Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

15 September 2013

Mencintai Sampahnya

Sehubungan dengan sampah, di kampung dimana saya menjadi salah satu warganya, sedang direpotkan dengan ulah beberapa orang, mungkin saja hanya seorang, yang tampaknya juga penghuni atau warga, yang tjdak memperdulikan dengan sampahnya. Dalam hal ini saya ingin menggunakan kata 'mencintai' sampah yang dihasilkannya. Dan ini cukup membuat repot atau bahkan sewot Bapak Ketua RT kami yang memang rajin bukan main dalam memelihara kebersihan dan keindahan lingkungan. Antara lain dari sampah-sampah warga.

Mengapa?

Beberapa saat lalu, misalnya, ada onggokan sampah yang tiba-tiba saja datang ketika di pagi hari kami keluar rumah utuk sekedar berolah raga. Sampah itu terdiri dari kardus oleh-oleh dari daerah di Sumatera beserta beberapa plastik botol bekas minuman mineral. Juga masih ada beberapa bungkus plastik yang sepertinya bekas makanan. Dan dari jejaknya itu, kami menduga bahwa sampah ini adalah milik orang atau warga yang kebetulan kos. Nah siapa?

Tidak begitu penting sebenarnya untuk menemukan siapa pemilik sampah yang dibuang di lokasi bukan pembuangan. Karena kardus itu ujug-ujug saja ada di pinggiran gang. Di bawah pohon kelengkeng pinggir gang kecil yang memang menjadi tempat favorit jika panas sedang menyengat di Jakarta.

Tetapi, meski tidak penting siapa pemilik sampah itu, setidaknya kami ingin menyampaikan kepadanya bahwa tukang sampah akan datang dan menjemput sampah yang ada di setiap rumah atau bahkan tempat kos warga yang ada. Sehingga, ketika jadwal tukang sampah belum ada, maka menjadi tugas warga untuk memarkir sampah-sampah hasil proses hidupnya di lokasinya masing-masing dan bukan di lokasi dimana kucing liar pun tidak berminat untuk membuang kotoran (?).

Kesal

Dan rupanya, kardus sampah tersebut bukan menjadi peristiwa terakhir. Ini karena beberapa hari kemudian masih ada modus operandi sama yang dilakukan oleh orang, yang bisa jadi orang yang sama atau bahkan follower. Dan inilah yang menjadi terbitnya rasa kesal dan pegal Pak RT kami yang baik hati itu. Yang kemudian menuliskan himbauan di sebuah kertas, yang digantungnya di lokasi dimana pohon kelengkeng di pinggir gang itu berada. 

Pertanyaannya, apakah kita peduli dengan himbauan? Meski itu untuk sesuatu yang sebenarnya menjadi kewajiban kita masing-masing terhadap apa yang kita hasilkan?

Jakarta, 15 September 2013.

Tidak ada komentar: