Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Desember 2015

Oleh-Oleh Tempe dari Pacitan

Ada yang unik buat saya sendiri. Yaitu membawa oleh-oleh tempe mentah alias tempe yang belum jadi ketika kembali ke Jakarta sepulangnya dari Pacitan. Unik, karena tempe yang menjadi oleh-oleh itu adalah tempe benguk yang akan sulit setengah mati di dapat keculai di kampung halaman di Jawa Tengah. Itupun saya daatkan dalam bentuk olahan sudah siap santap, yang oleh anak bungsu saya disebutnya sebagai tempe rasa opor.
Beginilah penampakan dari tempe benguk dalam kemasan daun pohon jati.

Saya dapatkan ketika berada di Goa Gong yang ada di daerah Donorejo, Pacitan. Banyak pedagang menjajakan tempe itu dalam bentuk gorengan. Dan selain yang telah masak, pedagang juga menawarkan tempe benguk dalam bungkusan daun jati yang masih mentah. Mentah dalam arti bahwa tempe itu masih untuk dalam bentuk kacang benguk dan belum tumbuh jamurnya.
Wujud tempenya. Dengan kacang yang relatif besar dibandingkan dengan tempe pada umumnya yang terbuat dari kacang kedelai. Tempe benguk pasti original lokal. Tidak ada bahan impor dalam pembuatannya.

"Tiga hari lagi siap masak Mas." Begitu penjelsan pedagangnya kepada saya. Da karena ingin sekali, jadilah tempe benguk mentah dalam bungkusan daun jati tersebut menjadi buah tangan saya ketika kembali ke Jakarta.
Digoreng sebagai salah satu bentuk masakannya.

Jakarta, 31 Desember 2015.

Tidak ada komentar: