Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

17 September 2013

Membuang Sampah di Jalan, Apakah untuk Berhemat?

Sore itu, ketika kami bersama-sama sedang menikmati sore di sebuah gang di dekat rumah, Pak RT dan saya terlibat diskusi tentang sampah (lagi). Ini adalah diskusi lanjutan sebagaimana yang telah saya utarakan sebelumnya, juga dalam catatan saya ini. Yaitu tentang menumpuknya sampah di pinggir jalan yang ternyata adalah tambahan sampah milik warga yang enggan mengumpulkan sampah di rumahnya, dan lebih memilih membuangnya disaat hari gelap atau di saat aksinya tidak akan diketahui oleh siapapun.

"Supaya tidak perlu membayar iuran uang sampah Gus." Demikian kesimpulan dan pendapat  Pak RT, yang disampaikan pada sore itu kepada saya. Sebuah pendapat yang seratus persen saya sendiri membenarkan. Bukankah beberapa waktu lalu saya memergoki seorang dari tetangga kami keluar gang dengan membawa bungkusan plastik yang tertutup dan terikat dengan rapi? Dan ketika kembali lagi ternyata bungkusannya tidak dibawanya kembali?

"Apakah dengan tidak membayar iuran sampah itu sebagai penghematan Pak? Bukankah iurannya hanya Rp 20,000 untuk setiap bulannya?" tanya saya lagi mencoba mengkonfirmasi.

"Memang hanya dua puluh ribu satu bulan. Tapi bisa jadi orang-orang semacam itu akan menghitungnya tidak dalam durasi bulanan Gus. Mungkin sekali dalam kurun waktu panjang. Misalnya sepuluh tahun. Bukankah itu sama artinya dengan 120 x Rp 20,000? Angka yang besar kan?" jelas Pak RT. Jalan pikiran yang diutarakan memang benar juga. Belum lagi jika mereka akan membuang sampai yang tidak biasanya. Bukankah harus mengeluarkan dana diluar iuran bulanannya itu?

Apapun dan bagaimanapun cara menghitung dan jalan pikiran yang dikemukakan dalam diskusi soren itu, menarik saya ambil pelajaran. Bahwa secara realita masih ada tetangga-tetangga kita yang berpikir dalam masalah sampah rumah tangganya justru jauh ke depan. Dua puluh atau bahkan seumur hidup ke masa mendatang. Tentu dalam usahanya untuk berhemat. Dan buah dari berhemat tentunya adalah pengumpulan dana.

Sementara ada pelajaran lain tentang bagaimana untuk menjadikan lahan sedekah yang sebanyak dan seluas mungkin. Yaitu mereka yang berpikir bahwa dengan kehadiran tukang sampah yang rutin datang tiga kali dalam satu pekan itu sebagai bagian dari mereka untuk menyimpan sebagaian dnanya dalam bentuk amal baik? 

Dua hal besar yang patut menjadi pertimbangan kita dalam melihat masa depan...

Jakarta, 17 September 2013.

Tidak ada komentar: