Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

10 Januari 2014

Pelatihan Guru #4; Menyusun Aspek Kinerja

Beberapa tahun yang lalu, saya mendapat tugas penting dari sebuah lembaga pendidikan pesantren di Sulawesi. Bukan saja karena tugas itu  datang dari sebuah pesantren sehingga saya menjadikannya penting. Juga bukan saja karena apa yang ditugaskan kepada saya sehingga saya menjadikannya penting. Juga bukan saja karena itu adalah tugas yang sekaligus memungkinkan saya berada di tempat yang tidak terbayangkan sebelumnya, mengingat saya hanyalah seorang guru swasta. Tugas itu penting karena tugas yang diberikan adalah tugas besar bagi saya yang selama ini sebagai penjaga gawang saja.

Tugas untuk membuatkan dokumen yang pada ujungnya dapat menjadi sebuah sistem di lembaga tersebut. Namun karena saya bukan ahli membuat dan lalu mempresentasikan hasilnya, saya justru menjadikan komunitas sekolah, manajemen, guru, karyawan, dan yayasan benar-benar berbagi peran dalam proses pembuatan tersebut.

Sebagai gambaran saja bahwa lembaga pendidikan itu termasuk dalam bagian penting dalam kontribusi pengembangan generasi muda di provinsi yang saat itu masih baru. Namun demikian, ketika saya dilibatkan, teman-teman yang penuh semangat itu masih perlu mendapat pijakan dalam membedakan kualitas diri mereka antara satu dengan yang lainnya. Khususnya bagi teman-teman yang mendapat amanah untuk mengkoordinasikan seluruh aktivitas berkarya, sebagai manajemen di unitnya masing-masing di lembaga itu. Jadilah selama satu pekan saya diminta untuk bersama mereka dalam membuat rumusan, atau setidaknya  dokumen yang dapat dijadikan sebagai acuan kerja.

Seperti di lokasi lainnya, saya memulai pertemuan di awal-awal dengan berdiskusi, presentasi, dan bekerja untuk membuat frame dan garis kesamaan. Ini penting supaya kami semua yang terlibat di dalamnya memilikim semangat dan langkah yang sama, yang harus menjadi kesepakatan kami. 

Langkah berikutnya adalah menjelaskan dan sekaligus simulasi tahapan yang akan kita jalani bersama selama empat hari kedepan. Saya benar-benar merasa harus berpikir keras kala itu. Ini karena saya melakukan kegiatan seperti itu untuk lembaga lain adalah peristiwa untuk kali yang pertama. Dan ini benar-benar menjadi tantangan tersendiri.

Saya menjadikan kesempatan seperti itu adalah kesempatan yang luar biasa. Berbeda ketika kegiatan seperti itu saya lakukan di lembaga yang sehari-hari saya berada di dalamnya. Pada sisi inilah saya merakan adanya tekanan dan sekaigus tantangan yang begitu besar. Maka jauh hari saya telah memikirkan strategi dari menit ke menit untuk pertemuan yang dirancang selama satu pekan itu.

Aspek Kinerja

Saya menjadi terbayang bagaimana membuat sebuah rapat kerja. Dimana, untuk seluruh peserta akan menjadi bagian penting dalam memberikan kontribusi positifnya. Mereka berada dalam kelompok-kelompok untuk mendiskusikan, merumuskan, menyepakati, dan menyiapkan presentasinya sebagai hasil dari masing-masing kelompoknya. Nah model dan strategi mendapatkan hasil itulah yang akhirnya menjadi pilihan saya.

Alhamdulillah, proses penyusunan dokumen itu berjaan dengan baik dan dilakukan dengan sangat penuh antusiasme. Teman-teman seperti merasakan kembali bagaimana eforia pada saat masih duduk di bangku mahasiswa. Mereka berdiskusi dengan beradu argumentasi untuk kemudian menyepakati apa yang harus putuskan. Menyenangkan.

Saya sendiri menjadi fasilitator yang sesungguhnya dalam semua acara yang dilakukan itu. Mengalir baik sekali. Meninggalkan kesan yang membahagiakan. 

Hingga akhirnya saya sendiri yang harus melibatkan diri manakala diskusi itu nyaris buntu pada saat menyusun kriteria kinerja yang harus menjadi kesepakatan. Ini karena ada kriteria ibadah yag harus masuk ke dalam kinerja yang akan menjadi dokumen pembeda diantara mereka.

"Bukakah tujuan kita beribadah hanya karena Allah? Saya kawatir jika ibadah masuk dalam knerja, maka niat dan semangat kita menjalaninya akan melenceng?" Ini pernyataan yang diberikan oleh teman-teman yang tidak menyepakati masuknya unsur ibadah dalam indikator kinerja.

"Bagaimana mungkin kita menjadikan orang yang berkinerja baik tetapi tidak banyak terlibat dalam melakukan pembinaan ibadah kepada siswa degan teladannya?" Ini pernyataan bagi teman-teman yang menghendaki masuknya indikator ibadah dalam kinerja.

Saya memberikan kesempatan kepada semua teman itu untuk berdiskusi. Kepada masing-masingnya dengan argumentasi yang selengkap-lengkapnya.

Perlu saya sampaikan bahwa pembahasan mengenai poin ibadah yang terdapat dalam sistem penilaian kinerja tersebut merupakan waktu tambahan. Dimana kegiatan normalnya kami lakukan sejak pagi hingga sore hari. Malam hari saya menggunakannya untuk bertemu dengan santri, rileks, atau menyiapkan keperluan yang akan menjadi bahan bahasan esok harinya. Namun mengingat begitu serunya mendiskusikan aspek kinerja yang bernama ibadah tersebut, maka kami harus menambah waktu raker setelah shalat isyak. Dan lokasinya pn tidak lagi di wilayah pesantren, tetapi di lorong depan kamar dimana saya menginap. Jadi memang benar-benar seru.

Dan atas pemahaman terhadap masing-masing argumen yang telah disampaikan oleh masing-masing kubu, maka saat itu kami menyepakatinya.

Dan itu, menjadi pengalaman tersendiri bagi saya dalam membuat sebuah 'pegangan' bagi warga komunitas yang ada di dalamnya. Saya mensyukuri sekali peristiwa itu sebagai bagian dari perjalanan saya.

Jakarta, 10.01.14.

Tidak ada komentar: