Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

16 September 2013

Melatih 'Sengsara'

Apakah sekolah yang melatih anak didiknya untuk menyapu dan mengepel lantai yang ada plasa yang ada di sekolah justru dibaca oleh orangtua dan masyarakatnya sebagai melatih anak didiknya untuk menjalani hidup 'sengsara'? Setidaknya inilah yang menjadi renungan saya dalam dua hari yang lalu. Ini karena ada dua hal yang menyangkut dengan belajar hidup 'sengsara' yang saya dapatkan. 

Bangganya Orangtua

Yang pertama adalah pertemuan saya dengan seorang orangtua alumni yang menceritakan bagaimana ia harus 'merelakan' sulungnya untuk hidup 'menderita' bersama program sekolah yang ada. Ini berkenaan dengan keikutsertaan ananda untuk hidup bersama di sebuah desa di Jawa Tengah. Sulungnya harus menjadi bagian dari keluarga minus selama lebih kurang empat hari. 

Minus, karena keluarga tersebut tidak memiliki kamar mandi dan toilet yang terletak di dalam bagian rumah induk. Juga masih memasak menggunakan kayu bakar. Semua keperluan rumah tangga seperti mencuci, menyeterika, memasak makanan, semua tanpa menggunakan alat modern. Dan lebih 'menderita' lagi, karena dari Jakarta menuju ke lokasi program yang berada di ujung timur Provinsi Jawa Tengah, hingga pulang kebali ke Jakarta, menggunakan transportasi kereta api dengan tarif Rp 50,000!

"Kalau begitu Ibu dong yang harus belajar. Jadi tidak saja si Sulung?" Kata saya mengomentari cerita sang bunda.

"Betul Pak. Kami sebagai orangtua harus merelakan." Jawab sang Bunda dengan mantap. Tampak nada keyakinan dari sang Bunda.

Kegiatan yang memberikan pengalaman berbeda seperti apa yang dilakukan sekolah dimana si sulung itu berada,  pasti menjadi pengalaman yang sangat idak akan pernah terlupakan bagi si anak. Dan pengalaman ini bisa dilihat dari berbagai sudut. Ia akan menjadi positif jika kita melihatnya agar supaya anak dan generasi mendatang lebih bisa menghargai apa yang ada di sekitarnya.

Tetapi juga dapat menjadi negatif jika itu dilihat sebagai bagian dari penderitaan dan bullying. Atau bahkan mungkin HAM anak?

Belajar Ngepel Lantai

Yang kedua adalah bagaimana anak-anak kelas 3 SD ketika mereka belajar tentang kebersihan. Selain guru menjelaskan tentang konsep bersih di dalam kelas, maka anak-anak diberikan proyek untuk membersihkan beberapa bagian sekolah. Ada kelompok yang kebagian membersihkan perpustakaan sekolah. Ada juga yang kelompoknya mendapat jatah untuk membersihkan plasa sekolah.

Bagaimana mereka melakuan praktek kebersihan itu? Yang di plasa sekolah, mereka akan menyapu lantai, mengelap seluruh perabot yang ada dengan kanebo yang sudah dibasahi terlebih dahulu, dan yang terakhir mengepel lantai.

Dan ketika saya melihat, maka tampak;  Bagaimana kikuknya anak-anak itu ketika harus mengarahkan kotoran saat menyapu?  Bagaimana ketika ia harus berjalan mundur saat mengarahkan kain pel yang juga harus diperas terlebih dulu setelah dibersihkan dalam air?  Juga bagaimana ia harus mengelap permukaan perabot yang ada dengan kanebo?

Jakarta, 16 September 2013.

Tidak ada komentar: