Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

12 November 2015

Belajar Menginap #14; Memelihara Sapi

Dalam kegiatan belajar menginap di rumah penduduk di hari kedua, yaitu hari pertama dalam siklus hidup di lokasi, yang pada tahun 2015 ini mengambil tempat di desa Pulosari, anak-anak telah berperan secara normal dengan mengikuti  hidup sebagaimana orangtua asuh mereka menjalani hidupnya. Dan dengan rasa ingin tahu banyak tentang bagaimana anak-anak didik kami menjalani hari pertamanya sebagai warga desa, maka sejak pagi hari saya telah berputar-putar mengitari empat RT yang menjadi penyebaran anak-anak didik kami tinggal.

Pertama keluar rumah, saya mengambil jalan setapak yang berada diantara kebun kopi dan sebuah rumah tidak berpenghuni. Sebagai pagar pekarangan, ditanami diantaranya rumput gajah yang baru saja dipangkas untuk pakan ternak. Saya ingin tahu saja akan berada dimana ujung dari jalan itu. Dan tidak lebih dari 70 meter, disebelah kanan jalan setapak itu, saya bertemu rumah dengan tanpa pagar selain pagar hidup. Pintu pagar tidak lebih dari 90 cm, terbuat dari anyaman bambu. disamping pagar terdapat tanaman jeruk gulung yang dengan berbuah. 

Saya mencoba permisi dan masuk ke pekarangan rumah sebelum akhirnya tiga siswa kelas VII memanggil saya. Di tangan salah satu siswa itu memegang gelas berisi susu yang tidak penuh tetapi juga tidak kosong.

"Pak Agus." panggil salah seorang dari tiga anak tersebut. Mereka keluar dari ruang dalam menuju ruang tamu yang mereka sulap menjadi tempat mereka, anak-anak itu tidur. 

"Apa yang sedang kalian lakukan pagi ini?" Tanya saya kepada ketiganya. Orangtua asuh dari ketiga anak itu adalah peternak sapi perah yang terdiri dari sepasang kakek dan nenek. Keluarga itu memelihara dua ekor sapi perah dan satu ekor anak sapi jantan yang tengah digemukkan. Tiga ekor sapi itu berada di bagian belakang rumah dengan pekarangan yang tidak lebih dari 200 meter persegi.

"Kami selesai mengantar hasil perahan susu sapi Pak di bawah." Jawab salah seorang dari ketiga anak itu. Bawah yang dimaksud mereka adalah lokasi truk pengepul susu yang lokasi parkirnya berada di bawah kampung Dandang di desa itu. Setiap pagi dan sore, truk itu akan mangkal disana menunggu warga desa anggota KPBS, nama koperasi para peternak, untuk mengumpulkan hasil perahan susu.

"Orangtua kami sedang mengasah sabit Pak. Sebentar lagi kami akan pergi ke ladang guna mencari rumput untuk ternak sapinya. Apakah Bapak ingin ikut?" Lanjut anak yang lain dan memberikan penjelasan.

"Terimakasih. Pak Agus akan mencoba jalan ini untuk bertemu teman kalian yang lain." Kata saya lalu pamit. Saya keluar pekarangan rumah itu melalui jalan yang berbeda. Jalan yang terlihat jarang dilalui.

Sembari keluar dari keluarga peternak 3 sapi tersebut, saya bersyukur bahwa ketiga anak didik saya yang berada di keluarga itu begitu menikmati perannya sebagai peternak sapi. 

Jakarta, 12 Nopember 2015.

Tidak ada komentar: