Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

21 April 2014

Pileg 2014 #10; Rapopo

Ini catatan saya setalah Pemilu Legislatif pada hari ini masuk dalam tahap perhitungan suara untuk tingkat Kota Madya. Teruaterang, sebagai orang yang non partai, yang kalau dalam pemilihan umum hanya bertugas sebagai anggota dari KPPS di salah satu TPS yang masuk dalam daerah pemilihan DKI III, maka tugas saya berarkhir ketika perhitungan suara di TPS saya telah kami laporkan dan laporan tersebut diterima oleh petugas KPU tingkat Kelurahan kami. Maka untuk perhitungan tingkat selanjutnya, saya tidak pernah mengikuti dan mengetahuinya. 

Namun teman-teman yang sesama anggota KPPS yang kebetulan merangkap sebagai tim sukses tingkat kelurahan dari Caleg tertentu atau pertai tertentu, mereka tetap berada di kelurahan hingga perhitungan di kelurahan benar-benar tuntas, untuk selanjutnya hasil perhitungan tersebut di kirim ke jenjang kecamatan. "Lebih seru dan lebih menguras tenaga!" begitu komentar teman saya itu. Tidak ada cerita setelah itu selain kecewa karena calon yang dijagokannya hanya menempati uratan besar dari perolehan suaranya yang sedikit dibanding Caleg lainnya di partainya.

Namun pagi ini saya berkirim berita dengan teman saya yang lain lagi, yang ketika pertemuan silaturahim beberapa bulan lalu memajang fotonya sebagai Caleg dari salah satu partai. Dan seperti juga Caleg yang lain, dalam fotonya itu ia sedang bersalaman dengan Calon Presidennya! Salah satu foto yang ada dalam spanduknya itu, ia pasang di garasi rumahnya tempat kami semua berkumpul waktu itu. 

"Rapopolah. Buat pengalaman." Begitu komentarnya atas pertanyaan saya tentang bagaimana perolehan suaranya. Rapopo, atau tidak apa-apa atas hasil perjuangannya yang belum mampu membawanya untuk berebut kursi anggota dewan daerah DKI Jakarta tahun 2014-2019.

Komentar itu setelah dia sendiri mengikuti perjalanan perhitungan suara sejak di TPS hingga kecamatan. Dan dalam tahapan itu, ia masih mempunyai harapan baik akan hasil perhitungan suaranya. Namun ketika memasuki tingkat kota, ia menjadi tersadar bahwa jeruk makan jeruk. Sebuah istilah yang memang benar-benar ia alami.

"Itu suaraku murni. Pemilihku adalah pemilih hati nurani. Tidak ada serangaj fajar yang aku jalani. Tidak juga ada beli suara agar mereka memilih nomor atau gambarku. Murni. Dan itu ada 2000 suara. Tapi aku ada diururtan 4 di tingkat kota. Pengalaman untukku." Begitu penjelasannya kepada saya lewat pesan di media sosial.

Dan sebagai balasan atas penjelasannya, saya mengirim pesan balik; "Syukurlah kalau masih sadar untuk tidak melakukan pebelian suara pemilih."

Jakarta, 21 April 2014.

Tidak ada komentar: