Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

14 Januari 2012

Ketika Anak Hendak Memilih Home Schooling

Memang, home schooling dewasa ini tidak saja menjadi isu yang ada di lingkungan orang dewasa, kalangan tertentu, atau juga para pelaku yang menanganinya. Bahkan anak saya yang di SMA pun, telah menjadikan home schooling sebagai salah satu alternatif manakala ia bosen untuk datang ke sekolah. Bosen, karena dari pengalamannya bersekolah yang jaraknya dari rumah tempat tinggal saya tidak seberapa itu, dia mengambil kesimpulan kalau sekolah yang dijalaninya rada menyia-nyiakan waktu. Ini asli pikiran dia yang sudah 16 tahun umurnya.

Tetapi untuk meluruskan dan sekaligus menjauhkan dari syak wa sangka, tulisan saya ini tidak bermaksud mengupas apa, bagaimana, dan mengapa home schooling. Melainkan hanya ingin membagi pengalaman berdialog dengan anak saya sendiri tentang home schooling. Sebuah niatan yang pernah ia kemukakan kepada saya beberapa waktu lalu. Niat yang ia lontarkan karena ia hampir-hampir tidak memiliki waktu lagi untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris di daerah Ratu Plaza yang sangat ia nantikan. Dan tidak memiliki waktu itu dikarenakan begitu bertumpuknya segala macam tugas sekolah.

Dan saya sendiri tidak begitu paham mengapa ide dia untuk tidak melanjutkan sekolah dan memilih home schooling itu muncul. Mungkin ini salah satu keberhasilan dari arus informasi yang berkenaan dengan home schooling di mass media kita.

  • Mengapa ide seperti  itu menjadi pilihan kamu? Tanya saya suatu hari saat ia megemukakan keinginannya.
  • Karena saya merasa sia-sia melakukan semua hal ini? Katanya penuh tekanan emosi.
  • Mengapa sia-sia? Kejar saya agar dia mau memberikan argumentasi.
  • Karena, pekerjaan dan tugas-tugas yang diberikan adalah tugas untuk menyelesaikan soal ulangan atau soal latihan. Sementara gurunya sendiri belum pernah membahas materi tersebut ke kita. Jadi, bagaimana seperti itu? Jawabannya panjang dan lebar. Dan tentu tidak semua jawabannya dapat saya catat disini. Namun dari apa yang dia kemukakan dan juga beberapa hari serta kesempatan yang lain yang dia ungkapkan hal yang sama kepada saya, maka saya menyimpulkan ada kebosanan lahir dan batin pada anak saya saat menjalani sekolah.  
  • Saya paham dan mengatakan: Apakah home schooling akan menjadi solusi bagi apa yang kamu keluhkan? 
  • Iya, aku yakin akan jauh lebih berkembang jika waktuku ini aku gunakan untuk belajar yang lain. Dan tidak sekedar megerjakan soal-soal yang membosankan dan sekaligus tidak menantang semacam ini. 

Sekolah yang Membosankan

Apa yang anak saya sampaikan tentang keadaan bersekolah itu, menjadikan saya bercermin. Karena saya sendiri adalah guru yang mendapatkan tugas atau amanah tambahan mengelola sebuah lembaga pendidikan. Cermin yang menjadi masukan buat kami yang berkecimpung di sekolah untuk kemudian kami dapat mawas diri dang mengubah diri. Tentu untuk kepentingan harga diri dan martabat kami di hadapan anak bangsa, para generasi penerus bangsa, kepada anak-anak saya sendiri.

Sekolah menjadi tempat yang membosankan. Karena guru, tanpa disadarinya,  terserang penyakit malas yang akut. Karena begitu akutnya, maka pola kemalasannya sudah menjadi habit atau bahkan telah mengakar pada karakter diri.

Bagaimana mungkin guru meminta siswanya untuk belajar sesuatu yang baru tanpa memberi bekal apapun terhadap sesuatu yang harus dikerjakan oleh siswa itu? Dan perilaku atau klebiasaan lain, sebagaimana anak saya curhat, guru-gurunya masih sering datang ke kelas pada menit-menit terakhir dan sesampai di kelas hanya mampu memberikan instruksi kepada siswanya untuk membuka dan mengerjakan soal-soal latihan? Apakah guru semacam ini benar-benar menjalankan tugasnya? Apakah tugas-tugas yang diberikan kepada siswanya adalah tugas-tugas yang merangsang syaraf kepintaran serta kecerdasan siswanya yang pada ujungnya akan mampu melahirkan sikap rasa ingin tahunya semakin meningkat?

Saya hakul yakin bahwa, tidak semua guru seperti itu. Namun bagi kita yang juga guru, maka siswa adalah cermin kita. Dan karena ia cermin, maka sesungguhnya siapa saja yang hendak menjadi manusia bermartabat dan mulia, guru adalah profesi yang dapat menghantarkan kita menuju atau meraih posisi itu? Dan semoga saya, diberikan kesadaran selalu dari Allah, serta kekuatan untuk mencapai arah itu. Semoga. Amin.

Jakarta, 11-14 Januari 2012.

Tidak ada komentar: