Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

16 September 2013

Ujung Tombok

Mungkin untuk Anda, kosa kata ini sudah lekat sejak lama. Namun tidak untuk saya. Saat pulang kampung beberapa waktu lalu, saya mendengar kata ini dari seorang teman yang baru saja naik pangkat sebagai manajemen di sebuah sekolah. Tempat yang sebelumnya adalah tempat mengajarnya. Saat dia menjadi bagian 'penting' di sekolahnya. Setidaknya ini karena ia adalah satu-satunya guru yang bukan sebagai bendahara sekolah tetapi harus menggarap laporan sekolah untuk semua penggunaan dana sekolah. Termasuk pula laporan-laporan yang membutuhkan ketekunan, ketelitian, dan tentunya kecepatan agar tidak melampaui tenggat yang telah disepakati.

Namun justru dari pengalamannya itulah, yang sering juga ia istilahkan sebagai ban serep, ia menemukan bagaimana bentuk operasional dari istilah yang semestinya plesetan dari ujung tombak itu, yaitu ujung tombok.

Merasa sebagai Tukang Tombok

"Nombok apa yang telah kamu lakukan kok tega memberi stempel sebagai ujung tombok?" kata saya suatu ketika di sela-sela ia bercerita yang tiada hentinya.

"Paling banyak tugas dan waktu Gus." katanya dengan segera. Dari semangatnya bercerita, tampak sekali bahwa ia sedang mencari katarsis untuk menumpahkan apa yang dianggapnya sebagai kendala tentang tugasnya sebagai guru di sekolah.

"Tugas, karena ketika teman yang lain sudah tidak ada lagi hal ihwal yang harus mereka selesaikan, tetapi untuk saya belum. Selain harus pulang terlambat, juga kadang harus keluar dana untuk keperluan sebuah tugas agar lekas selesai." jelasnya lebih lanjut.

"Jadi ada semacam keluhan dengan apa yang kamu sampaikan ini?" desak saya. Saya ingin mengetahui apa yang sesungguhnya menjadi motivasinya untuk menganggab dirinya sebagai ujung tombok kepada saya kala itu. 

"Tidak juga Gus. Tapi paling tidak itulah yang menjadi kenyataan akan apa yang menjadi tugas sebagai guru di desa." jelasnya lebih lanjut.

Saya, tidak terlalu merasa bahwa apa yang sedang disampaikan oleh teman itu adalah sesuatu yang mengharuskan saya untuk memberikan empati. Karena memang bukan itu, tampaknya, yang sedang kawan saya inginkan. Tetapi semacam letupan, atau mungkin semacam pemberitahuan bahwa bahwa ia sekarang sedang memiliki tugas tambahan di bandingkan dengan tugas teman-teman guru sejawatnya di sekolah.

Mungkin semacam pemberitahuan. Pemberitahuan bahwa ia sedang menjadi bagian penting dari lembaga dimana ia berada selama ini. Jadi, pemberitahuan yang pastinya tidak membuatnya menarik istilah dan sekaligus stempel tentang dirinya yang menjadi ujung tombok!

Jakarta, 16 September 2013.

Tidak ada komentar: