Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

03 Januari 2012

Mengapa Ketidakjujuran UN Terjadi?

Menurut Kepala Badan Standar Pendidikan Nasional (BSNP), Teuku Ramli Zakaria, terdapat  dua hal yang menjadi pemicu terjadinya ketidakjujuran dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Hal in sebagaimana dikutif dalam situs berita http://edukasi.kompas.com/read/2012/01/02/16195199/Dua.Pemicu.Utama.Kecurangan.UN. Dua pemicu itu adalah; budaya meluluskan, dan tekanan politik.
Dijelaskannya bahwa budaya meluluskan yang mengakar di masyarakat sekolah, yang  megakibatkan sekolah sulit untuk berani meluluskan. Dan tentang tekanan politik, ini karena adanya target dari masing-masing pemerintah daerah yag imbasnya adalah tekanan kepada pemangku kebijakan pendidikan di daerah tersebut, yang pada akhirnya tekanan itu sampai juga kepada sekolah.

Pertanyaan yang kemudian lahir dari saya sendiri sebagai bagian dari praksis pendidikan di sekolah adalah, benarkah hanya dua hal itu saja yang mengakibatkan ketidakjujuran tersebut lahir? Dimana dari dua faktor tersebut, Kemendikbud seolah tidak menjadi bagian inheren di dalamnya? Misalnya saja; Satu,  adanya kebijakan pemerintah bahwa hasil UN untuk jenjang pendidikan di SD dan SMP akan menjadi syarat utama bagi siswa yang bersangkutan untuk memperoleh bangku sekolah di jenjang pendidikan selanjutnya sesuai dengan apa yang diinginkan? Dua, masih ingatkan kita bahwa peserta didik yang tidak lulus, untuk kasus kelulusan sebelumnya, mereka dapat menempuh jalur ujian kesetaraan atau bahkan pernah ada ujian ulangan? Hal kedua ini, menurut saya, pemerintah (baca: Kemdikbud atau apalah namanya sebelumnya) benar-benar telah berlaku amnesia terhadap apa yang telah diputuskan untuk dunia pendidikan.

Introspeksi

Namun baiklah, saya tidak akan melihat masalah ketidakjujuran dalam pelaksanaan UN ini dari kacamata kebijakan. Saya akan meilihatnya dari apa yang saya dapat lakukan. Setidaknya untuk kewenangan yang ada dalam praksis yang ada dalam amanah saya di lembaga yang saya sendiri berada. Dan hal ini saya lakukan sebagai introspeksi diri dan lembaga. Agar apa yang kita lakukan dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah yang melibatkan peserta didik menjadi berkah karena keridoan dari Allah SWT. 

Bahwa sinyalemen adanya dua faktor terjadinya ketidakjujuran dalam pelaksanaan UN sebagaimana dikemukakan oleh Kepala Badan Standar Pendidikan Nasional (BSNP), Teuku Ramli Zakaria tersebut, saya dan semua anggota komunitas yang berada di dalam lembaga pendidikan tempat kami berada, menyepakati untuk menjadikan UN hanya sebagai salah satu hasil belajar. Bukan satu-satunya hasil belajar. Paradigma ini menjadi darah daging perjuangan kami agar kami tidak terjebak arus menyesatkan dalam mengejar hasil UN. Mengapa? Karena UN hanya menguji kompetensi kognisi peserta didik. Padahal sekolah kami membelajarkan peserta didik tidak hanya pada kognisi. Tetapi juga afeksi dan psikomotoris. Paradigma ini selalu kami sampaikan kepada para orangtua peserta didik agar mereka tidak kecewa. Kepada mereka kami sampaikan bahwa sekolah kami adalah sekolah yang berbeda.

Dengan paradigma itu, kami masih menemukan fenomena dari beberapa orangtua peserta didik yang terkesima dengan hasil UN, namun kemampuan akademis anaknya hanya pada tataran biasa. Meski kami menyadari bahwa hasil UN memang menjadi kunci bagi siswa untuk memasuki gerbang ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kondisi inilah yang menjadikan gelap mata bagi beberapa oknum orangtua peserta didik yang menginginkan anaknya tetap dapat memasuki sekolah unggulan yang diinginkannya. Maka ketidakjujuran terbuka untuk terjadi. Modusnya? Lhat kembali artikel saya di blog ini pada tanggal 18 Agustus 2011. Dan sebagai pendidik, saya justru lebih kawatir degan  faktor ketidakjujuran yang terakhir ini. 

Sekali lagi, sebagai langkah untuk introspeksi, maka semua faktor akan menjadi penyebab bagi lahirnya ketidakjujuran dalam pelaksanaan UN harus kita lihat secara holistik. Dan tampaknya seua memungkinkan untuk berkontribusi terhadap terjadinya ketidakjujuran. Belum lagi, misalnya, adanya faktor yang menjadikan ketidakjujuran UN, justru sebagai lahan mencari nafkah bagi keluarganya?

Maka dengan introspeksi ini, kita dapat belajar juga bagaimana melahirkan hasil pendidikan yang penuh keberkahan dari Allah SWT.  Semoga. Amin.

Jkt, 03 Januari 2012.

Tidak ada komentar: