Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

13 October 2014

Seharusnya, Tapi...

"Yang kami maksudkan dalam persoalan ini sebenarnya adalah Bapak A, Bapak B, Bapak C. Tetapi karena keberadaan Ibu ada di dalam ketiga Bapak tersebut, maka logikanya keempatnya menjadi satu paket." Kata teman saya yang bergiat sebagai pendamping bagi orang-orang yang sedang memiliki persoalan.

Itulah yang kemudian dalam catatan saya ini saya beri judul Seharusnya, tetapi. Bahwa sesungguhnya keberadaan Ibu tidak masuk dalam paket yang sedang diperkarakan. Ia berada di luar itu semua. Namun karena keberadaannya ada dan beririsan, maka beliau masuk juga di dalamnya. Lalu, bagaimana dapat memberikan penjelasan bahwa sesungguhnya ia tidak berada di dalamnya jika kenyataannya ia masuk dalam ranah yang sama?

Terlebih  harus diakui bersama bahwa, ranah yang telah mereka masuki adalah ranah yang tidak memungkinkan keempat-empatnya beranjak mengelak atau bahkan untuk menghindar meski sekejab saja. Mereka telah masuk dalam sebuah lorong waktu yang tidak memungkinkan kembali lagi dalam sebuah rumah keluarga yang hangat.

Mereka telah secara sadar dan bersepakat masuk dalam sebuah persoalan yang harus dipindahtangankan. Persoalan yang tidak memungkinkan ayah dan ibu dapat berbicara secara hangat dan dari hati ke hati. Semua harus berangkat dari fakta, bukti, pasal, dan perkara.

Dan dengan kenyataan itulah maka saya ingin mengatakan bahwa, tidak ada lagi kata seharusnya yang dapat saya pilih. Karena yang ada, dan fakta yang memang akhirnya masuk dalam persoalan yang diinginkan adalah memang tidak ada.

Apa pelajaran bagi saya? Tidak lain adalah sebagaimana yang teman sebelah katakan selalu kepada saya; jangan pernah rakus dengan dunia...

Jakarta, 9-13 Oktober 2014.

No comments: