal di tepi sungai Comal, yang adalah pemilik RM Prasmanan di Desa Sikasur, Belik, Pemalang, Jawa Tengah. Pertanyaan yang tentunya teramat sulit untuk dapat saya jawab dengan tegas. Pertanyaan yang akhirnya saya tanggapi dengan tersenyum. Ini terjadi pada Jumat, 24 Maret 2017, pagi hari setelah perjalanan saya dari Jakarta terhenti di desa tersebut untuk melakukan makan pagi.
Brosur tawaran yang diberikan kepada saya untuk bisa ditawarkan kepada siapapun yang berniat dan berminat, serta tentunya memiliki kemampuan.

"Waduh Bapak. Pertanyaan yang saya tahu pasti jawabannya. Tetapi juga menggoda untuk tahu apa yang dimaksud Bapak dengan bertanya seperti itu." Jawab saya setelah Pak Haji benar benar menyampaikan tawaran kepada saya untuk punya usaha di desanya. Dan benar saja, Pak Haji Nur mengajak saya untuk 'menonton' apa yang menjadi barang yang ditawarkan kepada saya. Yaitu lima bidang tanahnya, yang menyatu, yang lokasinya hanya terpaut 60 meteran berada di tempat usahanya, yang dibukanya sebagai rumah makan Prasmanan.

Jakarta, 10 April 2017.

Mudik Hari Kejepit

Ketika ada hari kerja yang kejepit hari libur, seperti pada Senin, 27 Maret 2017 lalu, saya dan keluarga memanfaatkannya sebagai hari libur dengan menggunakan fasilitas cuti tahunan, untuk melakukan perjalanan ke Yogyakarta. Dan untuk mengantisipasi macet yang akan terjadi, maka cuti yang saya ambil adalah 3 hari kerja. Kami merencanakan perjalanan sebelum week end dan kembali ke Jakarta Selasa, 28 Maret 2017. 

Selain hari perjalanan yang telah kami rencanakan, sekali lagi untuk menghindari macet atau setidaknya bertumpuknya kendaraan sesama pengguna jalan yang memanfaatkan hari kejepit tersebut, kami juga mengambil rute perjalanan dan jam keberangkatan yang tidak umum.

Maka ketika Jumat, 24 Maret 2017, menjelang waktu Subuh, saya telah meluncur dari Jakarta menuju arah Yogyakarta. Alhamdulillah, meski harus menggunakan satu lajur saya di sepanjang Tol Bekasi Barat hingga Cikarang karena lajur 1 dan 2 yang dipenuhi truk dan kendaraan besar lainnya, laju kendaraan kami masuk di kecepatan 70-80 km/jam. Dan selepas itu hingga jalan Tol habis di Brebes, dapat kami tempuh dalam 3 jam perjalanan.
 
Jalur Brebes-Slawi-Radudongkal-Belik-Purbalingga. Jalur ini memungkinkan kita untuk memandang hijau, hijau, dan hijau. Sementara sebelah kiri bawah jalan terbentang waduk Cacaban.
Di pintu Tol Brebes, yang pernah menjadi simpul kemacetan di Idul Fitri 2016, pagi itu lengang.  Kendaraan dapat melaju dengan normal tanpa halangan. Ini sesuai sekali dengan harapan kami ketika kami harus mengambil cuti di hari kerja, untuk mengawali keberangkatan, se-awal awalnya. 



Jalur selanjutnya adalah menuju Slawi untuk kemudian masuk Pemalang. Tepatnya di Radudongkal, Belik, hingga masuk Kota Purbalingga. 

Jalur Purbalingga-Gombong, kami dibantu Google melalui Klampok- Waduk Sempor-Selokerto (Gombong/Kebumen).

"Kita cepat sekali sampai di kampung." Demikian komentar Instri dan Sulung saya setalah perjalanan berakhir untuk transit di kampung halaman saya, di ujung Kabupaten Purworejo. Dan memang, kami semua merasakan hal yang sama. Perjalanan kami lalui dengan berkendaran menggunakan kecepatan yang santai. Plus dengan 5 kali istirahat, atau setara dengan 2 jam.

Foto bersama di tanggul Waduk Sempor, di Kabupaten Kebumen.

"Ini juga menjadi perjalanan paling mudah dan paling berkesan untuk ayah sendiri." Jawab saya. Meski, kami tetap membutuhkan waktu perjalanan selama 12 jam. Tetapi untuk saya, yang berprinsip bahwa; perjalanan mudik adalah sama dengan perjalanan wisata, waktu tempuh 12 jam adalah sebuah anugerah yang sungguh menggebirakan. Alhamdulillah.

Jakarta, 10 April 2017.

17 Maret 2017

Menikmati Sejuknya Pengalengan

Berawal dari beberapa kalinya saya meninggalkan keluarga untuk menemani siswa SMP yang sedang melakukan kegiatan belajar di masyarakat yang tinggal di Pengalengan, kemudian membawa oleh-oleh cerita kepada mereka, maka ketertarikan istri dan anak-anak bangkit. Terlebih ketika mantan kantor istri juga mengajak saya untuk ikut serta menemani kegiatan trip di lokasi yang sama, maka semakin menggebunya kami membuat rencana untuk membuktikan apa yang saya ceritakan.

Maka kami merancang untuk melakukan perjalanan ke tempat yang sebenarnya tidak terlalu dekat. Bukan untuk berbelanja atau pergi ke mal, tetapi murni ingin menikmati udara sejuknya Pengalengan, yang saat itu bersuhu 16 derajat di ujung malam.

Kami meninggalkan Jakarta pada hari Jumat menjelang pagi. Seusai Shalat Subuh perjalanan kami mulai. Dan sekitar pukul 06.30, kami istirahat untuk sarapan pagi di pintu keluar Ciganea, Purwakarta. Lebih kurang satu setengah jam kami berada di rumah makan yang berada di lokasi sekitar gerbang tol tersebut, sebelum kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju penginapan yang berada tidak jauh dari pintu masuk Situ Cileuncak. 

Eksplorasi alam tidak dapat kami lakukan pada siang hingga malam pada hari itu. Ini karena kami begitu terlena dengan udara yang menggairahkan untuk berlama-lama di tempat tidur. Maka ketika perut mulai menagih untuk makan siang, sekitar pukul 14.00 kami menuju rumah makan yang berada tidak jauh dari perempatan Pengalengan, yang menjadi 'pusat kota'.



Perjalanan kami lanjutkan ke kampung Lebaksaat, Desa Triibaktimulya, yang berada lebih kurang 2 kilometer dari perempatan Pengalengan tersebut, untuk bertamu ke Pak Haji Nono. Beliau adalah orangtua yang baik yang saya kenal setelah peserta didik kami tinggal di kampung beliau pada awal November 2016 lalu.

Ada yang menarik untuk kedua anak saya di Lebaksaat, yaitu ketika berkunjung ke kandang sapi perah. Lokasi yang menjadi pengalaman pertama bagi mereka berdua. Terlebih setelah mendapatkan air susu sapi murni yang dapat mereka konsumsi.

Esok harinya, ketika matahari tepat mulai muncul, kami naik perahu untuk menjelajahi situ dan kebun sayur. Dan menjelang tengah hari kami puas berfoto di belantara teh di kebun teh Malabar, untuk kemudian berakhir dengan minum kopi di Kopi Luwak Malabar.

Dan yang paling enrik dari semua trip kami adalah, bersama si kecil generasi ketiga kami yang baru berusia 7 bulan. Alhamdulillah. Seperti yang terlihat dalam dokumentasi kami; https://youtu.be/lTkME1DgHfw

Jakarta, 17.03.17

"Boleh Minta Pak?"

"Boleh minta Pak?" Begitu pertanyaan seorang siswi saya yang masih duduk di kelas I SD, sembari mendendangkan syair lagu anak-anak dalam Bahasa Inggris dengan hafal dan pasih. Entah tidak tahu secara persis kunjungannya ke ruangan saya untuk yang keberapa kalinya, tetapi jelas bahwa anak tersebut tidak memiliki kendala sedikit pun ketika bercengkerama dengan Bapak atau Ibu gurunya. 

Dan kunjungannya kali itu ketika jam sekolah untuk kelasnya telah usai, yang berarti posisinya sedang menunggu jemputan kepulanganya. Karena waktu sebentar lagi akan masuk Shalat Jumat. Saya tidak langsung menjawab apa yang diinginkannya. Tetapi melihatnya dan mengucapkan terimakasih atas kunjungannya. Baru setelah itu saya mempersilahkan peserta didik saya itu mengambil  potongan buah yang tersedia di wadah piring yang ada di meja kerja saya. 

"Silahkan diambil." Kata saya kepada anak itu. Ynag terus menerus tiada henti mendendangkan syair lagu anak-anak dalam Bahasa Inggris. Sesekali ia juga menarik lembaran tisu disamping piring buah untuk mengelap jemarinya yag menjadi basah oleh potongan buah yang sedang dimakannya.

Jakarta, 17.03.2017

07 Maret 2017

Terkena Cacar

Di sekolah, ada beberapa penyakit yang ketika satu anak telah terjangkit, maka beberapa hari kemudian akan secara bergantian terjangkit penyakit yang sama. Tidak peduli musim apa. Dan itu berulang. Tidak mungkin bagi sekolah mampu mencegah beredarnya penyakit tersebut. Walau memang ada masa dimana tidak ada penyakit yang mudah menular beredar di sekolah. Tetapi sulit dalam kurun satu tahun pelajaran sekolah benar-benar kosong dari penyakit yang saya maksud.

Beberapa penyakit yang sering beredar di sekolah dan bahkan selalu bertambah penderitanya beberapa hari kemudian antara lain adalah penyakit seperti cacar air dan KTM, kuku tangan dan mulut. Setidaknya dua jenis penyakit ini yang berputar-putar bergantian meski, sekali lagi tidak selamanya, tetapi pada waktu tertentu saja.

Lalu apa yang menjadi konsen saya dalam membuat catatan disini? Tidak lain adalah penanganannya. Baik kepada siswa yang sedang menderita sakit, kepada teman yang sehat-sehat, dan juga kepada kebersihan kelas atau sekolahnya. Untuk ketiga hal tersebut, buat kami, penanganan kepada yang sakit, baik pada saat awal sakit, ketika sakit dan tidak masuk sekolah, atau juga pada saat menjelang sembuh atau baru saja sembuh, adalah hal yang lebih rumit. Meski tetap sederhana.

Rumitnya karena bentuk komunikasi yang dilakukan kami, melalui guru atau pihak UKS  yang berada di sisi sekolah dengan pihak orangtua siswa di sisi rumah. Meski tidak selalu rumit, namun beberapa kasus harus muncul. Bentuk komunikasi yang saya maksudkan adalah perbedaan pola penyebaran penyakitnya.

Ada yang berpendapat bahwa penyakit tersebut menular pada masa inkubasi. Yaitu masa dimana anak mulai terserang penyakit. Sementara ada pihak yang berpendapat bahwa penyebaran penyakit cacar air justru pada masa menjelang kesembuhan. Yaitu pada saat luka bekas cacar air belum mengering benar. 

Pada masa-masa seperti itulah yang membuat guru atau pihak UKS mendapat 'pelajaran' tambahan bila pihak rumah tidak menerima bila putra/putrinya harus kembali pulang setelah di antar ke sekolah. Hal ini karena pihak rumah atau orangtua kurang dapat menerima apa yang diputuskan sekolah. Sementara sekolah sesungguhnya berusaha untuk mengisolir penyakit agar tidak ada tambahan penderita di kelasnya.

Jadi?

Jakarta, 7 Maret 2017.

Kinerja #18; Kinerja dan Implikasi pada Esksitensi

Ketika penilaian kinerja bagi guru dan karyawan setiap tahun kami coba untuk menjadikan tolok ukur bagi kualitas kerja teman-teman secara adil, transparan, dan memang mengukur apa yang seharusnya diukur dalam sebuah kinerja, maka lahir pertanyaan berikutnya kepada kami, para kepala unit kerja di lembaga kami, yaitu; apakah implikasi dari kinerja guru dan karyawan yang bagus bagi keberlangsungan lembaga kami?

Pertanyaan ini lahir setelah beberapa saat yang lalu saya menerima pesan melalui telepon seluler dari teman, yang kebetulan juga adalah anggota dari Pembina di sebuah yayasan pendidikan yang, kebetulan juga, saya ikut terlibat di dalamnya. Pertanyaan yang sederhana tetapi membutuhkan refleksi untuk merumuskan jawabannya. Dan dari pesan singkat itu, saya mencoba melihat dan menengok kebelakang tentang apa saja parameter yang telah kemi miliki untuk menjaga agar teman-teman guru dan karyawan terus menerus terlibat aktif dalam menegakkan reputasi sekolah, baik di mata para peserta didiknya atau juga kepada para orangtua siswanya.

Kepada para peserta didiknya, teman-teman terus menerus melakukan upaya dan ikhtiar bagi keberhasilan mereka dalam mengejar apa yang menjadi cita-citanya, dengan berbagai program tidak saja kepada ranah akademik yang memungkinkan anak-anak memperoleh prestasi yang baik dan juga mampu melanjutkan ke sekolah berikut yang menjadi impiannya, tetapi juga kepada ranah afektif dan psikomotorik.

Tetapi kenyataan dan fakta yang ada di lapangan tidak dapat dipungkiri, bahwa menjelang tahun pelajaran baru, beberapa unit sekolah selalu menunjukkan perkembangan yang kurang memberikan korelasi atas tingkat kinerja guru dan karyawan dengan keberadaan siswa baru. Inilah yang menjadi pemikiran hangat antara saya dan teman-teman di manajemen lembaga yang menjadi amanat untuk kami.

Walaupun kami juga telah mengalami bahwa beberapa sekolah juga mengalami apa yang sedang kami alami. Misalnya sekolah top yang 'harus' menelpon kembali para calon peserta didik yang telah ikut tes di sekolahnya dan ternyata tidak diterima; Apakah Bapak atau Ibu masih berminat untuk menyekolahkan putra/putranya di sekolah kami? Kalau masih kami masih memberikan peluang putra/putri Bapak/Ibu untuk bisa masuk, meski pada hasil tes yang lalu putra/putri Bapak/Ibu tidak kami terima?

Jakarta, 7 Maret 2017.

06 Maret 2017

Kinerja #17; Mempertajam atau Mempersulit?

Dalam catatan saya sebelumnya berkenaan dengan penilaian kinerja, saya sampaikan bahwa langkah berikutnya setelah menggunakan parameter yang relatif sama, maka saya meminta kepala unit kerja untuk mendiskusikan dan sekaligus membuat usulan bagi perbaikan dari parameter penilaian kinerja yang telah ada. Dan hasilnya adalah melakukan langkah penajaman pada indikator yang ada dalam parameter tersebut. Misalnya untuk indikator  kehadiran, bila pada sebelumnya rubrik yang ada untuk setiap skor dilihat blur dan kurang tajam, maka pada penilaian kinerja yang baru kami buat lebih mudah dan terhitung. Misalnya untuk skor sempurna bila seseorang sepanjang satu semester sama sekali tidak pernah datang terlambat.

Hal yang sama juga kami sampaikan beberapa penajaman pada indikator yang lainnya. Namun apa yang menjadi pemikiran positif dari sisi kami tersebut juga tidak semuanya dapat melihatnya dengan kaca mata yang sama. Terbukti, bahwa terdapat teman yang memberikan komentar atau lebih enaknya, masukan kepada kami, bahwa apa yang menjadi penajaman pada indikator penilaian kinerja juga berdampak kepada mempersulit.

Mempersulit?

Ya benar mempersulit seseorang untuk mendapatkan nilai dari penilaian kinerja yang lebih baik. Dan karena hasil kinerja dengan parameter penilaian kinerja yang telah ditajamkan, secara rata-rata menjadi menurun, maka rerata kenaikan gaji yang mereka dapatkan juga menurun dari dugaan perhitungan teman-teman.

Benarkah? Dari sisi saya sendiri, dapat saya sampaikan bahwa parameter penilaian kinerja yang lebih terukur maka memang akan memudahkan bagi kepala unit kerja untuk menentukan siapa memperoleh skor berapa untuk indikator apa. Dan ini menjadikan pekerjaan Kepala Unit kerja tinggal melihat data yang ada yang dia telah siapkan.

Dengan demikian maka dapat saya katakan bahwa parameter penilaian kinerja yang kami susun bertujuan untuk menilai apa yang akan kami nilai. Dan nampaknya tujuan itu telah tercapai.

Jakarta, 6 Maret 2017.

27 Februari 2017

Kinerja #16; Beda Sudut Pandang

Sebagaimana yang telah saya sampaikan dalam artikel sebelumnya tentang beda ekspektasi antara penilai kinerja, yaitu manajemen sekolah, dan yang dinilai, yaitu guru dan karyawan yang ada di sekolah, maka juga akan saya sampaikan berkenaan dengan beda sudut pandang. Ini perlu saya sampaikan juga bahwa dengan fakta dan bukti-bukti yang ada, tetapi dari sudut pandang yang berbeda, maka konklusinya menjadi berbeda. Dan ini sesuatu yang sah-sah saja. Tidak ada yang harus diributkan.

Misalnya, dengan semua bukti dan fakta yang telah diunjuk kerjakan oleh seorang guru kepada asesornya di sebuah unit sekolah, dan terjadi persepsi yang berbeda terhasil 'hasil' dari sebuah skor atau nilai diantara dua belah pihak, maka ini menjadi sesuatu yang lumrah sepanjang memang penilai dan yang dinilai berpegang teguh kepada fakta dan realita yang ada. 

Mengapa? Seperti juga pada tataran anak-anak di dalam kelas, bahwa apa yang seorang anak lakukan dalam sebuah aktivitas kerja/belajar di dalam kelas menggunakan alat ukur individu anak tersebut. Tetapi manakala hasil kerja/belajar tersebut terkompilasi dengan hasil kerja/belajar semua anak di dalam kelas, maka guru akan melihat juga anak sebagai individu diantara individu siswa yang ada di dalam kelas tersebut.

Kenyataan ini yang menjadikan mengapa seolah-olah kepala sekolah atau menajemen sekolah sebagai orang yang menilai dinilai menyertakan subyektivitas terlalu dalam ketika memberikan penilaian kinerja kepada serang gurunya? Dan meski ada mediasi untuk menjembatani keberbedaan dengan pertemuan baik secara individu ataupun secara klasikal, tetap saja kenyataan 'rasa' berbeda itu nyata ada.

Jakarta, 27 Februari 2017.

21 Februari 2017

Pilkada 2017 #2; Pilkada Ulang

Ada pelajaran penting yang saya dapat ambil dari adanya 2 TPS, yang masing-masing di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat, harus melakukan Pemilihan Kepada Daerah ulang, yang telah berlangsung pada Minggu, 19 Februari 2017 lalu. Paling tidak ini karena beberapa kali bersama teman-teman di lingkungan tempat tinggal diamanahi sebagai petugas KPPS. Sebagaimana berita yang dapat kita akses tentang kegiatan tersebut.
Berita yang dimuat di halaman web KPU Jakarta.

Hikmah yang saya dapatkan adalah berangkat dari alasan mengapa pemilu yang ada di kedua TPS tersebut harus diulang? Pelajaran ini ini setidaknya menjadi acuan saya jika di waktu yang akan datang harus menjadi bagian KPPU. Karena bagaimanapun, bertugas untuk sebuah amanah tetapi harus dilakukan perulangan dalam melaksanakan tugas yang sama, akan membawa rasa yang berbeda.

Untuk hal inilah maka ketika sebagai bagian dari KPPU, hal yang benar-benar harus adalah; memahami aturan main secara holistik untuk kemudian mencoba saling mengingatkan antar anggota KPPU ketika menjalankan tugasnya. Pijakannya hanya satu, yaitu aturan pemilihan. Dan ketika pijakan kuat, akan membuat kokoh bila terjadi hal yang tidak normal. Semoga.

Jakarta, 21.02.2017.

19 Februari 2017

Pilkada 2017 #1; Terimakasih Teman...

Beberapa bulan sebelum pelaksanaan Pilkada 2017, saya telah dihubungi oleh Pak RT yang sebelum-sebelumnya selalu sebagai partner dalam KPPS di wilayah tempat tinggal kami di bilangan Jakarta Barat. Tujuannya tidak lain adalah untuk mengkonfirmasi kesediaan saya untuk terlibat kembali sebagai petugas KPPS. Namun sebagaimana yang pernah saya sampaikan seusai Pemilu sebelumnya, maka saya berkomitmen untuk mengundurkan diri dalam susunan petugas KPPS. Ini karena telah sekian lama dalam pelaksanaan pemungutuan suara sejak Reformasi 1998 saya tidak pernah absen menjadi petugas. Maka dengan alasan untuk berganti peran, saya meminta agar pelaksanaan Pilkada DKI 2017 digantikan posisinya oleh orang lain. Dan alhamdulillah hal itu dapat terlaksana. Dan juga bersyukur bahwa pelaksanaan Pilkada di TPS tercinta saya aman tenteram tidak ada yang harus ngotot untuk boleh memilih atau ngotot tidak boleh memilih. Nampaknya semua berlangsung lancar tiada kendala apapun.

"Alhamdulillah semua berjalan lancar Gus." Begitu balasan wa teman saya yang di Pilkada kali ini menjadi Ketua KPPS di lingkungannya, yang kebetulan saya juga terdaftar sebagai pemilih dilokasi dimana ia bertugas. Saya tentunya ikut bahagia. Terutama setelah beredar kiriman video bagaimana petugas di TPS yang harus menangani hal-hal yang memang dalam pemilihan sebeumnya masalah tidak pernah timbul.

Meski demikian, saya sendiri juga merefleksi atas posisi sebagai petugas di TPS yang harus memenuhi kewajiban dari KPU, sebagai penyekenggara pemilihan umum, agar apa yang kami laksanakan dapat dipertanggungjawabkan. Terutama bagi petugas di posisi nomor 1, penerima pendaftaran, nomor 2, ketua KPPS, dan 3, yang berada di lokasi depan 'ruang' TPS. Dimana kami harus benar-benar menguasai aturan KPU yang berkenaan dengan syarat pemilih dan aturan pemilihan.

Dan atas pelaksanaan yang berjalan dengan aman dan lancar tanpa ada kekurangan yang teradi di TPS dimana saya menjadi salah satu pemilihnya, saya mengucapkan kepada sahabat saya itu. Terimakasih.

Jakarta, 19 Februari 2017.

03 Februari 2017

Boleh Lihat CCTVnya Pak?

Sore hari, menjelang pukul 16.00 datang tidak kurang 5 siswi kelas 7 SMP kami ke ruangan kantor saya. Mereka datang seperti terlihat kurang percaya diri akan dapat saya terima atau tidak. Oleh karena itu satu anak yang berada di depan dari rombongannya, mengetuk pintu ruangan, dan menyampaikan maksud kedatangannya kepada saya.

"Saya perlu tahu Pak, apakah tadi pagi saya benar membawa hp atau tidak. Karena saya sudah cek di mobil ternyata tidak saya temukan. Tapi saya yakin sekali ke sekolah bawa hp." Demikian kalimat yang dia sampaikan kepada saya setelah saya balik tanya untuk apa meminta busa melihat relaman CCTV di pagi hari.

Saya mencoba membukakan sauran CCTV yang dapat mereka buka dan lihat rekamananya sebagaimana yang anak-anak itu minta. Jujur, saat itu saua sedang mempersiapkan satu dokumen untuk kepentingan rapat dengan dua kepala sekolah menjelangan pukul 17.00. Tetapi kedatangan anak-anak itu, saya akhirnya mengalah. Dan setelah password CCTV saya buka, dan mencobakan kehadapan mereka, maka satu diantara anak-anak itu ingin mencoba untuk menggantikan posisi saya agar saya bisa kembali ke komputer meja saya dan mereka tetap dapat mengekplorasi apa yang dibutuhkannya.

Sesekali saya masih memberikan panduan tentang bagaimana menemukan jam tayang yang dibutuhkan, nomor kamera yang diinginkan, dan juga membolak balik hari dan tanggalnya. Tampak sekali kalau anak-anak itu cepat menyerap apa yang saya maksudkan. Dan mereka seperti terseterum semangat luar biasa untuk mencari tahu. Termasuk waktu rekam yang mereka inginkan sendiri.

Dan atas apa yang mereka lakukan itu, saya harus menyadari bahwa beberapa fungsi dari rekaman CCTV yang sebelumnya belum pernah saya sentuh, oleh tangan anak-anak itu 'diketemukannya' dengan kecepatan oenguasaan mengoperasikan yang mengagumkan.

Pengalaman beberapa waktu bersama mereka di ruangan saya yang juga menjadi sentral rekaman CCTV sekolah, membuat saya kagum dan sumringah bahwa anak-anak kita memang anak-anak yang luar biasa mengesankannya. Setidaknya ketika mereka membuka rekaman CCTV sekolah sebagaimana yang mereka inginkan!

Jakarta, 3 Februari 2017.

13 Januari 2017

Debat Kursi Panjang Depan Warung


Bangku panjang yang ada di warung kelontong depan rumah Pak RT, malam itu, juga sebenarnya malam-malam sebelumnya, nyaris tengah malam, selalu menjadi ajang bagi tetangga untuk berdiskusi, bercengkrama, juga berdebat. Diantara tema yang ada adalah tentang pilihan 15 Februari 2017, Pilkada.

A: Tidak perlu menyanggah saya. Saya tahu persis yang paling benar dan paling mampu serta jujur dari tiga nomor kandidat yang ada. Saya kenal dengan orang-orang yang ada di lingkaran dalam pada semua kandidat tersebut.

Ungkap A dengan semangat. Profesinya memang tukang ojeq di perempatan jalan protokol dekat gedung DPR yang selalu ramai kendaraan dan penumpang bus serta mikrolet. Tapi merasa telah menguasai secara tuntas peta kekuatan Pilkada DKI dari koran pagi yang selalu dibacanya sebelum dan sesudah mengantar pelanggan. Atas kompetensinya itu, ia menjadi satu-satunya peserta diskusi atau bahkan debat yang selalu mampu memaksakan pendapatnya. Seperti debat malam itu.

B: Saya paham. Tapi tidak mau menerima argumentasi agar ikut serta memilih nomormu, atau menjadi bagianmu.

C: Saya hanya ingin menyarankan kepada kita semua untuk menyampaikan profil dan idialisme masing-masing kandidat. Bukan memaksa atau bahkan provokasi. Apalagi memojokkan. Persuasi boleh. Logika bahwa yang jujur dan benar hanya nomormu, katanya kepada A, bisa menjadi sesat.

A: Ngak mungkin salah pendapat saya. Ini argumen yang dibangun dari fakta.

B, yang adalah seorang pegawai kantoran, sejak awal sudah kurang menunjukkan gairah berada dalam forum debat kursi panjang depan warung itu. Untuk itu, tanpa basa basi ia ngeloyor pergi setelah menerima kembalian uang kopi dari Mas tukang warung.

C: Kalau mau membujuk agar saya ikut memilih pilihanmu  dengan kalimat yang seperti kamu sampaikan, tampaknya saya juga tidak berminat.

Katanya. Sementara dia bangkit dari duduk. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

A: Kamu boleh tidak setuju dengan nomor urutku. Tetapi aku berpendapat bahwa yang jujur dan mampu hanyalah dia. Karena aku yakin dari apa yang sudah aku ketahui dari ketiga kandidat yang ada. Kalau kalian, dari mana fakta yang dapat menjadi penarik dari calon-calon kalian.

Meski tinggal berdua, forum debat politik di bangku panjang depan warung kelontong itu tetap seru. Mas tukang warung hanya menjadi saksi. Mungkin ia punya pendapat, tapi karena tidak dalam forum sejak awal, posisinya hanya sebagai pendengar.

C: Kalau sebagai simpatisan saja kalimat dan pilihan katamu untuk membela dan menyuguhkan kandidatmu pada kami seperti itu, saya kasih tahu kamu kalau; Saya pasti tidak akan tertarik dan percaya dengan apa yang kamu omong, dan tidak akan ada yang mau dengar apa yang kamu omong. Itu saja!

Dan tanpa berpamitan, C langsung meninggalkan forum debat itu. Begitu juga dengan Mas warung yang segera bergegas untuk menarik rolling door dan tutup!


Jakarta, 5 Januari 2016.