Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

15 Desember 2015

Piknik Sekolah

Beberapa waktu lalu, tepatnya persis di akhir Nopember 2015, saya bersama semua teman lainnya yang berada di posisi manajemen, diberi anugerah untuk melakukan perjalanan wisata ke sebuah ibu kota negara tetangga. Nikmat luar biasa bagi saya. Karena bersamaan dengan momen tersebut, saya mendapat anugerah berupa memperpanjang masa berlakunya paspor saya yang sudah kedaluwarsa. Selain juga mendapat pengalaman baru pergi bersama teman-teman.

Namun bukan kepergiannya yang menjadi bahan catatan saya kali ini, tetapi bagaimana diantara kita, para anggota yang mendapat kesempatan untuk bertamasya itu. Ada beberapa hal yang unik yang saya dapatkan dari pengalaman menempuh perjalanan itu. Dan karena sayang untuk saya lupakan, maka saya mencobanya untuk membuat catatan dengan harapan agar menjadi bagian masa lalu yang tidak mudah untuk terlupakan.

Kepergian

Berawal ketika dalam persiapan kepergian kami. Dimana kami semua seperti sport jantung. Bukan karena kekurangan dana yang menjadi penyebabnya sehingga harus memutar otak dalam memilih penerbangan yang lebih miring harganya. Jujur ini bukan sombong. Tapi murni karena sedikit ada prosedur yang memang tidak seharusnya terjadi. Penyebabnya adalah karena destinasi awal tiba-tiba harus berubah hanya pada H-3 keberangkatan. Inilah yang menjadikan kami semua sport jantung.

Alhamdulillah bahwa akhirnya semua kelengkapan perjalanan kelar dalam tempo tersebut. Seperti ketika harus membutuhkan nomor paspor anggota perjalanan, karena paspor saya baru bisa diberikan kepada saya pada H-1 sebelum keberangkatan, maka hanya nomor paspornya saja yang bisa saya kirim.

Demikian pula ketika malam sebelum berangkat, pada saat packing. Saya bertanya kepada salah satu anggota wisata yang saya menganggapnya paling dekat. Dan ukuran dekatnya adalah ketika saya nyaman bicara blak-blakan dengan dia. Pertanyaan saya adalah apakah tamasya kita menggunakan gaya Sy**r**i  atau gaya back packer? Pertanyaan itu untuk memastika kalau saya di perjalanan tidak menjadi anggota rombongan wisata yang salah kostum.

Meski begitu, saya kaget juga ketika keberangkatan ternyata masih ada anggota yang justru mengenakan kostum perjalanan dengan gaya seleb. Alhasil, diantara kami, ia menjadi anggota yang paling beda. Paling aneh. Sesuatu yang saya sendiri mencoba dengan kuat untuk tidak berkeinginan menempati posisi seperti itu atau setidaknya saya  menghindarinya.

Kehilangan Jejak

Dan rupanya, kisah perjalanan tidak berhenti disitu. Ketika kami mengunjungi suatu tepat di lokasi wisata, harus kehilangan jejak dari anggota rombongan yang lainnya. Ini berawal ketika kami berada di lokasi wisata yang lumayan luas. Sebagai wisatawan, wajar bila kami masing-masing mengabadikan momen keberadaan kami. Yaitu dengan berfoto-foto.

Nah karena kami termasuk yang tidak terlalu narsis diantara anggota rombongan, maka kami tidak sabar untuk menjelajah tempat-tempat yang ada di obyek wisata itu, meninggalkan teman-teman lain yang sibuknya bukan main dalam mengambil foto. Bahkan ada teman dilokasi yang saya harus diambil fotonya dari sudut yang berbeda-beda dan dengan gaya yang lain pula. 

Akibatnya kami selesai lebih dulu dalam melakukan blusukan di lokasi itu. Dan itu berarti kami meninggalkan obyek wisata itu lebih cepat dibanding dengan anggota piknik yang lain. Repotnya, diantara kami tidak ada yang berani mangambil ekskusi untuk makan siang karena memang dana kami adalah dana pribadi yang terbatas...

Jakarta, 15.12.15.

Tidak ada komentar: