Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 Desember 2015

Terjebak Kemacetan

Kamis, 24 Desember 2015 pukul 07.00, saya dan rombongan berada di wilayah Cipete, Jakarta Selatan. Ini adalah titik awal perjalanan menuju Pacitan Jawa Timur. Sejak satu hari sebelumnya, karena saya sendiri bepergian ke Bandung, maka kepadatan lalu lintas di sepanjang jalan TOL, dan juga jalan arteri yang dekat dengan pintu gerbang jalan TOL telah saya rasakan. Namun perjalanan pagi itu harus kami lakukan. Mengingat kecocokan jadwal teman-teman untuk sebuah perjalanan yang panjang, mengharuskan kami berkumpul dan berangkat pada waktu itu.
Salah satu kondisi rest area di jalur TOL Jakarta Cikampek. Penuh dan kotor sampah sisa bungkus makanan atau minuman.

Pada waktu bersamaan, laporan dari radio dan twitter menyampaikan bahwa kemacetan di jalan TOL Lingkar Luar yang menuju arah Cikampek dari Pondok Indah sudah sampai daerah Lebak Bulus. Demikian juga TOL dalam kota menuju Cawang telah antri padat nyaris tidak bergerak sudah sampai di Slipi.

Bagaimana selanjutnya? Atas arahan Waze, rombongan kami mengambil rute Cipete-Semanggi-Casablanka, terus lanjut hingga masuk Gerbang Pintu TOL Bekasi Barat. Pukul -8.00 rombongan masuk Bekasi Barat. Dari dari sinilah kami harus mengalami macet berat di banyak skali titik. Bahkan untuk ke toilet pun tidak mungkin. Dua rest area yang kami lewati menolak kehadiran kami. Dijaga dan ditutup dengan ketat.

Juga di Ketanggungan, Brebes pada saat kami telah memasuki hari Jumat, 25 Desember 2015 dini hari. Kemacetan masih membuat kami tabah dan bertahan. Demikian pula ketika kami memasuki Bumiayu. Baik lingkar luar ataupun jalan dalam kota telah macet. 

Kemacetan ini memberikan bekas kepada saya; 
1. Tidak mengandalkan aparat berkompeten ketika macet. Maka kuat dan tabahlah.
2. Nikmatilah jalan yang kita lalui. Jangan berpikir lurus-lurus untuk memilih rute.
3. Tidak berharap kecepatan transaksi di pintu TOL. 
4. Jangan keluar TOL di gerbang TOL paling akhir.
5. Ajarkan anak-anak kita tentang kepintaran memprediksi. Supaya pintar ketika jadi aparat.
6. Meningkatkan daya tahan tubuh.

Jakarta, 30 Desember 2015.

Tidak ada komentar: