Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

17 Januari 2012

Menangkap yang Ngumpet Waktu Shalat

Sebenarnya, ini bukan pengalaman kali pertama saya atau teman-teman di sekolah untuk menangkap basah siswa kami yang tidak ikut shalat berjamaah di mushola. Namun hari ini, masih terjadi lagi. Dimana saya tidak menemukan beberapa siswa di barisan shalat. Saya segera meminta kepada guru untuk 'melacak' keberadaan anak-anak kami itu. Dan ketika shalat jamaah berakhir, anak-anak itu diantar oleh guru kepada kami yang ada di mushola.

Malas Shalat

  • Mengapa kamu tidak bersama-sama dengan teman lain untuk shalat? Tanya saya kepada mereka. Bukankah kalau kamu tidak shalat bersama teman, Bapak dan Ibu guru pasti akan mengetahuinya? lanjut saya.
  • Saya malas Pak. Sahut anak pertama. Anak yang paling diantara dua teman lainnya.
  • Saya ikutin dia Pak. Sahut yang satunya lagi sembari mengarahkan telunjuk tangannya ke arah teman yang menjawab pertama.
  • Saya solider saja. Sahut anak terakhir. 
Dari jawaban mereka, saya memaklumi bahwa melaksanakan shalat belum menjadi kewajiban bagi siswa saya itu. Ini juga diperkuat denga kenyataan bahwa diantara siswa-siswi saya di sekolah sesungguhnya masih ada beberapa diantaranya yang belum menjalankan shalat 5 waktu secara penuh da konsisten. Hal ini sebagaimana dialog saya dengan mereka:
  • Siapa yang hari ini shalat subuhnya pukul 5? Tanya saya suatu kali di kelas. Aneh, semua siswa tidak ada yang menjawab pertanyaaan yang saya ajukan. Juga tidak ada yang angkat tangan.
  • O, mungkin shalatnya pukul 04.30, saat begitu kumandang azan subuh selesai? Ulang saya. Mencoba untuk memberikan pilihan atas pernyataan waktu yang saya sampaikan. Namun juga tidak ada jawaban dari semua siswa.
  • Mengapa tidak ada jawaban? Jadi pukul berapa kalian melaksanakan shalat subuh? Desak saya kemudian.
  • Saya jam enam pagi Pak. Seorang siswa jujur memberikan jawabannya.
  • Kalau saya shalat hanya dzuhur di sekolah Pak. Jawab yang lain lagi.
Dari informasi yang saya dapatkan tersebut, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa kemalasan sebagian kecil siswa saya untuk menjalankan shalat memang karena yang bersangkutan sungguh kurang memahami mengapa dan untuk apa shalat. Dan repotnya, meski mereka belum tahu, contoh pun sulit mereka dapatkan. Oleh karenanya, ketika kami menangkap ada siswa kami yang tidak ikut shalat berjamaah, kami akan mengajaknya berdiskusi mengapa mereka mesti tidak ikut shalat berjamaah. Mengapa mereka justru memilih untuk menghindari kewajiban tersebut dengan mengajak teman bersembunyi di lingkungan sekolah, yang pasti kami, para guru, akan menemukannya?

Lalu apa hasil dialog itu? Apa manfaat dialog yang saya lakukan tersebut? 

Hasil dan manfaat dari dialog itu adalah usaha dan ikhtiar kami sebagai guru untuk terus menerus melakukan penetrasi berpikir kepada siswa kami agar simpul ruwet dalam benak siswa kami menjadi terbuka. Kami mengajak mereka berpikir, merenung, dan bahkan menghitung mengapa shalat harus kita jalani sebagai Muslim. Ikhtiar dan usaha kami ini kami lakukan tidak lain agar siswa-siswa kami tersadar sehingga tidak merepotkan kami lagi dengan cara mengilang saat shalat jamah berlangsung.

Dan sebagai harapan, maka kami tidak akan menyudahi usaha kami untuk tetap mewaspadai siapa saja dari siswa kami yang tidak menjalankan shalat berjamah. Meski mereka masih saja kadang menghilang atau menghindar dari kewajiban shalat jamaah. Tidak akan pernah kami meresa bosan atau bahkan lelah untuk sebuah usaha seperti itu. InsyaAllah. Amin.

Jakarta, 17 Januari 2012.

Tidak ada komentar: