Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

13 Juni 2014

Pasang Kuda-Kuda

Mengawali pekan ini, saya bertemu sahabat saya menjelang rapat kedua sebuah kelompok kerja, yang baru saya hadiri untuk kali pertamanya. Pertemuan akan berlangsung pukul 18.30. Sementara saya sudah datang di lokasi pertemuan pukul 17.00. Waktu lebih yang saya punya itu saya gunakan untuk bersih-bersih supaya ketika rapat usai dan kembali ke rumah saya tidak perlu mandi lagi. Begitulah simpelnya pikiran saya. Namun teman saya mencegat saya di depan pintu kamar mandi.

"Saya merasa, Bahwa aa yang sedang pasang kuda-kuda untuk pembahasan rapat nanti. Kuda-kudanya mengarah kepada tidak adanya atau tidak perlunya sebuah perubahan dalam rumusan yang akan kita bahas." Demikian teman saya mengawali curahan hatinya. Maklum, dia berkata begitu. Ini karena kegerahannya sebagai ketua kelompok kerja, yang membawahi antara lain adalah para pejabat di struktur yang ada. Jadi sekedar menuang kekalutan akan situasi yang diprediksinya akan membuat atmosfer bete.

"Mengapa sampai beliau memasang kuda-kuda? Apa ira-kira yang menjadi tujuannya Mas?" tanya saya ingin tahu apa yang ada di balik pemiirannya itu.

"Ya apa yang akan kita bahaskan produk dia. Lumrahlah kalau dia mempertahankan apa yang menjadi jasanya." jelas teman saya. Sebuah jawaban yang membuat saya sedikit tidak setuju karena memang berbeda prinsip dengan apa yang menjadi perjalanan hidup saya.

"Kasihan ya. Kok hanya begitu cara melihat jasa. Berbeda dengan keyakinan yang saya pegang." 

Lalu saya menjelaskan bahwa dalam hidup itu jangan pernah merasa berjasa dengan apa-apa yang telah kita lakukan. Karena itu sebuah prinsip yang sangat keliru dan sesat. Apa lagi jika posisi kita sebagai bagian dari pegawai di sebuah lembaga yang menerima imbalan atas semua hasil kerja dan hasil karya kita. Maka ketika kita telah melakukan sebuah jasa atau karya, maka sesungguhnya lembaga telah membayar apa yang menjadi kewajiban kita itu. Maka tunailah transaksi kerja dan imbalan tersebut.

Dan jika dalam kondisi seperti itu, apakah masih layak saya yang berposisi pegawai mengaku sebagai orang yang berjasa atas pekerjaan yang memang seharusnya menjadi kewajiban saya?

"Jadi kalau beliau atau siapa saja yang memasang kuda-kuda atas usulan perubahan terhadap sebuah hasil karya dia, menurut sya itu adalah kuda-kuda yang salah alamat. Sebuah usaha yang hanya akan membawanya kepada sebuah jurang fatamorgana." komentar saya.

"Benar juga ya. Memang seperti itulah seharusnya. Saya sadar sekarang." jawab teman saya yang sangat cerdas ketika mengemukakan sebuah rancangan tentang apapun ke masa menadatang itu.

"Apalagi jika usulan sebuah perbaikan datangnya dari teman-teman kita yang berbeda generasi. Kalau saya Mas, menikmati usulan dan pergerakan itu. Karena akan mengajak saya sebagai bagian dari generasi sebelumnya mengetahui perjalanan seru para generasi sesudah kita. Dan di situ, saya merasa diberdayakan. Itulah lokasi dimana saya menjalani proses learning by doing and thinking. Pengalaman luar biasa Mas."

Kami sudahi percakapan singkat itu. Karena langit tiba-tiba menurunkan hujan. Sehingga sahabat saya itu segera bergegas pulang ke rumahnya yang berjarak 100 meter dari ruang pertemuan kami nanti, untuk mandi dan kemudian kembali lagi menjelang pertemuan.

Jakarta, 13 Juni 2014.

Tidak ada komentar: