Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 November 2015

Belajar Tuntas

Beberapa waktu lalu saya diajak teman untuk melihat secara langsung cara dan model drilling materi pelajaran sebagai wahana dalam mencapai tujuan belajar tuntas. Dan dalam kesempatan itu pula saya menjadi teringat di dekade tahun 90an, disaat saya mengajar di kelas dua SD. Dimana salah satu sumber belajar dari mapel Matematika adalah buku yang menyuguhkan model mencapai belajar tuntas. Maka sekembali dari kunjungan tersebut, melalui jasa telepon seluler, saya kembali menemukan buku yang di awal karir saya sebagai guru tersebut.

Dan setelah semua melalui perenungan ulang, maka saya memutuskan untuk melakukan beberapa hal yang memang menjadi tujuan dari pembelajaran, serta meminimalisir beberapa hal agar pembelajaran tetap bertumpu  kepada proses. Lalu bagaimana pengertiannya?

Bahwa kita ketahui bersama, apa yang menjadi keinginan Kurikulum baru untuk menekankan kepada peserta didik memiliki semangat eksplorasi untuk sebuah pegetahuan yang ingin dimiliki. Dan ending dari pembelajaran di tahun terakhir anak-anak di jenjang SD, SMP, dan SMA, adalah ujian nasional dengan model tes pilihan ganda.

Dengan melihat kenyataan itu, langkah yang kami, saya dan teman-teman di sekolah, lakukan adalag dengan membelajarkan anak-anak di kelas awal dan menjelang akhir sebagaimana yang menjadi tuntutan Kurikulum, sementara untuk mempersiapkan anak-anak di tahun terakhir sebagai persiapan ujian adalah dengan kombinasi pengayaan.

Kami katakan sebagai kombinasi, karena dalam prosesnya anak-anak tidak selalu dihadapkan kepada latihan-latihan soal sebagaimana yang menjamur sebagai larangan usaha. Tetapi juga menembak kepada kompetensi dasar anak-anak dalam menguasai kemampuan dasar.

Itulah yang menjadi kombinasi kami di lapangan. Dan ketika anak-anak dipersiapkan kepada kemampuan dasarnya, maka itu menjadi modal mereka untuk percaya diri dalam menghadapi berbagai tingkat kesulitan soal yang muncul di latihan-latihan soal, termasuk di Ujian Nasional nanti. Semoga.

Jakarta, 30 Nopember 2015.

Tidak ada komentar: