Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

20 September 2013

Mengenang Sosok Idaman secara Lebih Dekat

Saat libur Idul Fitri yang lalu, saya mengajak anak bontot saya untuk blusukan ketika kami tiba di sebuah kota yang kami rindukan. Ini setelah kami selesai meletakkan koper dan segala rupa, termasuk menawarkan kepada istri dan anak yang lain untuk ikut srta dalam blusukan, hasilnya hanya kami berdua yang jalan di sore hari yang luar biasa padat. Sepanjang jalanan yang kami tempuh dengan berjlan kaki itu padat oleh pengunjung. Seperti juga jalan raya yang ada di sebelah kami, penuh oleh segala rupa kendaraan.

Setelah memutar-mutar tidak karuan, karena blusukan kan (?), akhirnya saya menawarkan tujuan kepada bontot saya; "Bagaimana kalau kita menuju kios buku saja?" kata saya setelah keluar dari mesin ATM yang ada di jalan kaki lima itu. "Okey. Siap." kata bontot saya penuh semangat.

Jadilah kami blusukan ke toko buku. Sambil clingak-clinguk membaca judul-judul buku yang berbaris rapi, saya seperti sedang belajar mengeja. Karena jumlah buku yang banyak dan ditumpuk secara padat, selain kami pun tidak tahu kelompok dari buku-buku itu, jadilah saya kebingungan. Bahkan untuk menyebut nama pengarang atau judul buku yang kami ingin cari, lupa!

Pendek kata, saya temukan juga buku yang telah saya lihat posternya beberapa waktu lalu di Jakarta ketika ada pameran buku yang tidak saya kunjungi. Tidak terlalu istimewa buku itu untuk langsung saya lahap. Bukankah saya dan anak-anak sedang dalam perayaan Idul Fitri? Benar saja. Buku yang saya beli itu entah terselib dimana menjadi belum sempat saya mulai baca. Hinga akhirnya Allah takdirkan saya untuk sakit dan mengambil waktu istirakat tidak beraktifitas selama tiga hari. Maka dengan izinNYA, buku itu berada di tangan saya. Alhamdulillah.

Mengenang secara Lebih Dekat

Lebih dekat, karena buku tentang HAMKA yang saya baca itu adalah buku karangan sang putra, Bapak Irfan HAMKA. Buku yang diberi judul Ayah... itu benar-benar mendekatkan kembali betapa HAMKA adalah sosok idaman. Banyak hal yang belum pernah saya mengetahuinya, dan dari buku itu terungkap dan memberikan tambahan kekaguman.

Tentang bagaimana beiau memegang teguh pendiriannya. Sebuah gambaran yang memberikan kekuatan jiwa dalam memegang keyakinan. Juga daya juang yang luar biasa liatnya. Adalah sosok yang memberi tambahan kekuatan semangat kepada saya khususnya dalam tumbuh sebagai manusia.

Juga dengan berbagai hal yang sulit untuk saya tuangkan dalam sebuah kalimat. Pendek kata, sebuah sosok yang pas untuk menjadi panutan. Panutan bagi saya yng juga adalah orangtua bagi anak-anak. Panutan bagi saya yang adalah pekerja yang harus memenuhi tanggung jawab. Panutan bagi jiwa yang terus menerus memegang teguh keyakinan. Panutan untuk menyingkirkan sejauh mungkin kebencian. Luar biasa. 

Tidak ada kata yang pantas untuk saya tulis lagi selain bacalah dan renungkanlah buku itu. Mudah-mudahan kita mendapat manfaat yang baik. Amin.

Jakarta, 20 September 2013.

Tidak ada komentar: