Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

23 Januari 2012

Apa Untungnya vs Apa Ruginya?

Ketika kita berada di lapangan sekolah dan persis dibawah kaki kita terdapat seloform bekas bungkus makanan terkenal dari luar negeri, apa yang akan Anda lakukan? Ini pun saya coba persempit bahwa yang dimaksud dengan kita adalah saya dan Anda yang juga adalah komunitas sekolah tersebut. Tentu pilihannya hanya dua. Pilihan pertama adalah mengambilnya untuk kemudian membuangnya pada tempat yang semestinya. Pilihan kedua, akan membiarkannya. Memang ada pilihan berikutnya misalnya akan memanggil teman pramubakti yang bertanggungjawab atas kebersihan lingkungan sekolah. Namun saya bermaksud hanya memberikan dua pilihan saja yaitu terhadap nasib seloform bekas pembungkus makanan yang tergeletak di halaman sekolah, mengambilnya atau membiarkannya.

Ketika pilihannya adalah mengambilnya, pasti ada serangkaian argumentasi sehingga pilihan itu yang diambil. Bukankah sampah itu bukan sampah kita. Jadi apa untungnya kita melakukan kebaikan di tempat umum atas perbuatan tidak senonoh orang lain yang tidak bertanggungjawab? Apakah perbuatan itu nantinya, dari kacamata orang-orang tertentu,  tidak dianggap sebagai cara-cara untuk mendapatkan sesuatu? Sesuatu yang berkait dengan atasan, seperti menjilat? Bagaimana dengan pilihan yang kedua? Khusus pilihan kedua, tidak ada sesuatupun yang perlu kita diskusikan. Karena ketika kita telah memilih perilaku kedua, maka selesai sudah perkaranya. Tanpa perlu kita berdiskusi tentang apa argumentasinya.

Apa Untung vs Apa Rugi

Kadang, secara manusiawi kita berpikir tentang apa implikasi perbuatan bagi kita selanjutnya. Dan implikasi itu jika kita kalkulasi, maka muaranya kepada untung dan rugi. Oleh karena itu jika kita mengambil sikap terhadap sebuah keputusan, maka dibalik sikap yang kita ambil akan tergambar plus dan minusnya. Untung dan ruginya. Sama halnya dengan kasus atau cerita tentang seloform bungkus makanan yang ada di halaman sekolah di atas.Dan sepenuhnya saya sepakat dengan argumentasi tersebut di atas. Namun yang agak berbeda barangkali, bahwa bagaimanapun posisi dan kondisi kita, terutama jika masalah seloform atau kotoran lain tersebut masih berada dalam ruang lingkup kita, maka meski tetap berpikir tentang untungnya atau ruginya, namun seyogyanya pikiran positif yang dikedepankan.

Misalnya jika kita berprakarsa untuk mengambil sampah tersebut dan membuangnya ke tempat yang semestinya, dan ketika dalam pikiran kita tersirat argumen apa untungnya, maka baliklah model berpikir tersebut dengan apa ruginya jika saya harus membuang sampah orang lain?

Jikapun dalam benak kita terdalam masih protes; apa untungnya kita berprakarsa melakukan hal itu kalau toh orang lain tidak mengambil prakarsa apapun terhadap hal yang sama? Sekali lagi, saya mengajak kita semua untuk mengambil sikap berpikir; Apa ruginya kalau saya orang yang pertama memulai melakukan hal yang orang lain tidak lakukan?

Saya pastikan lingkungan kita akan menjadi baik bila prinsip berpikir apa ruginya kita berbuat baik atas perilaku orang yang tidak baik terhadap lingkungan. Apalagi jika salah satu kita itu adalah pengambil keputusan dan memungkinkan melakukan intervensi atas sebuah budaya di lingkungannya masing-masing. InsyaAllah. Amin.

Jakarta, 23 Januari 2012.

Tidak ada komentar: