Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

25 Mei 2015

Silaturahim yang Melahirkan Ide

Ide dan gagasan baru yang lahir sebagai bagian dari kompetensi kami dalam menjalani proses perjalanan lembaga untuk terus berada di garda depan. Ini menjadi penting buat saya dan teman-teman semua, yang merupakan bagian dari sebuah lembaga pendidikan swasta. Karena dilihat dari sisi manapun, lembaga pendidikan swasta sebagaimana kami berada, perjalanan eksistensinya berada di pundak kami sebagai warganya. Kompetensi itulah yang kami jadikan sebagai kapital utama dalam menjalani sebuah sekolah sebagai usaha jasa.

Maka kompetensi itu kami maknai pula sebagai daya saing. Dan kompetensi itu menuntut agar kami selalu sadar dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi dan bahkan sering berlangsung di masyarakat yang menjadi pengguna dari usaha kami. Dan itulah yang menjadikan penting bagi kami untuk terus menerus melihat apa yang sedang bergerak di masyarakat. 

Itulah hingga menjadi penting buat saya pribadi bertemu dengan teman-teman yang berada di lembaga berbeda. Dan pertemuan itu dapat kami lakukan ketika saya menjadi bagian dari peserta seminar atau workshop pendidikan, atau juga pertemuan kecil yang hanya berupa dialog. Tetapi, kalimat dan pandangan seseorang yang mengalir di dalam dialog atau simposium itu, sering kali menjadi pemantik buat saya dan teman-teman untuk diwujudkan ke dalam tataran praksis di sekolah kami. Harapannya tentu satu, yaitu kompetensi untuk memenangkan persaingan.

Untuk itulah maka saya berpendapat bahwa silaturahim buat kami sebagai aktivis dan pekerja di lembaga pendidikan, sering merupakan perpanjangan bagi penampungan ide dan gagasan baru untuk kemudian menjadi praktek unggul di sekolah. Semoga. 

Jakarta, 25.05.2015

20 Mei 2015

Rekrut Guru #6; Diskusi Panel

Semula ini adalah bagian coba-coba ketika kali pertama di tahun 2000 lalu kami melakukan kegiatan rekrutmen guru baru dengan jumlah pelamar potensial yang relatif banyak. Ini kami lalukan waktu itu mengingat ketidakinginan kami kehilangan kesempatan untuk bertemu dan berdialog dengan puluhan kandidat tersebut. Namun karena terkendala dengan jumlah mereka yang relatif banyak, maka kami bersepakat untuk mendudukan mereka dalam satu forum diskusi secara bergelombang. Memang cukup memakan waktu ketika satu sesi diskusi panel itu kami lakukan. Oleh karenanya, kami melakukan setiap hari di waktu sesudah Dzuhur selama satu pekan. Alhasil, 50 kandidat dapat kami 'rasakan' kecerdasan dan kesopanannya. Inilah yang saya maksudkan dengan istilah diskusi panel, sebagai tahap awal rekrut guru di sekolah kami.

Memang sedikit berbeda dengan apa yang kemarin sore saya dan teman-teman lakukan meski forum yang kami lakukan tetap diskusi panel. Ini karena jumlah mereka hanya lima (5) orang dengan durasi waktu hanya dua jam. Tetapi esensi yang kami buat sama persis. Tujuan kami adalah memilih satu dari lima kandidat yang kami ajak diskusi panel tersebut.

Pertanyaan pertama yang saya lempar ke forum, karena saya sebagai moderator di panel tersebut, adalah tentang daya saing diri. Bahwa sebagai guru, terlebih di lembaga pendidikan swasta, maka memiliki daya saing adalah bagian yang sangat urgen dan vital. Karena hanya dengan sosok yang berdaya saing saja kita akan memiliki daya tawar. Dan ini adalah pintu gerbang bagi keberlangsungan akan eksistensi sebuah lembaga. Dan lembaga pendidikan yang para tenaga pendidiknya yang berkompetensi unggul karena berdaya saing tinggi, inilah cita-cita bagi semua lembaga pendidikan.

Dari pertanyaan yang saya telah sampaikan, maka secara bergantian para kandidat menyampaikan pandangan, pendapat, gagasan yang mereka miliki dengan ungkapan kata dan kalimat yang sebagus mungkin. Maka dalam hal ini, kami dapat melihat seberapa dalam  pengetahuan yang dimiliki kandidat, dan juga seberapa pintar mereka.

Kami juga dapat melihat bagaimana kandidat memilih kata-kata yang tepat dalam mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Ketepatan dalam memilih kata itu menjadi bagian penting juga buat saya sendiri untuk menilai taraf sopan santun dari para kandidat. Karena ketika mereka salah memilih kata dan merangkai kalimat, maka justru menunjukkan posisi mereka. Terlalu tinggi, akan memberikan rasa keangkuhan. Juga pada saat mengambil peran untuk memotong apa yang disampaikan teman atau tetap menunggu giliran.

Juga bagaimana latar belakang keyakinan serta prinsip hidup yang dipegangnya. Itu semua saya melihat dan menangkap dari sebuah kegiatan bersama yang kami sebut sebagai diskusi panel. Alhamdulillah.

Jakarta, 20.05.2015

19 Mei 2015

Rekrut Guru #5; Adakah Komitmen Lain?

Setelah proses interviu berjalan dengan lancar dan tahapan terakhirnya sudah, maka kami akan menyampaikan pemberitahuan gaji yang dapat kami berikan kepada para kandidat itu. Gaji yang kami sampaikan adalah gaji dengan standar yang ada. Kami akan melihat latar belakang kandidat selain juga adalah pendidikannya. Ini kami harus lakukan terlebih dahulu agar tawaran gaji yang kami berikan tidak 'menyundul' atau menyusul  guru yang telah mengabdi terlebih dahulu. Walau dalam perjalanannya nanti kandidat yang sukses dan benar-benar kami nilai bagus akan mendapat kesempatan untuk mendahului besaran gaji guru yang terlebih dulu bergabung dengan kami. Ini dimungkinkan karena kenaikan gaji di sekolah kami berbasis kepada kinerja. 

Tetapi ketika kandidat tersebut telah menjadi bagian dari kami, dan kami harus memberikan kesempatan untuk sebuah kenaikan status, maka kembali kami akan meminta guru kami akan komitmen yang mungkin berbeda dengan apa yang akan kami sampaikan. Karena kadang ada pula guru yang masih menjadikan sekolah kami sebagai batu loncatan untuk melangkah kepada karir lain atau tetap menjadi guru tetapi ingin berubah status sebagai PNS?

Pertanyaan seperti ini penting untuk kami di tahun pelajaran berikutnya supaya kami dapat mempersiapkan diri proses rekrutmen jika memang pilihannya adalah tidak melanjutkan kontrak kerja di masa berikutnya.

Seperti apa yang telah kami lakukan dengan dua kandidat guru yang kami menilainya berkapasistas sebagai kandidat guru yang bagus di lembaga kami. Untuk itu kami sering mengajaknya bertukar pikiran semacam coaching yang kami lakukan. Dan dari pertemuan-pertemuan seperti itu, kami menemukan beberapa hal kecenderungan yang masih mungkin dapat kami berikan masukan kepadanya untuk kemudian dilakukan perbaikan.

Termasuk diantaranya kecenderungan mereka untuk tidak menjadikan lembaga pendidikan kami sebagai tujuan akhir dari perjalanan profesionalnya sebagai guru. Dan temuan ini akan segera kami tindak lanjuti dengan mengadakan pemilihan kandidat baru. Itulah tahapan yang kami sebut sebagai pertanyaan komitmen dari para kandidat guru tetap kami. Semoga.

Jakarta, 19 Mei 2015.

18 Mei 2015

UN 2015 #5; Tamu Istimewa

Senin, 18 Mei 2015, menjadi hari pertama pelaksanaan Ujian Sekolah/Madrasah Berstandar Daerah. Yaitu Ujian Nasionalnya tingkat pendidikan SD. Mata Pelajaran yang diujikan pada hari pertama adalah Bahasa Indonesia.  Dan pada saat saya hadir di ruang Pengawas Ujian yang berasal dari SD luar yang ada di lantai tiga sekolah, untuk menemani pengawas yang telah hadir, saya mendapat kabar bahwa akan hadir di sekolah sekitar pukul 09.00  pejabat dari Kecamatan. Tentu tidak ada persiapan yang macam-macam di sekolah di pagi itu. Karena memang fokus kami adalah peserta ujian.

Alhamdulillah bahwa seluruh peserta ujian hadir semua, dan bahkan sebagian besar dari mereka telah hadir dan bersiap sejak pukul 06.30 di ruang Musholah sekolah. Anak-anak dipandu dan didampingi ibu dan bapak guru melakukan afirmasi. Kegiatan ini sebagai penyemangat agar dalam melaksanakan ujian anak-anak dapat berkonsentrasi dengan optimal.

Seperti yang berlangsung di tahun-tahun sebelumnya, anak-anak selalu kami persiapkan secara mental untuk dapat berkonsentrasi penuh pada saat mengerjakan soal-soal ujian. Untuk itulah, beberapa guru yang bertugas secara bergantian akan menemani anak-anak yang telah hadir di sekolah sepagi apapun. Dan pada waktu itulah anak dan guru akan berkumpul di ruang Musholah. Kita berharap bahwa upaya terakhir kami dalam mendampingi anak bermanfaat bagi keberhasilan anak-anak itu sendiri kelak. amin.

Tetapi ada yang berbeda dengan pelaksanaan kegiatan ujian di tahun ini. Terutama di ruang pengawas. Yaitu dengan kehadiran tamu istimewa, yang sebelumnya tidak terbayang akan hadir di sekolah dalam sebuah hajatan, Ujian Nasional SD. Merekla adalah Pak Camat, Pak Lurah, Pak Kasi Dikdas Kecamatan, da juga seorang Pengawas Pendidikan.


Jangan salah, bahwa kehadiran Pak Camat dan Pak Lurah ke sekolah kami adalah untuk bersilaturahim. Hanya memang momentumnya pada saat pelaksanaan UN. Sebagaimana yang beiau sampaikan saat dialog dengan teman-teman guru tentang bagaimana penataan PKL dan masalah sampah. Sedang Pak Kasi Dikdas dan Pak Pengawas Pendidikan memang bertujuan untuk melakukan monitoring pelaksanaan UN SD. Meski punya tujuan yang berbeda, toh kami tetap gembira atas kehadiran Bapak-Bapak itu di lokasi dimana kami sehari-hari menunaikan tugas sebagai pendidik. 

Jakarta, 18 Mei 2015

17 Mei 2015

UN 2015 #4; Peristiwa Keramat

Dalam sebuah kegiatan para Kepala Sekolah tingkat Sekolah Dasar di sebuah sanggar di kecamatan di wilayah Jakarta, teman saya mengunggah foto bersama teman-temannya. Terlihat lima Kepala Sekolah di foto yang unggahnya. Mereka adalah Kepala Sekolah swasta yang berdekatan. Dan untuk hajatan Ujian Sekolah Berstandar Daerah tingkat SD yang jatuh pada Senin-Rabu tanggal 18 sampai 20 Mei 2015, teman-teman itu disibukkan dengan hajatan tahunannya tersebut.

Dan bila pada tahun-tahun sebelumnya semua berjalan relatif dengan kondisi dan POS yang normal, maka berbeda dengan apa yang terjadi di tahun 2015 ini untuk ujian di tingkat SD dan di wilayah dimana kami berada. Satu hal yang berbeda adalah kerelaan sebuah sekolah untuk mempersiapkan ruangan menginap bagi Kepala Sekolah yang mendapat jatah piket menunggui soal yang akan diujikan esok harinya.

Tentunya bukan setiap sekolah. Karena untuk kami yang sekolah swasta yang ada di satu kecamatan,  terdapat beberapa sekolah. Maka salah satu dari kamilah yang ditunjuk pihak kecamatan untuk bersama dalam satu payung. Dan dengan konsep seperti ini, bagi saya sendiri, lengkaplah proses keramatisasi Ujian Nasional dengan standar daerah untuk tingkat SD.

Jakarta, 17.05.2015.

Rekrut Guru #4; Kandidat Potensial

Ketika terbentur waktu yang bersamaan antara mengobservasi kandidat guru yang diminta praktek mengajar dengan rapat dengan staf pramubakti dan tata usaha sekolah, maka pilihan yang saya ambil adalah menengok praktek mengajar untuk kemudian lanjut ke rapat. 

Ada beberapa menit saja saya melintas dan menengok di depan kelas dimana seorang kandidat sedang melakukan pembelajaran di kelas VIII itu. Dan waktu yang singkat itu fokus saya adalah situasi kelas dan cara guru pada saat berdiri di depan kelas dengan slide yang ditayangkan. Tidak detil apa yang dapat dapatkan dengan observasi seperti itu. Tetapi setidaknya saya sudah dapat informasi yang cukup sebagai gambaran awal saja. Karena di dalam kelas sudah ada dua teman guru yang juga adalah wakil kepala sekolah yang menunggui kandidat itu melakukan praktek mengajar dari awal hingga akhir pelajaran.

Gambaran awal itu cukup bagi saya untuk memberikan nilai pada penampilan dan bahasa tubuh guru di dalam kelas. Karena saya akan bertemu para kandidat itu secara individual untuk berbincang-bincang. Dan pada saat seperti itu saya akan menangkap kecerdasan dan keluwesan serta tata krama bahasanya. Termasuk juga kecenderungan perilakunya.

Semua informasi yang kami dapatkan akan menjadi pertimbangan bagi kami untuk menentukan satu kandidat yang paling potensial. Kandidat itu ditentukan setelah kami diskusi bersama atas interaksi kami dengan para kandidat yang ada. Berbagai sisi menjadi pertimbangan kami.

Dan potensi yang akan menjadi fokus diskusi adalah kepada wawasan berfikir mereka, kecenderungan perilaku dan sikap profesionalnya, serta bagaimana dia dihadapan anak-anak yang nantinya sebagai peserta didiknya. 

Kami khawatir bahwa kandidat yang kami pilih adalah kandidat yang akhirnya menjadi staf guru 'pembangkang' pada saat menerima masukan atau kritik. Semoga.

Jakarta, 17.05.15.

15 Mei 2015

Rekrut Guru #1; Memilih Surat Lamaran

"Apakah sudah ada surat-surat lamaran yang masuk di web Pak Agus?" Begitu pertanyaan teman kepada saya saat kami bertemu untuk sebuah diskusi yang berbeda. Maka pertanyaan itu adalah pertanyaan di luar konteks dengan topik yang akan kami diskusikan. Saya memang meminta agar web sekolah memberikan 'kantong' khusus untuk para pengunjung menulis dan mengirimkan lamara kerja bila berkenan berkarir di sekolah kami. Dan alhamdulillah pada setiap bulannya kami telah mengumpulkan beberapa surat lamaran dari berbagai daerah.

"Alhamdulillah sudah. Beberapanya sudah di print dan dalam bentuk hard copy. Mungkin perlu sekali kita mempunya waktu khusus untuk memilih dan memilah surat lamaran dan cv dari para kandidat itu." Jawab saya. 

Dari beberapa lamaran yang masuk dan sudah di print out oleh bagian sekretariat, saya dan teman-teman dapat mengecek dan membolak-balik dari profil para pelamar. Dan untuk sisi pendidikan, hampir rata-rata anak-anak yang melamar di sekolah untuk berkarir sebagai guru atau sebagai staf administrasi, memiliki latar belakang pendidikan yang bagus. sebagian besar mereka lulus dari perguruan tinggi negeri di Pulau Jawa. Juga dengan nilai kumulatif yang lebih dari 03,00. Jadi tergolong bagus.

"Mengapa banyak dari para sarjana kita yang membuat lamarannya tidak dengan sepenuh hati? Diantaranya menggunakan jenis huruf yang standar dengan kata-kata yang seperlunya." Kata saya suatu hari kemudian disaat kami bertemu untuk berdiskusi tentang surat lamaran yang masuk.

"Maksud Bapak?" Tanya staf yang turut serta dalam membantu kami memilah surat-surat lamaran yang ada.

"Mestinya, dengan perguruan tinggi dimana mereka lulus, dan juga dengan nilai komulatif yang tidak standar, mereka mampu membuat dan menulis lamarannya yang menyiratkan kepandaian mereka?" Kata saya. 

"Bagaiamana kita bisa menebak seberapa pintar kalau lamaran dan cv yang dibuatnya bentuknya seperti ini?" Kata saya lagi kepada teman-teman yang ada di ruangan saya. Semua melihat surat lamaran ukuran A 4 yang ada di tangan saya. Semua fokus. Dan tampak sekali teman-teman itu sepakat dengan pendapat saya. Karena memang diantara lamaran yang ada terdapat pula lamaran dan cv yang dibaut dengan padat, jelas, informatif, rapi, dan sekaligus menarik.

Jakarta, 15 Mei 2015.

13 Mei 2015

Rekrut Guru #3; Evaluasi Bulan Pertama

"Bagaimana selama satu bulan berada bersama kami Ibu. Apakah semua berjalan dengan baik-baik saja?" Tanya saya kepada seorang guru kami yang baru, baru satu bulan berada diantara kami, sebagai evaluasi pertamanya. Kami lakukan ini supaya kalau ada kendala yang disimpan oleh guru baru tersebut dapat dengan cepat kami tangani. Juga bila yang bersangkutan merasa tidak betah karena sekolah kami berbeda, kami juga dapat memberikan penjelasan yang dibutuhkan. 

"Alhamdulillah Pak sejauh ini saya tidak menemui kendala yang berarti selama satu bulan berada di sekolah ini. Terimakasih banyak Pak atas pengalaman dan kesempatan yang diberikan kepada saya." Jelasnya. Dan bersama kami ada Kepala Sekolah yang memberikan beberapa masukan kepada saya atas beberapa hal yang memerlukan masukan dari Ibu Guru baru kami itu. Maka pertemuan tersebut menjadi pertemuan evaluasi. Agar dalam tempo yang tidak terlalu lama Ibu Guru baru tersebut mengejar apa yang seharusnya menjadi bagian dari profesionalitasnya sebagai guru. 

Karena hanya dengan cara seperti itulah kami dapat dengan lebih akseleratif membangun tim yang bagus dan tersetandar. Ini menjadi penting bagi sekolah kami, yang adalah sekolah swasta. Dimana seluruh operasional sekolah menjadi tanggung jawab kami sendiri untuk terjamin keberlanjutannya. Dan semoga usaha ini menjadi bagian dari ikhtiar mewujudkan misi kami itu.

"Bagaimana pandangan Ibu setelah selama satu bulan berada dan bersama kami disini? Mungkin saya dapat mendengar apa yang akan Ibu sampaikan?" Lanjut saya dengan pertanyaan berikutnya. Sementara Kepala Sekolah berada di samping saya dan hanya sebagai pengamat.

"Iya Pak. Saya sendiri masih dalam tahap mengenali dan belajar untuk beberapa halnya. Karena membaca panduan guru agak sulit saya dapatkan dari pada saya mengalami dalam kehidupan secara langsung. Jadi mohon disampaikan beberapa hal yang memang membutuhkan perbaikan terhadap saya selama ini." Katanya. Kalimat yang disampaikannya membersitkan nilai positif  akan brand dirinya. Santun dan memberikan aura terbuka.

Dan dalam pandangan kami, perilaku seperti itulah yang memberikan harapan terhadap kualitasnya di masa mendatang. Dan mudah-mudahan itulah yang memang akan kami hadapi nanti. Karena hanya bermodalkan perilaku seperti itulah guru-guru baru itu akan memperoleh keterampilan dan bervisi. Semoga. 

Jakarta, 13 Mei 2015.

Rekrut Guru #2; Wawancara Kandidat

"Sudah berapa lama Ibu mengajar di tempat sebelumnya?" Pertanyaan saya kepada seorang kandidat yang akan kami ambil sebagai guru menggantikan sahabat kami yang mengundurkan diri karena harus mengikuti suami bertugas ke luar daerah. Maka kandidat baru ini antara lain harus saya wawancarai diantara wawancara lain yang dilakukan oleh pihak sekolah. Dan selain wawancara, kandidat juga diminta untuk menulis artikel pendidikan di komputer sekolah. Selain juga harus praktek mengajar di kelas yang telah disepakati.

"Sudah tiga tahun Pak." Jawabannya singkat. Lalu supaya saya dapat menggali informasi lebih banyak tentang siapa kandidat yang melamar tersebut, bagaimana ia mengajar di sekolahnya, bagaimana bentuk sekolah yang selama ini dia menjadi staf pengajarnya, juga wawasannya tentang dunia pendidikan, maka saya bertanya dengan berbagai cara dan tentang berbagai hal.

"Bagaimana Ibu memaknai perjalanan karier Ibu sebagai guru di sekolah tersebut? Adakah hal-hal yang menarik untuk Ibu sehingga Ibu dapat bercerita kepada saya tentang sesuatu yang menjadi perhatian Ibu?"

"Saya merasa biasa-biasa saja Pak dalam menjalani waktu tiga tahun sebagai guru. Tidak ada sesuatu yang saya anggap istimewa."

"Apa yang memotivasi Ibu untuk mencari lokasi mengajar di sekolah lain?"

"Saya ingin mencari tantangan baru Pak. Saya merasa sudah bosan dengan lingkungan mengajar saya selama ini. Siapa tahu saya mendapat sesuatu yang berbeda dengan pindah mengajar."

"Apa yang Ibu petik sebagai pengalaman bagus bagi karier Ibu selama tiga tahun itu?"

"Saya merasa tidak terlalu signifikan Pak pengalaman yang saya dapatkan. Malah belakangan saya ikut tidak nyaman dengan kondisi sekolah."

"Mengapa Itu menjadi kesimpulan Ibu?"

"Karena di sekolah saya sekarang Yayasan sekolahnya terlalu ikut campur dengan masalah sekolah."

"Dari mana kesimpulan itu Ibu ambil?"

"Kebetulan ada kantin baru di sekolah kami. Dan Yayasan membuat keputusan agar semua guru wajib makan di kantin sekolah."

"Apakah Ibu sudah siapkan bahan ajar yang akan menjadi kegiatan Ibu bersama anak-anak?"

"Sudah Pak." Kata guru itu sembari menunjukkan lokasi lap top yang akan ia pergunakan sebagai alat belajar nanti ketika melakukan praktek mengajar. Saya mengangguk menandakan kefahaman saya kepadanya. Dan selanjutnya saya mohon diri untuk menggalkannya di ruang tunggu sekolah kami.

Esok harinya, ketika kami mengevaluasi hasil interviu para kandidat yang ada, saya merasa ada yang kurang sreg pada kandidat tersebut. Bagaimana dengan yang lain? Alhamdulillah ternyata ada sinergi antara saya dengan pihak unit sekolah. Alahamduliallanh.

Jakarta, 13 Mei 2015.

Tanggap pada Persaingan

"Ibu, saya tidak melihat ada guru  yang menemani anak-anak ketika mereka berada di plasa sekolah untuk menunggu jemputan atau dijemput. Dan sepertinya penjemput juga masuk dan berada di lokasi yang sama. Bagaimana kita dapat memastikan situasi seperti itu tetap terjaga kondusif?" Begitu pertanyaan saya suatu hari kepada seorang Kepala Sekolah. Saya ingin tahu bagaimana kira-kira tanggapan Kepala Seklah terhadap kondisi di halaman sekolahnya saat jam pulang sekolah.

Karena kebetulan sekali pada jam tersebut saya berada di lokasi guna ingin bersama teman-teman yang lain melakukan diskusi kelompok berkenaan dengan perkembangan sekolah swasta dan peningkatan daya saingnya di sebuah sekolah swasta juga. Maka pertanyaan sebagai tamu, ingin tahu saja bagaimana teman saya itu menanggapi atas situasi seperti itu. Walau saya akui bahwa pada saat itu ada seorang Wakil Kepala Sekolah berada di tempat penjemputan tersebut. Namun saya merasa itu tidak terlalu efektif. Bagaimana jika Ibu Wakil Kepala Sekolah itu ditemani sepuluh guru dari 30 kelas yang ada?

Lalu apa posisi guru dan Wakil Kepala Sekolah di lokasi tersebut pada jam yang saya sebutkan? Tidak lain adalah sebagai Guru Piket. Ini juga menegaskan bahwa pekerjaan profesionalisme guru tidak hanya berdiri di depan siswanya guna menyampaikan materi pelajarannya. Guru tidak sekedar sebagai pengajar. Guru juga adalah pendamping peserta didik manakala peserta didik berada di sekolah.

"Bentul Pak Agus. Karena kami punya Satpam." Begitu jawaban Ibu Kepala Sekolah kepada saya. Jawaban yang akhirnya membuat saya sadar bahwa tataran berpikir Ibu Kepala Sekolah kurang pada ssi pelayanan kepada peserta didiknya. 

Atas jawaban seperti itu, maka saya menyampaikan pernyataan atas jawabannya itu; "Di Indonesia Bu, siapa yang akan nurut dengan Satpam?" Maksud pernyataan saya adalah bahwa area sekolah harus menjadi kewajiban mutlak seorang pendidik. Maka menjada anak-anak di teritori pendidikan adalah juga menjadi ranahnya seorang pendidik.

Tetapi sebagai orang yang posisi saya sebagai teman, maka saya hanya menyampaikan kepada beliau bahwa jika pengawasan itu menjadi tanggung jawab penuh dari para guru piket yang ditemani oleh salah satu manajemen sekolah yang ada, pasti ini menjadi bagian paling bagus di mata para siswa dan orangtua siswanya. Ini akan menjadi berita bagus bagi sekolah tersebut. Dan berita bagus seperti ini pasti menjadi salah satu daya saing, menjadi pembeda antara sekolahnya dengan sekolah lain.

Dan memiliki pembeda, adalah soko guru bagi memenangkan sebuah persaingan. Dan memenangkan permainan serta daya saing, adalah energi bagi keberlangsungan sebuah lembaga yang bernama sekolah swasta. Semoga. Amin.

Jakarta, 13 Mei 2015.

12 Mei 2015

Mengawal Transformasi

Ketika teman saya bercerita tentang waktu yang dia akan bersama dengan guru pada saat kegiatan sedang direncanakan, maka dia menyampaikan bahwa ketika panitia sudah membuat kegiatan dalam bentuk proposal. Karena biasanya sekolah telah menunjuk penanggung jawab kegiatan. Dan pada rapat kali pertama, penanggung jawab kegiatan akan membuat susunan panitia yang lebih lengkap sekaligus membuat draft kegiatan yang akan dilaksanakan.

"Jadi kapan Ibu akan hadir dalam rapat kepanitiaan tersebut?" Begitu pertanyaan saya kira-kira kepadanya. Saya ingin tahu sekali bagaimana ia membawa sebuah kegiatan yang lebih bermakna dan tentunya lebih berhasil dibandingkan dengan kegiatan serupa di tahun sebelumnya. Karena bukankah dalam setiap kegiatan selalu diadakan monitoring dan evaluasinya? 

"Biasanya pada saat panitia sudah melakukan rapat yang ketiga Pak Agus." Begitu jawabannya. Ia nampak begitu datar menjawab pertanyaan saya. Padahal saya ingat betul bahwa beberapa orang dari guru-gurunya yang ia tunjuk sebagai penanggung jawab kegiatan sekolah, bersikap otoriter dalam kepanitiaan. Otoriter yang dimaksudnya adalah ketidak mauan si penanggung jawab tersebut menerima masukan dari anggota panitia lainnya  yang telah terbentuk di rapat panitia kali pertama.

Lalu kalau jawabannya seperti itu, apakah itu jawaban yang memberikan solusi atas apa yang dia pernah kemukakan kepada saya beberapa waktu sebelumnya? Bukankan kalau ia sebagai pemberi amanah penanggung jawab kepada seseorang, yang juga adalah sebagai Kepala Sekolah dapat memberikan masukan ketika panitia mulai dibentuk?

"Saya tidak ingin dilihat melakukan intervensi Pak. Jadi saya ingin supaya guru-guru dapat berpikir, membuat rencana kegiatan dengan bebas dan semoga juga dengan kreatif." Begitu argumentasi teman saya yang Kepala Sekolah itu. Jawaban yang justru membuat saya bingung. Bukankah sebagai pemegang amanah tertinggi ia dapat memandu semua komponen yang ada di unit kerja untuk bersinergi?

Apakah ia benar-benar sadar kalau guru yang diberinya tanggung jawab atas kegiatan sekolah tidak mengindahkan masukan positif dan bahkan rekomendasi atas hasil monev atas kegiatan tahun sebelumnya, tetap dibiarkan melakukan kegiatan sekolah dengan format yang sama dengan tahun lalu? Yang berbeda hanya tanggal kegiatan, lokasi kegiatan, dan juga personil serta biaya kegiatan? Lalu apakah itu bukan yang disebut sebagai penganut 'kenapa susah-susah?'

Sebuah aliran di sekolah yang banyak dianut oleh mereka yang sudah tidak lagi ingin mengerjakan kegiatan yang neko-neko. Mengapa harus membuat kegiatan yang berbeda dengan kegiatan yang ada sebelumnya. Bukankah kegiatan serupa selalu dilakukan di tahun-tahun sebelumnya?

Pada titik inilah sebenarnya fungsi kepala Sekolah sebagai pemandu itu penting. Kalau para penganut konsep bekerja 'kenapa susah-susah' itu tetap memaksakan format kegiatan dalam membuat proposal kegiatan tidak mau menerima masukan, biasanya dari juniornya, maka kita sebagai Kepala Sekolah bisa mengajukan beberapa pertanyaan yang memancing si juniornya kembali memiliki semangat.

Bagaimana Bapak dan panitia mengatur 150 anak dalam kegiatan klasikal ceramah? Apakah Bapak sudah membuat parameter agar anak-anak benar-benar mendengarkan ceramah selama kegiatan itu berlangsung? Bagaimana jika 150 anak itu kita bagi menjadi 5 kelompok untuk kemudian kita buat kelas pararel dengan model station? Bagaimana Bapak dan panitia bisa yakin bahwa anak-anak akan mendapatkan manfaat yang besar ketika mereka mengikuti program ini? Dan seterusnya.

Pertanyaan kita itu tujuannya hanya satu, untuk mengajak teman-teman panitia berpikir operasional ketika sedang membuat rencana. Dengan begitu, mereka akan melihat rencana kegiatan yang dibuat dari kaca mata anak. Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang menantang bagi penitia. Semoga.

Jakarta, 12 Mei 2015.

11 Mei 2015

Siswa Juga Sumber Belajar

Minggu, 10 Mei 2015 kemarin, ada pertunjukan seni di panggung OSIS SMP saya. Lokasinya di halaman sekolah. Penampilnya adalah mereka, para alumni, seniman dari sekolah lain, dan juga kelompok band yang sedang meniti karir, plus puncaknya adalah Kunto Aji. Namun selain ada di puncaknya, ada penampil yang membuat saya bungah dan terkesima. Seperti penampilan solo alumni, Just Five Band, dan Jakarta Beat Box. Dan ini kegiatan OSIS untuk yang kesepuluh kalinya di sekolah saya, yang murni dikelola dan menjadi agenda kerja para pengurus OSIS. Dan OSIS yang menyelenggarakan kegiatan kemarin adalah OSIS yang ke sebelas yang ada di sekolah saya. 
Just Five Band di panggung OSIS SMP Tugasku.

Ada memang bantuan guru, terutama kepada bagaimana membuat rencana, pemilihan artis, penentuan waktu pelaksanaan kegiatan, menemani anak-anak untuk berburu sponsor, menguhubungi artis dan membuat kesepakatan dengan tim mereka, dan tentunya mengelola dana yang ada. Termasuk di hari pelaksanaan, tidak ada yang tidak hadir untuk menemani anak-anak sejak kegiatan belum mulai hingga anak-anak bubar di malam hari. Ada juga dua dari teman-teman itu yang harus menginap di sekolah untuk berperan serta dalam menjaga properti kegiatan yang telah terlanjur di pasang.
Penampilan Jakarta Beat Box yang mengagumkan.

Lalu apa pelajaran yang saya dapat dari kegiatan yang dibuat dan dikelola anak-anak itu? Banyak. Tapi satu hal kecil yang saya dapatkan dari tahun ke tahun adalah ketika mereka menentukan siapa artis yang akan menjadi penutup pertunjukan. Karena kadang nama yang mereka ajukan adalah nama yang tidak akrab di kuping saya dan teman-teman guru lainnya. Lalu dari mana anak-anak itu menentukan parameter untuk mengundang artis?

Dan inilah yang saya harus sadari bahwa, meski saya merasa erat berhubungan dengan dunia maya, tetapi tampak sekali bahwa masih ada jarak yang jauh dibandingkan dengan anak-anak. Mengapa? Karena anak-anak itu ternyata memiliki kemampuan meneliti di dunia maya yang jauh lebih akrab dan unggul. Sepertinya, seberapa banyak pengunjung yang telah membuka video klip sang artis yang terpasang di you tube (?).
Kunto Aji dengan 7 lagu, yang membawakan 2 singgle apiknya.

Maka, dari sisi inilah saya harus memahami bagaimana anak-anak itu menentukan siapa artis yang akan diundang. Inilah sumber belajar saya di sebuah kegiatan sekolah yang bernama Pertunjukan Seni...

Jakarta, 11 Mei 2015.

10 Mei 2015

UN 2015 #3; Ada Anak Nyontek!

Ketika hari terakhir pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMP sederajat, tepatnya pada hari Kamis, 7 Mei 2015 lalu, saya mendapatkan cerita dari teman-teman guru di sekolah tentang bagaimana ia mengawasi anak-anak yang menyontek ketika UN berlangsung. Dan karena ini menjadi sebuah pelanggaran, maka ia meminta anak tersebut untuk bekerja tanpa harus melihat alat komunikasinya.

Dia, teman saya itu, tidak menyangka kalau semua anak di ruangan yang diawasinya boleh membawa serta telepon selulernya ke dalam kelas. Dan itu tidak tampak ketika hari pertama hingga hari ketika pelaksanaan UN. Tetapi pada hari terakhir pelaksanaan UN, yang mengujikan Mata Pelajaran IPA, ia sebagai pengawas Ujian Nasional yang bertugas mengawas di sekolah lain, menjadi terusik dengan anak-anak yang memegang alat komunikasi ketika ujian masih berlangsung.

Di sekolahnya, anak-anak akan mengumpulkan semua alat komunikasinya ketika selesai mlakuakan kegiatan afirmasi di ruang bersama sebelum UN dimulai. HP itu akan dikumpulkan oleh guru kelasnya masing-masing dan hanya dikembalikan ketika anak-anak tersebut telah usai melaksanakan UN dan pulang sekolah.

Untuk ia, teman saya itu, lumayan kaget ketika anak-anak yang diawasinya memegang HP di tangannya sementara waktu ujian masih berjalan setengah main. Alhasil ia meminta salah satu anak yang sedang asyik melihat layar HPnya. Dan sebagai bukti ceritanya, ia memfoto layar HP tersebut untuk kemudian dia bagikan kepada saya.

Kira-kira, apa hasil belajar dari anak-anak yang ketika pada tahapannya ia menyontek?

Jakarta, 10 Mei 2015.

Kantin #6; Kantin sebagai Pemandu Pola Makan

Saya sedang ancang-ancang untuk menceritakan bagaimana sebuah kantin sekolah yang seharusnya. Yang berfungsi sebagai penyedia makanan dan sekaligus men'drive' pola makan anak-anak. Termasuk juga minum. Dengan kemampuan seperti itu diharapkan sekali anak-anak hanya akan makan makanan berat disaat istirahat makan siang. Dan juga hanya minum minuman tidak ada rasa alias minum minuman air mineral.

Dan khusus untuk minum, anak-anak hanya membutuhkan botol minum dari rumah. Karena di sekolah akan kami sediakan air minum yang kami olah dari air yang ada di sekolah. Sehingga ketercukupan air untuk minum tidak akan menjadi kendala.

Dengan demikian, maka kantin sekolah hanya akan melayani anak-anak satu waktu saja. Tidak seperti selama ini. Kapan saja anak mau, kantin siap melayani. Tidak hanya makanan kecil tetapi juga makanan berat. Juga minum. Berbagai jenis.minum disediakan kantin. Sehingga anak-anak tidak dapat mengatur pola jenis makan makanan mereka. Implikasi dari model kantin sebagaimana yang banyak terdapat di sekolah Indonesia sekarang ini adalah anak-anak yang tidak memiliki visi hidup sehat mulai sejak mereka mengkonsumsi makanan dan minuman.

Lalu bagaimana merealisasikan model kantin yang selama ini sudah berlangsung di sekolah-sekolah internasional tersebut? Tentunya saya harus memberikan testimonial terhadap bentuk kantin seperti yang akan saya sampaikan itu. 

Dan bila perlu, saya harus janjian dengan teman-teman yang sekarang masih berada di sekolah dengan model kantin 'sehat' itu, untuk meminta waktunya agar kami dapat mengunjungi mereka, khususnya kepada bentuk kantin yang diinginkan serta model pengelolaannya.

Lalu apa implikasi jika.saya mengajak teman untuk mengadopsi model kantin seperti itu?  Tidak lain adalah mengalokasikan area sekolah yang lumayan luas guna digunakan sebagai area kantin. Karena kantin dengan model seperti itu harus mampu menampung siswa yang jam makan siangnya bersamaan. Memang masih dimungkinkan anak-anak menuliskan pesanan makanan saat istirahat pagi. Dan pesanan tersebut dapat dikirim oleh petugas kantin sebelum istirahat siang. Model pesanan ini akan mengurangi kunjungan siswa ke kantin, yang berarti mengurangi beban kepadatan kantin disaat istirahat makan siang.

Mungkinkah? Semoga.

Jakarta, 10 Mei 2015.

07 Mei 2015

UN 2015 #2; Ujian Paling Lebay

Ujian Nasional untuk tingkat SMA dan sederajat telah berlalu,  sementara Ujian Nasional untuk tingkat SMP dan sederajat hari ini, 7 Mei 2015 adalah hari terakhir pelaksanaan ujian. Sedang untuk tingkat Sekolah Dasar dan sederajat yang bernama Ujian Sekolah/Madrasah Berstandar Daerah baru akan berjalan nanti mulai hari Senin, 18 Mei 2015.  Pelaksanaan ujian SD di wilayah DKI Jakarta akan bersambung ke US atau Ujian Sekolah untuk mata pelajaran yang tidak diujikan di USB/MD.

Yang Lebay

Ini meminjam istilah gaul anak sekarang. Lebay karena, untuk ujian tingkat SMA dan SMP sederajat, pelaksanaan Ujian Nasional normal saja pelaksanaan. Paling tidak dalam segi pengawasan. Dimana hanya pada saat pelaksanaan Ujian Nasional saja pengawas ujiannya silang. Satu sekolah akan kedatangan dua pengawas ujian untuk satu ruang ujian yang berasal dari luar sekolah. Sementara ketika Ujian Sekolah, yaitu ujian yang diselenggarakan oleh sekolah, maka tidak ada pengawas ujian dari sekolah lain. Semua berlangsung secara internal sekolah.

Lalu bagaimana dengan pelaksanaan ujian di tingkat Sekolah Dasar di Daerah Jakarta? Inilah yang lebay. Model silang pengawas untuk tingkat SD berlangsung tidak saja di saat pelaksanaan Ujian Sekolah/Madrasah Bersrtandar Daerah saja, tetapi [ada saat try out atau TO, sekolah sudah diwajibkan untuk melakukan pengawasan silang.

Saya, ketika membuat catatan ini, tidak memahami apa motivasi dibalik pelaksanaan USB/MD dengan model yang demikian. Tetapi sebagai guru saya ingin menyampaikan bahwa apa yang telah dilakukan itu sesungguhnya karena kita sedang terjangkit penyakit 'seolah-olah'. Karena dengan maksud ujian adalah tahapan akhir anak bersekolah maka ujian harus dibuat angker. Meski baru ada di tingkat SD. 

Seolah-oleh SD adalah jenjang pendidikan yang menjadi kawah candradimuka...

Jakarta, 7 Mei 2015

UN 2015 #1; Terlambat Masuk Ujian

Apa yang dapat kita katakan sebagai guru di sekolah ketika melihat peserta didik kita yang datang terlambat ke sekolah pada saat UN ketika teman-temannya sedang menuliskan nama dan nomor ujian di kertas jawaban ujian? Tentu beragam. Ada yang sabar, ada yang langsung memberondong dengan pertanyaan dan pernyataan yang miring dan pasti ada nada kesal. Dan itu semua, dalam situasi senyap sebagaimana saat pelaksanaan UN menjadi wajar. Paling tidak ini tanggapan saya terhadap realitas seperti itu. 

Prioritas

Paling tidak itulah yang menjadi kenyataan pada hari-hari UN yag berlangsung di sekolah di Indonesia sejak April lalu dan Mei sekarang ini. Sekolah dan orangtua sibuk bukan main dalam menyelenggarakan hajat besar pendidikan Indonesia, termasuk juga anak-anak yang akan menjalaninya. Dan itulah maka setia sekolah, setiap orangtua, dan peserta didiknya menjadikan hajat UN sebagai bagian prioritas dalam kalender kegiatan mereka. 

Apa bentuk prioritas tersebut? Tidak lain adalah menyediakan budget, waktu, perhatian, dan ikhtiar. Meski Pak Menteri mengingatkan bahwa hasil UN bukan menjadi prasyarat kelulusan seorang peserta didik. Namun UN tetap menjadi prioritas.

Sekolah akan mengerahkan daya upayanya untuk mempersiapkan peserta didiknya berhasil dalam UN dengan hasil yang baik-baiknya. Maka di tahun terakhir anak-anak di jenjang sekolah masing-masing akan sibuk mengatur jadwal bimbingan. Pun lembaga bimbingan belajar. Ada berbagai program untuk mempersiapkan diri lolos dan lulus UN dengan angka bagus di lembaga-lembaga semacam itu.

Orangtua dan anak juga setali tiga uang. Semua sepakat memaknai UN sebagai pintu gerbang sejarah perjalanan. Dan tidak heran jika daya dan dana tercurah kepada anak yang duduk di kelas terakhir di jenjang pendidikan mereka.

Saya sendiri di hari terakhir menjelang UN, wanti-wanti agar anak-anak mengatur dengan cermat irama hidup di saat menjelang UN ini. Jaga makanan, jaga pola istirahat, dan tentunya mengatur jadwal belajar. Ini tidak lain agar ketika hari H pelaksanaan UN anak pada kondisi sehat dan penuh konsentrasi.

Bagaimana dengan anak yang terlambat datang di ruang UN? Tidak lain karena masih ada beberapa orangtua yang kurang terlibat dalam mengatur irama anak. Ini karena dari kasus yang ada di sekolah saya, keterlambatan mereka lebih disebabkan oleh faktor terlambat berangkat dari rumah ke sekolah. Meski ada bumbu macet di jalan atau argumentasi yang lain.

Bagaimana jika anak yang terlambat adalah anak yang kalau dalam kurva normal kemampuan akademik di kelas berada di awal kurva? Kompetensi yang telah berhasil ia himpun di minggu, hari, atau bahkan jam sebelumnya pasti akan terhambat ketika ia harus tidak nyaman ketika pengawas UN memberinya lembar soal dan jawaban. Sementara teman di kelasnya sudah mulai mengerjakan soal-soal? Allahu a'lam bi shawab.

Jakarta, 7 Mei 2015.

06 Mei 2015

Sebelum Hari H pun, Sudah Tahu Hasilnya

"Saya benar-benar sudah dapat memprediksi bagaimana hasil dari pelaksanaan kegiatan itu sebelum kegiatan itu sendiri berjalan dan berakhir. Bahkan, sejak pembuatan rencana kegiatan di dalam Raker sekalipun, sudah tergambar hasil kegiatan itu akan seperti apa." Begitu komentar teman saya yang kepala sekolah tersebut dalam sebuah diskusi tentang paradigma transformasi pendidikan di lembaga sekolah.

Diskusi dilakukan oleh para manajemen pendidikan di sekolah-sekolah swasta yang sama-sama kami kenal sebelumnya. Diskusi yang dilakukan secara informal sesama kami. Saling curah gagasan yang kami miliki dan melihatnya dari persfektif kami, yang semoga berbeda. Karena kami memang menginginkan sebuah solusi bagi sekolah-sekolah kami yang menunjukkan trend penurunan jumlah siswa di dalam kelas. Itulah sehingga keluar dialog antara saya dengan salah satu Kepala Sekolah yang sedang dirundung galau.

"Dari mana Ibu dapat mengetahui hasil atau memprediksinya, bahkan sejak kegiatan itu masih berupa rencana?" Tanya saya ingin tahu. Bukankah rencana dibuat tidak untuk menghasilkan hasil kegiatan yang biasa-biasa saja?

"Dari semangat panitia ketika menuangkan gagasannya di dalam rencana kerjanya Pak." Jelas teman saya penuh keyakinan. Lalu dia menjelaskan bahwa setiap kepanitiaan yang dibuat di sekolahnya, hampir selalu membuat model kegiatan yang sama sebagaimana kegiatan yang telah berlangsung tahun lalu. Yang berbeda dari kegiatan tahun lalu hanyalah kepada lokasi kegiatan, waktu kegiatan, dan pastinya biaya kegiatan yang setiap tahun akan selalu naik dan membesar.

"Kalau demikian adanya, mengapa Ibu tidak mengajak mereka membuat kegiatan dengan format yang berbeda?" Tanya saya kepada Ibu Kepala Sekolah tersebut. Ingin tahu sejauh mana ia telah mengajak teman-temannya untuk berjalan menuju tangga transformasi.

"Tidak lagi mengajak Pak. Saya harus memerintahkan agar setiap kegiatan benar-benar berbeda antara kegiatan tahun sekarang dengan tahun lalu. Dan karena masih menggunakan semangat 'kenapa susah-susah', maka perintah saya itu saya monitor saya tungguin dan monitor." Jelas Ibu Kepala Sekolah. Saya tentunya salut dengan modelnya itu. Jarang sekali ada pimpinan sekolah yang detil sebagaimana yang Ibu itu lakukan.

Usaha itu ia lakukan karena melihat betapa lemahnya daya tanggap teman-temannya terhadap arus perubahan di luar lembaganya. Dan karena itulah beberapa guru yang tidak atau sulit untuk melakukan sesuatu yang berbeda dengan apa yang telah terjadi sebelumnya, ia harus menggunakan pola memandu sebagaimana yang dia lakukan. 

Saya bangga mendapatkan cerita heroik sebagaimana yang ia telah lakukan itu. Sungguh pelajaran berharga untuk saya. 

Jakarta, 6 Mei 2015.

05 Mei 2015

'Kenapa' Susah-Susah?

Ada penyakit di sebagian teman-teman guru yang untuk memudahkannya saya menamakannya sebagai penyakit 'kenapa susah-susah? Unik ya namanya? Ini untuk memudahkan saja. Jadi nama penyakit yang saya sebut tersebut sama dengan kata atau kalimat yang sering diucapkan oleh mereka yang mengidap penyakit tersebut. Jadi karena penyakitnya adalah 'kenapa' susah-susah? Karena memang kalimat itulah yang sering terlontar oleh si penderita. 

Penderita mengatakan ini sejak membuka rapat pertemuan pertama panitia kegiatan di sekolah, yaitu ketika pembahasan tentang mata kegiatan yang akan dilakukan.  Biasanya ini pada saat panitia membahas proposal kegiatan. Beberapa teman guru yang mempunya idialisme bagus tentunya akan tidak bisa tinggal diam, dalam arti hanya menerima proposal tahun lalu dengan hanya merubah lokasi kegiatannya. Kalimat  'kenapa susah-susah? Keluar begitu seorang ketua panitia menerima masukan dari peserta rapat.

Masukan itu tidak bisa dibilang jelek sebenarnya, tetapi memang membutuhkan ikhtiar berbeda dari panitia. Karena memang model kegiatannya akan berubah dari kegiatan tahun sebelumnya. Dan sebenarnya juga akan menjadi bagus ketika panitia mau sedikit berusaha bereksplorasi dan tidak berkutat kepada rutinitas.

Tetapi hanya dengan sebab ketidakinginan mencoba sesuatu yang berbeda, maka kontribusi bagus dalam perencanaan kegiatan yang berbeda dari apa yang selama ini dijalani. Anehnya, pengusul yang kemudian ditolak usulannya itu redup begitu saja tanpa mendapat topangan dari teman-teman lain yang sebenarnya juga menginginkan sesuatu yang berbeda.

Maka penyakit yang saya sebut sebagai penyakit 'kenapa susah-susah? itu tidak sekedar diidap oleh mereka yang berkutat kepada rutinitas kegiatan sebagaimana yang sudah-sudah saja, tetapi sudah menjadi bagian hidup dan budaya komunitas itu.

Dan perlu diingat bahwa penyakit 'kenapa susah-susah? akan menjadi semakin akut. Ia tidak akan sembuh meski pada akhirnya masyarakat tidak lagi menginginkan kegiatan yang sama seperti itu-itu saja di lembaga tersebut. Dan keakutan dari penyakit 'kenapa susah-susah? benar-benar akan merusak radar kepekaan dari komunitas di lembaga tersebut lenyap dan binasa.

Penyakit yang meski enteng disebutkan, tetapi berdampak membinasakan...

Jakarta, 30 April- 5 Mei 2015.

Melihat Anak SD Sempoyongan

Pagi ini, ketika jam masih juga belum menunjukkan pukul 06.00 pagi, saya sudah ada di jalan inspeksi Kali Ciliwung yang dekat dengan stasiun kereta api. Saya sengaja berdiri di sisi jalan untuk mencegat kendaraan yang bisa ditumpangi. Membelakangi deretan sepeda motor yang tertata rapi. 

Hari ini hari Selasa, hari kedua Ujian Nasional tingkat SMP untuk mata pelajaran Matematika. Saya harus segera sampai kantor. Namun karena situasi separuh jalanan yang sudah saya lalui tadi tidak begitu lancar, alhasil menjelang 15 menit ke pukul 06.00 saya masih harus menempuh separuh perjalanan berikutnya. 

Tapi saya bersyukur pagi itu berdiri di sisi jalan tersebut. Karena tidak berapa lama setelah saya berada di  sisi jalan yang tidak terlalu ramai lalu lalang kendaraan itu melintas bocah kecil dengan seragam merah putih. Kalau saya taksir mungkin duduk di kelas 2 atau 3 SD. Yang pagi itu menenteng tas sekolah di punggungnya, dengan kedua tangannya sibuk dengan tempe goreng yang dia konsumsi sembari jalan.

Dan ketika jarang tidak kurang 20 meter sebelum anak yang jalan kaki itu melewati dimana saya berada, nampak sepeda motor, bajaj, dan mobil yang akan mendahuluinya direpotkanya. Ini tidak lain karena dia berjalan tidak persis di pinggir jalan, justru pada detik dimana saya melihatnya, ia nampak sempoyongan mengarah ke tengah  jalanan. Tidak ayal lagi kendaraan tersebut berbarengan membunyikan klakson.

"Awas mobil!" Teriak saya kepada anak kecil yang tetap asyik mengunyah tempe goreng tepung tanpa sedikitpun ada rasa kaget atas suara saya yang sedikit melengking di pagi itu.

"Minggir kamu. Mobil ada di belakangmu!" Begitu kalimat yang keluar dari seorang laki-laki paruh baya yang selama saya berada di sisi jalan tersebut sedang mengelap motornya di pinggir jalan tidak jauh dari saya. Laki-laki itu sedikit berlari untuk meraih lengan si anak yang tetap tanpa ekspresi meski telah dikagetkan oleh bunyi klakson. Tetap mengunyah potongan tempe yang dibawanya.

"Biasa Pak, habis ngelem." Kata laki-laki paruh baya itu memberikan keterangan kepada saya yang tetap belum mendapat kendaraan yang saya tunggu.

"Dia dan semua keluarganya pada demen ngelem." Lanjutnya pria itu.

"Turunan emaknya juga."

Atas informasi tersebut, saya bengong. Hidup di zaman seperti yang saya alami pagi ini, luar biasa menegangkan...

Jakarta, 5.05.15