Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

17 September 2013

Belajar dari Ketulusan Petani

Dalam sebuah kesempatan untuk berkunjung di salah satu wilayah yang masuk di Kabupaten Kulonprogo, pada pertenganhan tahun lalu,  masih saja membekas dalam  ingatan saya tentang bagaimana seorang petani yang begitu tulus membantu anak-anak sekolah dalam mempraktekkan konsep bertani alami yang bebas bahan kimia. Yaitu belajar tentang bagaimana cara bercocok tanam dengan sehat itu. 

Mulai dari menyiapkan media pembibitan, yang juga bebas dari plastik. Menanamkan bibitnya yang sehat. Memberi pupuk dengan pupuk alami yang sehat  karena tidak meninggalkan bekas sebagai kenang-kenangan di dalam makanan. Termasuk di dalamnya membantu membelajarkan siswa dalam membuat daun dan dahan tumbuhan untuk cepat menjadi kompos secara alami. Juga bagaimana mencegah dan membasmi hama dengan pembasmi yang sehat pula.

Petak-petak tanaman itu.
Dan dengan modal  pengetahuan konsep serta keterampilan bercocok tanam secara praktis seperti itulah maka anak-anak memperoleh pengalaman belajar yang tiada taranya. Tiada duanya. Sebuah pengalaman hidup yang istimewa tentunya untuk sebuah generasi Seusia mereka meski tinggal di lereng pegunungan yang subur.

"Lalu bagaimana Bapak menggaji petani itu sebagai imbalan dari bantuan yang diberikannya?" tanya saya kepada seorang relawan yang menjadi pemandu perjalanan kami di lokasi tanaman organik di sebuah lereng gunung dengan kemiringan tidak kurang dari 30 derajat itu. Ini menjadi manarik untuk kami ketahui karena secara nilai, apa yang diberikan oleh petani tersebut adalah sebuah upaya yang dahsyat luar biasa.

Bukanka penati ini dengan keahlian dan tenaga yag dimilikinya, juga kreatifitasnya, ia dapat mengusahakan sendiri apa yang diberikan kepada anak-anak didik di SD itu? Kalaupun lahan yang menjadi kendala, apakah tertutup kemungkinan baginya untuk menjadi tenaga kerja ahli di pusat-pusat argo yang sedang tumbuh baik di negeri kita ini? Ini adalah pertanyaan yang sederhana dari kami yang terlanjut besar dalam era industri pragmatis ini.

"Kami dan sekolah tidak akan mampu membayar atau memberikan imbalan kepada petani itu atas semua yang diusahakan sebagai bantuannya selama ini." jelasnya. Ini menjadi titik kulminasi buat saya yag memang sejak melihat lahan yang berpetak-petak di lereng itu ngiler luar biasa. Karena dalam setiap petak itu, konon anak-anak akan memanen hasil pertaniannya itu dalam durasi pekanan. Ini tentu, sekali lagi, bukan upaya amatiran.

Paradigma Transenden

Dalam catatan saya ini, baru saya sadari dengan sebenar-benarnya bahwa upaya petani yang tulus itu, untuk bersama-sama guru sekolah dalam membelajarkan konsep dan praktek bertani sehat tersebut, adalah bentuk nyata dari apa yang selama ini saya ketahui sebagai paradigma berkehidupan yang transenden.

Bagaimana mungkin petani itu dapat menghidupi diri dan keluarganya dengan hanya mengandalkan tanaman lain dan juga usaha jamur kuping yang diusahakannya di lahan yang sama?

"Mohon maaf Pak, saya tidak mengukur semua hasil usaha saya ini dengan upah dan uang. Saya mengukurnya dengan cukup menurut takaran saya."

Jakarta, 17 September 2013.

Tidak ada komentar: