Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

01 Januari 2014

Pulang Kampung Akhir 2013 #1; Infrastruktur

Di akhir tahun 2013, akhir bulan Desember yang dipenuhi lebatnya hujan disepanjang perjalanan, saya harus pulang ke kampung untuk sebuah silaturahim. Perjalanan saya awali dari Jakarta di siang hari, di jam kerja yang masih efektif. Memilih rute jalan Purwakarta-Kalijati-kota Subang-Kadipaten-Palimanan-Pejagan-Prupuk-Bumiayu-Ajibarang-Wangon-Buntu- dan terus menuju ke arah timur hingga berakhir di Purworejo.

Perjalan pulang kampung bagi saya, dalam kondisi bagaimanalagi, sejauh dan selama ini saya lakoni, selalu memberi bekas kebahagiaan. Tidak peduli dalam kondisi jalanan yang seperti apa yang disuguhkan sebagai pelayanan bagi saya dan warga lainnya yang menjadi pengguna jalan, oleh tentunya para penguasa daerah yang dipimpinnya, disepanjang perjalanan itu.

Itulah kesimpulan akhir saya tentang pulang kampung, tidak kecuali perjalanan kali ini. Memberikan bekas menyenangkan. Meski untuk beberapa hal saya akan menjadikan catatan dalam blog saya ini. Khususnya yang menyangkut infrastruktur jalan, khususnya di wilayah Jawa Tengah, yanghampirselalu kurang memuaskan di beberapa hal dan titiknya. Hal ini juga didorongkan oleh apa yang disampaikan Gubernurnya, Pak Ganjar Pranowo, yang dilantik pada 23 Agustus 2013 lalu, yang menjadikan tahun  2014 ini sebagai tahun infrastruktur di Jawa Tengah. Sebuah tekad yang pastinya dicanangkan dengan latar belakang dan kondisi yang ada.

Marka!

Bagi saya yang kadang berjalan di malam hari ketika melintasi rute jalan di Jawa Tengah, adalah adanya marka jalan yang benar-benar terperhatikan oleh adanya pemeliharaan. Di beberapa tempat, saya kesulitan untuk menentukan apakah jalan di depan saya menyerong, belok kanan, atau belok kiri. Hingga lampu jauh saya harus nyalakan. Demikian juga dengan rambu yang ada ditepian jalan. Jarang saya dipandunya. Ini tidak lain karena ketiadaan rambu itu, dan juga tipisnya marka jalan,.

Hal yang saya sampaikan itu tentunya diluar kondisi jalan yang tidak merata kualitas baik dan rusaknya, yang berbeda-beda untuk setiap daerah kabupatennya. Dimana, dari seluruh jalur tengah dan dan jalur selatan dari wilayah Brebes di barat hingga Purworejo di timur, saya memberikan apresiasi untuk daerah Purworejo. Dimana di pintu masuknya yang berbatasan dengan Kebumen, dalam kota, jalur lingkar selatannya, dan juga perbatasan dengan daerah Yogyakarta, jalan dan markanya benar-benar saya nikmati dengan nyamannya. Namun belum di beberapa tempat yang lain.

Dan tentang kondisi serta kualitas jalan, rambu, dan marka jalan yang ada di Jawa Tengah, masih kalah jauh dengan apa yang ada di sepanjang jalan yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dan sebagaimana yang menjadi tekad Pak Ganjar di Jawa Tengah, saya sebagai pemudik asal Jawa Tengah, memimpikan seorang yang dapat mewujudkan kondisi jalan di daerah asal saya seperti apa yang ada di DIY itu. Kalaupun tidak, mungkin satu atau dua level di bawahnya! Semoga.

Jakarta, 1.1.14.

Tidak ada komentar: