Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

12 September 2013

Apakah ini Bangga yang Salah?

Fenomena anak di bawah umur mengendarai kendaraan bermotor belakangan ini, kembali menjadi sorotan semua pihak. Mendikbud, beberapa waktu lalu meminta kepada sekolah untuk melarang siswa-siswinya yang mengendarai kendaraan bermotor yang belum memiliki SIM. Demikian juga pihak Kepolisisan yang belakangan giat melakukan razia, utamanya pada jam kepulangan siswa.

Sementara itu, saya sendiri, setelah mendengar cerita dari teman-teman yang tinggalnya berada  di luar kompleks perumahan, atau juga melihat sendiri, justru berpikir; Benarkah bahwa fenomena anak di bawah umur dan belum memiliki SIM megendarai kendaraan bermotor di jalan-jalan umum itu sebagai kebanggaan kita yang salah?

Berawal dari Rumah

Pertanyaan saya itu berangkat dari apa yang  tampak di depan mata kita. Bahwa anak-anak itu mengendarai kendaraan bermotor atas restu orangtuanya. Betapa tidak? Tetangga saya, yang tinggal di sebuah kampung di Jakarta, anak seusia SD telah keluar masuk gang dekat rumah dengan memboncengkan temannya? Atau sebuah mobil yang terparkir di hlaman sekolah saya beberapa waktu lalu dengan nomor Polisi yang merupakan tanggal lahir dan inisial nama salah seorang siswa kami?

Pertanyaan berikutnya adalah: Apakah orangtua tidak mengetahui bahwa anak-anak mereka mengendari kendaraan bermotor? Bukankah kendaraan itu dibeli oleh para orangtuanya? Apakah tidak naif jika tersedia kendaraan di rumah dan para orangtua yakin bahwa anak-anak mereka tidak berminat untuk mengendarainya? Bukankah kendaraan itu sebagai hadiah buat anak-anak mereka?

"Mungkin Bapaknya bangga jika anaknya sudah pintar naik kendaraan sendiri." Begitu komentar tetangga saya ketika dihadapan kami melintas bocah SD mengendarai motor.

Jadi, bisa jadi memang sudah menjadi kebanggaan bagi para orangtua dewasa ini jika putra-putrinya sudah pintar mengendarai kendaraan bermotor, baik sepeda motor atau mobil, sejak dini? Dimana usia emosi dan administrasi belum juga sampai?

Bisa jadi. Dan kalau ini memang yang terjadi, saya prihatin (?). Karena saya salah satu orangtua yang tidak masuk dalam tren gendeng ini.

Jakarta, 12 September 2013.

Tidak ada komentar: