Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

20 September 2013

Idul Kurban 1434 H #1; Menengok Sasaran Kurban

Beberapa waktu lalu, sebelum Agustus berganti, kami bersama-sama pergi ke sebuah lokasi yang relatif tidak jauh dari sekolah kami, untuk menengok sebuah desa yang rencananya akan kami jadikan sebagai desa sasaran bagi penyebaran hewan kurban dari anak-anak didik kami di sekolah. Terdapat tiga lokasi yang menjadi area silaturahim kami untuk saling membangun komunikasi awal. Ini terutama untuk berdiskusi tentang keadaan masyarakat di lokasi tersebut dengan para aparat desa atau DKM rumah ibadah yang ada di lokasi. Selain kondisi masyarakatnya, kami juga mendiskusikan tentang bagaimana mengorganisir pelaksanaan kurban itu sendiri.

Dari tiga lokasi yang kami rencanakan, semua lokasinya berada di Provinsi Jawa Barat. Satu lokasi berada di pinggir pantai utara Jawa, yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jakarta, satu lokasi lagi di daerah pembuangan sampah akhir, dan satunya lagi berada di wilayah pegunungan, yang lebih kurang 50 kilometer dari Pantai Pelabuhan Ratu. Tiga lokasi yang sebagiannya didiami oleh para saudara kita yang berkekurangan secara materi.

Dari ketiga lokasi yang ada, setelah kembali ke sekolah, kami mendiskusikan tentang jumlah hewan kurban yang layak untuk dapat kita distribusikan. Dan tentang jumlah hewan kurban ini, kami tentunya hanya meminta kepada para donatur, yang terdiri dari anak-anak didik kami, untuk menyalurkannya kepada sekolah. Dan dengan kondisi lokasi tempat kurban yang telah kami datangi, kami mencoba untuk menyamaikannya kepada anak-anak itu.

Dengan model berkurban semacam itu, kami merasakan bagaimana kami menjalin hubungan dan silaturahim dengan para saudara kami yang dalam kondisi tidak atau kurang beruntung, yang letaknya masih memungkinkan untuk kami kunjungi. 

Dari kegiatan semacam itu jugalah kami, guru-guru dapat melihat tentang bagaimana saudara-saudara yang menjadi aparat di desa atau yang terlibat langsung dalam komunitas tempat ibadah seperti DKM,  memberdayakan diri bersama masyarakatnya. Sebuah pengalaman berharga. Tentunya karena kami semua hampir rata-rata berasal dari sebuah komunitas yang juga tidak terlalu beruntung. Semoga

Jakarta, 20 September 2013.

Tidak ada komentar: