Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

14 Januari 2012

Bapak Orang Sederhana ya...

Saya mendapat predikat sebagai orang sederhana dari siswa saya yang kelas sembilan di suatu sore ketika kami berada di halaman sekolah setelah jam sekolah berakhir. Tepatnya pada saat saya menjadi wasit futsal untuk siswa kelas 5 melawan kelas 6. Sebagai gambaran, bahwa dengan kondisi lapangan sekolah yang kecil dan multi fungsi itulah, maka saya merelakan diri untuk menjadi wasit siswa-siswa saya agar semua kelas mendapat jatah menggunakan lapangan tersebut untuk bermain futsal, dan sekaligus agar bola yang ada di lapangan tetap satu. Karena jika bukan pertandingan yang kami arahkan, yang terjadi adalah monopoli siswa kelas besar terhadap penggunaan lapangan itu. Yang pada ujungnya, siswa kelas kecil akan mendatangi saya dan meminta mengusir kelas besar yang menurutnya tidak memberinya kesempatan bermain. Wal hasil, dengan saya menjadi wasit, maka setiap 20 menit, pertandingan akan berganti. Dan kelas kecil hingga kelas paling besar mendapat jatah waktu untuk menggunakan lapangan multi guna itu.

Bapak Orang Serderhana ya...

Diantara waktu saya sedang melihat jalannya permainan itulah, saya menerima telpon dari kantor. Seperti biasa, orang yang ada di dalam kantor pasti mencari-cari kebaradaan saya. Dan ketika tidak ditemukan di dalam ruangan, maka ditelponlah saya. Saya mengangkat telpon itu. Dan berkomentarlah siswa saya yang sedari tadi berdiri di sebelah saya di pinggir lapangan setelah saya selesai menjawab telpon..
  • Kok telpon Bapak masih yang itu. Kok belum ganti Pak. Ucapnya sembari memperhatikan saya memasukkan telpon seluler ke kantong celana saya.
  • Bener. Terima kasih ya kamu memperhatikan Bapak. Pak Agus orang yang tidak terpengaruh dengan tren. Termasuk tren telpon seluler. Jadi selama telpon Pak Agus masih bagus, mengapa harus berganti? Saya memberikan penjelasan. Bukan alasan. Karena saya merasa memang seperti itulah saya.
  • O... kalau begitu Bapak itu orang sederhana ya. Timpal siswa saya yang lain yang juga berada di pinggir lapangan bersama saya. 
  • Bener. Terima kasih. Pak Agus bangga menjadi orang sederhana. Sambut saya lagi.
  • Tapi telpon seluler Bapak itu kan sudah tiga (3) tahun Pak. Sahut siswa saya yang pertama tadi.
  • Bener. Jelas saya lagi. Kok kamu tahu saja kalau umur telpon seluler Bapak sudah tiga tahun.
  • Iyalah Pak. Kan model telpon Bapak ini keluar pertama pertengahan tahun 2010!
Nah, sepanjang perjalanan pulang sekolah, saya terngiang-ngiang akan kepekaan siswa saya terhadap apa yang saya punya. Bayangkan, siswa saya tahu persis kalau telpon yang saya pakai sudah berumur tiga tahun!

Saya bersyukur dan bahagia sekali terhadap percakapan itu. Percakapan yang benar-benar membuat kami sekeluarga di rumah saling berpandang tidak percaya manakala sesampai di rumah, saya mengemukakan cerita itu kepada anak dan kepada istri. Kami semua sama-sama tidak menduga bahwa ada siswa yang memiliki perhatian seperti itu. Dan itulah spirit yang saya dapat di hari itu. Sungguh membahagiakan.

Jakarta, 10-14 Januari 2012.

Tidak ada komentar: