Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 October 2013

Melihat Tidak Liniernya Belajar Karakter



Dalam renungan saya ini, saya mencoba menuliskan tentang fenomena belajar, usaha belajar, hasil belajar, dan tentunya apresiasi terhadapnya, dilihat dari sebuah garis lurus. Sebuah fenomena yang sebelumnya sebagai bahan bincang kami, para teman-teman yang bergerak di bidang pendidikan di sekolah, yang sama-sama tertegun jika fakta-fakta ini kami kemukakan. Karena dari garis merah yang kami temukan, ada ketidak 'benaran' bila kita menariknya sebagai garis lurus. Inilah sebuah kegiatan belajar formal di sekolah yang harus menjadi renungan kita, para teman-teman guru.

Meski perlu pula saya sampaikan disini bahwa, fenomena ini terbentuk dari beberapa bagian yang tidak sepenuhnya melibatkan seluruh bagian dari pelaku pembelajaran. Masih menjadi bagian-bagian, yang kalau di sekolah kami sendiri bagian itu masih minoritas. Itu pun bedasarkan pengakuan beberapa pelaku kepada kami, para gurunya.




Untuk membuat lebih jelas tentang apa sesungguhnya fenomena yang saya sampaiakan tersebut, ada baiknya jika saya memulainya dengan pembahasan SKL atau Kisi-Kisi Ujian Nasional, yang kalau di sekolah menjadi rujukan bagi ketercapaian target hasil belajar yang bagus.

SKL dan Kisi-Kisi

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sekolah dan seluruh komponen pendidikan menjadikan SKL, standar kelulusan, atau kisi-kisi sebagai acuan dalam menentukan keberhasilan ujian yang akan dihadapi.  Oleh karenanya tidak ada kecuali bagi seluruh komponen di sekolah untuk  belajar dan menguasai materi pembelajaran dengan panduan tersebut. Karena dari SKL atau Kisi-Kisilah soal-soal ujian dikembangkan.

Oleh karenanya, beberapa sekolah berjuang keras untuk mewujudkan ketuntasan para siswanya dalam menguasai SKL atau Kisi-Kisi yang ada. Keberhasilan belajarnya itu diupayakan antaralain dengan menambahkan waktu belajar kepada kelas yang akan menghadapi ujian. Dengan istilah yang antaralain adalah Pendalaman Materi. Atau juga mengintensifkan waktu belajar anak-anak tersebut. Bahkan beberapa sekolah, atas desakan dan persetujuan orangtua siswa untuk bekerjasama dengan lembaga bimbingan belajar. Semua usaha ini, kalau saya klasifikasikan sebagai usaha keras dan juga sekaligus usaha cerdas bilamana usaha kerasnya tersebut dibarengi dengan membuat analisa SKLnya.

Bahkan tidak cukup sampai dengan usaha keras yag mereka rencanakan dan ikhtiarkan, semua komponen sekolah juga akan melakukan doa bersama menjelang ujian berlangsung. Tentu semua usaha tersebut dilakukan sebagai rangkaian mendapatkan hasil ujian yang optimal.

Adanya Penyimpangan

Namun demikian, ada beberapa penyimpangan yang mungkin dilakukan oleh beberapa pelaku pembelajaran tersebut. Penyimpangan itu berupa upaya dan usaha untuk berpatungan uang dalam sejumlah tertentu, agar disaat ujian berlangsung nanti, ada kiriman kunci jawaban dalam bentuk SMS atau BBM. Dan dari cerita selentingan yang beredar, bahwa pihak yang memberikan tawaran untuk adanya kiriman SMS atau BBM tersebut adalah pihak-pihak yang masih berdekatan profesinya dengan pendidikan.
Bocoran kunci jawaban UN SMA tahun 2013, yang ditemukan seorang guru yang menjadi pengawas UN dan dipubikasikannya melalui facebook.


Lalu bagaimana pula agar siswa yang menjadi pihak pelau ujian tersebut dapat menerima, membaca, atau bahkan menganalisa kunci yang mana yang benar dari 20 paket kunci jawaban soal yang ada? Tentunya adalah dengan memegang alat komunikasi mereka di dalam kelas. Dan tentang bagaimana anak-anak didik itu masih memungkin memegang HP, itulah yang pada setiap tahunnya berganti modus.

Bagaimana pula jika hasil ujian telah diumumkan kemudian beberapa anak yang terindikasi menggunakan kunci jawaban memperoleh hasil yang relatif baik? Dari pengamatan saya, mereka juga ikut serta merayakan keberhasilannya itu.

Pada titik itulah saya ingin menyampaikan pesan kepada teman-teman semuanya bahwa, ternyata, ada garis yang tidak linier dalam mengembangkan karakter kepada generasi penerus kita. Dan tanpa hasru menuding siapa yang seharusnya memikul beban ketidaklinieran garis tersebut, saya akan ikut serta mengambil peran itu. Semoga!

Jakarta, 29 Oktober 2013.

29 October 2013

Belajar Mempraktekkan Konsep

Beberapa waktu lalu, atau bahkan sekarang sekalipun, masih terjadi apa yang kami kumandangkan sebagai langkah untuk menjadi tindakan ternyata masih berada di langit-langit. Maksudnya tidak lain karena apa yang sudah bersama-sama kami kumandangkan sebagai bagian dari komitmen kami berikutnya, ternyata di lapangan  belum menjadi bagian dari hidup yang inheren. Belum nempel menjadi sebuah kebiasaan, apalagi budaya. 

Contoh paling enteng yang kami sepakati sebagai bagian untuk menjadi langkah nyata, adalah meninggalkan ruangan kami masing-masing yang kosong dengan mematikan lampu yang ada juga AC jika memang kita yakin tidak akan kembali dalam waktu lama. Dua hal sederhana tetapi juga menjadi bagian yang tidak mudah untuk selalu menjadi sebuah kebiasaan yang ajeg. Dan ini semua karena lupa akan apa yang semestinya telah kami sepakati bersama untuk terjadi.

Saya sendiri memang juga tidak selalu ingat akan keberadaan lampu yang menyala dan AC yang membuat ruangan sejuk. Ia kadang saya tinggalkan tanpa terlebih dahulu saya matikan. Meski AC tidak selalu saya matikan begitu saya meninggalkan ruangan. Namun setidaknya AC ruangan saya akan nyala hidup dua kali dalam satu hari. Itu biasanya ketika pagi hari saya sampai ruangan dan kemudian saya matikan sekita pukul 10.00 ketika udara begitu dingin saya rasakan. 

Untuk itulah, maka kesepakatan kami ini kembali kami dengungkan bersama. Mari berhemat. Lebih kurangnya itulah yang menjadikan motivasi nyata kami terhadap penggunaan listrik di ruangan kami masing-masing. Kami tidak akan membuat slogan baru seperti go green atau stop global warming. 

Karena dengan membuat apa yang kami sepakati itu nyata, kami ingin itu menjadi bagian yang selalu menempel pada diri kami semua. Semoga.

Jakarta, 29 Oktober 2013.

21 October 2013

Diskusi Panel Guru

Dalam setiap tahun pelajarannya, saya mengajak teman-teman yang berada dalam lingkup pengelola sekolah untuk melaksanakan kegiatan bertemu dengan para guru untuk berdiskusi, curah gagasan, cuhat, sharing, atau bahkan kritikan. Tentunya tentang sekolah dan operasionalnya. Bahkan tidak jarang teman-teman itu menyampaikan masukan kepada kami para pengelolanya. Dan memang, saya menampilkan terlebih dahulu tentang tata krama diskusi yang antara lain adalah bebas. Bebas dalam tataran ide dan masukan dengan terlepas dari ketersinggungan diantara kami. Walau tentunya kami harus menyampaikannya dengan bahasa yang tetap santun.

Lalu siapa saja guru yang kami undang untuk datang ke ruangan kami sebagai peserta diskusi panel tersebut? Semua gurukah? Apa kriteria mereka dapat menjadi wakil dari para guru jika tidak  semua guru dapat berdiskusi panel bersama kami? Tidak lain adalah rekoendasi teman-teman yang ada.

Jadi, saya akan menyampaikan kepada kepala sekolah untuk membagikan kertas dalam rapat rutin mereka. Dengan kertas tersebut, semua  guru harus menuliskan teman yang sekiranya mampu membawa aspirasinya untuk terlibat dalam diskusi panel yang kami tawarkan. Nah, guru yang memperoleh suara terbanyak, yaitu guru yang dipilih temannya melalui kertas tersebut, hingga guru yang menjadi ranking 8, itulah guru yang menjadi peserta diskusi panel kami.

Maka jadilah mereka itu sebagai peserta diskusi dengan kami karena amanat dari teman-temannya yang memilihnya untuk menjadi peserta.

Hasilnya?

Dan alhamdulillah, sejak saya  melakukan kegiatan ini, meski tidak setiap tahunnya dilaksanakan, saya dan teman-teman merasa terbantu sekali dalam melihat sekolah dan pelaksanaan kegiatannya sepanjang masa yang lalu, masukan-masukan untuk pertumbuhan kami yang lebih akseleratif, dan menuntaskan mimpi yang harus dilaksanakan di masa depan.

Dalam diskusi itu, kami juga memperoleh pengalaman batin untuk memetakan kompetensi teman-teman peserta diskusi dalam hal cara pandang mereka dalam melihat perkembangan sekolah di masa mendatang, empati dan kedewasaan dalam mengemukakan pendapat, strategis dalam pemilihan kata ketika harus menyampaikan masukan dan kritikan, serta kepemimpinan.

Dan dari hasil-hasil diskusi panel yang kami lakukan itu, saya pribadi selalu menemukan kembali semangat untuk memikul pembaharuan yang ada di sekolah di masa mendatang. Itulah sekelumit pengalaman saya dalam mendapatkan darah baru dalam melihat masa depan yang lebih kompetitif. Sebuah pengalaman batin yang sungguh menggairahkan pikiran.

Jakarta, 21 Oktober 2013.

Refleksi sebagai Mantan

Dalam beberapa tahun belakangan ini, saya ada tambahan kesibukan baru. Yaitu sebagai penyampai informasi bagi teman-teman yang sudah menjadi mantan. Bila di sekolah sebagai alumnus, dan bila di pekerjaan sebagai pensiunan. Dari beberapa grup mantan tersebut, sebagai sama-sama lulusan sekolah dan sebagai sama-sama orang yang pernah bekerja di sebuah lembaga pendidikan di era 90-an, adalah menjadi favorit dari kegiatan saya dalam grup mantan tersebut. Sementara grup mantan yang lainnya, saya hanya sebagai pengamat saja. Keanggotaan saya hanya pasif.

Di kedua tempat tersebut, saya diminta teman-teman sebagai penyambung informasi. Sebuah tugas yang tidak berat-berat amat. Bahkan sangatlah ringan. Karena tugas saya hanya sebagai penyampai informasi dari seorang anggota. Atau lebih pasnya sebagai penyebar berita, undangan, rencana pertemuan, atau janjian. Hanya itu.

Berbeda dari kedua grup mantan  yang telah saya sebutkan di atas, sekarang saya sedang masuk dalam sebuah kelompok, yang dilalahnya, dimasuki oleh para teman-teman lama yang sebelumnya meninggalkan kami semua dalam kelompok tersebut, untuk kemudian kembali masuk dalam kelompok kami. Maka seperti pertemuan nostalgia setelah teman-teman tersebut melalangbuana. 

Karena kegiatan mereka sebalum kembali dalam geng kami adalah kegiatan yang sedang  diperebutkan oleh siapa saja yang keranjingan apresiasi lingkungan, maka kebalinya teman-teman tersebut dalam bagian kami menjadi bagian yang impresif bagi kami semua untuk merefleksikan hidup yang sedang kami jalani ini. 

Maka dapat dibayangkan bagaimana serunya kami melihat jejak-jejak masa lalu itu sebagai bagian yang menjadi pijakan. Dan perlu saya sampaikan bahwa apa yang menjadi bahan diskusi dan bahan analisa teman-teman itu bukan dalam kerangka menghujat atau mencela terhadap masa-masa yang telah mereka lewati atau teman-teman mereka sekarang sedang jalani, tetapi justru  dalam kerangka introspeksi. Bahkan ada diantaranya yang harus menukilkan argumentasi dari berbagai sumber sebagai pembandingnya. Artinya, teman-teman itu begitu bersemangatnya untuk menemuka esensi. Tetunya setelah perjalanan yang lalu itu dijadikannya bahan dan sekaligus sumber  analisanya.

Bagi saya dan teman-teman lain yang memang belum pernah mejadi bagian dari mereka di masa lalunya, apa yang menjadi perbincangan dalam interaksi selama teman-teman itu mejadi bagian kami lagi itu, justru menjadi bagian penting dalam melihat bagaimana menemukan esensi yang semestinya menjadi garis haluan kami selanjutnya.

Maka menjadi begitu senangnya saya dan teman-teman mendapatkan tambahan pengalaman dan visi tanpa harus melakoninya secara nyata dikehidupan. Dan ini adalah bagian penting juga dari pertemanan kami bersama para mantan itu. Terima kasih.

Jakarta, 21 Oktober 2013.

19 October 2013

Hari ini adalah Hasil Hari Kemarin

Membaca kalimat motivasi dari pesohor mativasi tanah air dalam beberapa hari ini, saya terusik untuk membuatnya dalam catatan saya di sini. Ini karena ada dua kalimat motivasinya yang saya baca kok nyangkut dalam benak saya. Karena dua kalimat itu sebenarnya menjadi kayakinan saya menuju masa depan. Kalimat yang kadang meluncur dari hati saya begitu tiba-tiba manakala sedang berada di hadapan audiens.

Kalimat yang akan saya nukil dalam catatan saya ini adalah; ...apa yang didapat seseorang hari ini adalah hasil dari masa lalu. Dan apa yang seseorang hari ini adalah untuk hasil di masa depan.

Kalimat itu memberikan gambaran kepada kita agar supaya menjadikan waktu setiap detiknya sebagau saat-saat yang harus digunakan secara optimal dan maksimal. Jangan pernah mengukur sebuah ikhtiar dengan sudah cukup. Tetapi bertekadlah untuk berkata apa lagi yang dapat saya lakukan? 

Frasa sudah cukup, akan memposisikan kita untuk menjadi standar saja. Dan karena saya guru, maka saya selalu akan mempertanyakan kepada diri saya bahwa saya hanya akan menjadi guru yang biasa manakala frasa sudah cukup yang saya pilih sebagai garis perjuangan hidup saya.

Karena dorongan untuk memperjuangkan masa depan yang tidak sekedar biasa, maka saya sendiri akan memilih pernyataan untuk melakukan apa lagi dan apa lagi jika tugas pokok saya telah tuntas saya tunaikan. Sebuah tekad yang saya sendiri pernah menerima komentar teman beberapa tahun yang lalu: Kayak sastrawan saja setiap hari membaca buku... Komentar yang bukan membuat saya malu untuk meminjam dan membaca, tetapi senyum tulus saya saat itu cukuplah sebagai jawaban saya kepada sahabat saya itu.

Saya yakin bahwa Anda juga setuju dengan kalimat motivasi di atas. Atau bahkan ada diantara Anda yang sedang menjejakkan hidup dalam koordinat kalimat tersebut. Saya meyakini bahwa Andalah pemilik masa depan Anda sendiri. Semoga.

Jakarta, 19 Oktober 2013.

18 October 2013

Mengobservasi Makam

Sore itu, sepulang kami dari acara, ada kegiatan yang aneh yang harus menjadi acara berikut sebelum kami menuju ke rumah. Padahal waktu tidak lagi siang. Karena dari lokasi acara keluarga, kami tempuh hingga lepas waktu Magrib untuk sampai di sebuah lokasi acar terakhir kami itu. Yaitu kegiatan observasi di sebuah lokasi yang semestinya meyeramkan untuk sebuah aktivitas menjelang malam. Karena memang lokasi yang kami harus observasi itu tidak lain adalah sebuah makam.

Di makam itulah saya menemani anak untuk melakukan sebuah pengataman sebagai bagian dari mata kuliahnya.  Lalu kegiatan apa saja yang dapat diamati dari sebuah tempat makam umum yang ada di bagian Jakarta itu pada saat waktu menjelang malam hari?

Bagi saya yang memang asing mendatangi tempat makam umum di saat malam akan datang, adalah kegiatan-kegiatan yang lumrah terjadi sebagaimana siang. Orang datang untuk mmanjatkan doa di makam yang tampaknya mereka, para pengunjug itu telah hafal lokasinya. Juga para penjual kembang dan minuman serta beberapa tukang pemanjat doa. Hanya karena waktunya tidak siang lagi, maka orang yang datang pun relatif sedikit. Kalau tidak dikatakan sepi.

Seperti pada malam itu, hanya ada tidak lebih dari 3 kendaraan yang parkir di halaman parkir yang terang benderang. Kalau pun ada yang datang, maka selalu ada yang pulang. Demkian bergantian.

"Lalu apa harapan dari guru yang menjadikan makam sebagai lokasi untuk diobservasi?" kata saya kepada anak.

"Melihat apakah fungsi makam menjadi bertambah sebagai lokasi pemujaan atau sebagai tempat melenceng yang lainnya." Jawab anak.

Saya pun hanya mengajaknya berjlan diantara batu nisan yang berjajar rapi dengan diterangi lampu jalanan setapak yang ada di makam itu.

"Tidak apa-apa kalau memang di tempat makam ini tidak kita temukan sesuatu yang menyimpang. etapi saya sudah tahu apa yang seharusnya saya laporkan dari pengamatan ini" Begitu anak saya menyimpulkan. Kamipun segera meninggalkan tempat makam umum itu.

Jakarta, 18 Oktober 2013.

Gambar Bebas tetapi Seragam

Berikut ini adalah gambar yang barangkali akan mengingatkan kita semua akan masa-masa sekolah bahwa kita semua pernah membuat gambar yang sama. Tidak perduli kalau dimana kita  berada. Namun  itlah yang terjadi. Meski lokasi kita tidak sama, netah darimana inspirasi itu merambat di seluruh Bapak dan Ibu guru kita untuk memberikan contoh di papan tulisnya, padahal sudah dikatakannya untuk menggambar bebas, bagaimana menggambar persfektif itu.
Lebih kurang seperti inilah gambar 'bebas' tetapi 'seragam' generasi saya di kelas.
Renungan sebagai Siswa

Dari pengalaman menggambar bebas yang diminta oleh Bapak atau Ibu guru saat sekolah dulu, saya menemukan berapa renungan yang justru muncul begitu saya sekarang menjadi seorang guru di kelas. Dengan ini sekaligus juga mengingatkan kepada saya sendiri untuk berhati-hati ketika berada di depan anak-anak murid.

Pertama, Mengapa diminta menggambar bebas tetapi guru juga memberikan contoh? Ini mejadi cermin bagi saya. Tidak saja sebagai guru yang berada di dalam kelas, tetapi juga ketika saya berada di lingkungan yang memungkinkan orang lain meniru dan sekaligus manafsirkan apa yang saya inginkan terhadap kalimat perintah atau juga kalimat anjuran saya. Saya benar-benar ingin memberikan otonomi kpda lingkungan agar apa yang saya sampaikan adalah apa yang tersirat sekaligus tersurat dalam kalimat yang saya kemukakan.

Ini sebuah upaya agar ketika kita memberikan kebebasan kepada lingkungan  tetapi kita memberikan batasan serta ekspektasi justru kebalikan dari hal yang telah diberikan? Ada sebuah ketidaklinieran dari cara pikir. Ketidak setaraan antara yang terucap dengan yang diharapkan(?).

Kedua, Mengapa mengambar bebas tetapi teman-teman banyak juga yang mengikuti contoh yang dibuat guru di papan tulis? Pada sesi ini saya tentunya mendudukkan diri sebagai siswa. Sebagai lingkungan. Bahwa jika memang bentuk perintahnya adlah bebas, maka mengapa kesempatan itu tidak kita coba untuk mejadi pilihan? Mengapa kta mendengar sebuah perintah tetapi juga harus melkukan apa yang kita lihat? Meski antara yang kita dengar dan kita lihat berbeda, tetapi mengapa itu tidak menjadi bahan untuk berpikir dan mempertanyakan?

Mungkinkah saya tidak lagi memiliki daya kritis atau bahkan daya pembeda yang mampu menyimpulkan bahwa telah terjadi disharmoni antara apa yang kita dengar dengan apa yang kita lihat?

Ketiga, Mengidap gejala apakah ketika perintahnya adalah menggambar bebas tetapi kita justru menggambar seragam? Inilah yang menjadi kegalauan saya hari ini. Bahwa ada yang tidak sinkron antara perintah dengan apa yang saya lakukan dulu, tetapi itu mejadi sesuatu yang saya maklumi?

Dan tentang gejala yang saya idap, saya terpaksa harus menguburnya. Mengingat inilah doktrin yang telah menjadi sejarah tentang sebuah masa. Mungkin.

Jakarta, 18 Oktober 2013

16 October 2013

Dari Mana Melihat Sekolah Mahal

Dalam sebuah kesempatan saya untuk berkunjung ke sebuah sekolah yang pada tahun 2003 lalu, untuk pertama kalinya saya mengenalnya, adalah sebuah kesempatan yang sungguh menyenangkan. Pertemuan tersebut tentunya menjadi sebuah rieuni bagi saya. Meski pertemuan untuk kali kedua ini hanya ada tiga guru yang masih mengenal saya sepuluh tahun yang lalu.

Karena pertemuan tahun 2003 lalu, yang merupakan pertemuan kali pertama, sekolah yang berada di sebuah lokasi di kota Medan itu datang ke pelatihan guru yang saya selenggarakan di Jakarta, sekolah ini dipipin langsung oleh Pembina Yayasannya, yaitu Ibu Profesor Mundiyah Mochtar. Maka tidak ada kata lain bagi saya saat bisa datang langsung ke Medan untuk bersilaturahmi dengan semua komponen sekolah itu.

Meski tidak lama kami berada di sekolah itu, tetapi saya mendapatkan kesan yang dalam tentang ruh yang mengawali pada saat sekolah ini didirikan  oleh almarhumah pendirinya, tentang bagaimana semangat membara yang menjadikannya sekolah ini tetap eksis, juga tentang bagaimana sang putra menjunjung tinggi semangat itu bersama guru-guru yang ada untuk menjadi lebih tumbuh lagi, dan tentunya bagaimana berkembangnya sekolah itu.

Semua yang saya lihat dan dengar langsung pada saat itu, menjadi bagian pembelajaran bagi saya. Belajar untuk menjadi pemikir yang lebih koprehensif. Berpikir divergen. Belajar untuk dapat meilihat sebuah obyek dengan laca mata jauh lebih lebar. Inilah pelajaran berharga. Karena selain sebaai pegawai yang ada di sekolah, pastilah saya menjadi bagian masyarakat pada umumnya.

Melihat infrastruktur sekolah, yang terdiri dari akses, lahan, gedung sekolah, dan fasilitas sekolah lainnya, saya sungguh mengaguminya. Tampaknya perkembangan yang sudah ada ini masih akan terus berkembang. Mengingat tingkat pendidikan yang ada baru pada tingkat SMP. 

Melihat teman-teman gurunya yang antusias dan semangatnya, saya menjadi iri dengan apa yang menjadi visi teman-teman itu dalam berbakti kepada bangsa dan saudaranya melalui wahana lembaga itu. Ini mungkin yang menjadi salah satu kunci bagi perkembangan sekolah ini kedepannya. Teman-teman guru menampakkan bahwa bekerja sebagai pembimbing bagi para anak didiknya tidak hanya berhenti pada mengumpulkan uang sebagai imbalan. 

Bagaimana tidak merasa kagum dengan mereka, mereka telah memulai berinteraksi dengan para anak didiknya sejak pukul 07.00, pada saat anak didiknya itu hadir di sekolahan, dan baru selesai pada saat siswanya pulang pada pukul 16.00!

Melihat dari semangat para pengelolanya, saya bertambah iri atas apa yang menjadi ketulusan mereka dalam memperjuangkan pelayanan dan mensejahterakan. Sungguh mereka adalah sosok-sosok yang luasan keiklhasannya tiada terkira. Karena inilah bagian penting dari sebuah sikap bagi para pengelola lembaga usaha sosial untuk terus tidak mudah putus asa dalam memegang teguh rasa ikhlas.

Sekolah Mahal

"Apakah masih ada orangtua yang menyampaikan bahwa sekolah ini mahal?" Begitu pertanyaan saya kepada teman-teman itu. Pertanyaan ini tentunya menggelitik saya. Karena rentang waktu anak-anak berada di sekolah lumayan panjang. Demikian juga dengan jatah makanan kecil yang dua kali dalam sehari plus dengan makan siangnya. Lalu berapa uang sekolah yang harus dibayar oleh peserta didik? Untuk rentang waktu belajar dan semua makan yang disediakan itu, orangtua siswa membayarnya dengan Rp 550,000.

Dengan penjelasan yang disampaikan, saya memastikan bahwa dengan iuran bulanan sebesar itu, maka harus dibutuhkan  kemampuan para pengelola sekolah untuk lebih canggih dalam mengalokasikan dana bulanan tersebut. Mengapa? Kalau sekali makan dan dua kali makanan kecil tersebut dikalkulasi Rp. 15,00 per hari per anak didik, maka dalam 22 hari sekolah setiap anak didik membutuhkan uang konsumsi yang diambil dari uang iuran bulanan tersebut adalah Rp. 15,000 x 22=  Rp.330,00. Artinya, sisa uang iuran yang dapat dialokasikan sebagai biaya operasional adalah Rp. 550,0000 - Rp. 330,000=Rp.  220,00. Jika dengan rasio jumlah guru berbanding siswa adalah 1:12, maka disitulah kepandaian para pengelola sangat dibutuhkan.

Dengan kondisi seperti itulah, maka dana APBN yang bernama BOS, menjadi begitu bermaknanya terhadap operasional sekolah. Sedang untuk para gurunya, mereka juga harus menjadi perhatian utama bagi perkembangan kualitas sekolah di masa yang akan datang. Karena berbasis kepada teman-teman guru yang militan saja keberadaan anak didik sejak pagi hingga setelah waktu Ashar dapat dilaksanakan dengan penuh dedikasi.

Sedang dari sisi pihak orangtua, yang menghantarkan putra-putrinya pagi ke sekolah dan mengambilnya sore setelah jam kantor usai, benar-benar mendapatkan manfaat yang sesuai dengan keinginannya. Maka dalam kondisi seperti itu, apakah layak saya katakan bahwa sekolah itu mahal?

Jika demikian halnya, maka dari manakah saya dapat menyebutkan bahwa sekolah itu masuk dalam golongan sebagai seklah mahal?

Jakarta, 16 Oktober 2013.

14 October 2013

Menjadi Juragan Ternak Kurban

Menjelang hari raya Idul Kurban seperti tahun ini yang akan jatuh pada Selasa besok, sya akan teringat dengan sahabat saya yang pulang kampung begitu masa pensiunnya datang. Mengapa ingat sahabat yang beberapa tahun belakangan selalu datang di kantor saya menjelang akhir tahun? Karena bagi saya, ia adalah sosok gigih yang tiada teranya. Tidak saja gigih sebagai kepala rumah tangga yang bekerja keras, tetapi juga ggih dalam memperjuangkan cita-citanya untuk tidak menjadi kapiran setelah masa baktinya berakhir sebagai orang gajian. Itulah yang menjadi kekaguman saya kepadanya setiap Idul Adha. Ini tidak lain karena sahabat saya adalah orang yang paling mempersiapkan diri pada hari raya Kurban itu.

Ingatan saya tentang dia itu  muncul begitu teman saya yang lain bertanya tentang harga hewan kurban yang pada tahun ini relatif tinggi. Di beberapa daerah seekor kambing yang tentunya telah cukup umur dan memenuhi syarat ditawarkan dengan harga pembuka 2,7. Sebuah harga yang sangat besar jika kita membandingkanya untuk seekor kambing pada tahun lalu. Juga harga sapi. Ada memang yang seharga 13 juta, tetapi melihat ukurannya, untuk harga sebesar itu masih tergolong taksiran untuk berat 275 kg.

Jadi karena begitunya bagusnya harga-harga hewan ternak untuk kurban tahun ini bagi para penjual, saya menjadi teringat bagaimana sahabat saya ini tersenyum sembari membaca alamat yang harus dia tuju untuk pengiriman hewan ternaknya kepada pemesan. 

Berternak Sapi

Seekor Peranakan Etawa milik salah satu Pesantren di Bogor.
Tentunya bukan karena iri yang membuat saya teringat kepadanya, tetapi justru kebalikannya. Bangga punya sahabat yang gigih dalam memperjuangkan visinya. Dan karenanya, saya menjadi begitu bahagia untuk menjadikan sebagian dari perjalanan hidupnya sebagai contoh atau inspirasi bagi masa pensiun saya sendiri di masa depan. Tidak aneh-aneh, yaitu bagaimana mampu berternak hewan kurban! Ini sebuah bentuk usaha saat pensiun yang terlihat menjanjikan. Menjanjikan karena selain dapat menopang kemandirian, juga adalah bentuk kegiatan yang menyehatkan jiwa dan raga.

Berawal ketika sahabat saya itu membeli anakan ternaknya secara bertahap pada masa ia masih aktif bekerja. Dan hewan-hewan ternak yang dibelinya itu, selama ia masih bekerja aktif, dititipkannya kepada sanak saudaranya di kampung halaman untuk dipelihara. Dan ikhtiarnya itu secara sungguh-sungguh dan bertahun-tahun, alhasil jumlah ternak yang dimilikinya terus bertambah. Hingga cukup baginya untuk membuka sebauah peternakan begitu ia memasuki masa pensiun.

Itulah yang menjadi bagian hidupnya yang menginspirasi saya. Hidup sungguh-sungguh dalam menyongsong masa-masa akhirnya.
 
Jakarta, 14 Oktober 2013.

Bagaimana Guru Memiliki Komitmen

Ini adalah pertanyaan yang juga diajukan oleh para tamu kunjungan di sekolah kami beberapa waktu lalu. Teman-teman tamu ini, khususnya mereka yang adalah manajemen sekolah, ingin sekali mengetahui tentang bagaimana teman-teman kami di sekolah terlihat begitu berkomitmen dalam menjalankan dan melakukan tugasnya. Sebuah pertanyaan yang bersambu dengan apa yang menjadi catatan saya sebelumnya dalam blog ini. 

Apa yang menjadikan motivasi guru sehingga mereka begitu militan dalam mengejawantahkan komitmen kerja kepada pembimbingan  siswanya. Dengan begitu mereka di dalam kelas terlihat begitu menikmati dengan semua kewajiban yang ada. Juga menjadikan setiap peserta didiknya antusias dalam melaksanakan kegiatan yang disuguhkannya. Meski diantara anak-anak itu terdapat para tamu yang sedang mengobservasi kelasnya, yang jumlahnya tidak hanya satu.

Dan untuk menjawab pertanyaan itu, saya, yang saat itu dibantu oleh seorang kepala sekolah, mencoba memberitahukan apa yang menjadikan kami semua begitu berkomitmen dalam menjalankan tugas. Termasuk diantaranya adalah motivasi pendek setiap pekerja, yaitu gaji. Semua kami beberkan apa yang mungkin dapat menjadi jawaban bagi pertanyaan itu.

Namun tentunya, bukan itu yang menjadi jawaban  pasti. Ini karena kami berada di sekolah dimana kami  mengabdikan diri dan menunaikan tugas tersebut selama ini, adalah dalam sebuah proses hidup yang bernama tumbuh. Untuk itulah maka apa yang menjadi jawaban kami sesungguhnya bukanlah sebuah formula.

Dan dalam proses petumbuhan kami itulah, kami harus mengakui kalau  perjalanan tersebut bukan sebuah perjalanan matematis. Dan ketika kami menyadari itu, maka harus juga kami akui bahwa .komunikasilah barangkali yang membuat kami menjadi berbentuk seperti sekarang ini. Sseperti tampak begitu berkokmitman terhadap apa yang menjadi anugerah kami di kelas atau sekolah dimana kami berada saat ini. Mungkin itu. Komunikasi.

Komunikasi?

Iya. Dalam kelompok lebih kecil, kami selalu membangun  komunikasi itu. Mungkin dalam bentuk konkritnya adalah membangun semangat bersama dalam sebuah komite kerja, ada juga dalam bentuk panitia sebuah aktivitas sekolah, juga pertemuan rutin yang tiada pernah putus. Juga pertemuan egalitar dalam bentuk lain yang selalu kami coba terus menerus melakukannya.

Itulah bingkai dari semua kegiatan  yang menjadi visi kami sepanjang ini. Walaupun sesungguhnya pertanyaan yang diajukan tamu itu merupakan pertanayaan  prematur, kerena tamu itu berada di sekolah kami tidak lebih dari tiga hari saja. Artinya banyak juga yang akan teman-teman tamu itu temui tentang ha yang tidak baik jika mereka hidup bersama kami dalam durasi hari yang  lebih lama.

Jakarta, 14 Oktober 2013.

Bagaimana Membuat Anak Tertib?

"Bagaimana membuat anak-anak dapat dengan tertib berada di lhall pada saat kegiatan berlangsung Pak?" Demikian salah satu pertanyaan tamu yang mengunjungi sekolah kami pada pekan lalu. Tamu kami berjumlah enam puluh orang itu datang tiga tempat yang berbeda. Mereka adalah guru-guru dari sekolah swasta di Sumatera dan Depok.

Lalu apa yang menjadi jawaban kami? Saya sendiri natural sekalli jika harus menjawab pertanyaan seperti itu. Natural yang saya maksudkan adalah, bahwa selama ini yang kami usaha dan  lakukan bersama teman-teman dalam rangka membentuk kultur kerja, sebagaimana menjawab  pertanyaan tersebut, adalah alami. Mungkn seperti mereka juga di sekolah mereka masing-masing. Lalu kok mereka bertanya kepada kami? Apakah mungkin ada yang berbeda yang kemudian melahirkan pertanyaan itu?

Saya menduga bahwa pertanyaan itu hadir ketika teman-teman dari Sumatera dan Depok itu melihat anak-anak kami begitu terlihat rapi dan siap ketika mereka datang di lokasi untuk ikrar pagi di ruang pertemuan kami. Sebuah pemandangan yang terasa asing bagi mereka melihat anak-anak dapat berbaris tenang menurut kelasnya masing-masing menuju lokasi ikrar tersebut. 

Kerapian itulah yang menurut mereka menjadi sesuatu yang berbeda, yang kemudian mereka tanyakan. Mereka melihat bahwa itu sebuah capaian yang positif. Mungkin sebuah realita yang bertolak belakang dan berbeda dengan kenyataan di sekolah mereka masing-masing(?). Allahu a'lam bi shawab.

Rapi itu Dari Kelas

Sebagai jawaban atas pertanyaan itu, maka mungkin inilah gambaran apa yang kami lakukan. Sebuah ilustrasi yang mudah-mudhan dapat dicerna sebagai sebuah upaya menuju aa yang kami impikan.

Bahwa usaha untuk menuju kultur yang kami impikan bersama itu, sejak awal kami memang mengajak teman-teman guru agar ketika pagi saat  akan melaksanakan ikrar siswa atau jika akan melaksanakan upacara di hari Senin, atau ketika akan melaksanakan shalat jamaah di waktu Dhuhur, maka semua kita, guru yang ada di semua kelas, harus menjadi bagian awal untuk menciptakan kerapian siswa tersebut. Prinsip ini, mau tidak mau mewajibkan semua penanggungjawab kelas untuk berlaku seragam dan kompak, atau mungkin dapat dibahasakan sebagai komitmen, dalam melaksanakan mimpi rapi itu. 

Dengan komitmen tersebut, kami mencoba untuk mewujudkan sebuah orkestrasi kerjasama yang apik. Ini tidak lain karena kerapian dan kedisiplinan sebuah kelas, merupakan kapital utama bagi sebuah kultur yang bernama kerapian sekolah. Demikian yang menjadi pegangan kami.


Nampaknya, apa yang menjadi paradigma kami di awal-awal tahun kebaradaan kami itu, dapat menjadi komitmen kami sebagai guru di kelas, sehingga itulah yang menarik untuk ditanyakan oleh para tamu kepada kami.

"Mengapa Bapak pertanyakan itu kepada kami?" begitu saya balik bertanya kepada para tamu itu.

"Karena kami masih perlu benar-benar membuat kondisi sebagaimana yang saya lihat terhadap anak-anak di sini terjadi di sekolah kami kelak ketika kami kembali ke sekolah Pak." jelas perwakilan tamu itu mantap.

Dalam benak, terlintas sebuah kesimpulan; bahwa menjadikan anak siap dalam mengikuti ikrar pagi di sekolah, juga adalah sebagai pembeda sekolah kami dengan yang ada di tempat lain...

Jakarta, 14 Oktober 2013.

Bukti bahwa Sudah tidak Muda

Pagi itu, saya mendapat tugas dari tempat dimna saya ikut terlibat didalamnya, yaitu menyambutnkedatangan para siswa dan orangtua dalam kegiatan family gathering. Sebuah kegiatan yang dilakukan oleh teman-teman untuk mengeratkan kemunikasi serta i teraksi antar guru, siswa, dan guru di sekolah dengan  serangkaian kegiatan games.

Namun dari sekian orangtua siswa tersebut, saya harus mengaku bahwa sudah tidak muda lagi. Ini karena ada diantara orangtua siswa yang ada di lapangan bersama saya itu, adalah salah satu siswa saya di sekitar tahun 1986. Hanya itu. Meski diantara saya, ada juga beberapa teman guru yang memang sepantaran. Tetapi perasaan itulah yang muncul di kepala saya.

Di ruang kelas kelas 1 SD.
Kenyataan ini sesungguhnya melahirkan rasa yang sedikit membanggakan, namun sekaligus mengikatkan kami bahwa sebagai guru, perjalanan waktu yang tidak pernah berhenti itu setidaknya telah menghantarkan kepada kami sebuah kenyataan tentang perjalanan waktu dan usia.

Selain juga menghadirkan bahwa ternyata dalam perjalanan tersebut saya sadar tentang jarak tempuh yang sudah saya, dan teman-teman lalui selama ini. Saya dengan beberapa lokasi yang berbeda dalam menjalani profesi sebagai guru, tetapi selalu terikat oleh waktu dan generasi yang boleh jadi berbeda dan beragam. Demikian pula dengan teman-teman yang lain.

Oleh karenanya, karena saya menganggap pertemuan kami, saya dengan mantan siswa saya itu, saya juga menyempatkan diri untuk berfoto bersama keluarga yang merupakan generasi guru-siswa. Sebuah gambar yang akan menjadi dokumen waktu sebagai bagian dari ikhtiar dalam mengikat sejarah dan kenangan.

Itulah kenangan pada hari Sabtu yang tidak pernah akan mudah saya lupakan. Kenangan yang hadir ketika saya harus turut serta dalam pembukaan di sebuah acara itu. Hanya tentu masih ada sebuah harapan untuk suatu kali, bahwa apa yang menjadi kenangan di benak orangtua siswa yang kebetulan adalah siswa saya di tahun 1986 itu adalah kenangan positif. Semoga.

Jakarta, 14 Oktober 2013.

13 October 2013

Ketika Fire Drill di Pencet

Kami harus terkaget-kaget di sekolah pada siang itu ketika fire alarm berbunyi nyaring. Memang sudah beberapa waktu lalu di tahun pelajaran ini rencana yang kami buat belum juga terlaksana. Rencana itu tidak lain adalah latihan evakuasi. Dengan latihan, kami mengajarkan kepada komunitas sekolah untuk memahami dan mengetahui bagaimana cara mereka harus bergerak menuju lokasi aman di sekolah ketika melaksanakan evakuasi.

Namun kegiatan yang baru dalam rencana itu harus dilakukan manakala ada seorang siswa kami yang iseng kafena ingintahu, dengan memencet tombol fire alarm. Maka disuasana belajar, anak-anak itu menyadari kalau tanda bahaya berbunyi, dan langsung menuju barisan. Bersama guru masing-masing, mereka berbaris menuju lapangan dimana lokasi evalkuasi berada. 

Alhamdulillah, bahwa kami sejak awal telah menyiapkan guru-guru dengan perangkatnya di setiap kelas untuk evakuasi. Sepertinya misalnya, di setiap pintu kelas kami pasang prosedur tetap untuk pelaksanaan evakuasi. Di sana terdaoat angkah-langkah yang harus menjadi tahapan bagi semua guru agar dapat membimbing siswanya menuju lapangan yang kami anggap aman pada saat evakuasi dilakukan.

Dan apa yang dilakukan oleh para siswa di taman kanak-kanak itu itu justru tepat ketika mereka mendengar bahwa fire alarm berbunyi. Jadi kepada mereka yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak, yang kebetulan lokasi kelasnya berada di sayap yang berbeda dengan unit SD dan SMP, dengan langsung mengevakuasi diri menuju lokasi dimana memang harus mereka tuju, adalah perilaku yang tepat dan benar. 

Sedang mereka yang sudah duduk di bangku kelas yang lebih tinggi, harus kembali ke kelas mereka pada saat diketahui bahwa bunyi fire alarm tersebut adalah karena ulah iseng dari salah satu teman mereka. Ini juga karena kebetulan posisi kelas anak-anak itu berada di sayap yang sama dengan tombol yang dipencet oleh salah seorang teman mereka.
Anak-anak terlihat berada di halaman sekolah untuk evakuasi.

Kepada teman guru yang ada di unit TK, saya tentunya memberikan apresiasi atas apa yang menjadi daya tanggap mereka. Itulah bentuk militansi teman-teman guru dalam menerapkan protap keamanan siswa. Selamat dan terima kasih.

Jakarta, 13 Oktober 2013.

Tamasya di Atap Sekolah

Hampir satu tahun ini, kami memiliki lokasi 'tamasya' di sekolah. Tentu bukan lokasi wisata atau 'tamasya' bagi anak-aanak didik kami, melainkan bagi kami sendiri orang-orang dewasa. Bagi guru dan karyawan. Dan waktu yang paling tepat untuk bertamasya adalah waktu dimana ketika kami sedang suntuk, atau kalau bagi saya pribadi, adalah pada saat saya ingin melihat gambaran yang jelas akan arus lalu lintas yang ada di seputar sekolah. Dari lokasi itu, saya mendapat pemandangan yang benar-benar jelas dan holistik.
Seekor induk burung yang sedang menemani anaknya. Bersarang di atap sekolah kami.

Tidak lain tempat 'tamsya' itu adalah atap sekolah kami yang  sudah hampir satu tahun lalu diperbaiki dengan jauh labih baik dan  bagus. Ini karena sebelumnya di atap itu terjadi retakan dibeberapa tempat yang mengakibatkan rembesan air hingga masuk di dalam kelas.

Apa yang dapat kita dapatkan di lokasi itu? Bagi saya banyak. Antara lain adalah penglihatan kita yang jauh lebih luas dan jelas apa yang ada di sekitar kami. Dan itu memberikan gambaran yang lebih terang tentang apa yang ada di sekitar kami. 
Mengintip arus lalin dan situasi halaman sekolah.

Selaib itu, ini mungkin karena lokasi sekolah kami yang berada berdampingan dengan taman kota yang ditumbuhi oleh pohon-pohon tinggi dan besar, yang memungkinkan kawanan burung berkeliaran, yang selain mereka berada di atas pepohonan, juga menghuni atap sekolah kami. Itulah gambaran keisengan kami, komonitas sekolah yang juga menjadi lokasi kami belajar hidup.

Jakarta, 13 Oktober 2013.

12 October 2013

Cerita Seorang Kakek di Sekolah

Pagi itu, saat sekolah buka dihari Sabtu, sebagaimana biasanya, kegiatan pertama sebelum menyalakan komputer dan setelah absen, adalah berputar-putar di lingkungan sekolah untuk melihat dan memastikan bahwa teman-teman guru telah bersiap dalam menyambut kehadiran para siswa dan orangtua siswanya di sekolah. Sebagaimana kita maklumi bersama, bahwa hari itu akan ada kegiatan sekolah yang akan menarik banyak perhatian dari para siswa dan para orangtuanya, sebagai ending dari akhir tengah semester satu, yaitu terima rapot bayangan.

Berbeda dengan sekolah lain yang setaraf, di sekolah kami untuk penerimaan rapot bayangan menggunakan model SLC sebagaimana yang diterafkan di sekolah internasional. Jadi pada hari itu sejak kelas TK kelompok B hingga kelas IX di bangku SMP, anak-anak akan mendapat kewajiban untuk mempresentasikan portofolio  pilihannya kepada orangtua mereka masing-masing. Bahkan tidak jarang selain orangtua adalah kehadiran kakek dan nenek.

Itulah kabiasaan menarik yang pasti akan menjadi sumber kemacetan di jalan yang ada di depan sekolah. Ini akibat akan hadirnya tidak kurang dari 600 keluarga di sekolah kami di hari itu. Karena hari itu menjadi momen menarik bagi keluarga untuk mendengarkan presentasi  dan komitmen dari para anak didik tentang prestasi belajarnya di hadapan ayah dan bundanya.

Dan untuk persiapan serta kelancaran itu semualah maka saya di pagi itu telah menyusuri semua koridor dan halaman sekolah tanpa ada yang terlewati. Termasuk diantaranya adalah masuk ke ruang guru untuk bercengkerama, dan bahkan melihat daftar tagihan uang sekolah yang harus mereka komunikasikan pada saat orangtua itu datang.

Bertemu Kakek

Pada saat-saat seperti itulah langkah saya terhenti ketika berada di lorong TK. Saya bertemu dengan seorang kakek yang wajahnya telah begitu saya kenali sejak lama. Ia adalah seorang kakek yang selalu mengantar dan menjemput cucunya yang bersekolah di sekolah kami. Satu cucunya duduk di kelas akhir di bangku SD, dan satunya lagi masih duduk di kelasTK kelompok A.

"Pak. Wah liar biasa rajinnya ya menemani cucu?" Sapa saya yang disambutnya dengan kemeriahan dan ramahan seorang kakek yang bahagia.

"Ya beginilah Pak. Ini kegiatan saya sepanjang hari Pak Agus." Jawabnya sumringah. Pertanyaan saya itu, mampu memberikan semangat kakek itu untuk bercita tentang seluruh kegiatan harinya dalam merawat dan memupuk daya sehat. Termasuk kegemarannya untuk mengurus puluhan burung berkicaunya setelah ia berjalan pagi Rawangun-Pasar Pramuka pergi pulang.

"Setiap pagi. Dan burung-burung saya itu, menjadi lahan olah tubuh saya dalam menjga kesehatan di masa tua. Tujuh puluh dua tahun usia saya Pak..." 

Jakarta, 12 Oktober 2013.

11 October 2013

Semua Tampil, Semua Bisa

Ada yang berbeda pada pagi itu di halaman sekolah kami. La,a[angan yang menjadi bagian penting bagi kami, anggota komunitas sekolah untuk melaksanakan kegiatan yang membutuhkan lahan yang lebih lega. Maka sebagaimana apa yang telah kami susun di dalam rencana kegiatan, pada pukul 08.00 telah berkumpul seluruh siswa, dan bahkan juga termasuk di dalamnya adalah tamu-tamu kami, yaitu guru-guru dan anggota Yayasan dari sekolah swasta di Padang dan juga dari Palembang. Para tamu itu akan berada di sekolah kami untuk tiga hari ke depan.


Salah satu penampilan siswa kami. Semua tampil tanpa terkecuali.

Semua Tampil, Semua Bisa

Berkumpulnya kami semua di halaman atau di lapangan yang ada di depan sekolah ini tidak lain karena kami akan melakukan sebuah perayaan tentang Indonesia. Dan untuk membuat suasana serta atmofer yang mendukung bagi terselenggaranya kegiatan itu dengan baik, maka kami semua mempresentasikan kegiatan budaya di halaman tersebut di hadapan seluruh komunitas sekolah tentang daerah yang kita pilih sebagai tema eksplorasi di kelas masing-masing.

Dalam situasi itulah kami, tanpa terkecuali, belajar mempersiapkan diri untuk dapat menunjukkan potensi terbaik kami masing-masing di hadapan teman-teman yang menjadi audiens pada saat itu. Tidak ada yang tidak bisa. Karena setiap kelas dari kami, semuanya ketika selesai tampil mendapatkan applaus meriah dari para penonton.

Maka menjadi penuh warnalah bagi kami untuk benar-benar dapat menikmati setiap waktu dan kesempatan dalam melakukan kegiatan. Kami, tanpa terkecuali, semua berada di tengah lapangan untuk menjadi pusat perhatian secara bergantian.

Jakarta, 11 Oktober 2013.

06 October 2013

Menginspirasi Lidah Generasi Anak Didik

Mungkin inilah konsepsi yang paling pas untuk saya agar sebuah kegiatan yang kami rancang benar-benar dapat terwujud dalam bentuk kegiatan pembelajaran dengan tema Indonesia. Artinya, sebuah kegiatan yang tidak saja berat dalam merancang dan meyakinkan akan keterlaksanaan dari semua kegiatan itu di ruang kelas berupa interaksi antara guru dengan siswa saja, tetapi bagaimana kegiatan yang tersaji memang benar-benar dapat dinikmati oleh siswa. Dan jika memungkinkan siswa menjadikan apa yang dipelajarinya di dalam kelas tersebut sebagai awal mula dari perubahan paradigma.

Itulah yang menjadi tujuan kami dalam pelaksanaan kegiatan spesial di sekolah sepanjang satu pekan ini. Tema yang kami simpulkan adalah Indonesia yang Indah. Dimana kami akan mendiskusikan tentang destinasi wisaya, bentuk budaya, dan ragam kuliner. Tentu sebuah tantangan agar siswa tidak saja sampai pada tahu tentang apa yang dipelajarinya, nemun sampai hingga pada kesan yang mendalam, atau bahkan hingga menjadikannya sebuah tindakan.

Ragam Kuliner

Tentunya itu sebuah hal yang tidak dapat saya katakan mudah. Jika dalam hal distinasi wisata, generasi siswa saya akan lebih banyak yang mengangkat tangan ketika saya bertanya kepada mereka Siapa yang pernah keluar negeri dari pada Siapa yang pernah ke Danau Toba?

Ini karena bukan hanya besar dan derasnya promosi destinasi wisata yang ada di luar negeri tersebut, tetapi juga karena belum mudahnya distinasi wisata dalam negeri untuk kita kunjungi bersama anak-anak dalam durasi waktu yang tidak terlalu lama. Ini karena infrastruktur yang masih menjadi bagian paling menghambat.

Lalu bagaimana dengan kuliner? Ini juga bukan hal mudah bagi anak-anak yang sejak mereka melihat dunia, kita telah kenalkan lidah mereka dengan makanan kaleng dan makanan cepat saji. Sebuah pertumbuhan lidah yang menjadi asing jika harus mengunyah sambel pecel atau  gurihnya tempe bacem yang menjadi menu tambahan dalam hidangan makan soto? Pada generasi ini sangat boleh jadi bahwa mereka akan mengira kalau kue apem yang dibeli pembantu dari pasar adalah modifikasi dari tirayaki yang tidak sempurna?

Inilah sisi yang menurut saya menjadi bagian yang paling berat dalam mengejawantahkan bahwa Indonesia adalah inspirasi utama bagi masa depan kita. Dan inilah yang harus benar-benar saya pastikan bahwa teman-teman guru di kelas mereka masing-masing yakin dan percaya bahwa apa yang ada di Indonesia adalah sesuatu yang dapat bersaing. Karena jika teman-teman guru saja tidak meyakini itu, maka sulit membangun Indonesia yang menginspirasi kepada anak-anak didik kami di sekolah yang lidahnya lebih kenal dimsum dari pada gatot atau ongonl-ongol atau serabi.

Sebuah tantangan yang tidak ringan.

Jakarta, 6 Oktober 2013.

04 October 2013

Membaca Berita itu Mencerdaskan?

Dulu sekali, ketika saya masih duduk di bangku SMP di desa, membaca adalah sebuah hal yang mewah. Mengapa? Karena seingat saya, dengan membaca itu berarti saya tidak bekerja untuk membantu orangtua. Jadi membaca merupakan kegiatan untuk 'membunuh' waktu luang. Tapi saya kemudian tidak menyepakati anggapan itu. Meski teman sepermainan saya waktu itu membantu orangtua dengan cara menyabit rumput di pingir sungai Bogowonto, keinginan saya untuk dapat menikmati buku itu mulai terwujud ketika sekolah dimana saya belajar bocor ketika hujan deras turun.

Berkah sekolahan yang bocor itu karena buku-buku yang disimpan di lemari yang ada di ruang kepala sekolah harus dijemur di halaman sekolah oleh pramubakti sekolah yang juga adalah tetangga di kampung saya. Buku-buku itu dijemur dengan cara diletakkan di atas meja atau kursi dalam posisi terbuka. Bapak pramubakti sekolah akan mencoba mengamankan buku-buku yang dijemurnya itu ketika ada anak-anak mendekat atau bahkan membuka-bukanya. Tidak terkecuali saya.

Bersyukur juga bahwa saya punya kesempatan untuk membuka-buka buka itu tanpa harus mendapat peringatan dari bapak pramubakti sekolah. Leluasalah saya membuka buku yag sangat bagus kala itu. Buku yang berkisah tentang Bumi dan Alam Sekitarnya, dengan gambar berupa foto disertai ilustrasi lengkap pada setiap gambarnya. Dan tanpa membuang kesempatan, saya buka seluruh hlman di buku itu di bawah terik matahari siang di tengah lapangan sekolah.

Mencerdaskan?

Kegemaran membaca itu berlanjut ketika saya memulai menjadi guru SD di Jakarta. Karena buku juga masih menjadi barang yang tidak mudah saya miliki, maka membaca rubrik opini dan cerita bersambung di surat kabar harian menjadi rutinitas baru ketika jam kosong mengajar. Tentu surat kabar harian langganan sekolah atau langganan keluarga yang saya tumpangi. Menyengkan, menggairahkan, dan menumbuhkan wawasan ketika semua artikel itu dicerna di kepala. Membaca trilogi Ronggeng Dukuh Paruknya Ahmad Tohari, atau Menjadi dan Memilikinya Erick Form misalnya, adalah dua cerita yang menggugah semangat saya untuk terus menikmati dunia melalui bacaan.

Namun kadangkala menggemaskan ketika harus menemui fakta berita yang tidak selaras di benak saya sebagai anak muda kala itu. Gemas karena nasib orang yang seharusnya menjadi obyek pembelaan dan pemberdayaan agar supaya menjadi bagian masyarakat yang mentas, malah justru dihinakan. 

Namun demikian, ketika pertumbuhan terus berlangsung, maka berita, opini, kejadian, dan peristiwa yang terus berlangsung selama ini, adalah bentuk keberlangsungan sebuah kehidupan. Ia tidak akan pernah kata jeda, berhenti, tau bahkan titik. Ia akan terus mengalir. Dan penulis akan menjadikanya sebagai bahan bacaan bagi kita. Inilah pejalanan dunia.

Pada sisi itulah sya akhirnya duduk dan berkidmat, bahwa kejadian dan peristiwa itu bergantung kepada bagamana dan dari mana kita berdiri dan melihatnya. Apakah itu sebagi bahan kita untuk mencaci dan memaki? Apakah itu akan menjadi bahan buat kita dalam meihat bagaimana sebuah sistem kausalitas bekerja di alam raya? Apakah seua yang kita baca itu sebagai masukan untuk kita dalam menapaki perjalanan ke depan kita sendiri?

Tampaknya inilah yang harus menjadi perenungan untuk saya dalam melihat kegiatan saya  membaca. Sebuah aktivitas untuk melihat bagaimana rangkaian sebab akibat itu bekerja menurut kausalitas ilahiyah.

Jakarta, 4 September 2013.