Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

26 Juli 2010

Komitmen pada Tujuan


Saya memaknainya sebagai sikap atau perilaku untuk berbuat dan berlaku selalu konsisten dan persisten dalam memegang teguh sebuah garis perjuangan. Dan jika komitmen itu menyangkut diri saya sendiri untuk menunaikan tugas yang menjadi amanah, maka perilaku konsisten dan persisten itu akan menjadi garis perjuangan saya dalam setiap ikhtiar dalam menunaikan amanah yang diberikan. Dan masalah komitmen inilah yang sedang menjadi masalah dalam idiologi perjuangan saya dalam mengemban amanah. Berat sekali. Dan karenanya, saya bermohon kepada Allah untuk petunjuk pada jalan keluar yang bermartabat.

Saya membayangkan jikalau kita ada dalam sebuah wadah, dimana wadah tersebut adalah bagian dari wadah yang lebih besar, dan karena besarnya wadah tersebut maka disepakatilah adanya standarisasi kode etika, maka seluruh isi dari wadah-wadah kecil yang antara lain ada saya didalamnya harus tunduk dan menjadikan standar etika sebagai panduan berperilaku soleh. Baik soleh dunia maupun soleh akherat.

Namun masih pantaskan saya ikut terlibat dan menjadi bagian dari individu dalam wadah yang kecil itu bilamana anggota wadah kecil itu tidak menjadikan panduan etika yang disepakati menjadi panduan dalam berperilaku dan berjuang dalam menunaikan amanah? Dan disinilah saya sedang berjuang untuk menemukan solusi dari perkara yang saya hadapi.

Anehnya, individu yang tidak patuh etika masih juga memberikan justifikasi atas pejuang lainnya yang sama-sama memberikan pencerahan kepada anggota masyarakat lainnya. Dan justifikasi ini bukan pada sisi positif yang berupa dukungan, tetapi justru kebalikannya, merugikan dan menjurus pada mendiskreditkan. Pada titik inilah, kadar komitmen diuji. Di Uji untuk tetap dalam wadah yang sama atau membelot keluar dari wadah?

Keluar dari wadah adalah solusi yang baik dalam tataran sosial. Namun dalam tataran individu, saya sedang benar-benar bermohon kepada Allah atas solusi yang terbaik. Karena hanya Allah-lah Maha dari semua yang Maha di alam semesta ini. Ia-lah seru sekalian alam. Maha mengatahui dari apa yang kita semua tidak mampu ketahui. Yang memasukkan malam ke dalam siang, dan memasukkan siang ke dalam malam.

Dan hingga titik yang saya sedang tunggu itu ada, maka melihat kedalam diri sendiri untuk merenungi kadar komitmen pada tujuan yang sebelumnya berkobar itu, adalah sebuah koreksi total kepada penemuan Ridho Allah.

Dan untuk tidak terlalu lama lagi, saya harus memiliki garis pemisah antara membela wadah yang telah ditumbuhi cendawan atau pada tujuan awal yang akan membawa keberkahan dan ridho Allah. Dan hanya kepada yang Maha saya kembali bermohon untuk meneguhkan komitmen saya kepada menuju keberkahan-Nya. Semoga. Amin.

Jakarta, 26 Juli 2010.

25 Juli 2010

Batu Akik, Refleksi Keindahan


Apa yang dapat saya tulis dalam artikel tentang batu akik? Saya coba merenungkan. Tidak ada. Kecuali tentang bagaimana saya menjadi senang dengan batu alam ini.

Karena tentang batu ini, meski saya mulai menyukainya sejak bekerja di Bintaro Tangerang, Banten tahun 1997-an, namun pengetahuan tentangnya tidak beranjak menjadi lebih baik meski satu senti meter sekalipun.

Saya merasakan adanya hambatan untuk berkenalan dengan makhluk Allah ini. Dan pada tahun 2010 ini, keinginan untuk berkenalan lebih dalam dan akrab saya sedang coba jalani. Tapi jangan tanyakan kepada saya bagaimana saya cintanya pada batu ini.

Maka dari sisi kecintaan itulah saya mencoba membuat refleksi ini. Juga dari sisi ini pulalah saya berusaha untuk berkenalan dan bersahabat lebih akrab lagi. Tentu melalui apa yang telah dimiliki oleh teman dan sahabat yang ada disekitar saya. Tak lupa juga dari informasi yang tersebar di dunia maya. Semua saya kunyah dan dan telan sebagai bagian dari tahapan saya belajar.

Batu sebagai Pengikat Kenangan

Inilah yang sering menjadi motivasi saya mengapa saya harus membeli batu ketika menemukan pedagang menjajakan batu akik. Maka tidak terlalu salah jika batu yang saya beli ditempat itu adalah pengikat kenangan saya terhadap lokasi yang pernah saya nikmati. Keindahan, keramahan, keakraban lokasi tersebut sangat jelas tergambar dalam bentuk kenangan yang telah mampu saya ikat dalam bongkahan mungil batu. Bahkan sekali waktu, bukan dari penjaja batu itu saya dapat, tetapi juga di trotoar jalan yang saya lalui.

Jangan anggap saya membelinya dalam jumlah dan ukuran yang besar. Karena semua anggapan itu keliru. Karena atas dasar kemampuan, maka saya memperolehnya dalam ukuran yang mungil. Tapi dari yang mungil inilah saya mencoba memaknainya lebih besar.

Mungkin ada lima atau enam buah dari batu yang saya punya, yang boleh dikatakan sebagai mahal. Ini pun bukan karena jenis dan kualitas dari batu tersebut. Tetapi justru dari mana dan bagaimana batu itu saya dapat. Meski untuk memperolehnya, saya telah diberikan subsidi yang luar biasa besar. Subsidi dalam bentuk kesempatan saya mengunjungi festival itu di Hundorf, SA, tahun 1999 yang lalu.

Purnabakti

Batu juga menjadi bagian penting bagi saya untuk menjadi target yang harus saya kuasai. Entah akan seperti apa nantinya pengetahuan saya tentang batui. Namun tekad itu menjadi semakin kokoh manakala melihat dan mengingat bagaimana kawan dan sahabat saya yang menjadi kebingungan ketika masa purnabakti datang.

Oleh karenanya, batu mungkin akan menjadi salah satu bagian yang nantinya menjadi sahabat saya agar saya tidak menyalahkan siapa dan apa saja yang ada di sekitar saya pada masa purnabakti itu. Semoga. Amin.

Jakarta, 25 Juli 2010

21 Juli 2010

Refleksi; PPDB SMA Negeri Jakarta 2010

Inilah kisah tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk tingkat SMA Negeri dan sederajat di provinsi DKI Jakarta 2010. Sebuah kisah tentang reputasi pejabat di dunia pendidikan yang mengurusi sekolah setingkat SMA di wilayah DKI Jakarta 2010. Sebuah kisah yang bagi kami, calon orangtua peserta didik baru tahun pelajaran 2010/2011 yang mendaftarkan putra-putrinya melalui jalur on line, sangat menyebalkan!

Dan selain menyebalkan, proses PPDB SMA Negeri yang semula dimulai pada tanggal 1-3 Juli 2010 tersebut memunculkan tanda tanya sangat besar. Tanda tanya yang lahir dari sangka buruk kita terhadap ketidakberesan proses tersebut.

Dalam Editorialnya, Koran Tempo mengatakan bahwa kerusakan server sebagai penyebab utama dari amburadulnya penyelenggaraan PPDB SMA Negeri DKI Jakarta tahun 2010, seperti yang dikemukakan oleh Kepala Dinas Pendidikan Tinggi DKI Jakarta, Pak Taufik Yudi, disinyalir hanya sebagai usaha dalam menutupi masalah keamburadulan tersebut. Dimungkinkan adanya masalah yang lebih besar dari apa yang disampaikan kepada kalayak tersebut. Masalah apa yang dimaksud? "Tapi alasan ini layak disangsikan karena sebenarnya tak butuh waktu lama untuk mengatasi masalah kelebihan beban. Menambah bendwidth, misalnya, hanya membutuhkan waktu beberapa jam. Problem trafific data yang terlalu padat juga tak sulit diatasi."(Tempo, Selasa, 6 Juli 2010).

Saya, sebagai bagian dari masyarakat yang berkepentingan langsung dengan PPDB SMA Negeri DKI Jakarta tahun ini sehubungan salah satu anak saya yang akan masuk kelas X, berkenaan dengan karut marut ini berpendapat sebagai berikut: Pertama; Tidak visioner. Kedua; Tidak prediktif. Ketiga; Tidak komunikatif. Dalam konteks ini, saya mengesampingkan adanya beberapa bagian masyarakat yang mencium bau di sekitar 'penghematan anggaran'.

Tidak Visioner

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa alasan dropnya situs PPDB tahun ini antara lain adalah karena kerusakan server. Mengingat dalam waktu yang bersamaan situs tersebut akan diakses oleh ribuan masyarakat secara bersamaan. Logika saya, bukankah kenyataan itu adalah sesuatu yang memang seharusnya terjadi? Apakah panitia tidak sampai pada pemikiran bahwa akan banyak orang yang berkepentigan situs ini? Dan kalau sampai pada pemikiran itu, bukankah memang seharusnya kapasitas tersebut perlu menjadi pertimbangan uatamanya selain faktor yang lain?

Pada sisi ini, para pemangku yang berkepentingan dengan PPDB DKI Jakarta mestinya sampai pada kesimpulan seberapa besar dan seperti apa situs dan server tersebut harus didisain. Inilah yang saya anggap tidak visioner. Tidak mampu melihat akan seperti apa yang bakalan terjadi. Karena para pemangku itu pasti sudah mendapat seberapa banyak lulusan SMP di DKI Jakarta atau juga luar wilayah Jakarta yang berpotenti akan mendaftarkan diri untuk masuk ke sekolah jenjang SMA Negeri di Jakarta secara on line(?).

Tapi benarkah pada sisi ini para pemangku tersebut tidak sampai akalnya sehingga membuat keputusan yang mengakibatkan bahwa situs PPDB tersebut gagal diakses sepanjang tanggal 1-5 Juli 2010 tersebut? Yang tahu pasti duduk persoalannya hanyalah para pemangku inti PPDB SMA Negeri Jakarta tahun ini dan Tuhan Yang Maha Esa.


Tidak Prediktif

Dan karena bekerja dengan tidak bervisi, maka implikasi logisnya tidak berpikir prediktif. Tidak berpikir apa yang akan terjadi. Tidak mencoba memprediksi secara operasional terhadap strategi dan piranti teknologi yang telah dipilihnya. Dan langkah penting dari konsep berpikir prediktif ini adalah bersimulasi. Pernahkan uji coba internal dilakukan?

Kedua kali saya ingin bertanya: Benarkah pada sisi ini para pemangku tersebut tidak sampai akalnya sehingga membuat keputusan yang mengakibatkan bahwa situs PPDB tersebut gagal diakses sepanjang tanggal 1-5 Juli 2010 tersebut? Yang tahu pasti duduk persoalannya hanyalah para pemangku inti PPDB SMA Negeri Jakarta tahun ini dan Tuhan Yang Maha Esa.


Tidak Komunikatif

Saya tidak tahu, pada karut marut pelaksanaan PPDB SMA Negeri DKI Jakarta tahun ini siapakah yang menjadi korban atau yang dikorbankan. Korbannya pasti masyarakat yang mendaftarkan diri. Karena mereka harus dengan sengaja meluangkan waktu. dan iatu harus terjadi lebih dari satu hari.

Saya yakin, bahwa para panitia di sekolah juga akan mengaku sebagai korban. Tetapi dengan logika saya yang standar ini, saya berpendapat bahwa bukankah mereka menjadi sebuah sistem yang bernama PPDB SMA Negeri DKI Jakarta yang memang melayani masyarakat yang menginginkan masuk melalui jalur On Line?

Dan ketika mereka adalah satu tubuh, tampak sekali kebingungan ketika kita bertanya sesuatu atas ketidakberesan tersebut di panitia tingkat sekolah. Mereka selalu menjawab bahwa server rusak. Sempat satu dari kami nyeletuk; Server belinya harus pesan? Ini memang logika kami masyarakat yang berlatarbelakang beragam dan awan tentang IT.

Dan untuk ketiga kalinya saya bertanya: Benarkah pada sisi ini para pemangku tersebut tidak sampai akalnya sehingga membuat keputusan yang mengakibatkan bahwa situs PPDB tersebut gagal diakses sepanjang tanggal 1-5 Juli 2010 tersebut? Yang tahu pasti duduk persoalannya hanyalah para pemangku inti PPDB SMA Negeri Jakarta tahun ini dan Tuhan Yang Maha Esa.

Kami bersyukur bahwa akhirnya panitia memiliki keputusan baik dan bijaksana untuk keluar dari kemelut server rusak itu. Yaitu mengulang secara keseluruhan proses PPDB itu dari awal. Dan untuk itulah saya salut bahwa ahirnya PPDB ini masih menggunakan IT sebagai strateginya. Dan itu transparansi yang saya dan kami inginkan. Karena saya tidak tertarik untuk menggunakan cara selain egaliter dalam mengantarkan putra-putri saya hidup di negeri tercinta ini dengan dasar JUJUR!

Jakarta, 5-21 Juli 2010.

20 Juli 2010

Don't Jugde Book by It's Cover


Jangan terlalu mudah memberikan penilaian terhadap sesuatu. Mungkin itulah penjelasan dari judul saya ini. Karena penilaian yang terlalu dini tanpa terlebih dahulu kita memahami esensinya, merupakan tindakan kontra produktif. Selain penilaian kita yang tidak menyentuh kebenaran yang ada dalam benak kita, juga justru akan menambah ketidakbaikan bagi reputasi kita sendiri. Atau bahkan akan merusak reputasi kita.

Dalam hal tidak atau jangan terburu-buru ini, saya teringat sebuah konsep merespon situasi, termasuk di dalamnya juga menilai, yang kami adopsi menjadi strategi pemecahan masalah, yang kami muat dalam Buku Pegangan Guru sekolah kami. Konsep itu adalah Stop, Look, Listen and Respond. Dengan memuat empat tahapan atau empat langkah saat kita menghadapi situasi yang membutuhkan respon adalah agar kami semua dapat terpandu untuk menjadi hati-hati ketika menghadapi situasi yang membutuhkan respon. Jangan sampai respon dan penilaian yang kita berikan justru bersifat responsif dan tidak efektif.

Oleh karenanya kita perlu berhenti sejenak untuk mengajukan pertanyaan sebagai pendalaman dalam melakukan pengumpulan informasi, menganalisanya, dan secara jernih membuat alternatif-alternatif solusi atau kesimpulan.

Namun sering kita terlanjur melihat apa yang muncul di permukaan sebagai suatu sumbernya. Padahal tidak mungkin setiap yang muncul dipermukaan dapat secara jitu memberikan gambaran mengenai sebab dan sumbernya. Dan karena tidak selalu tepat, maka penilaian kita menjadi terpuruk. Dari sinilah lahir cara melihat sesuatu secara bijak. Cara bijak adalah jalan bagi penilai yang bijaksana. Untuk mencapai pada tataran 'cara bijak' inilah, menurut saya, diperlukan satu, dua atau mungkin tiga tahap pendalaman infomasi sebelum respon atau nilai diputuskan.
Sebagai contoh adalah peristiwa yang sering saya alami pada saat berkendara. Mungkin karena kendaraan saya yang bongsor, sehingga menutupi pandangan kendaran yang lebih kecil yang berada di belakang saya persis. Pengendara menjadi tertutup dan terhalang sehingga tidak memungkinkan baginya melihat apa yang berada di depan kendaraan yang sedang saya kendarai sehingga sedikit menghambat lajunya kendaraan saya. Kelambatan inilah akhirnya yang membuat pengendara di belakag saya ini menyalakan lampu dan bahkan klakson berkali-kali.

Kenyataan ini tentu tidak membuat saya menjadi panik, tetapi bila kondisi telah jalan telah memungkinkan, maka laju kendaraan saya akan kembali normal. Atau bisa juga saya memberikan peluang kepada pengendara di belakang untuk segera mendahului. Saya tentu tidak tahu setelah dia mampu mendahului saya sehingga tahu juga apa yang menjadi penghalang laju kendaraan saya kemudian pengendara itu menjadi faham tentang kondisi laju kendaraan saya atau tidak. Tetapi itulah yang terjadi pada diri saya sendiri saat peristiwa semacam itu ada pada diri saya sendiri.

Dan pada saat seperti itu, saya akan menjadi malu. Malu kepada tindakan saya yang telah meminta agar kendaraan yang ada di depan melaju sesuai apa yang saya inginkan. Malu karena saya telah salah menduga bahwa kendaraan di depan saya dikendarai oleh orang yang baru bisa bekendara. Dan seterusnya.

Dari peristiwa seperti itulah, saya belajar bagaimana untuk mampu menahan diri menjatuhkan penilaian terhadap apapun yang informasinya masih tunggal. Saya belajar untuk bersabar dan belajar untuk melakukan elaborasi informasi, yang dari padanya saya akan diberikan kemampuan untuk melihat sebuah perkara secara lebih jelas, terang dan holistik.


Jakarta, 18-21 Juli 2010

18 Juli 2010

Rumah Tawon


Saya menemukan rumah tawon yang diletakan di halaman belakang sekolah kami. Rumah tawon itu menarik perhatian saya bukan karena besarnya saja, tetapi karena ini kali kedua di wilayah sekolah kami ada tawon yag berani membuat sarang hingga lebih kurang sebesar buah durian Petruk. Durian kas yang selalu saya temukan sekitar bulan Agustus di Pasar Baledono, Purworejo.

Rumah tawon ini sudah ditinggalkan seluruh penghuninya. Dan seoertinya mereka telah pergi jauh hari sebelum para tukang cat harus menggusurnya di saat liburan akhir tahun pelajaran 2009/2010 yang lalu. Di temukan persis di atap menara Masjid sekolah kami yang menjulang tinggi di belakang sekolah.

Rumah tawon yang pertama dulu kami temukan juga di daerah belakang sekolah. direrimbunan pohon. Dan karena masih berpenghuni lengkap, saat itu kami memutuskan untuk mengusir para penghuni secara keseluruhan menjelang malam datang. Hal ini harus kami lalukan katena wilayah dimana para tawon ini bersarang berada dalam jangkauan kita. Dan karena mengusirnya dengan cara membakar, maka kita tidak dapat memberikan contoh rumah tawon itu. Berbeda dengan rumah tawon kedua yang ada dalam gambar di samping. Rumah tawon ini sekarang posisinya ada di ruang kerja saya.

Bahkan pada awal tahun pelajaran lalu, rumah tawon ini sempat saya pertunjukkan kepada guru dan siswa. Di SMP dan TK saya jadikan rumah tawon ini sebagai salah satu bahan diskusi dan cerita. Inilah komentar Bu Kiki yang mengajar di Kelompok Bermain di dinding FB saya: Heheee...like it so much Pak Agus...krn sarang lebah n critanya pak agus,slh satu mrdku lgsg duduk rapi n meninggalkan ibunya heheheheheh. Makasih pak Agus for ur story today:)

Terima kasih juga Bapak dan Ibu.

Jakarta, 18 Juli 2010.


Membelajarkan Karakter Bangsa


Dalam rubrik Pelita Hati di harian Pelita terbitan hari Kamis, 15 Juli 2010, Pak Sulastomo menuliskan pengalamannya ngobrol dengan supir taksi di Singapura. Dalam obrolannya iotu diceritakan bagaimana sang supir taksi merasa kagum dan sekaligus bangga dengan tokoh negaranya Lew Kwan Yu, yang menurutnya sukses membuat Singapura sebagai negara yang sejahtera, Padahal negerinya, lanjut cerita supir taksi itu, sebelumnya adalah negara yang miskin. Supir taksi itu juga membandingkan negaranya dengan negara Pak Sulastomo, Indonesia. Yang menurutnya negara sangat kaya namun masyarakatnya masih banyak yang hidupnya belum sejahtera.

Dalam tulisan itu, Pak Sulastomo juga membandingkan bagaimana perbedaan perilaku orang Singapura yang tidak akan meludah di tempat sembarangan dengan bagaimana orang masih buang air sembarangan di jalam Tamrin di Jakarta.

Juga bagaimana bedanya bandara internasional yang ada di Indonesia dengan di Singapura. Dan dari perbandingan itu setidaknya kita dapat mengambil pelajaran apa sesungguhnya yang membuat kita berbeda. Meski perbedaan itu belum pada pokok persoalan atau esensi, namun setidaknya pengetahuan tentang perbedaan tersebut dapat menjadi pembanding atau mungkin juga sebagai benchmark bagi kita untuk lebih baik dan lebih maju.

Dan saya membayangkan jika setiap perbandingan pada setiap sisi kemajuan atau budaya suatu bangsa tersebut dapat kita sedikit aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari yang paling mungkin, suatu saat kita akan mencapai dan memperoleh apa yang negara lain sudah capai. Tapi, begitukah yang menjadi visi kita setiap kita berangkat atau berkesempatan untuk ke luar negeri?

Tentunya jika Anda adalah kepala keluarga, maka hal-hal baik akan menjadi agenda perubahan pada diri dan keluarga Anda. Jika kita kebetulan adalah Guru, Kepala Sekolah atau bahkan Menteri. Dan jika hal ini menjadi komitmen dari setiap kita, maka kita akan melihat betapa hebatnya negara kita di lima, sepuluh tahun ke depan. Luar biasa!

Namun mimpikah ini? Mungkin sekali. Karena sesungguhnya telah banyak dari sebagian pemimpin kita ini yang ketika sekolah dulu di negara-negara yang sangat maju. Dan pengalaman hidup di negara maju itu sesungguhnya cukup baginya untuk mencicipi budaya maju. Dan apa yang mereka telah berikan untuk kita? Mungkin juga saya yang salah menilai. Karena saya orang yang berada jauh dari lokasi para pemimpin itu berada sehingga budaya dan spiritnya tidak dapat saya rasakan.

Dan karena itulah saya yang menjadi guru di sekolah merasa bahwa mereka meminta adanya pembelajaran karakter bagi generasi bangsa, yang itu artinya sayalah pelaku yang diharapkan. Sedang dalam kehidupan sehari-hari kadang saya masih menerima cerita dari teman guru lain kalau ia menerima surat 'peringatan' dari anggota dewan hanya karena anak anggita dewan ini tidak diterima di sekolahnya. Atau juga cerita teman guru lainnya yang dimarahi oleh salah satu orangtua siswa ditelepon yang berbicara: "Ibu harus tahu, kalau saya anggota Dewan", saat anaknya punya masalah dengan anak lainnya di sekolah.

Meski kenyataan-kenyataan itu sangat tidak adil, saya tidak akan kecewa untuk menjadi guru yang harus memikul tugas melakukan pendidikan karakter pada generasi bangsa ini. Namun harus diakui bahwa siswa belajar berkarakter tidak saja dari apa yang ada di kelas. Tetapi juga dari apa yang ada dan hidup di masyarakatnya.

Jakarta, 18 Juli 2010.

17 Juli 2010

Rasa Memiliki Sekolah


Tiba-tiba saya mendapatkan ide ketika saya sedang mengatakan kepada teman bahwa; Kita harus mempunyai rasa memiliki terhadap sekolah ini. Kalimat ini perlu saya sampaikan untuk memberikan penegasan bahwa amanah menjadi guru tidak saja amanah untuk berdiri dan melakukan pengajaran di dalam kelas. Tetapi jauh lebih mulia dari hanya sekedar mengajar.

Mengapa lebih mulia dari sekedar mengajar? Karena amanah itu meliputi keseluruhan aktivitas guru dan siswa baik saat di dalam kelas, di dalam sekolah, bahkan tidak jarang saat mereka bercengkerama di SMS, Facebook atau Twitter. Bashkan juga tidak hanya terbatas di kelas mana kita mengajar, karena kita bagian dari sebuah sekolah, kita juga berkewajiban untuk aruh-aruh bila terdapat ketidakberesan yang sesungguhnya sudah melewati lokasi kelas kita.

Dalam benak saya, kalimat ini memiliki pengertian agar kita selalu menjadi bagian dan stake holder dari sekolah ini.
Pengertian ini akan membawa implikasi agar kita memiliki tanggung jawab sepenuh hati sepanjang keberadaan amanah pada dirinya. Tuntutan yang sedemikian besarnya inilah yang, menurut saya, membuat profesi ini sangat mulia. Dan apabila dalam mengejawantahkan amanah ini dilandasi oleh dua kalimat sayahadah, maka kemuliaan itu tidak saja hanya untuk dunia tetapi juga di akherat.

Rasa memiliki yang saya uraikan tersebut adalah harapan positif dan ideal yang dapat direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah kita. Namun dalam bagian lain, saya juga berpikir makna rasa memiliki yang mungkin jangan sampai terjadi di wilayah kita. Karena perilaku yang lahir dalam pengertian ini sungguh merusak jiwa kita untuk tumbuh secara baik.

Perilaku negatif dari rasa memiliki sekolah, adalah perilaku tidak disiplin. Yaitu datang hampir selalu terlambat. Baik datang ke sekolah atau juga datang untuk mengajar di kelas. Karena seringnya datang terlambat, atau mungkin juga terlambat saat mengumpulkan RPP ke Kepala Sekolah, draft soal evaluasi yang harus dikoreksi terlebih dahulu oleh Kepala Sekolah, maka perilaku itu tidak hanya miliki Kepala Sekolah sebagai pemegang otoritas tertinggi di sekolah, tetapi juga sudah menyebar ke seluruh guru yang ada di lembaga itu. Dan kenyataan itu telah meruntuhkan harga diri kita yang menjadi pelakunya di hadapan komunitas yang ada.

Perilaku ini lahir sedikit banyak karena pengaruh percaya dirinya yang terlalu berlebihan, sehingga merasa dirinyalah pemilik sekolah, tanpa mau memperdulikan bagaimana persepsi orang atau anggota komunitas dimana ia berada. Guru atau karyawan seperti inilah yang terlampau tinggi 'rasa memiliki'nya terhadap lembaga dimana ia belerja.

Bagaimana nasib guru atau karyawan model ini? Di sekolah atau lembaga yang baik, yaitu lembaga yang memuliakan kemuliaan lembaganya, akan menjadi hal ini sebagai proses pemelajaran bagi yang bersangkutan atau anggota komunitas lainnya. Caranya? Salah satunya dengan menjadikan kasus seperti itu sebagai problem based learning.

Seperti juga ketika memelajarkan siswa di kelas, kegiatan problem based learning itu juga dirancang tujuannya, strateginya, serta tenggat waktunya. Juga jangan lupa, ada evaluasinya. Dan dari evaluasi itu nantinya ada nilai tertentu yang menjadi target lulus dan tidaknya.

Lalu apa sesungguhnya esensi dari 'rasa memiliki' dalam konotasi ini? Esensinya adalah perilaku tidak tahu diri, angkuh, sok, dan (meminjam istilahnya komedian Tukul Arwana), sangat katro!

Jakarta, 17-18 Juli 2010

15 Juli 2010

Konsepsi Orangtua Siswa dari Uang Sekolah

Beberapa waktu yang lalu ketika anak sulung saya masuk SMA sesuai pilihannya sendiri, saya dihadapkan pembayaran uang sekolah yang terdiri dari Uang Pangkal dan Uang Kegiatan satu tahun serta uang SPP bulan Juli, yang totalnya lebih kurang tiga belas juta. Bagi saya, uang sebesar itu adalah besar. Tapi untuk mewujudkan cita-cita anak saya, maka dengan sepenuh hati kami lunasi uang masuk tersebut.


Pernah saya mencoba untuk meminta pembayaran secara cicilan, tapi pihak sekolah menolaknya. Belakangan saya baru tahu kalau cicil atau lunas dapat dilakukan oleh orang tua yang lain, yang menurut ukuran saya sendiri justru lebih mampu membayar tunai dibanding dengan saya. Karena kebetulan orang tersebut anaknya satu SMP dengan anak saya.


Kejadian itu berlangsung bulan April 2005. Dan sekarang saya kembali mengenangnya. Bukan pada pada masalah betapa lugunya saya untuk menutup mata akan kekurangan dan menganggapnya sebagai orang mampu, tetapi lebih karena sekarang sayalah orang di sekolah yang berkewajiban untuk menagih uang sekolah dari siswa kami. Dan pekerjaan inilah yang menyebabkan saya justru berpikir melompat pada pengalaman sendiri untuk memaksakan diri guna membayar uang sekolah anak.


Dan kenangan lainnya adalah pada tulisan saya sendiri di Kompas yang berjudul Masih ada Kekerasan di Sekolah. Dalam tulisan itu saya bertutur tentang pengalaman saya yang lain. Yaitu saat saya masih duduk di bangku kelas tiga SPG di Purworejo. Di mana ada waktu-waktu tertentu tiap-tiap kelas kami akan di datangi manajemen sekolah untuk mengumumkan siapa yang pada waktu itu masih memiliki tunggakan. Dan ketika giliran itu datang di kelas saya, maka dipanggillah salah satu teman saya yang belum membayar uang sekolah sekian bulan. Kami, yang sebagiannya adalah dari keluarga miskin atau setengah miskin terdiam.


Lalu guru musik yang kebetulan sedang mengajar dikelas berkomentar; "Datangi Bapak itu dan jelaskan mengapa kamu belum membayar. Kalau memang sawah dan ladang hanya ditumbuhi belukar, apa kamu bisa membayar dengan lungko (bongkahan tanah kering)?." Guru itu berkata datar saja. Namun kami seisi kelas merasakan udara di kelas yang sejuk kembali.


Bagaimana dengan kewajiban saya untuk selalu memeriksa uang sekolah yang dalam setiap bulannya masih ada sepuluh atau tiga puluh orantua siswa yang terlambat membayar? Inilah yang hingga kini membuat saya untuk selalu dan terus menimbang rasa. Ada harapan yang saya impikan. Yaitu bahwa seluruh orangtua siswa membayarkan uang sekolah putra-putrinya paling lambat pada tanggal 10 setiap bulannya sebagaimana yang kami tulis dalam kartu pembayaran uang sekolah. Atau setidaknya agar semua orangtua siswa yang baik-baik saja kondisinya menjadikan uang sekolah putra-putrinya sebagai prioritas dibandingkan minum kopi di mal. Tetapi, fakta selalu menunjukkan kepada saya bahwa ada beberapa orangtua siswa yang masih belum membayarkan uang sekolah putra-putrinya tepat waktu.


Pernah suatu waktu saya berpikir positif dan sama sekali tidak melakukan komunikasi dengan pihak orangtua siswa kami untuk waktu yang cukup lama. Beberapa catatan yang ada saya coba untuk membiarkannya. Tapi akibatnya, kami kehabisan uang tunai guna memberikan THR. Dan akibat berikutnya adalah saya dipanggil pihak yayasan untuk memberikan penjelasan mengenai itu semua. Lalu apa yang saya lakukan selanjutnya? Melakukan komunikasi dengan pihak-pihak tersebut.


Setelah sekian lama saya melakukan komunikasi, muncul konsepsi saya terhadap jenis orangtua di sekolah. Tentunya yang berkenaan dengan biaya pendidikan di sekolah. Dan saya selalu berharap mudah-mudahan biaya itu tetap menjadi prioritas bagi jalan putra-putri kita menuju anak tangga sukses! Saya khawatir dengan sebagian kita yang menomor duakan biaya tersebut di bandingkan, misalnya, duduk minum kopi yang satu cangkirnya lima puluh ribu rupiah. Atau mungkin kepentingan lainnya yang secara umum tidak jauh lebih penting dari pada biaya pendidikan.


Konsepsi ini mungkin lahir karena saya adalah pekerja di sekolah, atau mungkin juga karena sekolah saya adalah sekolah swasta yang operasionalisasinya bertumpu 100% pada biaya uang sekolah dari siswa?

Saya pun juga teringat betapa pertanyaan yang berkenaan dengan piutang uang sekolah selalu menjadi pertanyaan rutin anggota Pembina Yayasan dimana saya juga mengabdikan diri secara suka rela di sebuah yayasan di Jakarta Selatan. Dan ketika informasi tersebut kami coba untuk dieksplorasi kepada pihak pelaksana atau manajemen sekolah, jawabannya juga beragam. Ada yang karena memang orangtua itu tiba-tiba mendapat musibah, ada yang sedang bersiap berpisah rumah tangga, ada yang terkena PHK, atau ada masalah sejenis lainnya yang membuat mereka menemui kesulitan finansial.

Tapi kadang masih saya dengar kalau keterlambatan pembayaran uang sekolah karena salah satu pihak orangtua menggunakannya untuk kepentingan lain terlebih dahulu., seperti membayar arisan atau mencicil berlian. Meski pihak lain dari pasangan orangtua tersebut telah menyerahkannya untuk dibayarkan sebagai biaya pendidikan.

Dan sebagai bagian dari manajemen di sekolah, saya tidak mengeluhkan akan adanya situasi semacam itu. Semua peristiwa dan fakta itu justru menjadikan saya paham terhadap berbagai ragam konsepsi orangtua siswa dari uang sekolah putra-putrinya di sekolah yang menjadi pilihannya.

Jakarta, 15-17 Juli 2010.

10 Juli 2010

Pasukan 703

Pasukan 703 (baca: pasukan tujuh kosong tiga). Adalah istilah yang pertama sekali saya dengar dari kawan saya di Yayasan. Entah dari mana kawan saya ini mendapat inspirasi istilah ini. Mungkin dari temannya juga, saya kurang begitu paham. Namun yang jelas istilah tujuh kosong tiga itu membuat saya saat itu terperanggah. Karena istilah itu begitu semitri dan sebangun dengan apa yang dimetaporakan dalam dunia nyatanya.

Ini adalah sindiran bagi mereka yang menjadi pegawai, yang rajin menempelkan jari tangannya di mesin absensi, saat sampai dan kemudian pulang kantor, namun diantara waktu itu kurang efektif keberadaannya di ruang kerjanya.

Tujuh kosong tiga artinya, adalah masuk pukul 7 pagi dan sepanjang hari hanya chatting, browsing, blogging atau bahkan gosip, dan pulang kerja tepat pukul tiga. Chatting, browsing, blogging atau gosip yang dimaksud adalah kegiatan yang tidak ada sangkut pautnya dengan amanah yang harus dijalankannya sepanjang waktu di kantor tersebut. Dan kalau ada kegiatan yang lebih berharga dari itu ya membaca koran.Tapi mungkin di bererapa tempat bukan tujuh kosong tiga tetapi mungkin tujuh kosong empat, atau delapan kosong lima. Namun inti dan esensinya sama persis.

Pegawai dengan mentalitas seperti ini akan berteriak banyak kerjaan ketika ada situasi yang menuntutnya untuk sedikit bekerja. Bahkan jika kelebihan waktu pulang, tidak jarang mereka akan menuliskan waktu kelebihan itu dalam buku agendanya atau dalam permohonan lembur.

Jadi apakah makna kosong disini berarti pegawai itu sama sekali tidak mengerjakan apa-apa sepanjang keberadaannya di kantor? Tidak juga. Pasti ada juga yang dikerjakannya sepanjang pukul tujuh hingga pukul tiga sore itu. Namun pasti juga tidak selevel antara apa yang mereka lakukan sebagai unjuk kerjanya dengan tuntutan yang selalu mereka kumandangkan. Model pegawai seperti ini terlanjur menjadikan kegiatan-kegiatan seperti yang saya sebutkan di atas sebagai kegiatan kantornya.

Namun saat wisata ke Solo-Yogyakarta tanggal 24-27 Juni 2010 lalu, ada sahabat lama saya yang mengeluhkan jam kerjanya. Ia merasakan sengatan apa yang saya kutip dari teman saya itu. Dan dirinya menyebutkan bahwa dirinya masuk pasukan tujuh satu kosong. Maksudnya? Masuk kerja di sekolah sebagai guru pada pukul tujuh, lalu mengajar sebanyak 12 jam mata pelajaran setiap pekannya dan pulang sekolah atau mengajar pukul sepuluh.
"Lo, kok bisa seperti itu?" tanya saya kepada kawan lama saya itu.
" Ya memang begitu aslinya Pak." Jelasnya.

Bukankah itu enak? Gaji terjamin dengan model pintar goblok pendapatan sama? Sahabat saya mengiyakan. Namun tidak sepenuhnya sependapat. Ia takut situasi ini menjadi budaya yang akan menggerogoti vitalitas jiwanya untuk terus tumbuh.

Hari itu ia masih memiliki kesadaran untuk terus tumbuh. Pikir saya. Namun pelan tapi pasti, bila dia tidak segera melakukan serangkaian deklarasi atas pola tujuh satu kosongnya, ia akan menjadi teman yang berjiwa stagnan. Tidak memiliki vitalitas untuk tumbuh.

Bagaimana dengan Kita sendiri?

Jakarta, 28 Juni-10 Juli 2010.