Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

23 Juni 2013

Tidak Menolak Tugas Tambahan

Ini kisah teman saya yang dapat menjadi teladan, atau bahan rujukan, atau bahkan bahan refleksi untuk kita bersama. Kisah hidup yang benar-benar dapat secara gamblang mencerminkan sebuah kisah perjuangan dengan hasil yang dapat membuat kami, yang hidup berada di lingkungan pertemannya, merasa senang yang tersanjung dengan keberadaannya. Sebuah kisah yang bercerita tentang kesungguhan seorang anak desa yang nyaris tersisih dalam kehidupan Jakarta, namun justru dari sanalah ia membangun masa depannya yang sekarang ini ditapakinya.

Sebuah kisah hidup yang belakangan ini benar-benr membuat kagum, atau bahkan sebagian kecil teman juga timbul rasa iri, terutama bagi mereka yang  tidak memahami jalan perjuangan teman itu ketika masih berada di bawah. Mereka yang iri hanya melihat akan hasil yang didapatnya tanpa melihat proses yang menjadi perjuangannya.

Saya, dan beberapa teman lain yang  mengenal dekat sejak kami masih sama-sama muda dan tinggal di kos, melihat sosok kawan itu sekarang dengan semua keberhasilannya tetap sebagai bahan renungan dan belajar yang sahih. Bahwa hasil adalah konsekuensi dari sebuah proses perjuangan. Tidak ada hasil akhir yang tidak berawal dari sebuah proses. Itulah sahabat kami yang sekarang berhasil itu.

Salah satu pelajaran yang dapat saya sampaikan di sini sebagai catatan  pribadi saya. Pelajaran itu adalah bagaimana perilaku teman saya yang selalu tidak pernah menolak terhadap tugas yang diberikan. Tugas atasan kerjanya, meski tugas itu berada diluar bidang pekerjaannya. Contoh   pekerjaan itu misalnya adalah mengurus izin mendirikan bangunan, IMB, sementara bidang perkerjaannya adalah  urusan rumah tangga.

Namun pada perjalanan berikutnya, pada masa-masa berikutnya, teman saya itu tidak saja pandai  mengurus surat menyurat di wali kota saja, tetapi juga mengurus hal ihwal tentang membangus rumah! Itulah llmu yang teman miliki, yang kelak di kemudian hari menjadi bekal utamanya dalam menjalani jalan hidupnya, yang membuatnya berbeda dengan kami yang merupakan teman-temannya di kala muda. Itulah yang juga menjadi titik iri hati.

Jakarta, 23 Juni 2013.

21 Juni 2013

"Seru ya.... Bisa Lihat yang Sudah Terjadi?"

"Seru ya, bisa lihat apa yang telah terjadi?" Begitu pekik takjub seorang anak kepada teman yang duduk di sebelahnya di dekat saya. Persis pekikan seorang anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak ketika mereka mendapatkan pengalaman yang menakjubkan! Padahal anak-anak itu adalah anak-anak yang telah duduk di kelas sembilan, kelas 3 SMP! Yang sebentar lagi mereka akan meninggalkan kami di bangku sekolah yang lebih tinggi.

Apa sesungguhnya yang terjadi? Beginilah jalan ceritanya; Bahwa siang itu, dua siswa saya datang untuk minta tolong kepada kami agar sudi kiranya kami memutarkan ulang rekaman cctv untuk kamera yang menyorot dirinya beberapa saat lalu. Ini karena satu dari anak itu tiba-tiba tersadar dan merasa kehilangan. Ia kehilangan dokumen yang barun saja diambilnya dari guru kelasnya. Dan ia merasa yakin bahwa barang itu hilang karena tertinggal di suatu tempat dimana kamera cctv berada di atasnya. Atas saran dari anggota Satpam, maka datanglah dua anak itu menemui saya di ruangan.

Ketika sampai di ruangan, dua anak itu menceritakan kronologi yang ingin dilihatnya, dan permohonan kepada saya untuk memutarkan rekamannya. Tanpa harus menunggu lama, dua anak itu tampak menikmati apa yang menjadi permohonannya telah tersuguh di depannya. Maka kalimat kekaguman itulah yang keluar dari mulutnya.

Saya sendiri yang melayani apa yang menjadi keinginannya, malah merasa kagum. Bukan dengan apa yang terlihat di layar reply, tetapi karena ada anak didik kami yang begitu antusiasnya pada saat menemukan sesuatu yang membuatnya senang, bahkan terperanggah. Dan ternyata itu hanyalah pengalamannya ketika dapat melihat gambaran dirinya di dalam rekaman cctv.

Lebih kagum lagi karena dia selain menunjukkan antusiasme kepada kami setelah melihat gambaran dirinya dalam rekaman cctv, juga adalah karena sikap santunnya. "Terimakasih banyak ya Pak, saya telah punya pengalaman seru dengan melihat gambar saya sendiri dilayar cctv."

Jakarta, 20-21 Juni 2013.

19 Juni 2013

Menjadi Sumber Belajar

Kami mempunyai teman lama yang sekarang sudah masuk masa pensiun. Teman dalam satu pekerjaan. Dan meski berbeda posisi kerja, namun karena bertahun-tahun pernah sebagai sahabat di saat apa saja. Tman yang pada awal saya memulai karir sebagai guru, sering pula meminta jasanya untuk melakukan bantuan pekerjaan yang mungkin terlalu sulit untuk saya lakukan sendiri. Kepadanyalah saya berharap bantuan.

Dan meski teman saya itu telah lama memsuki masa purna bakti di kantor kami, masih ada saja kenangan atas dirinya yang hingga kini menjadi bekas, bahkan mengguratkan pelajaran. Sesuatu yang negatif memang, tetapi saya memaknainya sebagai pelajaran positif bagi diri saya. Ini karena dari dialah saya menjadi belajar banyak bagaimana menjalani pekerjaan di kantor dengan rasa, pikir, dan lakukan secara syukur. 

Sebenarnya, tidak ia seorang yang menginspirasi perjalanan saya dalam memegang teguh kesungguhan dalam menjalani karir. Tetapi juga banyak diantara teman-teman lain. Baik mereka yang tetap sama posisinya sbagaimana saya mengenalnya dua puluh lima tahun lalu ketika kami masih sama-sama muda dan tinggal di tempat kos dekat kami bekerja. Atau juga mereka yang sekarang telah menapaki posisi. 

Catatan ini bukan untuk mengenang dan mematri apa yang mungkin salah diakukan oleh teman itu. Tetapi saya justru ingin membalik realitas itu dengan makna yang dilihat dari sisi saya malah pada sisi yang baik. Bukankah dengan pernyataannya itu saya menjadi belajar bagaimana menjadi pegawai yang komitmen dan mensyukuri apa yang menjadi amanah buat saya?

Dan pada posisi seperti itulah saya bermaksud mengucapkan terima kasih atas apa yang telah saya dapatkan darinya. Mudah-mudahan dengan seperti ini jugalah saya mendoakan agar mereka menjadikan masa lalu sebagai sumber belajar untuk menjadi lebih baik. Semoga. Amin.

Beberapa kalimat atau statmennya yang membuat saya harus lebih banyak bersyukur antara lain adalah:

"Apa yang diberikan lembaga ini kepada saya? Puluhan tahun saya bekerja tetap saja begini."

Atau;
"Manajemen baru? Paling sama saja dengan yang sudah-sudah. Mereka semua hanya ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk keluarganya sendiri!"

Atau;
"Rapat-rapat terus. Paling hanya ingin minta agar kita menjadi pegawai yang rajin. Buat apa rajin? Rajin atau tidak, tidak ada pengaruh dengan posisi!"

Atau;
"Dua puluh lima tahun bekerja gaji sama saja. Mestinya naik gaji itu yang besar. Mosok puluhan tahun bekerja gini-gini saja! Manajemen pada dzolim!"

Atau pernyataan lainnya yang sangat boleh jadi saya sendiri telah lupa. Namun dari pernyataan-pernyataan seperti itulah saya menjadi memiliki sikap untuk sekuat tenaga berusaha keras tidak menirunya. Bukankah ini menjadi sebuah pelajaran buat saya dan teman-teman yang lain?

Itulah maka di catatan inilah saya mendoakan agar sumber belajar saya dan sebagian teman-teman itu dapat menjalani hidup lebih baik pada akhir perjalanannya. Semoga. Amin.

Jakarta,19 Juni 2013.

17 Juni 2013

"Dulu Saya Susah, Sekarang Anak Saya Jangan Susah Lagi"

Kalimat; "Dulu Saya Susah, Sekarang Anak Saya Jangan Susah Lagi",  yang keluar dari beberapa orangtua siswa ketika kami terlibat pembicaraan tentang cara dan kondisi hidup dulu masa mereka menjadi anak-anak, dengan sekarang ketika mereka adalah para orangtua dan siswa kami adalah para anak-anaknya saya dengar. Kalimat yang bermaksud baik sebagai proteksi kepada anaknya. Tetapi sering yang saya lihat di sekolah adalah model anak-anak yang pada akhirnya karena lingkungannya, maka yang terjadi adalah justru berbalik dengan apa yang menjadi tujuan proteksi orangtua.

Itulah etos hidup yag sangat terlihat dari beberapa siswa didik saya di sekolah. Sebuah etos yang sesungguhnya membahayakan masa depan bagi anak-anak itu sendiri. Masa depan yang terlalu teracuni dengan pola hidup mudah, senang, nikmat, tanpa harus memiliki daya juang yang tangguh, ulet, dan pekerja keras.

Mengapa? Karena dengan kondisi semacam itu, anak justru melahirkan karakter untuk berperilaku merasa mudah soal apapun pada diri seorang anak. Anak, dengan kondisi seperti itu pada ujungnya tidak hanya barang dan fasilitas hidup yang dia anggap dan yakini mudah untuk didapatkan.

Seperti misalnya tentang apa yang kami alami ketika kami di sekolah, misalnya beberapa banyak barang-barang anak murid,  yang tertinggal di sekolah, termasuk diantaranya, pernah saya sampaikan dalam catatan saya terdahulu, kaca mata minus merek terkenal. Yang kalau dilihat dari harganya, meski tidak tertera, pastilah tidak murah. Namun kacamata itu terus berada di pos Satpam sekolah tanpa seorang pemilik pun yang mengakuinya. Juga barang lain seperti baju seragam sekolah, kaos olah raga, tempat minum, bahkan hingga kaos kaki. Betul memang semua barang sulit kami menemukan pemiliknya karena semua barang itu tidak diberi nama.

Namun juga merembet pada persoalan yang berkait dengan belajar di sekolah. Anak-anak dengan etos hidup yang terlanjur mudah, senang, nikmat, dan bahkan mewah, maka anak-anak kehilangan semangat untuk berjuang. Meski berjuang untuk memperoleh hasil ulangan sesuai dengan KKM yang ditentukan oleh guru. Komitmen terhadap tugas sekolah yang dituntut guru menjadi ikut rendah.

Akibatnya, dengan bujukan dan dorongan serta supporting guru, maka anak-anak itu akan lolos keluar dari gerbang institusi sekolah. Lulus. Jika itu barada pada posisi di Sekolah Menengah Pertama,  maka perjuangan guru dan lingkungan sekolahnya akan menjadi lebih berat lagi ketika anak-anak itu berada di tingkat pendidikan SMA. Ujungnya?  Dari empiri yag ada adalah home schooling sebagai pilihannya.

Apakah pilihan ini jelek? Tidak juga menurut saya. Namun hal penting sekali yang harus menjadi perhatian kita adalah ketiadaan semangat untuk berjuang dalam mengarungi hidup, adalah sebuah kekalahan besar bagi  anak-anak itu dalam memenangkan masa depannya. tentunya, jika soko guru kehidupannya telah tiada. Bila pencetus etos hidup, penopang kehidupannya telah meninggal menghadap sang penciptanya.

Catatan saya ini bukan merupakan pandangan pesimisme terhadap sebuah cara hidup dan model pendidikan di rumah, tetapi sekedar cara melihat dari sebuah anekdot yang ada di sekolah, yang secara kebetulan saya menghirup udaranya.

Jakarta, 17 Juni 2013.

"Saya Bisa Perkarakan"

Tidak sempurna. Itulah barangkali yang membuat kami selalu memiliki sisi yang salah dan keliru. Meski dalam sebuah kegiatan yang seharusnya memang dibuat untu memberikan kebahagiaan bagi semua. Namun demikian, itulah kenyataannya. Ketidak sempurnaan itu juga menjadi tampak manakala sebuah fakta hanya dilihat sebagai fakta yang berdiri sendiri tanpa harus melihat kronologi dan argumentasi yang melatarbelakanginya.

Tikungan, seperti proses merespon fakta. Tidak hanya lurus, tetapi juga harus ada analisa, refleksi, pengendapan.
Seperti kalau dalam sebuah drama, maka apakah kita hanya melihat bahwa seorang aktor itu menjadi begitu negatif, hanya karena kita semua melihatnya dalam sebuah daftar pelaku? Tentunya ketika kita menerima buku oanduang sebelum masuk gedung pertunjukkan dan kemudian dengan serta merta menjatuhkan penilaian akhir padahal dramapun belum berjalan dan belum kita saksikan apalagi jalan cerita yang runutnya? Bukankah kita masih berada di luar gedung pertunujakkan?

Inilah barangkali yang menjadi catatan saya pada hari ini berkenaan dengan banyaknya manusia Indonesia yang berbicara dan berwacana pada tataran dan ranah hukum tanpa mengendapkan terlebih dahulu  persepsinya tentang sebuah kesan yang belum tentu menjadikannya pada posisi yang ada di kepalanya.

Ironi bukan? 

Karena ironinya itulah maka saya perlu belajar atas apa yang terjadi di sebuah kejadian dari seorang kawan yang begitu mudah keluar kalimat dari kepalanya; "Saya bisa perkarakan!". Pelajaran ini harus menjadi jati diri agar orang menilai bobot tidak hanya pada kalimat pertama apa yang keluar dari pikiran kita!

Semoga.

Jakarta, 17 Juni 2013.

16 Juni 2013

Pentas Seni Sekolah

Hari itu,  Sabtu tanggal 15 Juni 2013, saya harus pontang panting mengunjungi kegiatan akbar untuk semua komunitas sekolah, yang reguler dilaksanakan pada setiap akhir tahunnya. Pontang panting karena secara kebetulan hari ini saya harus datang untuk 2 acara yang relatif sama dari dua sekolah yang menjadi bagian dari amal bakti saya. Acara di Thamrin, Jakarta Pusat, adalah acara yang menjadi bagian penting dan prioritas, yang harus saya kunjungi menjadi acara pertama saya di pagi hingga siang hari. Sedang acara berikutnya, saya harus kejar dalam waktu kurang dari satu jam, dengan jarak yang lebih kurang 12 kilometer.

Alhamdulillah, bahwa dua acara itu saya dapat datangi dengan tuntas. Sejak awal acara dimulai hingga akhir. Semua menjadi pengalaman yang luar biasa untuk sebuah penutup tahun pelajaran.

Meski sesungguhnya ada dua acara untuk dua sekolah yang berbeda tetap menjadi bagian jelek saya. Karena untuk dua acara tersebut saya tidak mungkin lagi hadir. Satu acara akhir tahun di Balai Kartini, Jakarta Selatan. Dan satunya lagi di Gedung Nyi Ageng Serang di Kuningan, yang juga di Jakarta Selatan. Ini karena dua acara tersebut sama waktunya dengan yang terpaksa saya kalahkan dengan skala prioritas tadi.

Apa yang menarik dari Pentas Akhir Tahun yang saya hadiri di pagi hingga siang itu? Adalah proses kebersamaan! Kebersamaan dalam kerangka membangun sebuah komunitas pembelajar, itulah yang begitu menarik untuk saya buat catatan disini.

Itulah cita-cita kami ketika kami bersama-sama guru berdiskusi bersama tentang bagaimana mengembangkan sebuah kegiatan yang tidak monoton. Sebuah kegiatan yang selalu kami bangun dari statmen; Kita coba sesuatu yang belum pernah kita lakukan sebelumnya?

Dari pernyataan itulah, kami selalu jalani masa depan dengan eksplorasi. Dan sebagai perjalanan eksplorasi, maka disana SOP yang menjadi kesepakatan kami telah kami kibarkan. Dengan semangat eksplorasi itulah kami selalu memperoleh pembelajaran baru yang akan mendatangkan kebahagiaan yang tiada kira. Kebahagiaan atas diperolehnya pengalaman baru yang seolah berujud 'penemuan baru'!

Itulah kebahagiaan dari sebuah proses pembelajaran bersama di arena Pentas Seni sekolah yang reguler kami selenggarakan sebagai penutup tahun pelajaran. Alhamdulillah.

Jakarta, 15-16 Juni 2013.

15 Juni 2013

K-13 #8; Bagaimana Membelajarkan Siswa?

Mungkin inilah yang menjadi pertanyaan teman-teman ketika akan mengajar anak didiknya di sekolah, manakala  kami di sekolah mendiskusikan, membicarakan tentang bagaimana teknis pelaksanaan atau penerapan Kurikulum 2013. Yaitu bukan lagi tentang konsep kurikulum itu sendiri, tetapu yang jauh lebih praktis adalah tentang bagaimana teman-teman itu ketika sedang mengajar masalah perkembangbiakan di dalam kelas?

Lalu saya sendiri segera berpikir tentang bagaimana memberikan pelatihan buat guru-guru. Pikiran ini lahir karena saya merasa bahwa disinilah lokasi tanggungjawab saya. Yaitu menemani teman-teman di sekolah dalam semua situasi dan kondisi. Termasuk didalamnya adalah membelajarkan semua atau seluruh materi pelajaran dalam kerangka Kurikulum 2013! Apa materi yang akan saya berikan dan bagaimana membelajarkannya nanti ketika saya membuat pelatihan untuk mereka? Dua hal yang sampai sekarang masih menjadi tugas yang belum mampu saya rumuskan.

Terus terang saja, inilah bagian penting yang sekarang menjadi tugas yang belum juga mampu saya pecahkan. Saya berpikir mengapa tugas seperti ini sekarang menjadi sulit bagi saya? Ini barangkali, menurut saya, karena saya telah begitu lama meninggalkan dunia mengajar secara formal di dalam kelas. Selain saya pun tidak begitu sering lagi melihat bagaimana guru-guru mengajar di kelas. Jadilah saya ini seperti apa yang saya alami sekarang ini.

Pernah ada ide lahir untuk mencoba membuat praktek mengajar di kelas dengan materi rambu-rambu lalu lintas. Atau juga pernah terlintas ide untuk mengajarkan tentang nomor kendaraan bermotor di Indonesia. Tapi kemudian ide itu buntu ketika sudah sampai kepada kegiatan belajarnya. Bagaimana kalau saya membuatkan aktivitas belajarnya dengan menggabungkannya dengan prmbelajaran geografi, yaitu dengan belajar peta?

Tapi, semalam, ketika tanda nomor kendaraan tersebut telah selesai saya buat dalam bentuk presentasi, saya kembali berpikir. Apakah tidak sebaiknya saya bagi saja teman-teman guru yang menjadi beberapa kelompok, yang adalah seluruh peserta pelatihan itu. Yang kemudian untuk setiap kelompoknya saya berikan tugas membuatkan.mulai dari perencanaan mengajar hingga model pembalajarannya serta mendramatisasikannya?

Adakah usulan dari pembaca catatan ini?

Jakarta, 15 Juni 2013.

Mengalah Saja

Mengalah. Itulah pilihan yang diambil teman ketika harus menerima kalimat tidak baik, dan tentunya tidak enak untuk dicerna dalam benak dan pikiran, ketika berlangsung diskusi di  dalam sebuah forum rapat. Kalimat yang tersusunnya tetap dengan kata-kata yang santun. Namun pada makna tersiratnya benar-benar menohok, memerosokkan, bahkan sekaligus menghunjam, merendahkan, atau bisa jadi menyelekan. 

Kalimat yang sengaja disusun untuk mengandung dan memiliki sayap merendahkan. Oleh karenanya tidak salah bila saya yang ikut serta mendengarnya kalimat itu, memang memberikan tekanan pada kerarki kepandaian, herarki sosial,  yang ingin dilahirkan pada anggota dan peserta rapat. Memberi kesan bahwa teman yang menjadi sasaran atas alimat itu untuk tidak menjadi pemenang. Sebuah isyarat, yang saya sebagai bagian dari perseteruan horisontal itupun turut merasakan. Amboi, cerdik nian!

Itulah kesan dari apa yang saya dengar langsung. Namun demikian, saya sebagai salah satu peserta rapat, melihat kecepatan penyampaian kalimat yang bertendensi itu justru melihatnya terbalik. 

Bahwa sesungguhnya ketika beliau mengatakan kalimat yang bermaksud untuk merendahkan kawan yang ada di dalam forum rapat tersebut, justru berbalik kepada dirinya sendiri. Artinya, kalimat-kalimat itu bukan membuat forum menjadi mahfum bahwa korban adalah lebih rendah, dalam hal immaterial, dari si pelontar kalimat, tetapi justru sebaliknya. Ini kesan ini, anehnya, menjadi kesepakatan para peserta rapat tanpa harus perlu membulatkan kesepakatan. Kesepakatan bawah sadar!

Entah dari mana untuk memberikan alasan atau argumentasi atas apa yang saya tangkap dari kalimatnya. Namun itulah aaura yang saya tangkap. Apalagi  sahabat saya yang menjadi sasaran dari kalimat yang merendahkan itu, justru tidak memberikan reaksi apapun.

Ia hanya terdiam ketika penjelsannya tentang sesuatu yang berkenaan dengan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah nanti, langsung dipotong dengan kalimat santun tapi pedas tadi. Kalimat yang menohok itu. Sungguh sebuah atraksi dialog yang menakjubkan akal dan prrilaku.

Itulah sebuah fragmen intelektual, yang menurut saya benar-benar berhasil memberikan gambaran riil tentang suatu ranah intelektualisme yang bermartabat. Bahwa kalimat merendahkan itu keluar dari sosok yang sangat mahir dalam memperbincangkan suatu hal, atau dari seorang yang berhasil memperoleh sertifikat pasca sarjana dari sebuah universitas ternama, namun dengan sekonyong-konyong, seketika habis sekaligus ludes hanya karena satu kalimatnya yang bertujuan untuk merendahkan orang. Itulah realitas yang saya tangkap.

Itu pulalah barangkali yang sungguh telah dirumuskan oleh pepatah Jawa yang berbunyi; Ajining diri ono ing lathi. Bahwa harga dari seseorang, kita, ada pada tutur bahasa. Dari susunan kata dan kalimatnya.

Ini jugalah yang saya catat ketika kepada saya disodori satu draft buku yahg berisi kumpulan 19 cerita pendek anak-anak. Cerita yang berisi tentang perilaku manusia, yang ternyata ditulis dengan begitu lancar dan fasihnya oleh anak didik di sekolah kami...

Jakarta, 14-15 Juni 2013.

14 Juni 2013

Membaca Cerita Siswa, Mengungkap Siapa Mereka!

Siang itu, saat saya berada di ruang kantin sekolah, saya bertemu dengan guru bahasa kami, untuk diserahkan draft Buku Kumpulan Cerita Pendek anak-anak didik kami. Sembari memegang piring makanan di tangan kanan saya, bundelan buku itu saya bawa menuju ruangan guru yang ada di dekat kantin sekolah tersebut. Tentnya dengan perasaan yang sangat tidak sabar untuk segera memulai membaca. Maka dengan hati-hati, menjaga agar tangan saya benar-benar bebas dari menyak yang berasal dari makanan yang sedang saya makan agar kertas dari kumpulan cerpen in tidak ternoda oleh ulah saya, sya memulai membuka-buka lembaran-lembaran berharga itu. Itulah awal ketertarikan dan keterkesanan saya kepada apa yang dihasilkan oleh anak-anak didik kami. 

Memberi Ekspektasi

Apa yang terkumpul dalam draft buku Kumpulan Cerita Pendek ini adalah kumpulan dari ekspektasi guru terhadap kemampuan menulis kreatif. Maka di kelas enam, sebagai akhir dari tingkat pendidikan di sekolah dasar, guru menuntut anak untuk menuliskan sebuah karangan kreatif tentang apa saja yang dapat menjadi tema tulisan. Kegiatan latihan menulis yang sekaligus merupakan ekspektasi terhadap kompetensi siswa itu, berulang pada setiap akhir semesternya. Dn nampak sekali itulah yang terlihat dari apa yang ada dalam tulisan-tulisan mereka dalam draft buku itu.

Nampak sekali bagaimana anak-anak itu memiliki khasanah kosa kata yang luar biasa lengkap jika kami perbandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Bahkan ada diantaranya yang latar dan atmosfer yang dibangun dalam karangannya itu adalah sebuah situasi yang sesungguhnya asing. Misalnya tentang cerita yang berlatar tentang musim semi. Bukankah kita di Indonesia hanya memiliki musim hujan dan musim panas?

Juga mengenai ide dan gagasan cerita yang menurut saya, termasuk rumit dan ada malah yang detil. Betapa tidak anak-anak itu sepertinya fasih bercerita tentang suatu penyakit dengan sejumlah implikasinya. Atau juga malah ada yag bercerita tentang sesuatu yang memang benar-benar baru, misalnya tentang museum binatang dan tumbuhan, tetapi khusus bagi benda-benda langka atau bahkan nyaris dan sudah punah. Untuk apa? Agar para pengunjung museumnya nanti terbangun nostalgis betapa tumbuhan atau binatang itu pernah ada ketika nenek moyangnya dulu masih sehat. Bukankah pengetahuan itu semua, ketika mereka membuat tulisan, adalah pengetahuan yang memang harus terbangun dari sebuah kegiatan membaca yang intensif? Artinya? Mereka itu, anak-anak yang tulisannya ada dalam kumpulan buku itu, adalah generasi yang memang gemar membaca!

Dan saya yakin sekali bahwa keterampilan itu hanya bisa terbangun dengan kokoh bersumber dan berangkat serta berawal dari  ekspektasi guru ketika melakukan pembelajaran di dalam kelasnya!

Mengungkap Kepintaran

Dengan membaca 15 tulisan dari 19 tulisan yang terdapat dalam draft Buku Kumpulan Cerita Pendek tersebut, saya sekaligus sedang menikmati bagaimana kepintaran anak-anak itu. Tentang bagaimana ia biasa menghabiskan waktunya dengan buku-buku sebagaimana yang tergambar dalam tema-tema tulisannya yang tidak terduga karena dalam dan luasnya. Juga bagaimana ia mengungkapkan sesuatu dengan kosa kata dan bahasa yang mengalir dan runut. Juga bagaimana ia menghentak saya sebagai pembacanya, terkaget ketika tulisan itu harus berakhir. Plus, orisinalitas cerita yang mereka reka. Benar-benar megungkap siapa sebenarnya anak didik kami itu! Mereka adalam pemilik kepintaran yang bernalar! Mereka adalah generasi cerdas, dan tentunya tidak hanya pintar.


Mensyukuri Hasil Kerja

Hanya sangat berharap agar kiranya draft buku ini dapat segera menjadi sebuah buku yang nyata. Sebagai bagian dari mensyukuri jejak, tentang apa yang telah dilakukan oleh anak-anak kepada sang waktu dan sekaligus kepada masa depannya. Semoga!

Jakarta, 14 Juni 2013.

13 Juni 2013

Belajar Mengerti

Tentang mengerti, pada catatan ini saya sedikit mengutip apa yang saya dapat tentang mengerti sebagaimana konsepsinya Stephen R Covey, almarhum dengan 8 habitnya itu. Dimana dalam konsepsinya, mengerti dikonfrontasikan dengan dimengerti. Adalah dua konsep komunikasi yang saling menghasilkan implikasi.

Dalam konsepsi komunikasi itu, secara lebih sederhana sebagaimana yang saya pahami, mengerti adalah syarat awal, atau modal pertama dalam menjalin keberhasilan berkomunikasi seseorang terhadap orang lain, sebagai upaya agar dan untuk menjadi dimengerti. Jadi, dalam hukum komunikasi Covey, bukan meminta orang lain untuk mengerti diri kita terlebih dahulu,  yang menjadi awal dalam keberhasilan sebuah hubungan sosial. Namun justru sebaliknya, jikalau kita mampu mengerti, memahami orang lain, maka terbukalah pintu bagi kita bahwa kita akan dimengerti oleh orang lain.

Sejajar dengan pengertian mengerti di atas, maka dalam catatan ini, mengerti saya maknai sebagai ikhtiar saya dalam memberikan bobot kepada apa yang saya sedang dapat dan rasakan sekarang ini berbanding dengan bagaimana dan seperti apa yang sedang dirasa dan dilakoni oleh orang lain atau pihak lain. Tentunya dalam khasanah atau ranah yang pararel. Jadi beda bahasa pengungkapan, namun tetap satu rasa.

Makna ini saya temukan baru saja ketika saya bertemu dan berbincang dengan teman-teman yang bergerak dalam profesi yang persis sama. Dimana teman marasakan bagaimana ia merasakan sebuah tahap kehidupan profesional yang lebih menenteramkan ketika ia berhasil melihat kondisi, fakta, data, dan atmosfer yang sama dengannya namun berbeda dalam memaknainya.

Teman lain memaknai kondisi itu sebagai angka enam, sementara dari kacamata teman itu memaknainya dalam angka sembilan! Mengapa berbeda? Inilah yang menjadi pelajaran, yang berhasil disimpan oleh teman saya itu. Dan karena saya mendapatkan ceritanya, maka sayapun menjadi bagian dari pembelaaran atas cerita yang disampaikannya.

Apa misalnya? Tidak perlu jauh dan muluk-muluk. Teman saya bercerita bahwa kawannya yang jga guru tersebut, harus sudah sampai sekolah pukul 07.00, karena anak-anak didiknya akan memulai pelajaran tepat pada pukul 07.15. Dan baru dapat meninggalkan sekolah lebih kurang 20 menit setelah anak didiknya pulang sekolah seusai menjalankan Shalat Ashar, sekitar pukul 16.00!

Jadi, dengan mengerti rasa dan cita apa yang menjadi kewajiban teman-teman secara sungguh-sungguh, maka dari sana pintu pengertia itu terbuka untuk saya. Inilah pelajaran yang saya dapat dari melihat bagaimana orang menjalankan hidupnya, sebagaimana saya juga melakukannya. Semoga!

Jakarta, 13 Juni 2013.

11 Juni 2013

Agar tidak Merasa Paling Menderita

Dalam sebuah seminar dimana saya diminta menjadi fasilitator,  tidak jarang keluar pernyataan dari peserta yang adalah guru bahwa kondisi mereka,  ada dalam keadaan ketidakadilan. Ini  karena mereka merasa bekerja jauh lebih berat, dalam hal ini mengajar dengan tanggungjawab lebih banyak dari pada tuntutan dari sekolah, seperti misalnya  mereka harus memiliki tatap muka sebanyak 24 jam pelajaran. Alhasil, sekolah yang akan menambah kelas pararel atau rombongan belajar menjadi isu tidak menguntungkan bagi guru-guru. Ini karena dalam penambahan kelas pararel atau romobongan belajar tersebt akan berimplikasi kepada penambaan jumlah jam megajar secara menyeluruh. Ujungnya adalah penambahan jumlah jam tatap muka di dalam kelas bagi semua guru. Meski secara hitungan dengan basis struktur kurikulum yang ada, jumlah jam tatap muka teman-teman itu masih berada pada rata-rata 18 hngga 20 jam pelajaran perpekanya. Artinya, masih kurang dari 24 jam pelajaran tatap muka menurut Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 35 ayat 2.
UU No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Inilah mengapa saya menyebutnya sebagai perasaan yang seolah-olah paling menderita. Merasa bahwa seolah-olah aturan yang lahir itu memag sengaja dibuat hanya khusus untuknya. Tanpa melihat dengan kacamata yang jauh lebih lebar dan terang. Bahwa 24 jam tatap muka itu adalah syarat minimal aau sekurang-kurangnya. Juga tidak melihat bahwa 24 jam tatap muka itu dilihat dari 42 jam tatap muka yang ada di kelas pada satu pekannya menurut struktur kurikulum di sekolahnya.

Akan tetapi, untuk menghormatinya, maka lebih baik saya mengajak teman itu untuk melihat jadwal pelajaran yang ada di sekolah lain, yang memang masuk kelasnya normal sebagaimana yang ada di sekolahnya, namun pulangnya jauh lebih akhir.

Itulah yang saya temukan kepada sekolah-sekolah yang teman-teman gurunya bekerja jauh lebih banyak pun dengan semangat yag jauh lebih menggelora. Gaji? Mungkin jauh lebih sedikit dari teman saya yang komplain tentang mengajar tersebut. Dan sekolah-sekolah itu saya temukan di berbagai daerah yang sempat saya tengok dan kunjungi untuk karena suatu hal dan keperluan.

Dan dari pengalaman melihat bagamana sekolah lain secara lebih seksama, saya sendiri menjadi lebih mensyukuri dengan apa yang ada dihadapan saya. Apa yang menjadi amanah kepada saya sebagai guru. Dari pengalaman itu, saya juga menjadi memiliki perasaan bahwa kondisi saya adalah kondisi yang bukan paling menderita!

Jakarta, 11 Juni 2013.

04 Juni 2013

Ada Usulan Siswa tentang Perbaikan Toilet

Seperti biasa, hari-hari saya diruang kerja, selalu ada beberapa siswa yang menjadi 'tamu' tetap saya yang tidak pernah saya undang kedatangannya. Meski demikian, saya pribadi tidak pernah memintanya untuk segera meningglkan ruangan, pun juga mempersilahkan. Mereka adalah beberapa anak didik kami yang memang istimewa. Letak istimewanya dari kaca mata saya, adalah keberaniannya atau rasa biasanya untuk masuk ruangan saya walau mereka itu hanya ingin bertegur sapa.

Dan dari mereka-mereka itu, saya mendapatkan banyak hal menarik yang pada ujungnya menjadi catatan perjalanan karir saya sebagai guru dan duduk di ruangan saya yang memang mudah dijangkau anak-anak istimewa tersebut. Diantara mereka ada yang tertarik dengan berbagai pajangan yang ada di rak buku saya. Dan darinya, ia banyak menyampaikan berbagai pertanyaan kepada saya. Tentang kejuarannya, tentang alasan mengapa piala itu disimpan di ruangan saya, tentang darimana cindera mata dari sekolah lain itu ada dan menjadi koleksi di lemari buku saya, tentang foto-foto yang saya letakkan di atas meja, atau tentang berbagai hal yang tidak ada batasnya. Mereka mengajkan pertanyaan tentang apa saja yang ada di depannya, yang menjadi perhatiannya.

Saya pun memberikan penjelasan tentang apa yang menjadi konsennya itu dengan sepenuh kegembiraan dan antusiasme. Dan ketika anak-anak istimewa itu datang di ruangan, maka saya akan memutar kursi saya yang semua menghadap ke keyboard komputer ke rah dimana mereka berada. Karena mereka kadang berdiri di seberang meja kerja saya, kadang berdiri di belakang saya, kadang duduk di kursi tamu.

Atau sering juga seorang anak kelas 1 SD yang harus mampir dan menngok saya ketika saya sedang bekerja atau kadang sekedar ia berpaitan untuk pulang.
"Saya pulang ya Pak Agus."
"Baik, sampai ketemu besok ya Alif. Terima kasih sudah menengok Pak Agus."
Begitulah lebih kurang dialog saya dengan salah seorang siswa, kalau anak kelas 1 SD itu berkunjung ke ruangan saya untuk berpamitan.

Perbaikan Toilet

Begitulah keseharian saya di sekolah. Seperti pada siang itu di akhir bulan Mei. Seorang anak datang dan masuk ruangan saya untuk sekedar 'berjalan-jalan'. Ini karena saya melihat teman-teman satu kelasnya sedang berlatih untuk kegiatan pentas akhir tahun pelajaran di hall utama sekolah.

Nomor 11, adalah usulan perbaikan dari siswa kami.
Dan yang menjadi perhatiannya ketika masuk ruangan saya adalah catatan perbaikan berbagai hal sepanjang liburan akhir tahun ini, yang merupakan hasil diskusi saya dengan bagian teknik di sekolah. Dari 10 agenda perbaikan yag saya tulis di papan tulis ruangan, ia memperhatkan satu persatu. Sesekali ia bertanya tentang rencana kami untuk membangun ruang musik, atau tentang yang lainnya.

"Apakah saya boleh menambahkan perbaikan yang harus dilakukan Pak?" Tanyanya.
"Silahkan. Apa lagi yang harus kami perbaiki?" Tanya saya lebih lanjut .
Tanpa memberikan jawaban kepada saya secara lisan, ia telah menuliskan tambahan agenda perbaikan. Yaitu pada poin 11. Berupa perbaikan toilet.

"Apa Pak yang harus kita perbaiki dari toilet tersebut?" Tanya pegawai bagian teknik kepada saya esok harinya ketika saya beri tahu ada tambahan agenda.
"Saya belum tahu pasti. Tapi tolong temui Alif kelas 5. Dia yang mencantumkan agenda tambahan itu!"

Jakarta, 4 Juni 2013.

01 Juni 2013

Ada Basar di Cipete

Jumat pagi, 31 Mei 2013, saya meneria pesan elektronik teman untuk kegiatan di sepanjang Jalan Cipete, dan sara agar masuk tempat pertemuan melalui Jalan Gaharu atau Jalan BDN. Tidak lain karena sepanjang hari Sabtu dan Minggu, 1-2 Juni 2013 seluruh jalan Cipete Raya akan digunakan perhelatan warga tahunan dengan tauk Cipete Vaganza. 

Dengan informasi itulah maka saya telah bersiap untuk mengambil jalan memutar, sebelum sampai tujuan pertemuan mingguan. Alhamdulillah semua sesuai dengan rencana rute yang telah saya rancang pada saat saya membaca surat elektronik teman tersebut. Memutar dan menjauh sebelum akhirnya sampai tujuan. 

Mungkin karena tidak ada informasi, maka kegiatan itu cukup memberikan implikasi yang membuat tidak nyaman bagi para pengguna jalan. Itulah pemandangan yang saya lihat sejak saya sampai di daerah itu pada pukul 10.00 hingga saya meninggalkan lokasi pada pukul 14.00. Khususnya di sepanjang jalan tembus yang menuju pada dua jalur jalan sibuk. Di timur adalah Jalan P Antasari, dan di wilayah barat yaitu Jalan Fatmawati. Antri hingga di mulut kedua jalan ramai itu lebih kurang sepanjang 1 kilometer.
Suasana CipeteVaganza pada Sabtu, 1 Juni 2013.
Ketika siang itu saya dan istri menyusuri sebagian dari Jalan raya, di lokasi basar tersebut, saya banyak menemukan produk dagangan, baik makanan, pakaian, atau bahkan jualan kendaraan bermotor, yang pastinya tidak semuanya bernuansa Betawi.

Namun demikian, dari seluruh yang tampak di hadapan kami dan juga yang terdengar di telinga kami, kami benar-benar menemukan atmosfer Betawi. Di beberapa sudut banyak saya menemukan penjual kerak telor yang sepertinya tidak kunjung berhenti mensangrai adonan di penggorengan. Juga suara penyanyi yang melagukan lagu-lagu Betawi di atas panggung yang berada di Taman Gajah, yang posisinya persis disisi Jalan Cipete.

CipeteVaganza ini menjadi lebih terasa nyaman, karena dukungan Restoran-Restoran yang memang sejak lama sepanjang jalan ini sebagai pusat kuliner di daerah Cipete-Cilandak, bahkan Jakarta, yang menutup usahanya. Mungkin inilah praktek toleransi!

Jakarta, 1 Juni 2013.

Siklus itu Bernama, Akhir Tahun Pelajaran 2

Masih menjadi lanjutan dari catatan saya sebelumnya, bahwa Mei dan Juni pada setia tahun pelajaran, akan menjadi masa-masa akhir dari sebuah perjalanan pendidikan. Dan masa-masa ini akan menjadi bagian yang paling membuat saya dan teman-teman guru sebagai waktu untuk mengakhiri sebuah perjalanan sekaligus juga dapat sebagai waktu untuk menengok kebelakang sebelum memulai perjalanan ke depan sebagai siklus ulangan berikutnya.

Dan sebagai guru di sekolah formal, saya selalu akan melihat bahwa siklus-siklus yang akan kami lalui semoga bukan sekedar siklus ulangan yang menjadi tumpukan pengalaman semata. Sebagai bagian dari pembelajaran, kami ingin menjadikan siklus-siklus tersebut adalah siklus belajar. Berulang selalu dan bertumbuh senantiasa. Itulah yang menjadi mimpi dan sekaligus visi kami. Semoga.

Seperti apa yang saya saksikan pada siang yang lalu, yang menjadi akhir dari bulan Mei, ketika saya menyaksikan seluruh siswa kelas 6 di sekolah kami dengan bimbingan dan arahan dari para gurunya sedang belajar untuk penampilan akhir mereka di satuan pendidikan sekolah dasar. Ini adalah penampilan yang berulang pada setiap akhir tahunnya. Namun dari perulangan yang kesekian kalinya sejak saya beserta teman-teman, saya selalu mencatat adanya kejutan pembaruan dari proses belajar tersebut. Inilah yang membuat saya dan teman-teman selalu optimis untuk melakukan sebuah kegiatan rutin dengan nafas dan semangat yang selalu berubah-ubah, selalu mencoba yang berbeda dan baru. Perubahan yang lahir dari sebuah keinginan untuk melakukan yang berbeda pada setiap tahunnya.

Itulah yang menjadi catatan saya dalam tulisan ini. Bahwa setiap siklus tahun pelajaran yang kami jalani, saya memperoleh semangat yang terus tumbuh membesar bersama teman-teman yang selalu memiliki daya juang dan kreatifitas yang selalu lahir tiada hentinya.

Inilah sebuah harapan bagi saya dan kami semua yang berada dalam sebuah komunitas yang eksistensinya ditopang oleh inovesi dan semangat memperbaharui diri. Ini jugalah yang membuat saya dan teman-teman yang berada di dalamnya selalu menjadikan pengabdiannya sebagai guru menjadi lebih bermakna. 

Maka tidak salah bila saya bersyukur akan apa yang saya dapatkan pada setiap akhir tahun pelajaran. Memperoleh pengalaman belajar yang selalu berubah dan berbeda, bersama teman-teman yang sumringah dalam menunaikan kewajibannya sebagai pendidik. Terima kasih.

Jakarta, 1 Juni 2013.