Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Juli 2014

Saya tidak Tahu!

Pagi itu, meski sekolah masih libur, saya kebetulan berada di kantor. Memang bukn untuk bekerja. Karena sedang libur Idul Fitri. Akan tetapi karena lokasi sekolah dimana saya menjadi bagiannya dekat dengan domisili dari salah satu famili, maka saya menyempatkan diri masuk ruangan.

"Pak, apakah Bapak bisa memutarkan rekaman CCTV untuk kamera 2? Kebetuan batu akik saya hilang ketika sedang saya jemur di halaman." Kata seorang anggota keamanan sekolah kepada saya ketika ia masuk ruangan saya.

Permintaan itu tidak bisa langsung iyakan mengingat komputer kerja saya, yang terhubung dengan jaringan CCTV sedang posisi off. Selain itu, memang sebenarnya saya masuk ruangan kerja tidak untuk melakukan pekerjaan, mka tidak ada alasan bagi saya menyalakan komputer saat itu.

Namun permintaan itu, meski saya nilai tidak begitu penting, saya layani juga. Karena memang saya satu-satunya pegawai yang saat itu bisa dia mintai tolong. Dan saya berpikir bahwa mungkin sekali batu akik yang dia sedangbjemur dan hilang itu begitu berharganya.

"Sebenarnya bukan harganya Pak. Tapi saya benar-benar ingin mengetahui apakah ada diantara teman saya yang tidak berkata jujur." Jelasnya.

"Mengapa berpikiran seperti itu Mas?" Tanya saya.

"Karena semua orang yang ada di waktu itu sudah saya tanya dan konfirmasikan tentang keberadaan batu akik tersebut. Dan semua mengatakan tidak tahu. Oleh karenanya saya hanya ingin tahu apa sesungguhnya yang terjadi diantara teman-teman saya ini."  Jelasnya lagi. 

Berkelit tidak Tahu

Apa yang saya dapat ambil pelajaran dari peristiwa hilangnya batu akik setelah melihat rekaman CCTV itu? Tidak lain adalah perilaku integritas. Bahwa bukan barang yang 'hanya' berupa batu akik yang hilang. Tetapi ketika seseorang berkelit dengan kata tidk tahu, dan ternyata dialah sesungguhnya pelakunya, maka dimata orang yang berada di depan saya saat itu, telah runtuh martabatnya.

"Padahal saya sudah bertanya sama dia. Apakah mengetahui keberadaan batu akik saya yang sedang saya jemur? Dan jawabannya tidak tahu. Tetapi setelah lihat rekaman ini, saya tidak menyangka kalau Pak B itu begitu kelakuannya." Kata si anggota Satpam itu.

Jakarta, 31 Juli 2014.

Perjalanan yang (sempat) Mengkawatirkan

Dalam sebuah kegiatan yang mengharuskan kontribusi  peserta didik sebagai wakil atau duta kesenian, kami disibukkan oleh isu dan kekawatiran yang sangat terhadap keselamatan perjalanan. Ini tidak lain karena adanya kejadian sebelumnya, yang menimpa armada dari maskapai penerbangan, yang terjadi hanya beberapa saat sebelum perjalanan itu berlangsung.

Sebuah kejadian yang fatal, yang wajar jika beberapa orangtua dari peserta didik kami, mendesak kami selaku penanggungjawab perjalanan untuk merubah rute perjalanan. Kekawatiran itu juga menjadi dan bertambah besar karena air line yang akan kami gunakan memang mencatat sejarah dalam keamanan perhalanan. Maka, dari sisi inilah kami di sekolah mencoba untuk berpikir jernih, sekaligus mencoba menemukan alternatif yang mungkin dapat menjadi jalan keluar sebagai jawaban atas kekawatiran tersebut.

Dan salah satu ya dari alternatif tersebut adalah mencoba mencari rute berbeda. Artinya, kami harus menghitung dan mengkalkulasi refund yang ada, jika memang ada, jadwal kegiatan yang harus dijalani selama misi kebudayaan di negeri tirai bambu itu, dan termasuk berapa ongkos tambahan atas selisih harga.

Atau, kami tetap jalani rute perjalanan yang dipilih dikali pertama saat membuat rencana kegiatan, dengan tentunya, meminta masukan dan pendapat peserta, serta mengubah mind set. Yaitu meyakini akan pertolongan Allah dengan kebaikan atas kekawatiran yang muncul.

"Betul Pak. Tetapi apakah orang-orang yang mengalami kecelakaan lada penerbabgan sebelumnya juga tidak berdoa? Bukankah mereka itu berdoa untuk diberikan kebaikan? Jadi saya minta solusi atas kekawatiran ini kepada Bapak selaku penanggungjawab perjalanan." Demikian bunyi SMS dari salah satu orangtua peserta didik kami yang ikut serta dalam rombongan.

SMS itu membuat kami sedikit tercambuk untuk memberikan jawaban dan sekaligus pandangan atas rasa kawatir. Kami yakini bahwa apa yang telah terjadi dengan maskapai penerbangan itu sebagai sesuatu yang tidak bisa ditolak. Sesuatu yang bersifat post major bagi seorang penumpang. Dan itu adalah jalan sejarah. Dan kami tidak ingin bahwa rasa kawatir itu tetap tertanam dalam sanubari kami yang ada dalam rombongan, yang menjadi bagian dari bawah sadar. Oleh karena itulah, maka kami mengumpulkan seluruh anggota rombongan  untuk diberikan alternatif yang telah ada. Sekaligus juga meminta semuanya untuk berkomitmen atas pilihannya tersebut. Dan yang pasti, merubah bawah sadarnya, untuk meyakini kabaikan dari Allah.

Jakarta, 31.07.2014.

28 Juli 2014

Mudik 2014 #3; Kabar dari Kampung

Tidak ikut serta mudik di tahun ini, tidak juga menjadikan saya tertutup informasi tentang perjalanan mudik dari saudara-saudara dan teman-teman. Ini karena begitu terbukanya kondisi udara kita dengan penangkap informasi yang kita miliki masing-masing. Itu semua memungkinkan kita untuk berdiskusi meski di alam maya yang berjarak antara satu dengan lainnya. Ini juga yang memungkinkan kami mengetahui kondisi kami sedetil yang kita inginkan pada saudara dan teman. Baik tantangan untuk menempuh perjalanan menuju kampung dengan segala hambatan yang dihadapinya. Kelelahan yang harus juga dilawan. Dan juga suka dukanya.

Setelah di kampung pun mereka juga tidak hentinya mengubah status di saluran ponsel pintarnya. Atau mengirimkan laporan pandangan matanya melalui forum komukasi grup yang ada. Bagi saya, informasi yang paling up date adalah dari halaman maya grup alumni. Tentang hujan yang turun di kampung dan udara dingin yang menyergap. Atau soal remeh temeh seperti macet di jalanan kampungnya yang kebetulan menjadi persimpangan jalur alternatif pemudik.

Termasuk diantaranya adalah niatan teman-teman untuk berkumpul di lokasi tertentu di hari seusai Idul Fitri. Dan meski mereka tahu bahwa saya tidak mudik tahun ini, masih ada juga yang bertanya keberadaan saya. Maka langsung saya memberi kabar padanya melalui grup bahwa saya berada di Jakarta!

Juga cerita dari sanak saudara yang langsung disuguhi opor ayam kampung sama simbah buyutnya. Sebuah sambutan khas bagi keluarga kami. Termasuk absen yang dilakukan oleh simbah terhadap anak keturunannya. Semua menjadi keseruan yang menjadi bagian buku tersendiri.

Dan cerita merekalah yang menjadi pelengkap dari halaman khusus bagi saya, yang pada tahun ini tidak bisa bersama keluarga besar saya di kampung halaman.

Jakarta, 28.07.2014.

24 Juli 2014

Mudik 2014 #2; Saya tidak Mudik

Saat bertemu dengan tetangga di kampung,  beberapa waktu lalu di acara sekolah, kami saling berbagi cerita selain kabar. Maklum, sebagai sesama orang yang dari kampung, yang jarak tempat tinggal kami tidak terlampau jauh. Maka selain kabar kami juga berdiskusi rencana kegiatan kami di hari Idul Fitri, termasuk diantaranya tentang rencana mudik.

"Rencana saya berangkat setelah sahur hari Kamis tanggal 24 Juli nanti. Rencana mau lewat jalur selatan." Katanya kepada saya. Pertemuan itu sendiri terjadi Senin tanggal 21 Juli. Kebetulan beliau datang ke sekolah kami untuk ikut serta dalam kegiatan berbuka bersama. Sebuah kegiatan yang pasti menarik dan sekaligus menyenangkan serta mengeratkan.

"Jadi tetap puasa sepanjang perjalanan ya Mas. Hati-hati saja Mas. Jaga stamina. Jangan taham rasa kantuk. Kalau memang sudah ada gejala, langsung cari lokasi untuk leyeh-leyeh." Begitu balas saya. Karena selama hidup di Jakarta, belum pernah saya menjalani mudik di bulan Ramadhan. Bukan karena hanya mengindari kemacetan saat bersama-sama melakukan perjalanan menjelang hari Lebaran ke kampung halaman, tetapi karena alasan yang berbeda.

Yaitu karena saya menikah dengan orang yang dari Jakarta yang asal usulnya saja yang dari Jawa Tengah. Maka sebagai kebiasaan keluarga besar kami, pada saat hari pertama Idul Fitri kami akan berkumpul bersama keluarga besar istri di salah satu rumah dari kami secara bergantian dan bergilir untuk setiap tahunnya. Dan ini menjadi sebuah reuni keluarga besar yang lumayan heboh. Karena masing-masing dari setiap keluarga akan membawa rombongan paling sedikit 3 orang. Karena selain dari keluarga besar Ibu Mertua, maka akan bergabung jga keluarga Om dan Tante. Benar-benar sebuah reuni keluarga.

Dengan kondisi demikianlah maka perjalanan mudik keluarga saya akan kami lakukan pada hari Idul Fitri kedua atau ketiga. Itulah maka menjelang Idul Fitri, dipastikan saya tidak akan kemana-mana. Jadi sejak Shalat Ied hingga kumpul keluarga Jakarta, posisi ada di Jakarta. Ini adalah kegiatan normal kami saat Lebaran.

"Mas Agus berangkatnya kapan? Mudikkan lebaran ini?" Tanyanya kepada saya.


"Untuk tahun ini saya tidak mudik Mas. Saya tetap di Jakarta. Mudah-mudahan di bulan Agustus atau September nanti saya bisa mudik." Jawab saya.

Benar. Bahwa untuk tahun ini saya harus tetap berada di Jakarta da sektarnya. Karena kondisi yang mengharuskan saya tidak mudik. Untuk itulah sya mengucapkan selamat mudik untuk saudaraku semua yang melakukan perjalanan mudik pada Idul Fitri 1435 H ini. Semoga diberikan kelancaran dan kesehatan selama menjalani perjalanan. Amin.

Jakarta, 24 Juli 2014.

23 Juli 2014

Hati-Hati dengan Anganmu!

Dalam perjalanan hidup, tidak jarang kita bertemu dengan sebuah pengalaman baru, yang baru kita alami, tetapi seolah-olah itu adalah pengulangan dari sebuah kejadian yang kita sendiri sulit untuk mendeskripsikan kapan dan dimana kejadian semacam itu kita rasakan. Dan jangan tanyakan seperti apa. Karena apa yang kita alami memang benar-benar persis sebagaimana yang pernah kita rasakan. Itylah yang orang banyak sebut sebagai de javu.

Peristiwa seperti itu juga yang saya alami dalam berbagai peristiwa indah dan positif di perjalanan kehidupan ini. Bahwa pengalaman baru yang kita dapatkan adalah bentuk pengulangan dari peristiwa yang pernah saya impikan. Bukan dari mimpi, tapi dari sebuah imajinasi. Atau mungkin juga sebuah anganan berupa visi.

Sebagaimana juga cerita teman saya yang berprofesi sebagai guru di sekolah dasar. Bukan sebagai guru pns, tetapi 100 persen sebagai guru partikelir. Maka ketika usia pernikahannya masih belia, dan keinginannya untuk memiliki uang muka sebuah rumah mungil dengan luas tanah 60 meter persegi sulit untuk dapat diwijudkan, maka angannya melambung menjadi impian untuk dapat memiliki rumah tipe 45.

Rumah dengan tipe 45 dianggapnya sebagai rumah yang pas sesuai dengan statusnya sebagai guru. Benarkah? Tidak juga. Logikanya; bagaimana mungkin memilih tipe rumah 45 kalau yang tipe 21 pun tidak memiliki kemampuan untuk membayar uang muka dan cicilannya tiap bulannya?

"Tidak Pak Agus. Saat itu saya diberikan keyakinan untuk mampu membayar secara mencicil tipe rumah tersebut. Saya juga tidak tahu bagaimana saya menggunakan rumus mampu itu." Kata teman saya memberikan testimoni kehidupan yang dialaminya.

"Bagaimana Bapak yakin mampu mencicil rumah dengan tipe 45 kalau yang 21 saja tidak terbayar uang muka dan bulanannya?" Tanya saya ingin tahu. Sebuah alur berpikir yang aneh bukan?

"Itulah yang terjadi. Dengan keyakinan yang saya punya. Saya berkata kepada istri saya. Ibu, Bapak yakin bahwa kalau sekarang dengan gaji kita, sulit bagi kita untuk dapat memiliki rumah meski hanya untuk tipe rumah 21. Tapi kita akan dimampukan diwaktu nanti untuk dapat memiliki rumah dengan tipe 45." Demikian jelasnya lwbih lanjut. Sebuah penjelasan yang memang bukan untuk dilogikakan tetapi langsung saja saya ikut meyakininya.

Karena memang itulah yang terjadi di hari ini. Dimana teman saya yang guru itu tinggal di perumahan tipe 45. Jadi apa yang dialaminya sekarang itu, adalah rangkaian peristiwa yang telah diangankan, digambarkan, dan diyakininya jauh sebelum hari ini.

Ini adalah bentuk nyata buat saya sendiri untuk belajar mengambar masa depan saya dengan penuh semangat dan keyakinan untuk menapaki dan mewujudkannya. Juga melatih diri untuk membuat gambaran dan angan-angan  yang baik. Semoga. Amin.

Jakarta, 22-23.07.2014.

Hati-Hati dengan Reaksimu!

Pagi ini, dalam perjalanan saya menuju lokasi rapat, di jalan yang tidak terlalu padat, kendaraan saya saya tumpangi mendapat klakson beberapa kali dari kendaraan yang melaju persis di belakang. Ini mungkin karena kendaraan dimana saya berada, berjalan lambat. Dengan kenyataan itulah barangkali pengemudi kendaraan itu merasa tidak nyaman dan bahkan jengkel, karena menganggab saya sebagai pengemudi begitu lelet, tidak efektif, dan membuang-buang waktu di jalanan dengan percuma.

Saya memaklumi kenyataan seperti ini. Mengingat hal seperti ini sudah sering saya alami. Sehingga pengalaman di pagi itu bukan merupakan pengalaman pertama. Mengapa orang dengan posisi sebagai yang membunyikan klakson tersebut terjadi dan berulang? 

Dari benak saya keluar sedikit analisa, lebih kurangnya sebagai berikut; Pertama, bahwa kendaraan orang yang berada di belakang kendaraan saya itu ukurannya lebih pendek dari kendaraan yang saya kendarai. Ini memungkinkan bahwa jarak pandang pengemudinya terbatas, tertutup oleh bodi kendaraan di depannya. Maka apa yang saya liat tidak dapat ia lihat. Atau ia tidak melihat apa yang ada di depan mobil saya. Berbeda jika kendaraannya tinggi atau minimal sama dengan yang saya kendarai, atau berada sedikit menyamping ke kanan, sehingga ia dapat 'mengintip' apa yang ada di depan saya.

Yang membuat saya prihatin adalah kalau memang pengemudi tersebut terbatas jarak pandangnya, mengapa kendaraan saya yang berjalan pelan harus 'diingatkan' dengan bunyi klaksosnya yang berulang? Mengapa ia tidak mencoba berpikir positif dan futuristik, misalnya dengan berprasangka kalau laju kendaraan saya yang pelan karena mungkin terhalang sesuatu di depannya sehingga harus mengurangi laju kecepatannya? Sesuatu yang tidak dapat dilihatnya? Sehingga kalau begitu maka tidak arif jika ia membunyikan klakson ketika 'mengingatkan' saya menambah laju kecepatan?

Kedua, kenyataan bahwa menyangka saya telah melajukan kendaraan dengan lambat tanpa menakar alasannya, adalah bentuk sikap terburu-buru untuk membuat kesimpulan. Terlalu berprasangka yang bertolak belakang dengan realita.

Atas kedua realitas itu, saya kok menemukan kesejajaran atas fenomena tersebut pada akhir-akhir ini di laman media sosial. Yaitu berupa komentar-komentar, reaksi-reaksi verbal, atas keadaan sekitarnya. Tetapi sebagaimana yang saya alami tersebut, maka komentar dan atau  reaksi mereka, sesungguhnya sangat tergesa dan tidaklah matang.

Bahkan tidak jarang, karena saking terburu-burunya komentar dan reaksi itu, bisa juga kita menyamakan komentar dan reaksi mereka seperti celetukan yang tidak bernas dikala rapat kantor atau seminar. Akibatnya komentar seperti itu, justru membuat catatan tidak baik dikemudian hari bagi komentatornya. Dari sini juga saya mendapat pelajaran untuk bersabar dan menunggu apa yang sesungguhnya sedang dilakukan oleh personal yang ada di sekitar saya.

Dengan sabar, mudah-mudahan saya mendapatkan tambahan informasi atas fenomena yang ada. Sehingga saya menjadi lebih dapat memberikan tanggapan dan kesimpulan, atau komentar dan reaksi, yang relatif lebih komprehensif. Semoga.

Jakarta, 22-23 Juli 2014.

Mudik 2014 #1; Jembatan Ambles

Pada musim mudik tahun 2014 ini, ada yang istimewa dari saya. Yang pertama, bahwa saya memutuskan tidak akan mudik bersama saudara-saudara yang lainnya, tepat pada musim Idul Fitri ini. Keputusan ini saya ambil bukan karena saya tidak kengen dengan semua yang ada di kampung halaman. Tetapi lebih dari karena waktu libur saya yang terasa mepet untuk berkendaraan Jakarta-Purworejo pergi-pulang. Kedua, bahwa saya ternyata benar-benar sedang memulai dengan kehidupan baru saya. Dan karenanya, saya tidak mungkin mengawali sesuatu yang baru dengan meninggalkannya dan justru menyibukkan diri dengan pejalanan mudik. Itulah setidaknya dua alasan yang membuat saya harus berdiam diri di Jakarta dan tidak ikut serta dalam arus mudik ini. 

Salah satu kicauan pemudik di Twitter, yang di re-tweet oleh sakah satu stasiun radio berita.
Selamat Jalan

Tentunya ada yang kurag, yang harus saya alami dengan ketidak pulangan saya ke kampung pada Idul Fitri ini. Dan itu sudah terasa sekali pada sistem metabolisme saya. Rasa iri untuk melihat patauan jalan menjadi kesibukan saya tersendiri. Meski berita yang ada dari segenap pantauan itu adalah macet, macet, dan macet. Sebagaimana kutipan yang saya ambil dari tweeter hari Senin, 21 Juli lalu. Ketika arus mudik mulai mengalir, dan hambatan karena adanya jembatan yang harus ditutup di daerah Pemalang, Jawa Tengah.

Meski demikian, sekali lagi, saya memberikan semangat kpada para pemudik Idul Fitri 1435 Hijriah, tahun ini, untuk mejaga stamina guna bertemu kebahagiaan di kampung halaman masing-masing...

Jakarta, 21-23 Juli 2014.

18 Juli 2014

Belajar Membaca

Di awal tahun pelajaran ini, saya bertanya kepada teman-teman tentang kegiatan membaca di dalam kelas. Kegiatan ini menurut saya, dan juga pengalaman selama ini dalam menggalakkan kebiasaan suka membaca sangat efektif. Pertanyaan saya sederhana sekali. Apakah teman-teman masih benar-benar tidak ingin menghapus kegiatan tersebut sebagai kegiatan efektif dan membanggakan?

Pertanyaan ini sekaligus membangkitkan semangat teman-teman akan pentingnya kegiatan tersebut bagi menumbuhkan kebiasaan suka membaca pada anak. Dan di respon dengan semangat masih. Maka jadilah tahun ini anak-anak tetap akan melakukan kegiatan membaca tenang di dalam kelas masing-masing dengan plot waktu yang sudah kami sediakan. Sementara buku bacaan akan menjadi kewajiban anak-anak. Karena buku yang mereka baca adalah buku mereka masing-masing, yang mereka bawa dari rumahnya.

Kabiasaan membaca ini tidak saja kami berikan dan laksanakan untuk kelas-kelas yang anak-anaknya sudah dapt membaca dengan lancar, seperti anak-anak di SD, tetapi juga untuk anak-anak yang masih duduk di bangku Kelompok Bermain dan juga TKA, yang baru saja menginjakkan kakinya di bangku sekolah. Jadi kegiatan ini untuk seluruh siswa yang ada di sekolah kami tanpa terkecuali.

Membaca?

Memang dalam kegiatan ini, tidak semua anak dapat benar-benar menikmati apa yang dilakukannya. Tetapi dengan kegiatan yang secuil, yang kami laksakan kegiatannya untuk semua anak, setidaknya dapat memberikan hasil yang lumayan. 75 % saja anak di dalam kelas, ketika proses yang bertahap tersebut menyentuh bagian kepintarannya, saya yakin bahwa anak-anak nantinya akan membawa kebiasaan tersebut sepanjang hayatnya.

Kepada guru, saya memberikan beberapa hal yang dapat teman-teman lakukan sebagai bentuk dorongan  terhadap kebiasaan membaca pada siswa antara lain adalah:

Guru bertanya kepada siswa: 
  • Apa buku yang kamu baca? 
  • Kamu suka dengan buku itu? 
  • Bagian mana yang kamu suka dari buku itu? 
  • Mengapa kamu suka buku itu? 
  • Apa yang kamu pelajari dari buku itu?  
  • Hal apa yang dapat kamu jadikan pelajaran?
Guru juga dapat melakukan kegiatan sebagai berikut:
  • Melihat catatan buku yang telah dibaca,
  • Memberikan kesempatan kepada siswa untuk sharing/bercerita tentang buku yang dibaca di kelas,
  • Memberikan penghargaan verbal kepada siswa,
  • Memberi contoh sebagai figur yang gemar membaca.
Begitulah lebih kurang yang kembali kami teguhkan kepada teman-teman di awal tahun pelajaran baru lalu. Harapannya semoga kegiatan ini menjadi komitmen bersama. Amin.

Jakarta, 17 Juli 2014.

15 Juli 2014

Pilpres 2014 #14; Berita Acara di TPS

Proses perhitungan suara untuk Pilpres tanggal 9 Juli 2014 lalu, pada hari ini masih berjalan di tingkat kecamatan. Tetapi klaim kemenangan sudah ada. Anehnya diyakini seyakin-yakinnya benar.  Pertanyaan saya adalah, untuk apa pemerintah, dalam hal ini KPU membuat aturan bahwa perhitungan suara harus berjenjang? Kalau memang hitung cepat dapat menjadi acuan hasil 100 % valid dan reliabel, bukankah lebih murah?

Tapi itu urusan orang-orang yang memang kalau salah satunya jadi pemenang dalam Pilpres dan menjadi Presiden saya dan juga Anda nantinya, yang barangali akan mendapat sesuatu yang membuat martabatnya naik. Sehingga dengan demikian berhak untuk ngomong apa saja demi HAM, kebenaran, dan juga demokrasi? Dan pastinya tidak dengan saya, yang dalam pemilu ini shanya sebagai petugas di TPS. Dan karena itulah, dari ranah berpikir saya yang seadanya ini, ingin mencatat tentang berbagai perndapat bahwa angka suara itu nanti bisa diutak-atik.

Menghitung Suara di TPS

Ketika bertugas di TPS 014 di sebuah kelurahan di Jakarta Barat, saya berposisi sebagai penulis di sampul surat suara, berdampingan dengan ketua KPPS saya. Surat-surat suara yang sampulnya sudah saya tulisi itu lalu ditandatangani oleh ketua KPPS sebelum diberikan kepada pemilih untuk di bawa ke bilik suara dan dicoblos.

Pukul 13.00 di hari pilpres itu, Jam dimana TPS ditutup. Kami mulai membuka kotak suara bersama saksi dari kedua Capres, dan para tetangga yang dengan antusias melihat kami. Merekalah yang paling heboh ketika surat suara dibuka satu persatu dan memastikan gambar mana yang dicoblos. Salah seorang dari kami bertugas membuat tally di kertas perhitungan suara ukuran lebar.

Sekitar pukul 14.20, kami meyelesaikan perhitugan suara tersebut, dan memasukkan hasil hitungan suara, ke dalam berita acara yang bernama C 1. Itulah dokumen yang selain kita kirim ke KPU ditingkat kelurahan, juga menjadi hak bagi setiap saksi. Dan ketika dokumen beserta kotak suara tersebut kami kirim ke KPU tingkat kelurahan, maka petugas akan mengecek kesinkronan dari data yang ada. Seperti jumlah surat suara, yang rusak, yang dipakai. Juga jumlah pemilih yag ada dalam DPT, pemilih yang menggunakan A 5, dan pemilih yang menggunakan KTP. Jika sinkron kami boleh meninggalkan lokasi itu. 

Curang?

Hari ini, sebagian orang masih bicara curang. Lalu saya pikir dimana dan bagaimana curang? Pasti ini gaya tingkat tinggi kalau benar-benar terjadi. Logika saya sederhana saja. Ketika para saksi di TPS benar-benar pintar dan disiplin serta tertib administrasi, maka data C 1 dari TPS tersebut memiliki keabsahan untuk membetulkan yang tidak benar ketika perhitungan suara di tingkat kelurahan berlangsung. Bukankah kalau di satu kelurahan terdapat 20 TPS, misalnya, maka berarti saksi dari salah satu capres tersebut memiliki 20 berita acara C 1?

Demikian pula nanti ketika perhitungan suara di tingkat Kecamatan, Kodya atau Kabupaten, dan juga Provinsi bahkan hingga ke Nasional? Tentunya jika para saksi itu benar-benar 'pintar', disiplin, dan berintegritas. Maka kalau ada yang curang sangat mudah menggugatnya. Karena setiap jejang perhitungan suara selalu ada berita acara hasil perhitungan suara tersebut.

Tapi ketika proses seperti itu tidak dipahami, terlalu mudah untuk percaya bahwa pemilu curang. Meski logika saya mengatakan tidak. Ini karena pikiran saya meyakini bahwa tertib administrasi, integritas pelaku dan utamanya adanya sakti capres, serta transparansi sebagai penjaga kualitas suara rakyat itu. Menurut saya...

Jakarta, 15 Juli 2014.

Singgah di Bandar Lampung

Mendapatkan tugas untuk melihat secara langsung di lapangan tentang sebuah lembaga ke sebuah kota yang menjadi impian saya, adalah kegembiraan yang tiada taranya. Sebuah kota yang terakhir  saya singahi pada tahun 1985 sebelum saya akhirnya melanjutkan perjalanan ke kota kelahiran saya di Metro, Lampung, dan juga desa yang membesarkan sepenggal masa remaja saya di Sri Tejokencono, Punggur, Lampung Tengah.

Sekali lagi, bahwa tugas utama saya adalah melihat sebuah lokasi, untuk keudian memberikan semacam opini berkenaan dengan lokasi yang saya kunjungi itu. Bagaimana hasil dari opini yang telah saya sampaikan di dalam rapat nanti, sudah bukan menjadi kepentingan saya lagi.

Maka jadilah saya begitu usai menjalani rutinitas di awal pagi, segera meluncur menuju kota Bandar Lampung. Dan menyenangkan sejak keberangkatan saya di Jakarta. Sampai di kota ujung Sumatera itupun, saya dan teman tetap memperoleh kenyamanan yang lain. Yaitu cerita supir travel di sepanjang perjalanan Bandara Raden Inten II hingga ke lokasi yang kami tuju.

Namun bukan itu yag ingin saya bagikan dicatatan ini, tetapi sekedar foto sebagai gambaran dari suasana kota itu;  
Icon Bandar Lampung. Bundaran jalan ini ketika saya melintas pukul 15.30 sudah tersendat.

Icon yang lain, berupa mahkota rumah adat.
Sebuah menara yang menjulang, sandainya saya bsa memanjat ke atas, pasti keindahan kota yang memiliki gunung, lembah, bukit, dan laut sungguh menjadi penghibur paripurna.
Menyantap pepes bumbu manis padas di sebuah perumahan Dephub, nikmatnya menetap di lidah.

Jakarta, 15 Juli 2014.

Tahun Pelajaran Baru

Sepertinya hari berjalan begitu cepat. Seperti tidak terasa, bahwa ujug-ujug saya sudah dipertemukan kembali dengan kegiatan awal tahun yang selalu mwnggairahkan. Membuat rencana kalender pendidikan dan sekaligus kegiatan untuk sepanjang tahun pelajaran 2014/2015. Yang berarti juga adalah mencari informasi berkenaan dengan hari-hari libur di tahun 2015.

Tentunya tidak bisa dinyatakan bahwa waktu berjalan tidak normal karena lebih cepat dibandingkan dengan waktu sebelumnya. Karena satu hari tetap berusia 24 jam. Namun jika dirasa, kegiatan berulang di akhir dan awal tahun pelajaran yang berganti begitu cepat itu, yang seolah-olah saya alami berganti lebih cepat.

Akhir Tahun

Waktu yang terasa mengalir deras itu bermulai saya rasakan saat para guru dan siswa disibukkan oleh suasana ujian dan ulangan akhir semester kemarin. Tiba-tiba suasana sekolah menjadi begitu cepat sepi. Pukul 13.00 hampir seluruh siswa telah pulang ke rumah mereka masing-masing. Ini kedaan yang berbeda sekali dibanding pada hari-hari biasanya, dimana siswa baru beranjak pulang ke rumah ketika peluit saya berbunyi pada menjelang pukul 17.00.

Dan puncak dari kegiatan akhir tahun pelajaran itu adalah ketika siswa melakukan kegiatan kolosal kesenian yang bertajuk Pentas Kesenian, dan ditutup dengan tuntas pada penerimaan rapot kenaikan kelas. 

Tantangan Berbeda

Dan di awal tahun pelajaran baru ini, kembali saya menghadapi tantangan yang berbeda dengan apa yang saya hadapi di tahun sebelumnya. Dan memang selalu saja berbeda. Tidak hanya karena kebetulan tahun pelajaran ini seluruh teman guru saya telah menjalani kegiatan pelatihan Kurikulum 2013 oleh pemerintah, tetapi juga karena kami harus berebutan untuk mendapatkan siswa baru guna memenuhi bangku kelas yang kami sediakan.

Juga cerita dari teman yang berada dalam garis perjuangan yang sama tentang masalah yang sama. Utamnya mereka yang berada di lini sekolah swasta di Jakarta. Bahwa siswa yag telah kita dapatkan dan telah berkomitmen dengan uang sekolah yang telah tertera dalam pendaftaran, tiba-tiba harus mengambil sekolah lain pada detik-detik awal tahun pelajaran.

Ini menjadi penting sekali bagi kami yang berada di sekolah swasta. Mengingat seluruh denyut kehidupan sekolah dan kami para guru serta karyawannya, harus dapat memastikan bahwa kelas kami terpenuhi oleh siswa baru. Karena hanya dengan demikian sajalah kelancaran seluruh denyut operasional sekolah berjalan dengan mulus.

Dan tantangan bagi sebagian kami dengan kondisi seperti ini adalah, bertambahnya jumlah siswa dan kelas yang berstatus sekolah negeri. Karena dengan demikian, maka market menjadi lebih sempit bagi kami yang ada di sekolah swasta.

Tantangan ini jugalah yang membuat kami berpikir lebih cerdas lagi, dan bekerja lebih keras lagi agar sekolah kami tetap menjadi sekolah pilihan pertama para masyarakat dan orangtua siswa yang  ada. Semoga.

Jakarta, 15.07.2014

14 Juli 2014

Ada Teladan di Halaman

Peristiwa yang telah berlangsung pada beberapa waktu lalu. Pada saat saya, entah untuk sebuah kegiatan apa, sehingga harus berada di lokasi parkir hingga larut. Dimana tanpa persiapan yang seharusnya, laju saya harus terhenti karena pintu gerbang yang telah tertutup rapat. Dan tidak seperti biasanya, tidak ada seorangpun dari anggota security yang bertugas di lokasi tersebut yang dapat membantu saya untuk sekedar membukakan pintu gerbang.

Rasa yang mendirong dalam hati untuk membunyikan klakson di malam itu. Karena memang sudah begitu penat kondisi badan saya setelah sekian waktu mengikuti rapat di salah satu ruang yang ada di lembaga itu. Oleh karenanya, kenyataan yang harus saya alami di halaman tersebut sedikit menganggu kenyamanan. 

Dan ketika pada titik dimana saya harus berjuang untuk menekan rasa kecewa terhadap situasi yang saya hadapi tersebut, hadir seorang lelaki yang mengenakan kemaja batik warna biru dengan logo sebuah perusahaan transportasi.

"Sudah Bapak, Bapak tetap saja di atas. Bapak tidak perlu turun dari kendaraan.  Saya kebetulan harus masuk kedalam, jadi biar saya bukakan dan tutupkan gerbang ini." Ujar seorang pria santun tersebut mendekati pintu gerbang dan siap membukanya. Pria itu tampak akan masuk komplek halaman yang akan segera saya tinggalkan setelah sebelumnyaia memarkir kendaraannya di seberang gerbang. 

Saya tentu gembira ketika mendengar tawarannya. Namun sekaligus juga ragu, apakah benar tawaran itu untuk saya? Dan diantara bimbang itu, saya bertanya kepada pria itu; "Bapak tidak menjadi repot menolong saya membukakan gerbang?" 

"Benar Pak. Tidak apa-apa. Bapak tidak perlu turun kendaraan. Saya kebetulan mau perlu masuk ke dalam. "

Dan sepanjang jalan saya ke rumah di tengah malam itu benar-benar kagum akan keringantanganan pria itu. Apa yang telah dilakukannya untuk saya, adalah sebuah bantuan yang benar tidak saya duga sebelumnya. Karena semula saya berharap salah satu anggota securitylah yang akan menolong saya. Karena merekalah yang bertugas untuk pekerjaan itu. Tetapi pria tulus itu? Sungguh sebuah teladan.

Jakarta, 13-14 Juli 2014.

11 Juli 2014

Pilpres 2014 #13; Hitung Cepat

Alhamdulillah bahwa Pilpres 2014 akhirnya berlangsung dengan lancar dan aman. Seperti pelaksanaan Pemilu sebelum-sebelumnya, di TPS 014 yang ada di Kelurahan dimana kami berada. Karena memang seperti itu yang berlagsung dan terjadi di TPS. Selalu ada penonton yang menunggui ketika kami bekerja. Terutama saat-saat perhitungan suara. Semua terlihat gamblang. 

Walau, untuk ukuran kecepatan, pada Pilpres yang telah berlangsung pada Rabu, 9 Juli lalu itu, TPS kami baru mengumpulkan hasil Pemilu di Kelurahan nomor 2 (dua) dari belakang. Padahal terdapat 20 TPS di kelurahan kami. Artinya, TPS kami nomor ke-19. Dan itu sudah pukul 17.00. Sebuah kenyataan yang sebelumnya kami cita-citakan TPS kami adalah TPS tercepat dalam mengumpulkan hasil Pemilu sebagaimana yang pernah kami alami pada Pemilukada DKI Jakarta di dua tahun yang lalu.

Dan hanya beberapa menit setelah kami mengumpulkan hasil kerja kami di TPS, di tivi, para capres yag baru saja kami pilih sudah saling sumringah dengan aroma kemenangan dari hasil hitung cepat yang diselenggarakan oleh lembaga survey.

Aneh memang, bagi saya yang kurang paham dengan multy stage random sampling, karena skripsi saya menggunakan jalur analisa puisi, jadi hanya mengenal metodologi penelitian itu hingga UAS saja tanpa pernah mempraktekkan, dengan hasil yang tidak sedikit perbedaannya? Justru saya membaca ternyata terdapat dua kelompok dalam perhitungan cepat tersebut.
Sebuah blog yang memuat hasil hitung cepat dari berbagai lembaga survey.

Tapi sebagai pemilih, saya hanya meliat saja, bagaiana akting dari para pelaku politik di media itu nantinya. Saya benar-benar ingin melihat dan mengambil pelajaran. Mental yang seperti apa yang akan masing-masing tokoh, yang tiba-tiba sekarang mengajak saya untuk bersikap adem ayem. Sebuah sikap yang berbeda ketika beliau-beliau pada posisi sebelum tanggal 9 Juli 2014.
Berita media tentang kantor sebuah lembaga survey pada Pilpres 2014.
Dan sebagai masyarakat, saya hanya ingin menonton bagaimana orang-orang pinter Indonesia bisa menjadi contoh buat saya.

Jakarta, 11.07.2014.

08 Juli 2014

Pilpres 2014 #12; Honornya Sudah Keluar Gus...

Beberapa hari lalu, kalau tidak salam pada hari Minggu malam lalu, tepatnya tanggal 6 Juli 2014, saya mnerima telepon dari ketua KPPS dimana saya akan menjadi bagian dari mereka, dengan spesialisasi tugas saya adalah menulis di lembar surat suara sebelum surat suara tersebut di tandatangani oleh ketua KPPS dan diserahkan kepada pemilih untuk dicoblos di bilik suara. Itulah tugas utama saya dari pemilu ke pemilu. Mungkin tugas itu diberikan kepada saya karena teman-teman di TPS kami menilai bahwa saya yang bisa cepat dalam menulis tangan. Plus tugas tambahannya adalah menulis berita acara. Dimana berita acara hasil pemilihan pemungutan suara tersebut identitasnya telah selesai saya tulis. Sehingga ketika perhitungan suara selesai dan seluruh yang hadir, baik petugas, saksi, dan penonton yang terdiri dari masyarakat lain sepakat dengan hasil tersebut, maka angka-angka yang menjadi hasilnya saya kutip kembali ke dalam berita acara tersebut dan kami bagi-bagi sesuai dengan peruntukannya. Tentunya kami semua, sebagai petugas TPS dan saksi menandatangani surat tersebut.

Apa isi telepon dari Pak ketua tersebut? Tidak lain memanggil saya untuk mengambil honor sebagai petugas TPS. "Sudah turun nih. Lu akan ambil sekarang atau besok saja kalau sudah kelar?" kata Pak Ketua kepada saya.

"Entar saja Pak Haji. Potong saja dulu buat patungan beli kaos supaya seragam Pak Haji." Jawab saya semari memberikan usulan agar kita mengenakan kaos yang enak dipakai saat nanti kita bertugas. Maklum, TPS yang ada di tempat kami berada di sebuah gang dengan atap plasti biru. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya kalau saat pilpres nanti matahari terik. Saat Ramadhan pula. Juga kalau hujan. Oleh karenanya dengan mengenakan baju berbahan kaos dmaksudkan agar saat bertugas kita tidak terbebani dengan supeknya suasana.

Panggilan telepon itu terlambat beberapa menit setelah kami kelar memasang 'tenda' yang berbahan plasti warna biru tersebut dengan tali rafia. Mungkin ketika kami semua kembali ke rumah, Pak Haji yang menjadi ketua KPPS kami tersebut mendapat panggilan dari kelurahan untuk mengambil beaya Pemilu yang sudah keluar.

Sebagai masyarakat yang kebetulan mendapat tugas dalam pelaksanaan pilpres tahun 2014 ini, sebagamana tugas sejenis yang saya dan teman-teman dapat di tahun-tahun sebelumnya, menjadi warna yang standar. Karena kebetulan kami hanyalah petugas. Siapa yang menang dari pesta demokrasi ini dan yang lalu-lalu selalu memberikan kenangan yang benar-benar membekas  kepada kami, ya itu, seragam yang kami beli secara bersama-sama dan kesepakatan, yang dananya kami potong dari honor yang seharusnya kami dapat.

Mungkin berbeda dengan anda yang sepanjang kampanye kemarin bekerja keras dalam menyebar luaskan semangat visi dan misi dari calon anda dengan berbagai ragam kreativitas...

Jakarta, 8.07.2014.

02 Juli 2014

Pilpres 2014 #11; Media Independen?

Seperti catatan saya sebelumnya tentang media yang kentara keterlaluan akan capres dan cawapres mana yang sedang disokongnya, dalam catatan ini saya akan mengulanginya dengan sedikit ada yang berbeda. Ini karena ketidak nyamanan saya terhadap proses yang sedang berlangsung. Sebagaimana menjadi maklum bersama. Loh mengapa?

Tidak lain karena media yang berprinsip menomorsatukan kemerdekaan berpendapat, sekarang ini benar-benar membosankan untuk dijadikan alat pembanding bagi saya untuk memilih calon yang paling komplit. Karena media yang ada justru menjadi alat utama bagi 'merevolusi' pikiran saya untuk memilihnya. 

Stasiun tivi yang satu, karena sebagai media pengusung capres ini, maka ia akan membombardir saya dengan berbagai informasi yang memberikan gambaran capresnya yang paling baik. Dan ini tidak ada pembanding yang pararel. Begitu juga dengan stasiun tivi yang satunya lagi. Mengatakan bahwa capres itulah yang bekerja keras untuk kita.

Kita? Lah saya kerja dan lain sebagainya belum pernah mendapat bagian. Mengapa saya ikut serta dalam kita? Kalau kita, logikanya saya termasuk kan? Ini saya belum pernah menjadi bagian. Jadi bukan kita.

Itulah sebab utama mengapa saya tidak nyaman menonton stasiun tivi. 

Solusi

Saya bersyukur, pada masa sulit sebagai pemirsa tivi di Indonesia seagai uah bagi kemerdekaan berpendapat, saya dan keluarga masih mendapatkan tontonan yag diluar dari tivi-tivi itu. Dan lawakan, atau bahkan Ipin dan Upin, atau Pak Ogah, masih menjadi pilihan yang menyegarkan otak dan pikiran yang kusut karena antrian di jalan raya.

2.07.2014