Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

01 Januari 2012

Hasil UN SMA untuk Masuk PTN?

Inilah jaminan yang disampaikan oleh Mendikbud pada Jumat, 30 Desember 2011. Sebagaimana yang dimuat dalam portal berita http://edukasi.kompas.com/read/2011/12/30/15200489/Nuh.Pastikan.Nilai.UN.Jadi.Syarat.Masuk.PTN. Sebuah keyakinan yang masih perlu pembuktian nyata. Ini mengingat bahwa, ide atau gagasan yang sama sudah pernah menjadi wacana pada tahun lalu, yang pada akhirnya mendapat teantang yang kuat dari pihak PTN yang akan menjadi penerimanya.

Logika yang dikemukakan antara lain adalah bahwa hasil ujian nasioanal UN  untuk tingkat pendidikan SD dan SMP telah menjadi syarat mutlak bagi masuknya peserta didik yang bersangkutan masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Oleh karenanya, mengapa hasil UN SMA tidak menjadi syarat bagi masuknya ke jenjang perguruan tinggi negeri?

Kualitas Nilai UN

Namun dalam berita yang sama, apa yang menjadi tekad dari Mendikbud tersebut serta merta mendapat tentangan dari  Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Sudjarwadi. Dikatakan bahwa; pihaknya menolak penggunaan nilai UN SMA pada tahun 2012 untuk dijadikan syarat penerimaan mahasiswa baru PTN. Menurut dia, nilai UN tidak serta-merta bisa dijadikan tes masuk PTN karena tujuan pelaksanaan UN dan tes masuk PTN berbeda satu sama lain.

Apa yang disampaikan oleh Pak Rektor tersebut barangkali juga harus disadari oleh pemangku kebijakan UN, bahwa selama ini kualitas nilai UN masih sangat tidak dapat menjadi pegangan. Hal ini sebagaimana apa yang kita dengar atau bahkan kita lihat sendiri di sekolah-sekolah yang menerima siswa dengan nilai UN yang tinggi, namun ketika proses belajar telah berlangsung, nyata bahwa siswa yang bersangkutan tersendat-sendat untuk dapat mengikuti pelajaran di sekolah yang terlanjur dipilihnya. Artinya, nilai UN yang tinggi belum menjadi jaminan bahwa kompetensi akademiknya juga tinggi. Lalu, mengapa dia memperoleh nilai UN tinggi? Bagi kita yang berkecimpung di dunia pendidikan, ini adalah bagian dari usaha kotor oknum tertentu yang merusak integritas dunia pendidikan.

Berkenaan hal tersebut, penulis pernah menulis dalam blog ini pada 18 Agustus 2011 dengan judul artikel Kitalah Pemandu Masa Depan Mereka.  Didalamnya saya mencantumkan foto tentang tulisan pembaca sebuah surat kabar yang bercerita bagaimana cara mengatrol nilai UN. Dan modus ini dgunakan agar perserta didik tersebut dapat masuk ke sekolah yang diinginkannya.





Juga pengalaman keponakan saya yang uring-uringan karena sulitnya mendapat kursi untuk masuk ke sekolah negeri hanya karena nilai UNnya yang jauh di bawah teman-teman se kelasnya. Padahal teman-temannya itu dalam kesehariannya memiliki kompetensi akademik dibahawah dirinya. Kisah ini saya muat di blog tanggal 5 Agustus 2011 dengan judul Hasil UN yang Tidak Mengangkat Harkat dan Martabat...

Sekarang pertanyaan kita semua adalah, apakah benar dengan apa yang dikemukakan oleh Mendikbud M Nuh bahwa nilai UN akan dijadikan salah satu syarat masuk perguruan tinggi negeri? Sebuah tekad yang mestinya mendapat apresiasi dari kita semua, khususnya bagi para masyarakat yang putra-putrinya pada tahun 2012 ini akan memasuki jenjang perguruan tinggi?

Saya, justru pesimis dengan tekad pemerintah tersebut untuk dapat terlaksana di lapangan. Hal ini, sekali lagi, berkenaan dengan kualitas nilai UN yang didapat anak-anak kita. Bukan karena kualitas soal yang membuat kualitas nilai UN anak belum layak dipercaya, tetapi justru karena tangan-tangan oknum yang membuat kabur sebuah kejujuran dalam proses memperoleh nilai tersebut.

Dengan kenyataan ini, semoga pemerintah dapat dengan lebih sungguh-sungguh melihat hal ini sebagai cermin bagi peningkatan kualitas kejujuran akan nilai UN yang akan datang ini. Agar nantinya benar-benar terliahat jarak yang nyata akan nilai UN bagi anak yang kompetensi akademiknya baik dan kurang. Karena selama nilai UN tersebut belum mampu membedakan antara dua kubu yang nyata ada di kelas tersebut, maka sulit kita yakini PTN akan legowo menerima kaykinan Bapak Mendikbud tersebut. Karena selain tujuan UN dan tujuan penerimaan mahasiswa baru berbeda, namun kulaitas UN juga pernah menjadi konsern PTN.

Jakarta, 2 Januari 2012.

Tidak ada komentar: