Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

14 Oktober 2014

Desaku tentang Kelestarian Burung

Memang masih menjadi mimpi bahwa kawanan burung, apapun burungnya, bebas bekeliaran mancari makan dan bersarang serta berkembangbiak di kampungku yang ada di wilayah selatan Jawa Tengah. Saya katakan mimpi karena kenyataannya adalah kebalikan dari itu semua. Bajing dan tupai itu diburu dengan senapan angin, dan burung-burung dijebak dengan getah atau jaring. Dan anak-anak mereka yang sedang dierami tidak akan selamat sepanjang bajing atau burung itu bersuara untuk dapat diketahui lokasi sarangnya oleh para 'pemburu' uang.

Itulah memang yang menjadi realita hidup. Sebuah kenyataan yang mengakibatnya tidak dan sulitnya suara burung bernyanyi di dahan-dahan pohon kelapa atau pohon randu yang menjulang tinggi di pekarangan rumah. Semua menjadi sunyi tanpa bunyi burung. 

Memang ada sekali-kali bunyi burung emprit yang memang kurang diminati, yang bebas berkeliaran di dahan pohon mangga yang ada di samping rumah orangtua saya. Juga dari kejauhan bunyi tekukur.

"Itu masih ada tekukur Ben?" Tanya saya kepada adik yang memang tinggal di desa.
"Itu burung yang aman karena kurang laku di pasaran." Jawab adik saya memberikan penjelasan sekaligus. 

Kenyataan yang lain, ketika saya datang ke salah satu rumah warga yang memiliki tidak kurang dari 4 sarang burung yang berbeda isinya antara satu dengan yang lainnya. Tiga ekor burung ukuran kecil, seukuran burung prenjak, dan yang satu sangkarnya berisi burung seukuran burung kutilang.

"Apakah ini burung prenjak?" tanya saya kepada tuan rumah yang kebetulan masih memiliki hubungan darah dengan saya.

"Bukan Mas. Itu burung saya pelihara sejak anak-anak. Yang prenjak minggu lalu sudah laku Mas. Sekarang sedang kosong." Kata tuan rumah.
Salah satu kepedulian Pemda akan kelestarian Burung Hantu di Pati.
Atas apa yang saya kemukakan di atas, nampaknya akan ada suatu masa dimana bahwa semua atau sebagian besar jenis burung di desa saya akan punah. Dan itu tinggal menunggu waktu. Seperti tidak akan pernah lagi kita mendengan nyanyian burung liar lagi sejak pagi hingga sore. Seperti burung tuwu, burung perkutut, burung jalak, ayam hutan, atau juga burung kutilang. Burung-burung itu telah bermigrasi ke sangkar para pecinta burung.

Akankah desaku mengadopsi apa yang telah dilakukan oleh Pemkab Pati untuk melestarikan burung Hantu? Semoga.

Jakarta, 14 Oktober 2014.

Tidak ada komentar: