Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

21 Januari 2012

'Upacara' Ulang Tahun Siswa Saya

Siang itu, sekitar pukul 14.00, kebetulan hari Jumat, dimana semua pelajaran berakhir pada pukul 12.00, saya harus memberhentikan 'upacara' ulang tahun siswa kelas 9 di dekat pintu gerbang keluar sekolah, yang juga kebetulan ada di samping ruang administrasi sekolah. Itu saya lakukan manakala ada seorang siswi yang telah basah kuyup dengan rabut yang telah berubah menjadi putih oleh bubuk yang rupanya disiramkan oleh teman-temannya. STOP. Kata saya mengambil alih perhatian anak-anak itu. Semua terdiam dan beberapa diantaranya memprotes keputusan saya untuk memberhentikan 'upacara' ulang tahun yang mereka rasa belum juga selesai. Namun alhamdulillah, semua mematuhi perintah saya. Mereka berhenti 'mengerjai' temannya yang ulang tahun. Membersihkan bubuk putih yang tercecer di konblok parkiran dengan air yang telah mereka tampung di dalam ember.

Kepada yang ulang tahun, saya memintanya untuk pergi ke kamar mandi driver yang ada di belakang pendopo dengan di temani teman-teman perempuannya. Saya memanggil tiga siswa yang tadi terlibat dengan upacara itu. Kepadanya saya menjelaskan mengapa saya melarang kegiatan itu. 
  • Tidak pakai telur Pak. Jelas seorang dari tiga anak itu. 
  • Dan anak cewek sudah siapkan pakaian gantinya Pak. Jadi tujuan kami tidak mengerjai pak. Tapi membuat kenangan terakhir di kelas 9 ini. Jelas temannya yang lain lagi.
  • Baik. Terima kasih. Tetapi Pak Agus tetap tidak setuju. Karena kegiatan kalian masih dalam waktu sekolah. Meski memang kalian dalam posisi sudah pulang sekolah. Jelas saya.
Beberapa saat kemudian empat anak perempuan yang lain saya panggil dan saya minta penjelasannya.
  • Kami sungguh tidak bermaksud ngerjai dia Pak. Kami sebelumnya telah sepakat. Kata anak pertama.
  • Kami sudah siapkan handuk dan perlengkapan mandi lainnya, serta pakaian gantinya Pak. Kata anak kedua.
  • Pak saya ngak apa-apa kok Pak. Saya senang saja kok Pak. Kata anak yang ulang tahun. Saya tentu saja kaget dan sekaligus kagum dengan anak-anak murid saya itu. Mereka bersahabat dengan penuh ketulusan rupanya. 
  • Baik. Maafkan Pak Agus. Tapi lain kali jangan lakukan saat sekolah ramai oleh penjemput. Kata saya lagi. Sekarang kamu mandi di toilet Ibu Guru TK. Pinta saya kepada mereka.
  • Nggak Pak, saya mau mandi di rumah Mira saja. Bujuk anak yang menjadi target.
  • Tidak. Pak Agus tetap menginginkan kamu mandi yang bersih di sekolah dan berganti pakaian. Karena jika kamu harus naik kendaraan dalam kondisi basah kuyup, kasihan mobilnya. Kata saya agak memaksa.
Mereka semua akhirnya mengantarkan teman yang ulang tahun itu ke kamar mandi. Tentu setelah saya meminta ijin kepada guru TK untuk menggunakan toilet mereka.
Pengalaman itu membuat saya berpikir tentang proses belajar yang berangkai dengan peristiwa-peristiwa lain, pada tahun-tahun awal sekolah kami punya SMP. Termasuk peristiwa 'upacara' ulang tahun itu. Dimana kala itu ada budaya 'ngerjai' teman yang ulang tahun dengan memecahkan telur di rambut. Dari peristiwa itu, kami kumpulkan anak-anak untuk mendiskusikan kejadian itu, untuk kemudian dilarang. Alhamdulillah, bahwa anak-anak kami pada akhirnya mengetahu ekspektasi kami. Meski itu selalu dilakukan pada jam sesudah pulang sekolah dan sebelum mereka dijemput oleh penjemputnya.

Kadang peristiwa itu masih berulang. Ini terutama dilakukan oleh siswa-siswa yang berbeda generasinya. Mungkin setelah sekian tahun, kami lupa mengkomunikasikan budaya kami itu kepada siswa kami. Namun setiap ada peristiwa seperti itu, esok harinya kami sekali lagi menyampaikan mengapa kami tidak menyetujui budaya itu. Hingga peristiwa kemarin sore itu. Meski 'upacara' itu tetap saya STOP, dalam hati saya berpikir bahwa anak-anak itu, siswa-siswi saya itu, tetap memikirkan 'kesejahteraan' teman yang dikerjainya. Sekali lagi, Alhamdulillah.
Jakarta, 21 Januari 2012.

Tidak ada komentar: