Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

12 November 2015

Belajar Menginap #12; Nangis Guling-Guling

Hari pertama dalam kegiatan siswa, saya mendapat pengalaman unik secara langsung di lokasi kegiatan menginap siswa di Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ini ketika teman-teman guru melakukan evaluasi kepada seluruh siswa atas kegiatan yang baru dimulai pukul 13.00. Evaluasi dilakukan di Masjid RW O1, Desa Pulosari seusai waktu Isyak.

Guru memberi waktu kepada anak-anak untuk mengabarkan kepada orangtua masing-masing lebih kurang 10 menit setelah mereka mendapatkan selulernya masing-masing yang sebelumnya dikumpulkan di Guru Kelasnya. Kesempatan itu selain memberikan kabar juga untuk menghapus kangen orangtua dan anak. Tentu itu menjadi momen yang seru. Anak-anak dengan penuh antusias memberikan kabar dan menceritakan laporan pandangan matanya selama lebih kurang 7 jam di lokasi kegiatan.

Anak-anak juga bercerita tentang keluarga asuhnya di lokasi kegiatan juga termasuk kondisi keluarga, rumah dan tentunya ruang belakang yang sering menjadi keluhan terbesar dalam kegiatan semacam itu. Namun pada malam itu, saya tidak banyak melihat wajah-wajah kecewa dan muram kecuali pada salah satu anak. Rata-rata wajah yang terpancar ketika menyampaikan kabar via selulernya adalah wajah-wajah yang berhias senyum.

Pemandangan indah dengan suhu yang sangat sejuk. Malam hari dengan rata-rata suhu 17 derajat celcius.
Dengan dengan keadaan anak yang nangis berguling-guling di emperan masjid, guru menunggu hingga suasana sedikit reda. Karena anak tersebut masih memegang selulernya dan meminta orangtuanya yang di Jakarta segera datang ke lokasi kegiatan guna menjemputnya kembali pulang. "Aku tidak betah." begitu kira-kira kalimat yang keluar di telepon.

Dan ketika situasi lebih reda dan nyaman, Guru memanggil teman satu rumah di lokasi kegiatan, dan bertanya tentang kondisi rumah serta orangtua asuhnya. 

Guru : Bagaimana kondisi rumahmu disini? Apa pendapatmu?
Anak: Rumah kami lumayan baik Pak. Ubinnya sudah keramik seperti lantai masjid ini.
Guru : Orangtua asuh kalian?
Anak: Baik Pak. Mereka menyiapkan makan ketika kami datang tadi siang. Juga ketika kami
           sebelum datang di acara ini. Mereka meminta kami untuk makan dahulu.
Guru : Bagaimana dengan toiletnya?
Anak: Alhamdulilah ada Pak. Sudah ada kamar mandi di dalam rumah.

Anak yang sedang merajuk minta pulang itu, dibiarkannya mengatur irama emosi dengan mendengarkan ungkapan pendapat dan perasaan teman satu rumahnya. Meski tidak menyatakan sepatah katapun, guru menginginkan agar percapakannya itu direkam di benak anak yang merajuk tersebut.

Saya tentunya kagum dan gembira bahwa saya mendapat satu strategi dari teman guru dalam meredam gejolak perasaan dan emosi anak-anak dalam sebuah kegiatan yang menuntut anak-anak harus meninggalkan rumah dan bermalam. Tentu berat. Terimakasih.

Jakarta, 12 Nopember 2015.

Tidak ada komentar: