Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 Desember 2015

Pelajaran Menyontek

Sebelum semester ganjil ini berakhir, ada yang bercerita kepada saya berkenaan dengan ulah peserta didiknya yang memang dari sananya tidak dapat dipercaya punya niatan untuk melakukan perbuatan yang sangat tidak terhormat, yaitu mencontek. Dan karena kedapatan bahwasi peserta didik benar-benar melakukan hal itu, maka Pak Guru itu bercerita kepada saya betapa herannya mereka dengan berita yang mencengangkan terjadi pada peserta didik model begitu.

Karena sehari-hari anak itu benar-benar mandiri untuk semua hal di sekolah. Tidak akan pernah sedikitpun kepada teman atau guru meminta bantuan akan kekurangan keperluannya. Demikian pula ketika bermain bersama, maka tidak akan menjadi beban bagi yang lain. Juga berkenaan dengan tugas sekolah atau ulangan sehari-hari. Bahkan dia adalah anak satu-satunya di sekolah yang tahu kepanjangan dari AMS, sekolah di zaman Belanda setingkat SMA atau THS. Demikian dalam hal pelajaran yang lain. Pendek kata, sulit dipercaya jika di suatu hari anak itu menjadi berbeda hanya untuk urusan penguasaan materi pelajaran di sekolah pada saat ulangan.

Dengan contoh tersebut, maka saya bermaksud untuk menyampaikan bahwa anak kami itu berada di atas rata-rata kemampuan teman satu kelasnya. Dan itu dapat menjadi jaminan bahwa apa yang dikerjakannya disaat mengerjakan ulangan tidak akan menjadi persoalan serius.

Namun kenyataan harus kami alami ketika disuatu hari ada yang sangat berbeda dengan dirinya. Dan karena itulah saya menuliskan dalam catatan harian saya ini. Untuk mengingatkan kepada kita semua, saya dan Anda, khususnya sebagai orangtua dari anak-anak kita di rumah.

Ini ketika kami mendapat sang anak keluar kelas di waktu ujian akhir semester sedang berlangsung.Bahwa anak itu meminta izin untuk ke toilet. Dan guru pun menjadi beftanya ketika ia ke toilet dengan membawa serta tas sekolahnya. Selain juga karena waktu yang ia gunakan lebih panjang ketika orang lain pergi ke toilet.

"Apa yang sedang kamu lakukan di kamar mandi?" tanya guru yang menyusul anak itu ke toilet. Didapati bahwa anak itu sedang ada di koridor toilet dengan membuka buku pelajaran yang dibawanya dari rumah.

Pertanyaan guru itu benar-benar membangunkan anak polos itu dari konsentrasi dan keasyikannya membaca lembaran buku pelajaran yang sedang diujikan. Dan itu tentu melahirkan kekagetan yang luar biasa. 

"Mengapa harus kamu lakukan itu?" lanjut guru lagi yang membuat anak itu enar-benar mati kutu. Tidak bergerak apalagi berucap.

"Maaf Pak. Saya takut nilai saya jelek Pak. Maaf Pak. Ibu saya meminta supaya nilainya 9 Pak. Maafkan saya Pak. Jangan dihukum saya Pak." rengek anak itu dengan kepolosannya.

Guru, teman saya itu juga tidak mampu berkata apa-apa selain memberikan masukan dan nasehat, serta memintanya untuk segera kembali ke dalam kelas guna melanjutkan mengerjakan soal ulangan. Guru teman saya itu terpukul sedih!

Jakarta, 21-30 Desember 2015.

Tidak ada komentar: