Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

26 Januari 2012

Siapa yang 'Sebel' sama Orangtua?

Judul ini adalah pertanyaan saya kepada siswa di kelas kemarin pagi. Pertanyaan ini lahir ketika saya ingat saat saya dipangil oleh guru BK anak beberapa tahun lalu. Dimana tarnyata saya baru tahu kalau anak saya, dalam beberapa halnya, tidak menyukai saya saat berdialog. Dan pemberitahuan itu langsung membuat saya mengubah strategi dialog saya dengan anak-anak saya baik saat resmi atau saat santai atau juga saat saya harus memberikan komentar terhadap sesuatu.

Saya juga kurang tahu mengapa tiba-tiba saja pertanyaan seperti itu keluar dari mulut saya. Sebuah pertanyaan yang tadinya nyaris tidak terpikirkan oleh saya. Kaena kala itu kami sedang mendiskusikan tentang kegiatan setelah pulang sekolah.

Dimana saya pada hari sebelumnya kedatangan penjemput untuk menjemput salah satu dari mereka itu. Dan ketika ditemukan anak tersebut tidak ditemukan sama sekali. Beruntung bahwa beberapa temannya memberikan kasaksian bahwa anak yang akan dijemput itu telah meninggalkan sekolah beberapa menit lalu bersama tiga temannya untuk berkunjung ke salah satu rumah temannya. Repotnya, ketika dihubungi, HP ada nada sambung, tetapi tidak diangkat. Mka untuk itulah saya datang ke kelas esok harinya menjelaskan bagaimana orang lain yang berkepentingan dengan kita ketika kita tidak memberikan informasi sedikitpun sebelumnya.

Kembali kepada pertanyaan saya itu, ternyata dari dua puluh lima siswa saya di kelas tersebut, meski tidak seleuruhnya, ada beberapa yang mengangkat tanggannya dan mengaku 'sebel' dengan kedua atau salah satu orangtuanya di rumah.

Mengapa 'Sebel'?
  • Karena, jelas salah satu siswa saya, orangtua selalu mengontrol saya dengan menelpon terus menerus. Seolah saya anak yang ngak bisa dipercaya.
  • Karena, kata yang lain lagi, kalau orangtua saya sudah marah Pak, susah sekali selesainya. Saya jadi merasa kalau apapun yang saya lakukan menjadi salah semua.
  • Karena, lanjut yang lain lagi, saya tidak pernah benar dan tidak pernah berhasil Pak. Yang benar dan berhasil selalu kakak saya yang paling tua. Saya salah terus. Atau, kalau salah dan tidak benar pasti saya itu Pak.
  • Karena, yang lain lagi, orangtua saya tidak memberikan izin kepada saya untuk membawa kendaraan sendiri ke sekolah.
Pendek kata, saya menerima beberapa alasan yang dibuat oleh siswa,  dan dari kalimat dan bahasa yang digunakannya, saya mengambil kesimpulan bahwa tidak semua yang mereka sampaikan salah secara tata krama atau logika, tetapi tidak semuanya juga benar. Saya harus memilah dan memilih mana yang harus saya jadikan pernyataan kepada mereka sebelum saya meninggalkan kelas itu.

Dan dari pengalaman itu saya mengaca kepada anak-anak saya sendiri di rumah. Pernyataan anak-anak saya di kelas itu, sungguh telah memberikan pelajaran berharga bagi masa depan saya dalam melihat hubungan antara anak dengan orangtuanya. Terima kasih siswaku...

Jakarta, 25-26 Januari 2012.

Tidak ada komentar: