Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

02 April 2014

Berujung pada Uang

Ada istilah yang pas sekali dengan judul catatan saya ini. Itu saya dapat sudah jauh hari sebelumnya. Namun karena merasa tidak enak untuk saya tuliskan di sini, maka saya membuat judul sesuai dengan persepsi saya sendiri, berujung pada uang.

Siapa yang tidak butuh uang?

Tidak seorangpun. Saya yakin sekali itu. Karena semua transaksi dewasa ini sudah sulit menggunakan barang yang ada dengan barang juga. Pasti salah satu pihak menggantikan barang nyata tersebut dengan simbol yang seharga, yang memang dengan uang. Oleh karenanya, betapa penting apa yang saya sebut tadi, dalam menjadikannya sebagai alat pembayaran, yang bernama uang tersebut.

Tapi, akan menjadi tidak mulia pula jika seluruh aktifitas yang kita lakukan baik dalam hal kewajiban atau bahkan dorongan untuk sebuah amal, kita jadikan uang sebagai alat ukur satu-satunya. Ini karena begitu sempitnya makna dari nilai sebuah uang sebagai alat tukar. Lebih-lebih jika ikhtiar yang kita lakukan berada di dalam ranah keluarga.

Namun berbeda dengan pengalaman saya ini, karena begitu hebatnya orang yang ada di hadapan saya berbicara tentang berkah, maka  tidak ada salah sedikitpun jika saya menjadikannya sebagai teman diskusi yang baik. Termasuk juga ketika diskusi menyangkut kepada penawaran terhadap sesuatu yang akan dia sampaikan kapada saya.

"Kami menjamin bahwa, kualitas yang kami samaikan ini paling baik di kelasnya Pak."
"Kami bahkan menjadikan sekian dari pendapatan kami, kami salurkan untuk pemberdayaan dan peningkatan  guru dengan cara memberikannya seminar dan pelatihan. Juga pendampingan Pak."

"Saya percaya sekali Mas. Tapi mengapa tidak dilakukan penjualan dengan cara beli putus saja Mas? Dengan model pembelian yang mengharuskan kami meregestrasi setelah pemaikaian tiga tahun, bukankah itu menjadikan harga yang ditawarkan tersebut menjadi mahal atau tinggi?"

"Ini untuk jaminan kualitas Pak."

"Untuk kualitas  saya percaya. Tetapi mengapa tidak berpikir untuk menjadi konsumen? Bagaimana dengan barang-barang yang tersedia di media internet dengan harga yang benar-benar terjangkau?"
Pendek kata, itulah percakapan antara saya dan pengunjung saya tersebut tentang sebuah barang yang menjadi kebuthan dalam mengajar kami, yang kebetulan adalah barang yang mereka tawarkan. Namun sampai akhir, belum ada kata sepakat antara kami dengan pihak tersebut, sehingga barang yang ditawarkan berpindah tangan kepada kami.

Dalam hati, saya cukup bergumam bahwa, sebagai yang ada di sekolah, saya menjadi yakin benar bahwa, banyak yang datang kepada saya dengan berbagai hal yang menarik, manis, sopan, tetapi selalu saja berujung kepada uang...

Jakarta, 2.04.2014.

Tidak ada komentar: