Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

06 Januari 2012

Pelajaran dari Pernyataan tentang Mobil Nasional

Berkait tentang mobil (nasional) yang dibuat oleh Kiat Esemka, masih menjadi berita di koran yang terbit pada hari ini, Jumat, 6 Januari 2012 . Tidak tidak lain karena mobil SUV ( sport utility vihicle) tersebut adalah prototipe kedaraan yang diklaim akan mampu bersaing di pasaran bila nantinya benar-benar dapat masuk dalam ranah industri. Adalah Wali Kota Solo Bapak Joko Widodo, yang memasangi nomor kendaraan bermotor dinasnya pada kendaraan yang dibanggakannya itu. Bahkan, sang wali kota mengaku akan menggunakan kendaraan yang kelahirannya dilakukan oleh siswa SMK tersebut akan dijadikannya mobil dinas, dan akan membawanya untuk kunjungan kerjanya ke Semarang dan Jakarta. (Republika, 3 Januari 2012).

Namun pada hari berikutnya, saat kunjungan kerja di Wonogiri, Bapak Gubernur Jawa Tengah, yang adalah atasan dari Bapak Wali Kota tersebut, mengingatkan agar penggunaan mobil (nasional) tersebut memenuhi standar yang berlaku di Indonesia. Antara lain laik jalan terlebih dahulu. Apalagi untuk digunakan sebagai mobil dinas (Republika, 4 Januari 2012).

Dan hari berikutnya te;ah ramai di media masa tentang  berbagai komenatar dari penguasa negeri ini tentang keberadaan mobil Kiat Esemka tersebut untuk masuk dalam industri massal. Dalam komentar berikutnya adalah pernyataan pengakuan, dukungan, dan kebanggaan yang datang dari Bapak Presiden, yang disampaikan oleh juru bicara kepresidenan. Juga pernyataan Menko Kesra Agung Laksono, serta Bapak Marzuki Ali selaku ketua DPR.

Berita terakhir yang saya baca di koran hari ini adalah langkah berikut, yang tampaknya pejabat kita telah mulai berpikir pada tataran aksi, yaitu bagaiman kelanjutan  dari pernyataan-pernyataan mereka terhadap mobil tersebut. Dalam Kompas, 6 Januari 2012, terdapat judul berita yang menyangkut keberadaan mobil Kiat Esemka tersebut,  Esemka Siap Uji Emisi. Saya bergembira bahwa apa yang telah dilakukan oleh seorang pemilik bengkel di Klaten, memberikan investasi dan kepeduliannya untuk bekerjasama dengan siswa SMK dalam mewujudkan mimpi untuk mandiri dalam bentuk membuat mobil asli Indonesia. Itulah, menurut saya, jiwa nasional. Pemodal yang tidak mutlak berpikir bagaimana mendapat uang banyak. Inilah, sekali lagi menurut saya, hal yag benar-benar harus mendapatkan apresiasi paling berharga. Saya yain, banyak orang mampu di negeri ini. Tetapi hanya sediit yang mau dan peduli pada masa depan bangsanya.

Namun tampaknya, masih ada perjalanan yang belum dapat menjadi kepastian akan nasib dari mobil Kiat Esemka ini di mata saya. Meski sebagaimana berita yang saya dengar di TV bahwa Bupati Karanganyar, Jawa Tengah, juga mendukung program ini dengan memesannya. Karena itu, saya sebagai bagian dari negeri ini akan menjadi saksi, sejauh mana kepedulian para pemangku kebijakan di negeri yang saya cintai ini akan bermuara. Apakah memang ada 'nyali' bagi pemangku kebijakan itu untuk benar-benar mau dan mampu mewujudkan mobil nasional (dalam bentuk apapun),  dalam bentuk riil  di kehidupan kita,  atau hanya sekedar pernyataan yang sekedar mencoba mengikuti arus sebagaimana tahun-tahun sebelumnya?

Menonton Keberpihakan

Bagi saya, yang adalah salah satu dari warga Indonesia ini, mendengar berita di TV, membaca di koran berkenaan dengan apa yang dipertontonkan atas kelahiran produksi dalam negeri, dalam hal ini berbentuk mobil dari Kiat Esemka tersebut, dapat mengambil beberapa pelajaran. Pelajaran yang dapat saya ambil antaralain adalah: rasa nasionalisme. Kegamangan pada pemangku kekuasaan untuk berpihak kepada siapa. Secara terang, saya dapat menangkap hal ini dari pernyataan-pernyataan yang mereka buat. Pernyataan yang tidak menguntungkan keberadaan dan kelahiran akan produksi nasional adalah keberuntungan yang luar biasa bagi para pedangan atau importir pada barang sejenis. Lihat saja kecocokan apa yang saya asumsikan ini dengan berita-berita yang ada. Bahkan Media Indonesia menjadikan topik ini sebagai Editorial pada Rabu, 4 Januari 2012. Juga di koran Republika dalam tajuknya yang terbit pada Kamis, 5 Januari 2012.

Sebagai pedagang, importir, atau agen dari produksi asing, maka kelairan anak bangsa ini akan kecintaannya kepada produksi dalam negeri, kalau memang ada barang yang merupakan produksi dalam negeri, maka hal ini adalah kebuntungan yang luar biasa. Dan apabila rasa kepedulian ini dapat dikatakan sebagai bagian dari rasa nasionalisme, maka kepada siapa standar rasa nasionalisme itu dapat kita teladani pada masa kini? Apakah saya harus belajar menumbuhkan rasa nasionalisme itu dengan berkunjung ke makam pahlwan saja?

Untuk itulah, sekali lagi, saya hari-hari ini akan benar-benar menonton keberpihakan para junjungan saya tentang nasib bangsa di masa depan, khususnya pada masalah produksi mobil nasional. Supaya saya tidak merasa malu jika  suatu kali saya mendapat kesempatan pergi berkunjung ke Kuala Lumpur, Malaysia, dan ternyata jalanan rayanya dibanjiri oleh mobil nasionalnya?

Jakarta, 6 Januari 2012.

Tidak ada komentar: