Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 Mei 2013

K-13 #7; Perubahan Kurikulum, Merubah Budaya atau Merubah Dokumen?

Di Salatiga, Jawa Tengah, Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa Pelatihan Guru sebagai persiapan perubahan Kurikulum 2013 akan segera dimulai pada pertengahan Juni 2013. Ini dikemukakan ketika DPR telah menyetujui. Sebagaimana yang saya temukan berita tersebut di koran pagi ini, Kompas, 30 Mei 2013.

Merubah Budaya?

Sebagaimana yang terdapat dalam presentasi sosialisasi yang disebar teman-teman di milis guru, salagh satunya yang saya dapatkan, bahwa perubahan kurikulum ini menghendaki perubahan pendekatan dalam belajar guru. Dimana yang terjadi sekarag ini berpusat kepada guru, maka di kurikulum baru siswalah yang menjadi titik tolak pembelajaran dan tentunya yang harus menjadi sentralnya.

Dan menjadikan siswa sebagai pusat dalam pembelajaran adalah sebuah budaya yang merupakan implementasi keseharian, implikasi praktis dari sebuah paradigma, yang bernama berpusat pada siswa.

Dengan konsepsi seperti itu, maka sesungguhnya yang dimaksudkan dengan menjadikan siswa sebagi pusat belajar, ketika guru benar-benar dengan penuh sabar dan penuh kerendahan hati, menemani para peserta didiknya untuk mencapai apa yang menjadi impian dan cita-cita dalam belajarnya. Guru tidak mendominasi dalam sebuah proses belajar tersebut. Guru memberikan fasilitas kepada siswanya agar siswanya dapat memenuhi rasa ingin tahu yang ditemukannya. Guru memberikan pemahaman, jalan, arahan, dorongan, dan juga tantangan untuk siswanya.

Bagaimana ketika guru sedang belajar tentang kelapa ketika akan masuk ke sebuah kelas? Bisa jadi guru membawa 2 butir kelapa muda yang berbeda warnanya ke dalam kelas. Dimana kelasnya bukan di sebuah ruangan belajar yang ada di dalam gedung sekolah. Karena saat itu guru mengajak anak-anak meninggalkan kelasnya yang ber-ac menuju sebuah pendopo. Dimana anak-anak dimintainya mengangkat buah kelapa tersebut secara bergantian. Meraba kulit buah kepala yang halus.

Di pendopa, yang kebetulan tumbuh dengan buah yang lumayan lebat sebuah batang pohon kelapa,  guru mengajak anak-anak untuk mengeksplorasi buak kelapa tersebut. Sebagaimana yang telah diungkapkan, maka anak-anak itu juga memegang pohon, mencoba mendorong-dorong, lalu yang terakhirnya adalam mencicipi air buah kelapa yang telah dibuka dengan bantuan guru tamu, yaitu seorang pramubakti sekolah. Kepada siswa, juga diminta mencicipi rasa buah kelapa muda yang masing-masing anaknya mendapat jatah seiris! Apa penutup pelajarannya, anak-anak harus melantunkan lagu Rayuan Pulau Kelapa dan menggambar tunas kelapa sebagai simbol gerakan Pramuka.

Bagaimana pada pembelajaran tentang pisang? Cincau? Kunang-Kunang? Dan seterusnya? Maka inilah lahan dimana kompetensi guru yang telah tersertifikasi tersebut ditantang. Mengekplorasi diri dalam memberikan 'jalan' kepada para peserta didiknya. Karena siswalah yang menjadi pusat dalam pembelajaran. Sebagaimana kehendak Kurikulum 2013.

Merubah Dokumen?

Lalu bagaimana dengan guru yang diduga masih berpandangan bahwa dialah yang menjadi satu-satunya sumber ilmu di dalam pembelajaran? Dimana buku paket menjadi sumber satu-satunya belajar. Siswa selalu mereferensi buku paket tersebut untuk semua kegiatan belajaranya. Baik ketika guru memberikan penjelasan kepada materi baru, ketika siswa harus mengerjakan soal-soal untuk dikerjakan sebagai pekerjaan rumah, atau ketika siswa harus mengulang pelajaran ketika guru akan memberikan ulangan?

Maka ketika itulah praktek yang terjadi di dalam pembelajaran manakala Kurikulum 2013 nanti telah digulirkan, tidaklah salah bahwa yang terjadi kita istuilahkan sebagai perubahan dokumen. Yaitu dokumen kurikulum.

Kenyataan ini tentu tidak kita inginkan. Semoga!

Jakarta, 30 Mei 2013.

Tidak ada komentar: