Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

15 Januari 2014

PPDB #2; Ketika Mendapat Kalimat Kasar

Dalam siklus tahunan di sekolah yang bernama penerimaan peserta didik baru, PPDB, selain menerima masukan dari para calon orangtua siswa/peserta didik baru, kami juga pernah mendapatkan pelajaran dalam bentuk kalimat dengan  bahasa kasar yang dipakai seorang calon. Bahasa kasar adalah eufimesme daridapa ancaman.

Kami semua tentunya tidak berharap sama sekali untuk menerima kembali apa yang pernah kami alami itu dimasa depan. Mengingat semakin terdidiknya masyarakat kita. Yang berarti juga ada.ah semakin baiknya kjltur dan perilaku masyarakat. Yang pada ujungnya justru bermuara kepada berjalannya ketaatan kepada norma yang berlaku dan diyakini.

Peristiwa kami  mendapat kalimat tidak sopan itu bukan yang pertama kali kami alami sepanjang kami melakukan tes masuk peserta didik baru. Namun apa hang pernah kami alami itu karena ada baimnya untuk saya jadikan catatan dalam perjalanan saya ini. 

Pada kesibukandi pagi hari di hari tes yang telah ditentukan. Datang semua kandidat siswa baru kami. Baik yang akan masuk Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak, dan juga yang akan masuk SD. Kami sudah alokasikan kepada masing-masing nit tersebut satu meja tamu untuk regestrasi. Langkah kami ini untuk memudahkan kepada para kandidat orangtua  dalam melakukan registrasi tersebut dan juga terarah. 

Tampaknya ada satu pasangan muda dengan putranya, yang ketika ditanya untuk kelompok mana tidak memberikan meresponnya. Mungkin sekali bahwa pertanyaan dari kami tidak begitu jelas ditangkapnya. Mungkin juga tidak melihat atau membaca untuk unit apa meta tamu tersebut diperuntukkan untuk regestrasi, mungkin juga keluarga itu sudah memberikan jawaban namun kami tidak mendengarnya. Sehingga dengan percaya dirinya tetap menuliskan registrasi putranya di meja tamu yang salah.

Sementara itu, kami pun memiliki prasangka bahwa keluarga itu meregestrasi putranya untuk unit SD karena berada di meja SD. Alhasil menunggulah keluarga itu untuk antrian masuk sekolah dasar. Padahal ternyata putranya masih berusia 4 tahun, yang berarti untuk masuk bangku TK. 

Setelah kekeliruan itu  disadarinya, maka datanglah keluarga itu kepada kami untuk mengeluarkan kalimat sangat kasar. Kami menyadari karena kalmat itu memang didasari oleh ketidakpuasan, kemarahan, dan pasti membuatnya emosional. Tidak ada respon dari kami selain permohonan maaf. Meski lahirnya kesalahan tidak sepenuhnya adalah kekeliruan dan keteledoran kami.

Apa pelajaran bagi kami? Tidak lain selain memperbaiki pola regestrasi di tahun berikutnya, termasuk menanyakan setiap tau yang datang pada saat regestrasi. Sejak tamu itu turun dari kendaraan di tempat parkir, di halaman sekolah, termasuk juga di meja regestrasi. Kami jga belajar untuk menatap dan tersenyum kepada semua orang yang ada di area sekolah pada saat tersebut.

Jakarta, 14.01.14.

Tidak ada komentar: