Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

03 Juni 2014

Pilpres 2014 #5; Pemilih dan Komentator

Menjelang pemilihan presiden 2014, dimana terdapat dua calon yang harus dipilih oleh rakyat Indonesia, para pemilih atau bahkan seluruh teman-teman yang ada di sekeliling saya disibukkan dengan berbagai komentar yang tidak lepas dari hajatan besar itu. Dan bagi saya sendiri yang memiliki satu suara yang sah, menjadi refleksi pada setiap komentar, pendapat, dan juga ajakan yang mereka sampaikan kepada saya secara sendiri-sendiri atau ketika kami semua sedang dalam forum ngobrol bebas. Ngobrol utara selatan.

Dan apa yang teman atau saudara sampaikan dengan penuh semangat itu kepada saya, mengingatkan saya kepada fenomena yang ada di masyarakat dalam mensikapi keputusan pemerintah, dalam hal ini Kementrian Agama, pada saat melaksanakan sidang isbat untuk penentuan awal Ramadhan. Dimana keputusan diambil setelah mempertimbangkan masukan dari para peneropong di berbagai titik, di beberapa wilayah di NKRI, yang sebelumnya telah diambil sumpahnya. Laporan para peneropong itu menjadi bagian penting  bagi Menteri Agama mengambil keputusan untuk mulai puasa Ramadhan.

Anehnya, sebagai yang saya sebut fenomena itu, adalah sebagian orang yang tidak masuk dalam tim pemasok informasi atas hasil teropongannya, menjadi bagian dari pengambil keputusan,  tidak juga melihat awal terbitnya bulan juga tidak, mampu dan berani mengambil kesimpulan yang berbeda dengan apa yang diputuskan pemerintah. Ini tentunya terlepas dari yakin atau tidaknya dengan apa yang pemerintah putuskan. Akan tetapi, saya sendiri melihat bahwa fenomena inilah yang sering lahir dalam karakter yang teman-teman saya pertunjukkan sebagaimana pada saat menjelang hajatan besar demokrasi kita, pemilu. 

Beberapa teman yang membujuk saya untuk sependpat dengan apa yang dia utarakan itu adalah kalangan masyarakat yang memang tidak masuk dalam tim sukses salah satu calon presiden yang akan bertarung pada 9 Juli nanti. Mereka hanya mengandakan informasi yang memng dapat diakses oleh masyarakat umum seperti saya. Tetapi teman-teman itu begitu pasti dalam menyampaikan pendapatnya.

Itulah yang saya sebut dan sandangkan kepada teman-teman saya itu sebagai komentator. Yang kalau di lapangan sepak bola, legenda sekelas Maradona saja pasti mendpat komentar bodoh dari sang komentator itu.

Dan sebagai pemilih yang mendiri, saya cukup tanggapi apa yang teman-teman sampaikan sebagai bagian dari bunga-bunga demokrasi. Hanya tersenyum yang saya perlihatkan. Tidak lebih dari itu. Karena satu katapun saya mencoba untuk berpendapat, langsung 'digilas' habis.

Kasiankah saya?

Cirebon, 31 Mei-3 Juni 2014. 

Tidak ada komentar: