Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

05 Agustus 2011

Hasil UN yang Tidak Mengangkat Harkat dan Martabat

Saya merenungi keluh kesah keponakan saya yang tahun pelajaran 2011/2012 ini harus berebut masuk SMA Negeri. Meski alhamdulillah pada akhirnya ia masuk juga di sekolah yang menjadi keinginannya. Namun tetap bukan sekolah unggulan yang diimpikannya, seperti sebelum UN dilaksanakannya. Ini semua karena jumlah nilai Ujian Nasional yang didapatnya.

Keluh-kesahnya berawal dari jumlah nilai UNnya yang 'hanya' 31 dari empat mata pelajaran. Yang artinya dia memperoleh nilai rata-rata untuk tiap mata pelajarannya lebih dari 7,5. Dimana jumlah nilai itu adalah jumlah nilai yang meski 'bagus', tetapi relatif mepet, jika tidak mau dikatakan kurang untuk sebuah modal berebut masuk sekolah negeri. Ini karena jumlah nilai UN teman-temannya di kelas melebihinya. Tidak saja mereka yang pada semester-semester sebelumnya memang mengalahkannya di urutan satu atau dua di kelasnya. Tetapi juga hampir semua temannya yang berada jauh di bawah kompetensi akademiknya tiba-tiba secara sekonyong-konyong dan mengejutkan mendapatkan nilai UN yang sangat bagus.
Di atas apa yang diperolehnya.

Itulah awal keluhannya kepada saya saat saya mengunjunginya diakhir bulan Juni lalu. Dia sangat kawatir kalau-kalau dengan modal nilainya itu menjadikannya kesulitan mendapatkan bangku sekolah negeri, atau bahkan menutup pintu kemungkinan sekalipun. Meski tiga pilihan sekolah saat PPDB ditulisnya dengan sekolah-sekolah yang dengan passing grade relatif rendah.

  • Mengapa kawatir? Kata saya mencoba untuk berempati.
  • Karena, katanya, teman-temanku yang saat disekolah kompetensi akademiknya berada dibawahku tapi mendapat nilai UN yang melejit itu, tidak memilih di sekolah unggulan sesuai dengan nilai UN yang tinggi itu. Tetapi mereka juga memilih di sekolah dengan passing grade yang menjadi pilihanku. Artinya, mereka akan menyingkirkanku. Jelasnya.

Saya faham. Mengapa mereka yang mendapat nilai UN sangat bagus itu tidak masuk sekolah unggulan? Karena mereka faham akan kompetensi akdemiknya yang sesungguhnya. Karena apa yang dia dapat dalam angka UN yang sangat bagus itu sesungguhnya bukan cermin kompetensinya. Oleh karenanya, meski angka UN mereka tinggi, mereka tidak akan memilih sekolah unggulan dengan passing grade yang tinggi. Mereka menyadari kalau sampai masuk sekolah unggulan sesuai dengan nilai UNnya, pada enam bulan pertama masuk sekolah, mereka akan termehek-mehek, atau bahkan mungkin terseok-seok.

Pertanyaan berikutnya adalah; untuk apa mengejar untuk mendapatkan nilai UN yang tinggi tetapi tidak mengangkat harkat dan martabatnya?

Itulah kesimpulan saya terhadap apa yang menjadi keluhan keponakan saya karena mendapat nilai UN dibawah rata-rata sekolah. Sebuah hasil yang dicapainya dengan murni tanpa mau bersengkongkol dengan temannya dalam bentuk mengumpulkan uang agar mendapatkan SMS sebelum UN berlangsung.

Jkt, 15 Juni- 6 Agustus 2011

Tidak ada komentar: