Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 September 2013

Spektrum Berpengetahuan dan Berakal

Beberapa kenyataan dalam pergaulan di kantorlah yang menerbitkan catatan saya ini. Ini karena selama kami bergaul bersama mereka menerbitkan banyak sekali anekdot yang menharuskan saya sendiri berpikir dan merenung. Bukan terhadap bagaimana teman-teman itu melakukan dan mengejawantahkan amanah kantor dalam kinerjanya sehari-hari saja, tetapi juga sebaliknya.Saya pun dapat menyerap segala rupa uneg-uneg yang menjadi bagian dari hubungan itu selama ini.

Dan dari komunikasi tersebutlah saya mendapatkan banyak hal yang menjadikan saya lebih bisa melihat dunia. Meski dalam artian yang sempit, dunia berpikir. Yaitu tentang bagaimana teman-teman itu melakukan tugas dan tanggungjawabnya masing-masing sekaligus bagaimana refleksi verbalnya atas pekerjaan yang dijalaninya. Hubungan antara melakukan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya dengan refleksi verbalnya itulah yang saya lihat dari spektrum paradigma berpikir mereka.

Dan dalam spektrum itulah saya mendapati beberapa teman dengan beberapa latar belakang pengetahuan, atau setidaknya latar belakang pendidikannya yang berbeda-beda. Juga refleksi verbal yang menjadi pernyataannya dalam bergaul bersama kami, yang juga berbeda-beda. Itulah dua sisi yang menjadi perenungan saya belakangan ini. Tentunya karena saya menjadikan itu sebagai bahan belajar bagi kematangan diri saya sendiri.

Pak Udin yang Buta Aksara

Ada banyak hal mulia saya dapatkan dari sahabat lama saya ini. Dia, sebut saja Pak Udin, adalah orang yang usianya tidak bertaut jauh dari usia saya. Asal dari desa yang pada tahun 1980 masih berada di sebuah daerah yang terisolasi. Pak Udin ini memang buta aksara sejak kami bertemu di tahun 1985 yang lalu. Mungkin bayak usaha yang telah dilakukan teman lain untuk membantunya berhijrah dari realita buta aksra tersebut. Tetapi itulah kenyataannya. Ia buta aksara hingga suatu saat yang lalu ketika saya sendiri meminta nomor HPnya. 

"Lihat nomor saya di ruang guru saja Pak. Disana ada." begitu sarannya kepada saya saat saya meminta nomor kontaknya. Padahal kami bertemu di sebuah ruangan yang bukan ruang guru. 

"Loh, HPnya sedang dimana to Mas?" tanya saya. Saya pikir bukankah nomor HP bisa di lihat di HPnya kalau memang dia tidak hapal? Tapi dia bilang kalau HPnya sedang di charge. Saya mengalah untuk pergi ke ruang guru dan mencoba memanggil.

"Loh Mas, itu HPnya ada di kantong. Itu nomor saya." Kenyataan itu memahamkan saya bahwa Pak Udin sedang beralibi dan menutupi kalau ia sebenarnya tidak bisa menemukan nomor HP dari HPnya langsung ketika saya tadi meminta nomor kontaknya.

Meski begitu, saya belajar tentang bagaimana ia mensyukuri apa yang menjadi tugas dan rezki yang diterimanya sepanjang menjalani sebagai pegawai. Ungkapan verbalnya semitris dengan kedatangannya yang tepat waktu dan penyelesaian tugasnya yang membuatnya jadi andalan dimanapun di unit yang ditugaskannya.

Dan tidak hanya Pak Udin saja teman yang memberikan kepada saya cermin untuk saya dapat melihat diri saya sendiri. Masih ada beberapa teman baik yang dapat menjadi pemicu bagi semangat saya dalam mengarungi sebagai pekerja. Dan mereka berada dalam latar belakang pendidikan yang berbeda pula.

Pak Kim yang Mobilitasnya Tinggi

Teman lain yang menjadi cermin untuk saya adalah Pak Kim dan teman-temannya. Juga memiliki latar belakang pendidikan yang tidak seragam. Namun darinya, saya belajar bagaimana mereka memilih kata-kata yang sinis ketika harus mempormulasikan pernyataannya secara verbal. Atau kalau bukan sinis mungkin kata-kata yang menyiratkan kekecewaan yang berkepanjangan atas bebas dan rezki yang diterimanya selama ini.

Mereka, teman-teman saya ini pun, bukan teman-teman baru. Karena mereka telah bersama saya telah lebih dari 15 tahun! Dan dari sinilah saya merenungkan tentang bagaimana tidak nyamannya perasaan mereka dalam menunaikan pekerjaan di dalam situasi dan kondisi yang tidak memberikan ruang bahagia?

Pernah saya berpikir, apakah tidak sebaiknya tman-teman itu memilih perahu yang berbeda tanpa harus menunggu hingga berbelas atau berpuluh tahun berada dalam satu perahu yang juga mereka lubangi sendiri? Bukankah untuk berpindah perahu dan beralih tujuan menjadi bagian dari asasi kita sebagai orang yang berpengetahuan dan berakal?

Jakarta, 30 September 2013.

Tidak ada komentar: