Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

12 Oktober 2014

Mengajarkan Keterampilan Mengajar

Sebagaimana yang saya tulis dalam catatan saya sebelumnya berkenaan dengan memberikan ide model atau strategi mengajar sebagai 'jalan keluar' kepada teman-teman guru, maka sesungguhnya itulah yang saya sebut sebagai memberikan bekal, atau tepatnya memancing sebagai pemicu kepada guru untuk menjadi pintar dan terampil mengelola kelas.

Saya yakin sekali bahwa hanya keterampilan itulah yang menjadi pembuka bagi teman-teman guru untuk mendapat penghargaan dari semua penghuni kelas. Utamanya siswa. Dan itu perlu semangat serta konsistensi yang kuat dan persisten dalam menjadikan dirinya sebagaimana impian tersebut.

Setidaknya itulah yang saya dapatkan ketika  berjalan-jalan di kelas-kelas dimana masih mendengar dan melihat bagaimana anak didik di dalam kelas belum sepenuhnya memberikan rasa hormat kepada pendidiknya.Seolah semua serba boleh. Dan seolah yang serba boleh itulah yang dinamakan kelas demokratis. Sebagaimana yang saya sendiri pernah juga lakukan di sebuah kelas, dimana tidak akan ada yang berbicara bila sedang ada yang berbicara. Tidak juga guru bilamana ada siswa sedang menyampaikan pendapatnya. 

Tetapi apakah begitu mudahnya dalam memiliki ketereampilan mengajar yang talk less do more dari sisi guru - siswa? Konsepnya mudah, tetapi relatif sulit dalam menjalankan kesehariannya.

Dan untuk menjembatani kesulitan tersebut, saya mencobanya membuat sebuah fragmen nyata dihadapan teman-teman guru yang pada fragmen tersebut menjadi peserta didik saya. Sebuah kegiatan belajar tentang kebersihan ruangan. Dalam kegiatan awal, saya mengajak teman-teman semua berdiskusi berkenaan dengan tata ruang yang disepakati sebagau ruang yang nyaman. Nyaman untuk dilihat dan dipandang, dan juga nyaman sebagai tempat bekerja.

Hasil diskusi tersebut, kita jadikan acuan untuk membuat rencana dan sekaligus rancangan bagi pembuatan atau penataan ruangan sebagaimana yang diinginkan. Maka teman-teman saya kelompokkan dalam kelompok 4 orang. Yang pada setiap kelompok tersebut saya bagi ruangan mana yang harus mereka rancang dan sulap sebagaimana yang diinginkan. Setelah semua sepakat dengan kelompoknya masing-masing, maka saya memberikan waktu lebih kurang 3 jam untuk mereka lakukan apa yang menjadi tugasnya masing-masing.

Apa hasil 3 jam setelah itu? Dengan bersimbah keringat, teman-teman dengan bangga membawa foto ruangan dengan perbandingan pada sebelum dan sesudah penataan. Mereka semua memberikan raut muka bangga atas kerja mereka masing-masing ketika gambar-gambar tersebut di tayangkan lewat slide.

Saya mengajak diskusi, apa sesungguhnya yang sedang kita pelajari dengan kegiatan semacam itu? Alhamdulillah, semua memberikan masukan, pendapat, pandangan, dan kontribusi positif dengan kegiatan semacam itu. Tidak ada yang merasa dikerjai olleh kegiatan semacam itu.

Pendek kata, saya ingin menyampaikan pesan kepada teman-teman bahwa berhasil mengajar itu; ketika guru siap dengan apa yang akan dibawa di dalam kelas, ketika guru membuatkan kegiatan untuk anak didik lakukan bagi pencapaian tujuan belajar tersebut, dan ketika kegiatan itu memberikan tantangan dan rangsangan kepada anak untuk bergiat dan menimba rasa ingin tahunya.

Jakarta, 12 Oktober 2014.

Tidak ada komentar: