Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

15 Januari 2012

Komitmen Saya, adalah Mencari Uang!

Jumat malam lalu, tepatnya tanggal 13 Januari 2012, kami, sekelompok orang yang tergabung dalam ikatan bersama untuk memikul sebuah amanah di sebuah organisasi, mengadakan pertemuan. Pertemuan rutin dan reguler, yang agenda pembahansannya antara lain adalah komitmen menyeru kebaikan.  Dan ketika membahas agenda ini, kami, semua anggota rapat, hampir selalu menyepakati bahwa masalah dari semua sumber masalah atas kendornya seruan tersebut ada pada titik lemahnya komitmen untuk melakukan penyeruan. Dan ketika kami menemukan kelemahannya itu, maka kesimpulan berikutnya adalah karena komitmen untuk melakukan seruan tersebut hanya berangkat dari keinginan kepada mencari nafkah. Maka wajar jika komitmen yang menempel dalam diri tidak melekat sepanjang perjuangan mengemban amanah. Tidak menyatu. Atau mungkin dapat dikatakan komitmen itu menjadi tidak inheren. Alhasil, perjuangan yang dilakukan sepanjang pengembanan amanah hanya sekedarnya. Yaitu sekedar memenuhi standar kerja. Dan hasil yang selalu dilihat hanyalah rekening gaji pada setiap akhir bulan. Hanya itu.

Apa yang kami bahas waktu itu mungkin juga menjadi masalah besar bagi siapa saja yang tergabung dalam sebuah organisasi yang memiliki tujuan untuk memberikan pencerahan  hidup menuju kehidupan yang mulia dan bermartabat bagi siapa saja. Dan masalah itu justru lahir dari minimnya komitmen bagi sebagian komponennya. Dan minimnya komitmen itu dikarenakan para anggota komponen berada di dalam sebuah lembaga tidak lebih hanya untuk mencari sesuap nasi atau nafkah. 

Apakah itu berarti salah? Menurut saya tidak semuanya dapat dipersalahkan. Namun ketika sebuah ikhtiar yang dilakukan hanya untuk sebuah niatan mencari nafkah, maka Allah pasti memberinya. Karena nafkah hanyalah sebagain dari anugerah yang Allah akan berikan bagi siapa saja yang berikhtiar. 

Bagaimana jikalau sebuah ikhtiar mulia didasari oleh komitmen dan niatan untuk mencari keberkahan akherat? Maka, menurut pemahaman saya, Allah akan memberikan kemudahanNya bagi perjalanan ikhtiar kita guna menuju kepada keberkahanNya, sekaligus pemenuhan kepada nafkah yang kita butuhkan. Itulah keyakinan saya.

Dan pertemuan yang berkahir hingga pukul 23.00 tersebut, antara lain terdapat dialog seperti ini:
  • Loh, bukankah mereka adalah orang-orang yang memiliki kompetensi keilmuan sehingga kita rekrut sebagai bagian dari kita? Ungkap salah satu dari kami peserta rapat
  • Benar. Mereka adalah sekelompok orang yang memiliki kompetensi akademik. Namun dari pengalaman yang ada, mempetontonkan kepada kita bahwa ternyata kompetensi akademik itu baru merupakan standar dasar. Baru sebagai potensi. Ia harus dibarengi oleh keinginan yang tinggi untuk melakukan ajakan. Saya melibatkan diri dalam diskusi yang berkembang itu. 
  • Lalu apa langkah berikut yang mesti kita jalani untuk memberikan dorongan atau inspirasi bagi mereka semua? Ajak teman saya untuk kembali kepada topik rapat.
  • Kita undang penyeru yang bekerja secara total untuk menyeru. Dan bukan pencari nafkah titik. Usul yang lain. Dan tampaknya usulan itu menjadi kesepakatan kami. Yaitu menemukan penyeru yang benar-benar telah mengaplikasikan seluruh kompetensi yang dimilikinya dengan total untuk kepentingan seruannya. Seorang sosok yang perjuangannya tidak didasari oleh sebuah surat keputusan atau sebuah kompetensi akademik semata, tetapi atas dasar kepentingan akherat.
Itulah sekelumit laporan pandangan mata yang mungkin juga menjadi masalah bagi siapa saja yang bergerak di lahan sosial. Tentunya tanpa ingin sedikitpun menggurui, saya hanya memaparkan sebuah fragmen kehidupan. Allahu a'lam.
Jakarta, 14 Januari 2012.

Tidak ada komentar: