Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

21 September 2013

Canggih Memainkan Akronim

Setiap  pulang dari kantor, saya selalu setia untuk mendengar siaran radio sebagai  bagian dari mengisi waktu luang di perjalanan. Tentu semakin tekun saya simak suara radio itu, manakala jalanan terhambat macet. Meski di jalan bebas hambatan sekalipun, macet tetap menjadi situasi hingga hari ini di kota Jakarta.

Dari suara radio, banyak hal yang saya dapat dengar dan pelajari. Tentunya selain mendengarkan lagu dan informasi jalanan, adalah juga satu hal  penting yang membuat saya senyum-senyum sendiri serta geleng-geleng kepala. Itu karena tidak lain adalah  tentang kecerdasan penyiar dalam membuat joke atau bahkan membuat akronim secara reflek dan terdengar spontan. Hebat bukan?

Saya menilainya itu sebagai hal yang hebat. Karena bagaimana secara cepat, terdengarnya spontan, ketika penyiar yang satu mengemukakan sesuatu yang masuk dalam ranah berita tetapi oleh penyiar yang lain diplesetkan menjadi sesuatu yang lucu, cerdas, dan membuat saya dan tentunya pendengar lainnya tersenyum-senyum. Bahkan ketika harus membuat sebuah kata menjadi sebuah akronim. Misalnya 'bejo', seperti yang sering kita lihat di layar tv itu. Merupakan singkatan dari bersih, jujur, dan ojo dumeh.

Akronim sebagai Slogan?

Kekaguman saya kepada para penyiar atau juga pelawak dalam membuat akronim dari kata-kata sebagaimanayang saya jelaskan tersebut di atas, tidak berbanding lurus dengan apa yang saya dengar dari sebuah presentasi seorang guru kemarin sore.  Karena dalam presentasi kawan saya tentang masa depan sebuah sekolah, sahabat saya itu terlalu banyak membuat akronim. Terdengar enak dan lancar memang pada saat ia menyampaikan presentasi dari rencananya. Namun pertanyaan saya justru; bagaimana mengaplikasikan akronim-akronim yang dibuatnya itu menjadi sebuah kata kerja? Menjadi sebuah bentuk operasional.

Bagaimana itu semua terangkum dalam kerja sehari-hari sehingga mencapai akronim-akronim yang dibuatnya?

Dari pertanyaan itu, saya justru menjadi kawatir bahwa akronim yang dibuat sahabat saya itu dalam rangka membuat peta perjalanan sekolah di masa berikutnya hanya berdiri sebagai slogan. Dan berhenti cukup hingga sampai disitu?

Jakarta, 21 September 2013.

Tidak ada komentar: