Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

19 Oktober 2014

Jam Kosong #2; Mengajar Cerpen

Pagi itu, saya mendapat informasi kalau ada guru yang harus melakukan kegiatan survey guna kesiapan sebuah kegiatan siswa di bulan depan. Jadi kegiatan survey itu dilakukan untuk menentukan tempat kegiatan siswa dan sekaligus juga acara-acara yang dapat dilakukan siswa. Karena lokasi survey lumayan memakan waktu, maka hingga pagi itu tim survey belum kembali ke Jakarta. Ituoah jam kosong yang harus ia tinggalkan, yang kemudian menjadi bagian saya.

Memang bukan saya yang seharusnya berada di kelas yang ada jam kosong tersebut. Karena Bapak Guru yang tidak berada di tempat tersebut telah menyiapkan kegiatan belajar yang harus dipandu oleh guru piket. Namun karena saya ingin sekali masuk kelas yang dianggap paling ribut, maka jam pelajaran kosong itu saya minta untuk dapat saya isi dengan program belajar yang saya inginkan.

Jadilah pagi itu saya menyiapkan kegiatan yang ingin saya sampaikan. Yaitu setelah melihat SKL atau standar kompetensi lulusan untuk kelas IX di mata pelajaran Bahasa Indonesia. Saya memilih untuk memberikan materi pelajaran tentang unsur intrinsik dalam fiksi cerita pendek.

Bagaimana saya di dalam kelas? Mungkin sama dengan teman-teman yang lain. Setelah aak-anak benar-benar siap, maka saya baru memulai menyampaikan unsur intrinsik tersebut dengan membuat bagan di papan tulis. Memberikan sedikit penjelasan tentang unsur-unsur yang ada. Penjelasan saya sedikit karena memang materi ini sudah banyak disampaikan oleh guru Bahasa Indonesia.

Bagian berikut setelah penjelasan saya yang sedikit tentang unsur intrinsik tersebut adalah membacakan cerita pendek dari Putu Wijaya yang berjudul Boikot. Cerita pendek ini saya pilih setelah sebelumnya search untuk menemukan cerita pendek yang menarik saya sampaikan di kelas. Dan supaya anak-anak fokus terhadap apa yang saya sampaikan, saya memintanya setiap mereka membuat enam belas persegi di dalam bukunya untuk ditulisi enam belas kata yang saya diktekan.

Saya minta agar supaya anak-anak itu memberikan tanda siang terhadap kata-kata yang saya sebut ketika membacakan cerita pendek tersebut. Ini saya lakukan untuk membantu anak-anak itu menyimak apa yang saya baca dengan lebih baik dan fokus. Alhamdulillah, sepanjang saya membaca cerpen tersebut, anak-anak mengikutinya dengan baik dan tertib sesuai harapan saya.Dan sebagai akhir dari pertemuan saya dengan kelas IX tersebut, adalah mendiskusikan cerita pendek tersebut dalam kerangka unsur intrinsiknya. 

Saya bersyukur bahwa pertemuan saya sepanjang 90 menit bersama anak-anak tersebut dapat saya selesaikan dengan baik menurut ukuran saya. Dan mudah-mudahan pertemuan itu memberikan dorongan kepada anak-anak untuk membaca teks sastra bukan saja karena dorongan pelajaran di sekolah semata, tetapi memang karena kahausannya akan bahan bacaan yang bermutu serta mencerdaskan.

Dengan semangat otu pulalah saya mencoba untuk memberikan pengalaman kepada anak-anak  untuk berhubungan dengan teks sastra sebagaimana yang saya lakukan tersebut. Mudah-mudahan. Amin.

Jakarta, 19 Oktober 2014.

Tidak ada komentar: