Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

27 Februari 2015

Percaya Pembisik

Untuk tidak menjadi salah dalam memberikan arti kepada judul tersebut, ada baiknya kalau saya membatasi makna dan lingkup dari pembisik dalam catatan saya ini. Bahwa pembisik dan bisikan-bisikannya, sebagaimana posisi saya yang berada di sekolah, maka  pembisik dan bisikannya adalah apa yang beredar di sekolah.

Oleh karenanya maka pembisik dan bisikannya merupakan aktivitas yang berada di lingkungan saya, yaitu sekolahan. Jadi berbeda sekali dengan pengertian selama ini tentang pembisik yang ada di lingkungan penyelengaraan kenegaraan. 

Bahwa dalam praktek operasional sekolah, sesungguhnya saya meminta banyak sekali masukan dan pendapat dari berbagai teman. Tidak saja dalam forum resmi, seperti rapat atau FGD, tetapi ada juga diantara teman yang menyampaikan informasi, masukan, atau pendapatnya diluar forum yang saya sebutkan. Dan juga tentang berbagai hal yang ada di lingkungan sekolah. Termasuk diantaranya adalah tentang kantin sekolah.

Bahwa ada teman yang berperan sebagai pemberi informasi  atau pembisik tersebut tidak semuanya linier antara tujuan yang diinginkan dengan apa yang disampaikan. Karena tidak semua apa yang diinginkan selalu tersirat dengan informasi apa yang disampaikan. Terlebih informasi yang disampaikan tidak dalam forum resmi. Mungkin ini yang dinamakan lobby di dunia politik. Dan pada titik inilah saya selalu memegang teguh untuk tidak mudah goyang dengan garis yang seharusnya saya berada.

Seperti tentang kantin sekolah itu. Bahwa kadang saya percaya dengan apa yang menjadi masukan. Tetapi selalu pijakan terbesarnya dalam membuat kesimpulan adalah rapat atau forum resmi.

Ini menjadi komitmen saya mengingat sayalah nanti yang harus memegang tanggungjawab atas kesimpulan yang saya ambil. Pembisik akan selalu berada pada posisi penonton. Jadi, saya tetap akan mendengarkan bisikan pembisik, namun keputusan dan kesimpulan tetap menjadi ranah saya.

Jakarta, 27 Februari 2015.

22 Februari 2015

Kantin Sekolah #6; Kontrak Baru

Satu pekan lalu, saya minta bantuan sekretaris sekolah untuk melihat dokumen kontrak kantin sekolah. Baik posisi durasi waktu yang ada di dalam kontrak, jenis makanan yang disajikan, penggunaan listrik selama operasional kantin, dan juga kelancaran pembayaran kontraknya. Dari dokumentasi yang ada, saya juga minta agar diteliti beberapa hal yang saya kemukakan itu. Ini tidak lain sebagai usaha kami dalam terus menerus melakukan pengawasan dan koordinasi dengan para pengelolanya.

Dengan informasi yang ada pada kami, itu sebagai modal dalam pertemuan dengan para pengelola itu di pekan berikutnya. Tentunya sebagai usaha agar kualitas dan kontrol kepada operasional mereka dapat terus kami lakukan. 

Selain informasi dari para pengelola kantin, kami juga menghimpun data dari internal sekolah. Baik dari para guru atau siswa, juga kepada para kepala sekolah.

Hasil pertemuan kami nanti dapat berupa perpanjangan kontrak dengan beberapa tambahan atau perbaikan lampiran yang dibutuhkan. Juga dapat menjadi bagian bagi kami untuk memberikan edukasi tentang kualitas makanan dan juga peningkatan kebersihan.

Memang harus kami akui bahwa sedikit sekali para pengelola kantin itu kami stop kelanjutan kontraknya. Kecuali kalau mereka  benar-benar telah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kontrak yang ada. Dan meski kami telah komunikasi dengan mereka tetapi tetap tidak ada perbaikan, maka hal itu menjadi poin bagi kami dalam mengambil kesimpulan. 

Namun, kontinyuitas kontrak bagi para pengelola kantin sekolah harus selalu menjadi konsen kami. Semoga.

Jakarta, 22.02.2015.

Up Grade Seluler

Entah bagaimana jalan pikiran peserta didik saya, yang sudah duduk di bangku kelas IX ini ketika melihat seluler saya di saat-saat menjelang jam pelajaran dimulai. Namun dari pernyataannya saya menjadi faham bagaimana cara dapat  'menikmati' orisinalitas kecerdasan di masa remajanya.

Bahkan sebelum dia,  pada usia yang sama, ada seorang remaja yang pada tahun ini sudah duduk di bangku kelas XI SMA,  memiliki komentar yang membuat saya kagum dan tercengang tentang alat komunikasi seluler saya.

Dan dari kedua komentar dari dua anak yang berbeda itu, saya menemukan benang merahnya, betapa mereka peduli dengan saya. Termasuk didalamnya peduli dengan apa yang ada pada saya. Dan itu adalah bagian lembaran hidup yang menjadi kesan bahagia bagi saya sebagai seorang guru. Pengalaman hidup yang tidak dapat ditukar dengan materi. 

Anak yang pertama, waktu itu ketika kami bertemu di halaman sekolah dan ketika saya sedang menemani mereka sebelum mereka dijemput oleh para orangtua atau drivernya, menyatakan bahwa usia hand phone saya sudah empat (4) tahun. 

"Tapi masih bagus Pak. Walau sekarang HP dengan jenis yang sama sudah ada seri yang terbarunya. Itu kan Bapak beli ketika saya masih duduk di kelas enam (6)." Katanya kala itu. Dan karena dikatakan dihadapan beberapa temannya, maka wajar jika ada temannya yang menyangsikan apa yang dikatakannya.

"Ah masak. Memang begitu Pak?" Kata temannya penuh ragu. Saya diam dan kembali memasukkan HP ke saku celananya setelah menyelesaikan panggilan dari teman kerja yang ada di lantai tiga.

Anak kedua, yang baru saja terjadi pada beberapa waktu lalu, adalah juga komentar orisinil yang menghibur.

"HPnya bagus Pak. Seperti HP yang dipakai ayah saya. Keren." Katanya. Juga didengar oleh beberapa teman yang sedang duduk disekitar kami. Saya tidak bereaksi sama sekali terhadap pernyataan yang sampaikan.

"Tapi sekarang sudah lahir lagi generasi 4nya Pak. Lebih optimal dari generasi 3, sebagaimana yang Bapak miliki itu. Di up grade saja Pak. Punya ayah saya juga akan di up grade." Tuturnya. Di up grade? Bayangan saya seperti perangkat komputer yang di up grade perangkat lunaknya.

"Jadi bisa di up grade ya?" Kata saya tidak mengerti dan faham dengan apa yang dimaksudkan.

"Bisa Pak. Jadi Bapak bawa saja HP generasi ke 3 Bapak ini ke toko dimana Bapak dulu beli. Lalu tukar tambah dengan yang baru. Yang generasi ke 4." Saya tentu saja batu ngerti apa yang dimaksudlan dengan up grade itu ketika kalimat terakhirnya selasai. Dan saya kagum dengan cara berguraunya itu. Dalam hati saya berkata; lucu...

Jakarta, 22.02.2015.

21 Februari 2015

Kantin #5; Uang Jajannya Besar

Masalah kantin yang berkaitan dengan anak-anak adalah uang jajan yang berlebih. Terlalu banyak untuk dihabiskan dalam kurun waktu satu hari. Dan ini memang bukan menjadi masalah disemua anak, tetapi akan ada dua atau tiga anak dalam setiap tahun pelajaran. Ini masalah kompleks yang juga selalu kurang menjadi pelajaran bagi, utamanya, orangtua siswa.

Kompleks, kerena tidak hanya menjadikan anak tersebut akan memiliki keinginan untuk menghabiskan uangnya di kantin dengan cara memakan apa yang hanya diinginkan tanpa mempertimbangkan kebutuhan asupan gizi bagi kebutuhan tubuhnya. Sehingga akan menimbulkan efek samping karena kelebihan gizi bagi pertumbuhan fisiknya. Tetapi juga akan menjadi masalah psikologis yang tidak kalah berbahayanya bila tidak ada dialog dan kontrol dari orangtua terhadap penggunaan uang jajannya tersebut. 

Belum lagi masalah sosial yang berupa rasa bangga diri bagi anak karena ia akan menjadi anak yang berbeda dibandingkan dengan anak lain di lingkungannya yang berawal dari uang jajannya yang berlebih dibanding yang lain. Dan ini juga akan melahirkan rasa iri di mata teman yang lemah psikisnya arena melihat ada temannya yang selalu kelebihan uang jajan.

Apa yang Terjadi?

Seperti apa yang saya alami sendiri suatu hari di kantin ketika bertugas menemani anak-anak di istirahat makan. 

"Pak Agus saya jajanin Pak. Bapak mau makan apa?" Kata seorang anak dengan memegang dompet. Didalamnya saya melihat sekilas lembaran uang seratusan ribu. "Iya Pak Agus. Mau saja Pak. Dia kan uang jajannya banyak. Dia juga sering kok bayarin kami makan di kantin." Celetuk teman anak tersebut kepada saya.

Saya menolak. Meski untuk minum sekalipun. Ini karena kebiasaan saya ketika sudah menyantap sesuatu, maka saya mencoba untuk berhenti. 

"Terimakasih. Maaf Pak Agus sudah makan sebelum kesini. Pak Agus ke kantin hanya ingin melihat bagaimana kalian berada di kantin." Jelas saya.

"Kalau begitu minum saja Pak." Katanya kepada saya. Anak itupun sudah bersiap dengan dompetnya yang ada di tangan kiri.

Dan diantara dialog saya dengan anak itu, saya berfikir tentang betapa mudahnya hidup yang anak itu sedang jalani. Dan justru pada titik inilah saya kawatir. Dialah anak yang baru ada di sekolah kami di semester dua. Semester pertamanya dijalani di sekolah lain. Dan karena alasan tidak betah, ia memilih sekolah kami.

Yang kedua, ternyata hasil akademis anak itu juga pas-pasan. Kelebihan dan kemudahan hidupnya jelas tidak berbanding lurus dengan daya juangnya untuk berprestasi disemua bidang di bangku sekolahnya. Justru, kelebihan dan kemudahannya menjadikan daya juang psikologisnya lemah dan rapuh serta sederhana.

"Saya kan sudah sukses Pak. Jadi tidak perlu berjuang keras." Ujarnya suatu kali ketika saya mengajaknya berdiskusi.

Saya tentunya takut dengan model anak muda seperti ini. Takut kalau insyafnya baru dia akan dapatkan ketika sumber utama kesuksesan keluarganya diambil Allah.

Jakarta, 21.02.2015.

15 Februari 2015

Kantin Sekolah #4; Piket di Kantin

Beberapa waktu lalu, kebetulan saat saya sedang tidak berada di lokasi sekolah, saya sempat mengirimkan pesan untuk teman-teman yang bertugas di SMP. Pesan yang saya kirim tersebut berkenaan dengan piket kantin yang dilakukan oleh guru. Tentunya pada saat kantin itu ramai dengan anak-anak. Yaitu pada saat waktu istirahat pagi atau istirahat makan siang.

Pesan singkat saya itu sebagai penguatan agar teman-teman tidak sampai melupakan kewajiban yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya itu. Ini tidak lain karena kantin adalah tempat berkumpulnya semua siswa saat mereka sarapan dan makan siang. Dan seperti juga pada saat anak-anak berkumpul, maka kantin dapat menjadi lokasi terjadinya bully atau perundungan.

Sebuah budaya yang benar-benar menjadi musuh kami, para guru di lembaga sekolah. Dan memang, kegiatan piket guru diwaktu istirahat sekolah itulah yang menjadi usaha preventif kami akan terjadinya periatiwa tersebut.

Maka untuk alasan itulah saya selalu akan mengingatkan teman-teman agar tidak lupa menemani anak-anak di kantin diwaktu istirahat.

Dan untuk memastikan keberadaan teman-teman yang menjalankan piketnya, saya sering menuju ke kantin di waktu istirahat tersebut. Tidak banyak yang saya lakukan disana. Hanya berkeliling menyapa anak-anak yang sedang antri beli makanan atau yang sedang duduk bergerombol dengan makanan favoritnya masing-masing, atau bahkan sekedar berdiri di pintu masuk kantin sembari menyapa anak-anak satu persatu.

Seperti itu saja yang kami lakukan dengan waktu piket itu. Namun hal sepele itu, harus benar-benar kami jalani dengan sepenuh hati. Karena kami meyakini bahwa perundungan hanya akan terjadi ketika anak-anak tersebut berkumpul tanpa adanya pengawasan dari kami. Semoga.

Jakarta, 15.02.2015.

Teman Lama #5; Semangatnya Silaturahim

Sebagaimana saya catatan sebelumnya yang berkenaan dengan teman-teman lama, maka ketika sebuah kegiatan akan dilakukan, dan saya sebagai pihak yang menjadi penghubung diantara mereka,  maka selain sibuk dengan tanggungan kantor juga adalah sibuk dalam menuliskan pesan singkat, up load undangan di lini masa yang teman-teman dapat akses. 

Dan terus terang saja. Dari sekian banyak teman lama yang saya punya data basenya, tidak bakalan semua itu saya hubungi atau sampaikan undangannya. Ini tidak lain karena dari pengalaman yang ada, tidak semua mereka memberikan atau mengorbankan waktu dan biaya transportasi untuk dapat hadir di acara yang kami rancang bersama.

Dari kegiatan satu ke kegiatan lainnya itu, akhirnya saya telah tahu benar siapa yang memang semngat silaturahimnya tinggi, sehingga kehadirannya nyaris sempurna di setiap kegiatan yang ada, atau siapa yang hanya hadir ketika acara benar-benar di kompleks yang berdekatan dengan tempat tinggalnya.

Maka hanya kepada mereka yang rajin dan komitmen saja itulah saya akan kirimkan undangan, SMS, BBM, WA, atau melalui Line. Kepada mereka yang hanya datang dan memenuhi undangan kami sesekali, tidak bakalan menerima kabar adanya kegiatan pertemuan kami. 

"Saya akan usahakan hadir Gus. Meski hanya berkendaraan sepeda motor kemana-mana. Dan saya tidak akan merasa minder untuk bertemu teman yang secara materi benar-benar jauh dari saya. Mengapa Gus? Karena semangat saya adalah menjaga hubungan dan persahabatan. Semangat saya adalah silaturahim." Demikian salah seorang teman lama berargumentasi atas komitmennya untuk terus memenuhi undangan pertemuan kapada saya.

saat itu saya tidak memberikan jawaban langsung. Namun saya pikir, landasan semangatnya untuk bersahabat memang pada koordinat yang benar. Dan saya setuju itu. 

Jakarta, 15.02.20.15.

Teman Lama #4; Belajar dari Teman

Catatan saya tentang teman lama ini berkisar kepada aktivitas saya dengan teman-teman yang pernah berada di sebuah lembaga pendidikan yang sekarang tidak lagi eksis, yaitu SPG. Sekolah Pendidikan Guru. 

Betul, memang kami semua yang tergabung dalam pertemanan ini lebih karena terikat oleh kesamaan lembaga pendidikan yang kami tempuh. Maka sebagian besar kami yang berkumpul, bersahabat, dan jalan-jalan adalah guru. Walaupun tidak semua kami adalah guru. Ada pula yang menjadi pengusaha, tentara, dan bahkan kontraktor. Itu karena tidak semua dari kami yang ketika lulus sekolah guru kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Keguruan.

Dan itulah kenyataan yang kami alami. Ketika sama-sama merantau di Jakarta, ada diantara kami yang begitu solid bertemu untuk melanjutkan persahabatan.

Ada banyak sekali ide agar silaturahim diantara kami dapat lebih erat lagi selain berkomunikasi dengan  menggunakan jejaring sosial, seperti fb, maillist, BB, atau Line, tetapi tetap saja pola komunikasi itu dirasa kurang. Maka.muncullah pertemuan dua bulanan dengan model berkeling ke rumah masing-masing kami secara bergantian. Dan yang terakhir adalah pergi jalan-jalan.

Dan apa sesungguhnya yang kami bisa peroleh dari aktivitas bersama teman lama ini? Bagi saya, mengenal teman lama secara lebih dekat tersebut, setidaknya buat saya, adalah belajar tentang aneka ragam hidup dan cara pandang menjalaninya. Dari teman yang berkecukupan saya belajar bagaimana ringannya tangan mereka untuk sebuah kendala terselesaikan. Juga kepada mereka yang sering mengeluh akan tugas dan kewajibannya serta bagaimana teman yang lain dengan begitu ikhlas memberikannya jendela kemungkinan sehingga teman itu dapat mengintip betapa banyak ia sesungguhnya dapat bersikap secara positif. Dan lain sebagainya. 

Itu mungkin diantara pelajaran yang saya ambil dari sebuah persahabatan dengan teman sekolah.

Jakarta, 15.02.2015.

Teman Lama #3; Iri pada 'Kemajuannya'

Usianya memang masih ada di bawah saya. Dan kami pernah dipertemukan dalam sebuah wadah nir laba, yang dulu berlokasi di Jalan Nangka, Jakarta Selatan. Memang tidak rutin kami bertemu dan bertukar pikiran. Hanya beberapa kali dalam satu bulan, dan itupun diwaktu sebelum waktu Magrib tiba hingga sebelum pukul 21.00. Tetapi ada banyak momen yang akhirnya saya dapat lebih banyak bercengkerama, yang membuat kami lebih tahu tentang masing-masing secara lebih mendalam.

Alhamdulillah, bahwa perkenalan itu membuat kami dapat saling menerima dan berbagi pengalaman dan pemikiran seputar pengembangan lembaga pendidikan. Termasuk di dalamnya pengembangan SDM, yang kalau di sekolah sebagian besarnya adalah Guru.

Mungkin di awal pertemanan kami, pada saat bertemu di Jalan Cikini, Jakarta Pusat, seputar tahun 2000an, teman saya ini banyak menerima dari apa yang saya sampaikan di sebuah forum diskusi. Hingga beberapa presentasi saya dibuatnya sebagai referensi. Dan kami memang saling mengikhlaskan apa yang dapat kami beri.

Namun terbalik ketika sepuluh tahun kemudian kami bertemu dan bertukar pikiran di dunia maya. Karena ia justru memiliki lebih banyak sesuatu yang dapat saya jadikan referensi. Dan pada titik semangat perubahan dirinya itulah saya iri.

Bahwa durasi sepuluh tahun adalah masa yang tidak terlalu panjang dan juga tidak dapat dibilang pendek bagi teman saya untuk make over daya saing dirinya. Masa sepuluh tahunnya itu telah dia isi dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh dan konsisten.

Dan harus saya garis bawahi bahwa rasa iri saya kepada teman itu pada ranah posisi atau materi, tetapi lebih kepada daya saing dirinya. Sebagai orang dengan status pegawai swasta, teman saya itu seperti orang merdeka untuk memilih dimana dan seperti apa amanah yang ia akan terima dari sekian banyak peluang yang ada. 

Jakarta, 15.02.2015.

14 Februari 2015

Teman Lama #2; Bertanya Posisi

Banyak kenangan yang saya alami ketika masa bersama di sebuah lembaga pendidikan masa itu. Sebelas tahun adalah bukan masa yang terlalu pendek untuk sebuah perjalanan karier. Bahkan bukan saja yang berkait dengan profesi yang sama-sama kami jalani, tetapi juga perkembangan cara berfikir tentang transendental. 

Dan kala itu, saya dan kami yang pernah beriringan bersama, merasa dekat justru karena cara fikir dan tindakan kami terasa bersama. Karena itu jugalah maka kami merasa dekat satu sama lainnya. 

Dan sesungguhnya, cara pandang transendental kami hingga sekarang tetap pada koordinat yang relatif tidak berubah jauh hingga kini. Meski diantara kami telah melalui perjalanan dan mengalami peristiwa yang berbeda dan tidak serupa. Tetapi prinsip dasar berfikir kami relatif sama.

Namun demikian, karena respon yang berbeda-beda dari kami kepada apa yang kami lalui sepanjang perjalanan jauh sejak kami tidak dalam satu lembaga lagi dalam menunaikan profesi kegurian kami, maka diujung hari ini, kami telah berada pada domain yang tidak lagi sama. Ada diantara kami yang tetap pada posisinya ketika kami berpisah hampir 20 tahun lalu. Dan ada pula yang selama itu ia telah berevolusi begitu progresif.

Seperti dalam catatan perjalanan Teman Lama saya terdahulu, bahwa apa yang didapat teman-teman saya hari ini, sekarang ini, adalah wujud dari ikhtiar mereka yang istiqomah dan terus - menerus yang penuh kesungguhan. Artinya, teman saya yang di hari ini tetap berada pada titik yang sama ketika kami berpisah 20 tahun lalu, adalah juga hasil dari ikhtiar yang istiqomah dia lakukan secara spartan.

Anehnya, pada saat bertemu setelah berpisah 20 tahun dengan saya, teman saya itu bertanya; "Kapan saya dapat posisi Kepala Sekolah?"

Pertanyaan wajar dan amat sangat lumrah bika itu keluar dari teman dengan semangat berevolusi yang penuh komitmen. Tetapi justru menjadi pertanyaan yang penuh gurau kalau itu datang dari teman lama saya yang tetap melakukan cara-cara mengajar dan mendidik peserta didiknya persis seperti ketika kami berada di lembaga yang sama di 20 tahun lebih yang lalu?

Jakarta, 14.02.2015

04 Februari 2015

Teman Lama #1; Perjalanan Ikhtiar yang Istiqomah

Pasti sesuatu yang menggembirakan dan membahagiakan bisa bertemu dengan teman-teman lama. Apakah itu teman sekolah, teman ketika bersama di saat susah, atau juga teman kerja di kantor yang dulu kita juga berada bersamanya. Kita dapat bercerita tentang bagaimana melalui  masa-masa saat bersama. Kadang cerita-cerita itu diimbuhi dengan ilustrasi yang disaat kejadian dulu tidak terlukiskan. Dan pasti, menyenangkan.

Tetapi selalu akan hadir dua sisi ketika pertemuan berakhir dan ketika kenangan pertemuan itu kembali membayang. Dua sisi itu adalah sisi yang membuat saya menjadi kagum, bangga, dan bersemangat untuk menyimak usaha dan kisahnya lebih lanjut. Itu karena tidak lain teman lama itu begitu berbeda dengan sosok yang selama kami bersama dulu. Teman itu begitu melejit dalam mengemban tugas-tugas kehidupannya.

Usaha dan atau posisinya di kantor begitu membanggakan karena begitu berprestasinya. Semua jalan begitu lebar untuk ia melangkah. Dan ketika pada posisinya itu, teman tersebut masih begitu polos dan tulus bersama kami. Termasuk, misalnya, ikhtiarnya menyelesaikan jenjang pendidikan yang ada, dan berhasil pula sebagai anutan bagi orang-orang yang berprestasi.

Bekerja begitu bersemangat dan penuh komitmen. Menghabiskan waktu di luar kerjanya dengan bersama dengan rumah, pasangan hidupnya, dan istri. Begitu menikmati setia centi bagian rumah tinggalnya. Sebuah jejak hidup yang juga diikuti oleh anak keturunannya. Jujur, sederhana, dan tidak kuper.

Dan sebaliknya, pada sisi yang berbalik, ada pula teman yang tetap saja sebagaimana dulu ketika kami bersama. bahasa dalam pertemuannya adalah kalimat kekecewaan akan tidak adilnya sistem yang tidak memihaknya. Sebagaimana pertemuan terakhir saya dengan teman itu. Yang langsung membombardir saya dengan kisah sedihnya bersama dengan ibu Mertua di rumah. Hampir-hampir tidak ada sisi baik yang dapat saya peroleh dari teman seperti itu etika kami meninggalkan tempat acara pertemuan.

Hingga terbersit gagasan dalam  pikiran saya bahwa, apa yang telah ia perolehnya pada hari dimana ia bercerita kepada saya, adalah merupakan hasil dari apa yang telah ia rencana dan kerjakan pada saat-saat sebelumnya.

Namun demikian, bertemu teman lama yang berada pada sisi berlawanan itu, tetap memberikan bekas kepada saya bahwa menjalani hidup tidak lain adalah bergerak dengan rencana dan ikhtiar yang istikomah, terus menerus, dan menanjak. Karena semua pergerakan itu akan menghasilkan akibat.

Jakarta, 4 Februari 2015.