Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

09 September 2013

Saya Minta Cincaunya Ya Pak

Siang itu, sepulang jam sekolah saya kedatangan tiga siswa di ruangan. Mereka adalah anak-anak yang merasa akrab dengan saya. Karena itu, biasa untuk mereka datang ke ruangan saya meski itu hanya untuk berpamitan pulang. Seperti siang itu, mereka datang ke ruangan untuk sekedar pamit. Meski setelah bersalaman dengan saya mereka tidak mengambil jalan menuju keluar sekolah tetapi malah kembali masuk gedung sekolah. Berbeda dari kalmat pamit mereka. Tetapi itulah anak-anak.

Saya menyambut mereka ketika seorang dari mereka mengetuk pintu ruangan saya. Kebetulan juga bahwa saya hendak menuju luar ruangan guna mengambil sesuatu di pentri. Maka di mulut ruangan itu kami berdiri. Saling bersalaman yang mengucap kata berpisah. "Sampai besok ya?" kata saya kepada mereka.

"Ya Pak. Sampai besok juga ya Pak." begitu balas seorang dari mereka.
"Tapi boleh saya bertanya Pak?" ujar seorang yang lain. Saya menghentikan langkah karena pertanyaan itu. Sementara itu memang posisi anak itu benar-benar ada di tengah-tengah pintu ruangan saya. Yang membuat saya harus terhenti.

"Silahkan. Apa yang ingin kamu sampaikan kepada Bapak?" tanya saya.
"Apakah Bapak sudah panen cincau lagi?" kata mereka kepada saya.
"Mengapa itu yang menjadi pertanyaanmu?" desak saya. Mengapa cincau menjadi bahan yang ia tanyakan kepada saya? Apa kepentingan mereka tentang cincau sebagai anak sekolah, sebagai anak Jakarta?

"Oh ya. Belum lagi. Mungkin dua atau paling lama empat bulan lagi Bapak akan mengajak kalian untuk memetik daun cincau. Mudah-mudahan di waktu itu nanti daun cincau tua yang siap untuk di-becek guna kita peras sebagai bahan pembuat cincau sudah banyak dan tentunya sudah siap. Jadi tunggu bulan Januari atau paling lambat Maret ya?" jelas saya kepada mereka semua. 

"Mengapa selama itu Pak?" tegas anak itu.
"Bapak ingin memastikan agar hasil cincau yang kita buat setidaknya cukup untuk kaian dan semua teman kalian!" jawab saya mantap.

"Benar ya Pak." anak itu segera meninggalkan saya yang terhambat keluar ruangan. Dalam hati, saya berharap agar pohon cincau yang kami budi dayakan di halaman belakang sekolah benar-benar mampu memenuhi harapan anak-anak. Dan tentunya juga kami, para guru.

Jakarta, 9 September 2013.

Tidak ada komentar: