Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

07 April 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #9; Merubah Cara Pandang

Kemarin, setelah saya selesai mengirim surat undangan untuk teman-teman yang akan hadir dalam diskusi panel bagi kandidat Wakil Kepala Sekolah, saya kembali di'ingatkan' berkenanaan dengan regenerasi berjenjang. Mengingatkannya melalui SMS dengan nomor yang kami semua tidak mengetahui siapa yang mengirimkan SMS tersebut. Inti dari pesan yang dikirim oleh anonim tersebut adalah mempertanyakan mengapa harus ada diskusi panel untuk memilih Wakil Kepala Sekolah melalui jalur diskusi panel?

Inti dari pesan itu adalah agar kami tidak perlu lagi mencari kandidat pengganti Wakil Kepala Sekolah atau mengganti Kepala Sekolah melalui jalur 'menemukan' baru. Tetapi bukankah kalau melihat regenerasi yang ada secara struktural maka yang akan menggantikan Kepala Sekolah bilamana yang bersangkutan tidak menjabat lagi adalah para Wakil Kepala Sekolah yang terbaik dari yang ada? 

Demikian pula halnya dengan penggantian jabatan Wakil Kepala Sekolah, bukankah ada guru-guru koordinator yang ada, yang selama ini memberikan dukungan serta bantuan kepada para manajemen sekolah yang ada? Bukankah posisi para guru koordinator tersebut memungkinkannya untuk dapat dipilih karena telah teruji berada di bawah para Kepala dan Wakil Kepala Sekolah?

Tetapi benarkah demikian? Karena tidak sepenuhnya regenerasi dalam pelimpahan jabatan seperti itu, maka kami membuat cara yang berbeda. Pertama kami meminta agar semua guru membuat rekomendasi siapa saja teman-temannya yang dalam persepsinya layak menjadi bagian dari kandidat. Tahap berikutnya adalah meminta kesanggupan para kandidat yang direkomendasikan oleh teman-temannya untuk ikut serta dalam diskusi panel bersama kami. sebelum diskusi panel berlangsung, kami mengumpulkan track record para kandidat, termasuk yang paling penting adalah kehadiran mereka di sekolah. Dan juga tentang hasil kinerja dalam kurun waktu 3 tahun ke belakang.

Tahap-tahapan itu dimaksudkan untuk menemukan kandidat yang paling potensial sebagi pengganti Kepala atau Wakil Kepala Sekolah yang diinginkan. Dan karena prosesnya terbuka yang mengikutsertakan banyak orang dalam pengambilan keputusan, maka unsur subyektifitas dapat kami minimalisir, selain juga bahwa pengambilan keputusan kami terbuka.

Pola seperti ini memaksa kita semua untuk berpikir dan mengambil keputusan dengan cara pandang yang berbeda. Maka konsep yang menjadi Kepala Sekolah adalah mereka yang sebelumnya sebagai Wakil Kepala Sekolah, tidak sepenuhnya dapat kami taati. 

Jakarta, 7 April 2016.

Tidak ada komentar: